NovelToon NovelToon
ELDISKA

ELDISKA

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Romansa-Percintaan bebas / Keluarga & Kasih Sayang / Karir / Persahabatan / Tamat
Popularitas:259.9k
Nilai: 4.8
Nama Author: Shann29

"Sekarang topinya dulu, besok hatinya." Ucap El pada Diska.

AWAS SENYUM SENYUM SENDIRI DAN JADI BAPER!!

Cerita cinta ditahun 90'an.
Yg kangen cerita 90an silahkan merapat dan mengenang bersama masa-masa cinta monyet dan cinta pertama.

Diska Adalah Seorang Remaja Yang Ceria, senang membaca buku dan hobi membeli banyak buku dan Pandai membuat puisi Sementara Eldirga atau yang biasa dipanggil El Seorang Pria Cool dan Galak yang mempunyai hobi bermain gitar dan menciptakan lagu.
Diam Diam Mereka Saling Jatuh Cinta Namun Saling Gengsi.

Bagaimana Kelanjutannya? Simak Terus Kelanjutannya Ya.
Mohon Kritik dan Saran Yang Membangun Untuk Penulis Agar Lebih Berkreatif.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shann29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SEPASANG SEPATU

Sehabis makan malam di rumah Diska, suasana terasa hangat. Aroma masakan masih tersisa, dan cahaya lampu ruang makan membuat semua terlihat nyaman. Kak Dhika, yang baru saja menata piring kotor, menatap Diska sambil tersenyum nakal.

“Dis, besok Minggu olahraga yuk di stadion!” ajaknya penuh semangat.

Diska meneguk teh hangatnya dan menggeleng santai. “Ga bisa, Kak… besok gw mau pergi.”

Kak Dhika mengangkat alisnya penasaran. “Lo emang pergi pagi-pagi?”

“Engga… cuma kalau abis olahraga, gw jadi mager banget,” jawab Diska, matanya menatap cangkir teh, sambil tersenyum tipis.

“Pergi sama El, ya?” tanya Kak Dhika lagi, setengah bercanda.

“Pergi sendiri koq, Kak,” jawab Diska, matanya berkilat sedikit menahan tawa.

Kak Dhika mengangguk, tersenyum nakal, tapi tak melanjutkan pertanyaan.

Keesokan harinya pagi, Diska bersiap lebih awal. Ia menatap ibunya yang sedang menyapu halaman.

“Buu, Diska pergi ya,” katanya sambil menunduk dan mencium tangan ibu.

“Mau kemana, Dis?” tanya ibu dengan nada lembut, mata berbinar penuh rasa ingin tahu.

“Ke toko buku,” jawab Diska singkat, sambil tersenyum.

“Sama El?” ibu menambahkan pertanyaan, nada suaranya sedikit curiga.

“Engga koq, Diska sendiri,” jawab Diska, sambil memeriksa tasnya.

Ibu menatapnya dengan raut wajah heran. “Kenapa ga sama El?”

“Kan ibu tau… Diska kalau di toko buku lama, takutnya El bosan,” jawab Diska dengan senyum tipis, mencoba menjelaskan.

“Kalo El kesini gimana?” tanya ibu lagi, penasaran.

“El kemarin udah kesini, Bu… masa kesini lagi? Kalau kesini juga paling El nunggu. Udah ya Bu, Diska mau jalan dulu,” jawab Diska sambil tersenyum hangat, mencium tangan ibunya sekali lagi, lalu melangkah ke mobilnya.

Sementara itu, di rumah El, pagi itu terasa tegang. Ia menatap ponselnya yang terus bergetar dengan panggilan tak terjawab.

“Kemana sih nih anak… kebiasaan tiap ditelpon ga diangkat, chat ga dibuka, ponsel selalu di silent,” gerutu El dalam hati. Matanya mengerut, setengah jengkel tapi penuh kekhawatiran.

