Berawal dari tegukan wine, hingga menjadi belahan jiwa, begitulah kisah James Davies dan Evelyn Lawrence yang sama-sama mengepalai perusahaan dan menggeluti dunia perbisnisan.
Meskipun berawal tanpa cinta, mereka sepakat akan terus menjaga baby mereka. Karena kebersamaan itulah, berbagai misteri terungkap dan cinta tumbuh bersemi dan mekar walaupun dimusim panas yang tandus dan musim hujan yang dingin.
Yuk simak kisahnya disini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Janesalen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sudah ingat?
“Good morning” Suara itu yang pertama terdengar ketika Eve membuka matanya, lelaki berambut comma style baru saja menyelesaikan mandi paginya dengan rambut yang masih basah serta buliran-buliran air yang masih menempel di dadanya.
“Hmmm” Eve berdehem seraya berusaha mendudukkan diri, ia merasa sangat lelah dan masih mengantuk.
“Pagi-pagi sudah Lelah gitu, memang habis ngapain sih?” Senyumnya mengembang menggoda Eve yang terlihat memelas,
Eve menatapnya dengan tatapan malas, ia malas meladeni gurauan Jimmy yang terasa garing pagi-pagi begini. Lagi ini ia merasa sangat lelah,
Ia melempar bantal geram ke arah suaminya, tapi bantal itu di tangkap sempurna oleh Jimmy.
“Apa kau bisa mengingat kejadian semalam?” tanyanya lagi terus menggoda berhasil membuat wajah Eve merona merah.
“Tidak”
Eve merasa malu menjawab pertanyaan Jimmy, Ia bangkit dari tempat tidur untuk menghindari pertanyaan aneh Jimmy yang membuatnya kulit wajahnya menebal merasa malu,
“O..ya kamu tidak ingat?” Jimmy mencegat dan menarik Eve masuk ke pelukannya dan kembali terbaring ditempat tidur, senyum tertarik disudut bibirnya.
Eve berusaha melepaskan pelukan, Melihat senyum Jimmy yang nampak aneh membuat Eve mengerti kemana arah senyuman itu.
“Iya.. Iya ingat Jim, ingat, aku ingat” Teriak Eve merasa Jimmy sudah nakal memancing ucapannya
“Apa yang kamu ingat?” Jimmy mendekap tubuh Eve lebih erat lagi, seakan benar-benar tak ingin melepaskan.
Jimmy benar-benar nakal, jawab ingat salah, jawab tidak ingat juga salah
“Jim kau harus ke kantor” elak Eve berusaha melepaskan diri dari dekapan Jimmy, tapi sayangnya tenaga Jimmy lebih besar darinya.
“Cium aku dulu” bisiknya mendekatkan bibir ke wajah Eve mau tidak mau Eve menciumnya supaya ia segera dilepaskan Jimmy,
Ketika Eve mencium sekilas, Jimmy malah menahan tengkuknya Mengunci pergerakan Eve, dan mencium bibir pink alami yang selalu ia damba itu, tangannya mulai bergerilya membuka satu persatu kancing piyama, piyama yang ia kancing sendiri tadi malam.
Lelaki berstatus suami istri Eve itu melakukan semuanya perlahan, hingga Eve benar-benar tak menyadari. Ia hanya merasakan terbuai dan tersanjung melalui sentuhan dan cumbuan yang memabukkan.
Mendapati perlakuan lembut membuai itu, Eve tak kuasa menolak setiap sentuhan yang hinggap ditubuhnya, ada desiran aneh yang membuatnya ingin sesuatu yang lebih,
Eve tak menolak, ia mengikuti alur permainan lembut yang di ciptakan Jimmy. Dan terjadilah penyatuan mereka yang kedua kali di pagi yang indah ini, aktivitas pagi yang membuat mereka terus betah berada dikamar.
...***...
