"Mbak Rani!" Tyas langsung memeluk kakaknya erat.
"Wah, adik Mbak sudah besar sekarang, ya. Makin cantik," puji Rani tulus, mengusap kepala adiknya. Rani kemudian beralih ke suaminya yang berdiri di ambang pintu. "Mas, ini Tyas."
Tyas beralih menyalimi tangan Angga. "Halo, Mas Angga. Mohon bantuannya ya selama Tyas kuliah di sini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Batas-batas yang mengabur
Tyas sudah membuka seluruh bungkusan ayam goreng di atas meja. Uap panas yang membawa aroma gurih bumbu krispi seketika menguar, membuat suasana dapur yang sunyi terasa sedikit lebih hangat. Tak lupa, ia berbalik ke arah dispenser, mengambil dua gelas tinggi berisikan air putih dingin—satu untuk dirinya dan satu lagi ditempatkannya tepat di depan kursi seberang, tempat kakak iparnya akan duduk.
Saat Tyas sedang menaruh gelas kedua, suara langkah kaki terdengar mendekat. Angga muncul dari balik lorong remang-remang. Rambutnya yang hitam masih tampak agak basah setelah mandi, mengirimkan aroma segar sabun maskulin yang langsung menusuk indra penciuman Tyas. Kaus oblong abu-abu tipis yang dikenakan Angga melekat pas di tubuh bidangnya, memperlihatkan siluet dada dan otot lengan yang kokoh.
"Wah, sudah siap semua ternyata. Makasih ya, Tyas," ujar Angga sambil menarik kursi di hadapan Tyas. Pandangannya sempat tertuju pada meja makan, sebelum akhirnya turun menatap Tyas yang duduk dengan kaus oversize-nya yang longgar.
"Iya, Mas Angga. Tyas juga sudah lapar banget dari sore tadi," jawab Tyas sambil menyendokkan nasi ke piringnya, mencoba bersikap sealami mungkin untuk mencairkan kecanggungan yang sempat menggantung.
Angga ikut mengambil sepotong ayam goreng. Namun, posisi duduk mereka yang berhadapan di meja makan yang tidak terlalu besar itu membuat ruang pandang Angga menjadi begitu terbatas. Setiap kali ia mendongak, matanya secara tidak sengaja menangkap leher jenjang Tyas, rambut pendek sebahunya yang bergoyang pelan saat ia mengunyah, hingga cara kaus longgar itu sesekali turun di satu sisi bahunya.
Suasana makan malam itu berjalan dalam keheningan yang sarat akan ketegangan tersembunyi. Hanya terdengar denting halus sendok yang beradu dengan piring kaca, serta suara kayuhan angin dari luar rumah yang menandakan malam semakin larut. Baik Angga maupun Tyas berusaha fokus pada makanan masing-masing, sengaja menekan ego dan pikiran liar mereka, meski keduanya tahu persis bahwa dinding-dinding rumah ini kini hanya menjadi saksi bisu bagi keberadaan mereka berdua.
Uhuk!
Tyas sedikit tersedak karena terburu-buru meneguk air dinginnya. Akibatnya, tangannya sedikit bergoyang dan air putih dari gelas tinggi itu tumpah, mengalir melewati dagunya dan langsung membasahi bagian depan kaus oversize putih yang ia kenakan.
"Ah... ya ampun," gumam Tyas panik. Ia segera meletakkan gelasnya kembali ke meja dengan tergesa-gesa.
Kain kaus putih polos yang dasarnya sudah tipis itu seketika langsung menyerap air dengan cepat. Dalam hitungan detik, bagian dada kaus tersebut berubah menjadi basah kuyup dan menempel ketat pada kulitnya. Karena warna kausnya yang putih, air itu membuatnya menjadi semi transparan, mencetak dengan sangat jelas siluet bagian dalam tubuh Tyas yang sintal.
Angga yang sedang mengunyah makanannya langsung tertegun seketika. Pandangannya terpaku, terkunci pada pemandangan di depannya yang begitu mendadak. Di bawah pendar lampu dapur yang terang, kontur dada Tyas yang basah terlihat begitu kontras dan menantang ego kelaki-lakiannya. Jantung Angga kembali berdegup kencang, jauh lebih hebat daripada kejadian di depan kamar mandi subuh tadi.
Tyas yang masih sibuk mengusap sisa air di dagunya dengan jemari, tiba-tiba menyadari keheningan yang mendadak mencekam di meja makan. Ia mendongak dan mendapati tatapan mata Angga yang meredup, terpaku lurus pada dadanya.
Saat Tyas menunduk untuk melihat bajunya sendiri, wajahnya seketika memerah padam hingga ke telinga. Ia baru tersadar betapa tumpahan air itu telah mengekspos bentuk tubuhnya dengan sangat jelas di hadapan kakak iparnya. Rekaman kilas balik memori panggilan video bersama Satya sore tadi dan tatapan intens Angga saat ini mendadak bercampur aduk, menciptakan sensasi gugup sekaligus mendebarkan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"E-eh... Mas Angga, Tyas ke kamar mandi sebentar ya mau ambil tisu!" ucap Tyas terbata-bata, langsung berdiri dengan posisi tangan yang refleks menyilang di depan dada untuk menutupi bagian yang basah. Dengan langkah seribu, ia bergegas berlari kecil meninggalkan area dapur menuju lorong kamar.
Angga masih terduduk mematung di kursinya, mencengkeram garpu di tangannya dengan erat. Napasnya mendadak terasa berat. Ruangan dapur yang ber-AC itu entah mengapa mendadak terasa begitu panas bagi Angga, menyisakan keheningan malam yang kini dipenuhi oleh pikiran-pikiran yang semakin sulit untuk ia kendalikan.