“Kangen gw sama lo, Dis,” gumamnya pelan, seakan ingin Diska mendengar hatinya.

Tanpa banyak pikir, El segera mengambil dompet dan kunci mobil. “Gw ke rumahnya aja dah,” ucapnya sambil bergegas keluar.

“Mau kemana, El?” tanya Papa dari ruang tamu, tersenyum lembut melihat semangat anaknya.

“Mau ke rumah Diska, Pah,” jawab El singkat, matanya tetap fokus pada jalan di depannya.

“Tiap hari ketemu di kantor, kemarin seharian sama Diska?” goda Mama sambil tersenyum nakal.

“Ya kan, Mama tau… Diska di kantor selalu jaga jarak,” jawab El mantap, sedikit tersenyum.

“Iya anak yang penuh tanggung jawab,” sahut Papa, menepuk bahu El.

“Ajak Diska kesini, El,” tambah Mama, matanya berbinar penuh harap.

“Diska kalo libur maunya di rumah terus… tidur, cape mungkin,” jawab El sambil tersenyum, menunduk sebentar mengingat karakter Diska.

“Jadi kemarin cuma di rumah Diska aja? Gak kemana-mana, El? Jalan-jalan gitu, antar Diska shopping gitu?” tanya Mama lagi, dengan nada penasaran.

“Diska bukan tipe yang suka jalan-jalan, kalo shopping juga engga… selalu beli barang sesuai kebutuhan, lebih banyak untuk beli buku. Kalo ada waktu luang, lebih senang baca buku,” jawab El, matanya berbinar penuh kebanggaan.

“Serius kamu, El? Masih ada jaman sekarang cewek seperti itu?” tanya Mama, antara heran dan kagum.

“Ada, Mah… itulah Diska, calon istri El,” jawab El mantap, matanya menatap jauh ke depan, seakan membayangkan masa depan mereka.

Mama dan Papa saling bertatapan, senyumnya hangat. Papa kemudian berkata, “Jangan kamu lepas Diska, El.”

“Engga dong, Pah… hati El udah mentok di Diska. Diska baik, keluarganya juga baik. Waktu El belum pulang ke Papa, ayahnya Diska mau bantu sekolahin El biar bisa mengejar ketinggalan. El nyaman sama Diska dan keluarganya,” kata El sambil tersenyum, matanya berbinar mengenang kebaikan mereka.

“Serius, El?” tanya Papa, suaranya berat tapi hangat.

“Keluarga Diska terima El apa adanya, Pah… mereka tidak pernah menilai orang dari status atau derajat. Bahkan El pacaran sama Diska dari SMP… benar-benar baik,” tambah El dengan tulus.

Papa menatap El dengan mata berkaca-kaca, bangga sekaligus terharu.

“Orang tua Diska selalu menganggap El sebagai anaknya, El pun menyayangi mereka, Pah,” kata El dengan suara pelan tapi mantap.

“Karna itu, El bertekad untuk bisa mengejar ketinggalan dan pulang untuk melamar Diska… El udah nyaman sama Diska dan keluarganya,” ucap El sambil menunduk sejenak.

“Mama tau Diska anak yang baik, terlihat dari caranya menghindari kamu di kantor, karena tidak mau terlihat sebagai orang istimewa. Diska selalu profesional saat bekerja,” sahut Mama, senyumnya hangat.

“Segeralah menikah dengan Diska, El,” tambah Mama sambil tersenyum lembut.

El menghela napas panjang, menatap ke arah pintu. “El pergi dulu ya, Mah, Pah,” kata El sambil berpamitan, matanya bersinar penuh tekad. Ia bergegas keluar rumah dengan langkah mantap.

Diska berjalan perlahan menyusuri lorong toko buku, matanya berhenti di setiap rak seolah sedang mencari sesuatu yang menenangkannya. Jemarinya menyentuh punggung buku-buku dengan lembut, membaca satu per satu judul yang menarik perhatian. Aroma kertas baru dan musik lembut dari pengeras suara toko membuat suasana semakin damai.