Mentari pagi menembus kaca jendela kamar yang tak tertutup rapat gorden, seakan ingin memberi tahu penghuni kamar untuk keluar dari peraduan mereka, Jimmy menyibakkan gorden dan matanya menyipit ketika sinar matahari mengenai matanya.
Dia beralih ke tempat tidur terlihat Eve masih tertidur dengan nyenyak, ia melirik jam yang telah menunjukkan jam sepuluh. Ia mengambil handuk dan kembali mandi, ini adalah mandi yang kedua kalinya pagi hari ini.
Jimmy segera berpakaian rapi dan mengelus rambut Eve lalu berangkat ke kantor. Ia tak membangunkan Eve karena merasa Eve harus beristirahat sementara dirinya akan menemui seseorang yang dia hubungi tadi malam.
Ia merasa bahagia menuju kantornya, kecepatan mobil ia pacu penuh seraya sesekali bersiul-siul, sampai di kantor ia terlihat melambung-lambung kunci, dan tersenyum kesana-kesini melewati ruangan dan karyawan kantornya. sesekali memberi anggukan membalas sapaan karyawan yang menyapanya,
Tangannya terulur membuka pintu ruangannya dan terlihat Agra sedang memeriksa sebuah berkas disana.
“Kau kesambet apa?” tanya Agra yang merasa aneh melihat Jimmy bersiul dan tampak riang tak seperti biasannya yang hanya berbicara seadanya.
Dia tak menjawab, ia hanya melempar senyuman kepada Agra. Membuat Agra semakin aneh bin bingung atas tingkah bosnya di hadapannya ini.
“Cih. Ada apa denganmu, kau habis menang undian? Dapat proyek besar? Atau ..” Agra berusaha menebak apa yang membuat Jimmy tampak bahagia,
“Eve” jawabnya singkat seakan mengisyaratkan Agra untuk mengerti sebuah nama yang ia sebut.
“Hah?” Agra merasa heran akan jawaban Jimmy, tapi sekilas ia merasa paham karena menangkap sekilas hal aneh pada leher Jimmy,
“Buset, Agresif juga” gumamnya pelan seraya menutup mulut merasa kelepasan akan perkataannya.
Jimmy menoleh kepada Agra yang tampak bingung,
“Kau bicara apa?”
“Sepertinya Eve pintar bermain” godanya menunjuk leher Jimmy yang tampak kemerahan
“Ha?"
Jimmy meraba lehernya dan berlari ke toilet, Ia ingin memastikan arah perkataan Agra ada sesuatu di lehernya.
Ia memiringkan lehernya ke arah cermin, dan ternyata benar terdapat bekas beberapa kissmark disana. Senyum puas tertarik di bibirnya.
“Harusnya dia membuat tanda di tempat tersembunyi” gumamnya dengan senyuman menghiasi wajahnya
Ia kembali ke meja kerjanya, ia merogoh kantong jasnya dan mengambil ponsel untuk melakukan panggilan video kepada Eve. Ia ingin menggoda dan meledek Eve telah menciptakan stempel bertinta merah di lehernya.
Panggilan video tersebut diangkat tanpa suara oleh Eve, ia masih bergulung nyaman dibawah selimut.
“Velyn...” Panggil Jimmy memastikan Eve telah menjawab teleponnya
“Hmmm” Hanya itu yang terdengar dari sambungan telepon yang Eve arahkan ntah kemana, layar ponsel terlihat buram
“Eve, Ayo bangun kamu harus sarapan, tadi bibi sudah ku suruh untuk menyiapkan sarapan untukmu” nasehat Jimmy merasa khawatir sudah siang begini Eve juga belum bangun.
“Apa kamu masih lelah?” pertanyaan Jimmy ini sontak membuat Agra menoleh dan mengulum senyum geli,
“Hmmm” kembali lagi hanya itu jawaban Eve
“Aku akan kembali” jawabnya seraya menutup telepon, kemudian ia memberi perintah kepada Agra untuk tetap melanjutkan aktivitas.