Setelah hampir satu jam, ia sudah menumpuk beberapa novel di pelukannya. “Yang ini cukup deh,” gumamnya pelan sambil berjalan ke kasir dan tersenyum sopan pada petugas toko.

Sementara itu, di rumah Diska, El datang dengan wajah sedikit kesal tapi rautnya tetap lembut. Ia masuk ke dalam pagar rumah lalu menyapa sopan.

“Bu, Diska ada?” tanya El.

Ibu yang sedang menyiram tanaman di teras menoleh, tersenyum tipis. “Diska pergi, El. Emang gak bilang, ya?”

El menghela napas, nada suaranya terdengar setengah cemas. “El telpon, ponselnya gak diangkat. Chat juga belum dibaca, Bu.”

Ibu terkekeh kecil sambil menggeleng. “Begitulah Diska. Dari masih sekolah, pegang ponsel juga jarang dilirik. Lebih seneng baca buku daripada main ponsel.”

El ikut tersenyum, matanya lembut. “Pacar El baik ya, Bu.”

Ibu menatap El penuh kasih. “Pacar Diska juga baik,” jawabnya, seolah menyiratkan restu yang diam-diam sudah lama ada.

“Masuk dulu, El. Ibu buatin minum, ya.”

El menunduk sopan dan melangkah masuk, duduk di ruang tamu yang penuh dengan foto keluarga. Matanya sempat tertuju pada foto Diska kecil yang sedang tersenyum malu di depan kue ulang tahun. Entah kenapa, perasaan hangat menyusup ke dadanya.

Sementara itu, Diska sudah keluar dari toko buku dan berjalan ke arah lantai dua mal. Matanya tiba-tiba berhenti pada etalase sepatu pria berwarna hitam polos — sederhana tapi elegan. Ia menatapnya lama, seolah sepatu itu berbicara sesuatu yang hanya ia mengerti.

“Mas, yang ini nomor 42 ada?” tanyanya sopan.

“Sebentar ya, Mbak, saya cek dulu,” jawab penjaga toko sambil tersenyum.

Beberapa menit kemudian, penjaga itu kembali membawa kotak sepatu. Diska mencobanya di tangan, mengamati teksturnya. Ada senyum kecil di bibirnya, senyum yang menyimpan makna. Ia langsung menuju kasir dan membayar.

Sudah sebulan ini ia memikirkan hal itu — ingin memberi sesuatu untuk El.

Besok Senin, ulang tahun El. Diska ingin memberikan sesuatu yang bukan sekadar hadiah, tapi pesan.

Sepasang sepatu untuk seseorang yang ia harapkan selalu tahu ke mana arah untuk pulang — ke dirinya.

Sambil berjalan ke parkiran, Diska membuka ponselnya. Matanya membesar melihat layar.

15 panggilan tak terjawab dari El.

“Mampus… El pasti ngomel nih,” gumamnya dengan nada panik tapi disertai senyum geli.

Notifikasi pesan masuk.

“Gw di rumah lo.”

“Ya ampun…” Diska buru-buru melangkah cepat ke arah parkir, menyalakan mobil, dan melaju pulang.

Saat tiba di rumah, El sudah berdiri di teras dengan tangan menyilang di dada, wajahnya menahan cemas dan sedikit kesal.

“Kemana sih? Gak bilang-bilang,” tegur El begitu Diska keluar dari mobil.

Diska tersenyum manja, mendekat dan langsung memeluknya. “Cari buku, El.”

El menghela napas, nada suaranya masih setengah mengomel. “Kenapa gak ajak gw?”

“Ntar lo bosen nemenin gw berjam-jam di toko buku,” jawab Diska sambil nyengir, suaranya lembut tapi penuh manja.