“Gra, kau lanjutkan. Aku akan pulang” Ucap Jimmy kepada Agra yang masih melihat dokumen di sofa
“Jim, Eve masih lelah loh” godanya sambil tertawa melihat tingkah Jimmy yang tergesa-gesa akan pulang.
Jimmy tak menjawab ia melemparkan pulpen kepada Agra membalas gurauannya itu,
“Kasian banget sampai lelah gitu”
“Berisik”
“Berapa ronde sih?” godanya lagi melihat Jimmy sudah mulai kesal
“Sekali lagi kau bicara, ku turunkan gajimu” ancam Jimmy kesal sekaligus merasa malu kepada Agra.
Ia berlalu meninggalkan Agra, asisten Jimmy berwajah ganteng ini hanya menggelengkan kepalanya gemas melihat tingkah Jimmy yang sedang kasmaran,
“Dulu ia selalu mengatakan Eve nenek sihir, sekarang ia terkena sihirnya” gumam Agra melanjutkan aktivitasnya.
Jimmy memacu kecepatan mobilnya untuk segera sampai di rumah, ia juga membawa sekotak kue klapetart karamel kesukaan Eve.
“Eve…Velyn.." Jimmy melangkahkan kaki menuju tempat tidur dan menyibakkan selimut, tapi tak ada Eve ia temui.
Jimmy mencari Eve ke kamar mandi, ke ruang kerjanya, ke dapur dan seluruh penjuru mansion tapi ia tidak menemukan Eve disana.
Merasa khawatir ia segera menghubungi Eve tapi ternyata teleponnya bergetar di nakas,
“Kemana Eve?”
Ia bertanya kepada para maid, tapi tak ada yang melihat Eve. Ia merasa aneh karena baru 30 menit setelah ia melakukan panggilan video tadi.
Ia kembali ke kamar dan mendengar gemericik suara air, ia lupa tidak mengecek bathup yang terletak terpisah dari kamar mandi biasa.
“Eve kamu di dalam?”
“Iya” terdengar sayup jawaban Eve dari dalam
Jimmy menghela nafas lega, ia mendudukan dirinya di kasur menunggu Eve keluar dari kamar mandi.
“Kenapa kau kembali?” Tanya Eve setelah menyelesaikan acara berendamnya.
“Apa kau masih lelah?” Jimmy bertanya dengan rasa bersalah di wajahnya. takut saja perbuatannya semalam berakibat buruk pada Eve karena kelelahan,
"Tidak, aku sudah bangun sejak kau pergi” jawabnya seraya mencari baju ganti. Wajah itu sudah terlihat lebih fresh sehingga Jimmy yakin Eve tidak kelelahan lagi,
“Kau membuat tanda di leherku”
“Kau juga membuat tanda di leherku” Eve tak mau kalah menunjuk leher dan sekitar bahu dan dadanya penuh bercak merah.
Jimmy hanya tersenyum melihat pemandangan di hadapannya, ia mengingat kembali aktivitas semalam dan pagi tadi begitu memabukkan hingga tanpa sadar mereka berdua meninggalkan jejak masing-masing.
“Aku merasa khawatir kau belum makan jam segini, Baby Jey pasti kelaparan"
“Aku akan makan sehabis ini, kau kembali saja ke kantor” Usir Eve secara halus.
“Aku tidak mau”
"Ya sudah ayo makan"
Jimmy dan Eve menuju ruang makan dan menikmati hidangan yang sudah tersedia. Setelah itu Eve juga menikmati klapetart yang dibawa Jimmy, kue bertekstur lembut yang mengunggah seleranya,
Setelah selesai menemani Eve makan, Jimmy menerima pesan teks untuk segera menemui nya disebuah tempat dan Eve tidak boleh tahu.
Jimmy bergegas pergi dengan alasan akan kembali ke kantor kepada Eve.
...■■■■■■■...
...Duh Jimmy apalagi?...
Salam dari Nan lexa........ 👍
Btw pikiran Jimmy mengarah ke Ev nih kayaknya, eh tahunya ketebak dalam diri Ev.