El akhirnya tak tahan untuk tidak tersenyum. Ia membelai rambut Diska pelan, tatapannya penuh kasih.

“Lain kali bilang ya kalau mau pergi,” katanya dengan nada lebih lembut.

Diska hanya mengangguk kecil sambil tersenyum, dan dalam diam, El menatap wajah itu — wajah yang selalu membuat marahnya hilang dalam hitungan detik.

Keesokan paginya, Diska sudah berangkat ke kantor lebih awal. Ia membawa kotak kecil berisi sepatu yang dibungkus rapi. Hatinya berdebar seperti anak kecil yang ingin memberi kejutan.

Di lift, ia bertemu Pak Fajar. “Mbak Diska, ada yang bisa saya bantu?” tanyanya sopan.

“Bisa bantu saya taruh ini di meja El, Pak?” katanya sambil menyodorkan kotak kecil itu.

Pak Fajar tersenyum heran. “Kenapa gak Mbak Diska aja yang taruh langsung?”

Diska menatap sekeliling, memastikan tak ada yang memperhatikan. “Temenin saya aja ke ruangannya ya, Pak.”

Mereka berjalan ke ruangan El. Diska menatap meja kerja itu — rapi, tapi dingin. Di pojoknya, ia melihat bingkai foto mereka berdua saat di Dufan. Ia tersenyum, lalu meletakkan kado di atas meja, tepat di bawah foto itu.

“Pak, saya permisi ya. Mau langsung kerja,” katanya sopan.

“Iya, Mbak. Selamat bekerja,” jawab Pak Fajar ramah.

Tak lama, El tiba di kantor. Seperti biasa, sebelum menuju ruangannya, ia menyempatkan diri melihat Diska dari jauh. Ia melihat gadis itu sedang duduk di meja kerja, memakan roti dengan tergesa.

“Pasti belum sarapan di rumah,” gumamnya dalam hati, sambil tersenyum kecil.

Ia melangkah ke ruangannya, lalu berhenti begitu melihat sebuah kotak kado di atas meja. Alisnya mengerut, tapi bibirnya perlahan melengkung. Ia membuka perlahan, dan di dalamnya — sepasang sepatu hitam.

Ada kartu kecil terselip di dalamnya. Tulisan tangan Diska yang ia kenal begitu baik:

“Hai cowo galak yang baik banget sama gw,

Selamat ulang tahun ya.

Semoga sepasang sepatu ini bikin lo inget kemana arah buat pulang.

Jangan bosen sama gw ya, El.

Kita jalan terus sama-sama sampai ke tujuan.

Gw sayang lo.

– With love, Diska 💕”

El tersenyum kecil, memandangi tulisan itu lama. “Pantesan gak sarapan… ternyata pagi-pagi banget datang ke kantor,” gumamnya sambil menggeleng, tapi matanya lembut.

Sore hari, El menjemput Diska di divisinya. Semua mata pegawai menatap heran, melihat sang Wakil Direktur berdiri santai menunggu seseorang.

“Lo gak usah jemput gw ke sini, lo kan bisa nunggu di lobby,” kata Diska agak risih, pipinya sedikit memerah.

El tersenyum santai. “Arah kaki gw maunya ke sini… tau ada hati gw di sini.”

Diska menunduk malu, tapi senyumnya tak bisa disembunyikan. Ia menatap langkah El — memakai sepatu yang tadi pagi ia berikan.

“Suka, El?” tanyanya pelan.

“Banget,” jawab El singkat tapi tulus. “Thanks ya, Dis.”

Diska hanya tersenyum.

“Mulai besok, lo gak usah bawa mobil,” kata El tiba-tiba.

“Kenapa?” tanya Diska.

“Besok gw yang anter-jemput lo. Kan kita harus jalan sama-sama, Dis… sampai ke tujuan.”

Diska menatapnya lama, hatinya hangat. “Kalo lo lagi sibuk?”

“Gw bakal suruh orang buat anter-jemput lo,” jawab El mantap.

Setiap hari setelah itu, El selalu menjemput dan mengantar Diska.

“Lo gak capek, El?” tanya Diska suatu sore di dalam mobil.

“Empat tahun di Paris nahan rindu itu lebih capek, Dis,” jawab El santai, tapi matanya berbinar penuh makna.

Diska tertawa kecil. “Abis nikah nanti, kita tinggal di apartemen aja ya?” tanya El.

“Gw lebih suka rumah, El. Gak perlu mewah, cukup ada teras luas kayak rumah Airin… atau taman belakang kayak rumah Ibu,” jawab Diska menatap jendela, membayangkan.

“Nanti gw bikinin rumah sesuai yang lo mau, Dis. Gw janji,” kata El dengan senyum yakin.

Keesokan harinya, El mengirim pesan:

El: “Dis, gw masih ada kerjaan. Lo balik sama Pak Fajar ya. Dia nunggu lo di lobby.”

Diska: “Semangat, El 😘”

Saat pulang, Pak Fajar menunggu di depan lobby.

“Mbak Diska, mari saya antar pulang,” katanya sopan.

“Maaf, Pak, gak usah. Saya naik busway aja,” jawab Diska lembut.

“Tapi saya disuruh Pak El,” kata Pak Fajar, bingung.

Diska tersenyum. “Bilang aja sama El kalo udah nganter saya, ya Pak. Saya gak akan bilang. Permisi.”

Ia melangkah keluar kantor, berjalan sendirian ke arah halte.

Dari kejauhan, El memperhatikan. Ia menarik napas, lalu menyusul langkah Diska. Saat jarak mereka hanya satu langkah, El meraih tangan Diska dan berjalan berdampingan.

Diska menoleh, kaget. “El?!”

“Bandel,” kata El pelan tapi tegas.

“Katanya lo ada kerjaan?” tanya Diska.

“Gw cuma ngetes lo. Ternyata masih keras kepala,” jawab El sambil tersenyum kecil.

Diska tertawa pelan. “Gw takut lo jalan sendirian, tau.”

“Makanya nurut sama gw,” sahut El.

Diska menatap matanya dalam. “Gw gak mau kalo bukan sama lo. Gw lebih baik sendiri.”

El menatap balik, lalu tersenyum. Dalam diam, genggaman tangannya makin erat — seolah janji yang tak butuh kata.

1
Yus Warkop
terimakasih author ceritanya bagus lanjut baca cerita erlan , rehat sbulan nunggu ,puasa dulu
Yus Warkop
🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Yus Warkop
alhamdulillah 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Yus Warkop
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Yus Warkop
EL junior bakalan cepet nongol dech
Yus Warkop
waaw 4 kali
Yus Warkop
ooh jodoh ryan udah nongol naya kayanya
Yus Warkop
jodohin sama mira thor ryan biar seru
Yus Warkop
🥰🥰🥰🥰
Yus Warkop
udah mau nikah elu gwe nya ganti yah dengan yg lebih romantis
Yus Warkop
🥰🥰🥰🥰🥰😂😂🥰😂
Yus Warkop
betapa menenangkan perkataan ibu 🥰🥰🥰
Yus Warkop
aah si El
Yus Warkop
rasain tuh el
Yus Warkop
masih ginta monyet yah seusia gitu
Yus Warkop
sweet sweet
Yus Warkop
aku bacanya sambil mesem" aja ngingetin diri sendiri
Yus Warkop
ya kasih perhatian Dhisa samaEL yah kasian dan maklummin kslo dikit" galak nanti juga gak deh
Yus Warkop
thn 90 aku belum ngenal hp , yg ada tlpn rumah sama tlpn koin tapi itu fi kampung gak tahu kali di ibukota yah haha
Yus Warkop
seneng juga baca kisah smp haha thn 90 han aku udah tamat sma deh 🥰🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!