Alexa Steviola mati mengenaskan bersama janinnya saat terjadi kecelakaan tunggal, saat membuka mata dia tidak percaya jika dia terbangun sebelum kecelakaan itu terjadi.
Diberikan kesempatan kedua Alexa tidak menyia-nyiakannya lagi, dia tidak akan mengejar cinta Lucas suaminya lagi, dia memilih untuk mundur mencoba menjalani hidup yang lebih tenang tanpa harus memaksa Lucas mencintainya.
Lucas sendiri adalah pria yang dia jebak hingga dirinya hamil, Lucas awalnya adalah tunangan Catherine yang merupakan bibi Alexa, hanya karena rasa cemburunya pada Catherine membuatnya gelap mata. Kehidupan kali ini dia memilih untuk mundur, tidak ada gunanya memaksakan perasaan seseorang apalagi Lucas yang dikehidupan sebelumnya sangat mencintai Catherine.
Tetapi perubahan Alexa membuat Lucas kebingungan bahkan Lucas marah saat Alexa berkata ingin bercerai dengannya, Lucas berkata sampai kapanpun dia tidak akan melepaskan Alexa.
Mampukah Alexa mengubah takdir hidupnya? Stay tune!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dokter Kandungan
Sedan Maybach hitam meluncur membelah jalanan kota London yang mulai meredup diselimuti awan sore. Di dalam kabin mobil yang serba mewah itu, kesunyian mendalam tercipta. Tidak ada alunan musik maupun percakapan hangat, hanya suara sapuan wiper yang sesekali membasuh sisa bintik air di kaca depan.
Ben mengemudikan kendaraan dengan serius dan fokus penuh pada jalanan. Sesekali matanya melirik ke arah spion tengah, memantau situasi di baris belakang.
Di kursi penumpang belakang, Alexa menyandarkan kepalanya pada kaca mobil yang terasa dingin. Pandangan matanya menerawang kosong memperhatikan deretan bangunan yang berlari cepat di luar sana. Ucapan-ucapan tajam Siena terus berputar berulang kali di dalam pikirannya, menusuk hingga ke dasar hati yang paling dalam.
Jika dipikir-pikir kembali... sejak ia masih kecil dan tinggal di kediaman Ebera, Siena memang selalu bersikap anti padanya. Ibunya itu tidak pernah sekali pun memberikan pelukan hangat atau pujian tulus. Siena selalu membanggakan Catherine adik kandungnya sendiri sekaligus bibi bagi Alexa. Padahal Alexa adalah darah dagingnya sendiri.
Apakah masuk akal seorang ibu lebih memprioritaskan adiknya daripada anak kandungnya sendiri? Atau itu hanya perasaan Alexa saja.
Rasanya sangat aneh dan janggal. Selama bertahun-tahun, seluruh anggota keluarga besar Ebera seolah kompak menyudutkannya, menyalahkan setiap langkahnya, dan terus-menerus membesar-besarkan nama Catherine.
Catherine memang sosok yang dipandang sempurna, cantik, pekerja keras, ramah, dan populer. Terlebih lagi ketika keluarga Ebera mengetahui Catherine menjalin hubungan bertunangan dengan Lucas Damarion Clinton, pria berpengaruh yang hampir menguasai seluruh bursa saham dan konglomerasi di negara ini. Keluarga Ebera semakin mengagung-agungkan Catherine bagaikan seorang ratu. Hal itulah yang dulu memicu amarah dan obsesi gila dalam diri Alexa hingga nekat merusak segalanya.
Alexa menghela napas panjang dan berat, seolah mencoba mengikis beban tak kasat mata yang menghimpit dadanya hingga sesak.
Helaan napas itu tidak luput dari pendengaran Lucas. Pria yang duduk kaku di sampingnya itu menoleh perlahan. Iris abu-abu gelapnya menangkap raut wajah Alexa yang tampak pucat dan menyimpan rasa lelah yang mendalam.
"Ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Lucas datar, memecah keheningan dengan suara beratnya.
Alexa tersentak kecil, lalu menoleh singkat. Ia menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak ada."
Dalam hatinya, Alexa masih tidak menyangka bahwa Lucas benar-benar ada di sampingnya saat ini. Padahal semalam pria itu masih berada di Sydney bersama Catherine.
Ucapan tegas Lucas di ruang tamu rumah mereka tadi yang mengaku tidak pernah tidur atau menyentuh Catherine masih terngiang-ngiang jelas di benak Alexa. Namun jujur saja, sulit bagi Alexa untuk mempercayainya begitu saja. Hubungan antara Lucas dan Catherine masih berjalan hingga sekarang, status pertunangan mereka di mata publik pun belum pernah dibatalkan secara resmi. Media dan publik seluruh negeri masih menganggap Catherine sebagai satu-satunya calon permaisuri dari keluarga Clinton.
Alexa memindahkan tatapannya pada samping wajah tegas suaminya. Setelah mengumpulkan sedikit keberanian, ia membuka suara dengan nada amat pelan dan ragu.
"Lucas..." panggil Alexa.
Lucas tidak menoleh, jarinya bergerak menggeser layar iPad di pangkuannya. "Bicara."
"Kamu... sebenarnya tidak perlu menemaniku ke rumah sakit," ujar Alexa pelan, menyusun kata-katanya dengan hati-hati.
"Bagaimana kalau nanti ada paparazzi yang memotretmu masuk ke dokter kandungan bersamaku? Itu bisa jadi skandal besar."
Tidak ada jawaban.
Lucas tetap bergeming, matanya menatap tajam dokumen bisnis di layar iPad seolah pertanyaan Alexa hanyalah angin berlalu yang tidak bernilai untuk ditanggapi.
Merasa diabaikan sepenuhnya, Alexa perlahan menggigit bibir bawahnya. Ada rasa getir yang terbit di dalam dadanya. Ia menghela napas tipis, lalu memutuskan memalingkan wajah kembali ke jendela. Alexa mengatupkan matanya rapat-rapat, mencoba mengusir rasa sakit hati dari ucapan Siena maupun sikap dingin pria di sampingnya.
Sementara itu, begitu Alexa memalingkan wajah dan memejamkan mata, jemari Lucas di atas layar iPad mendadak terhenti.
Lucas melirik ke arah istrinya melalui sudut matanya. Ia memperhatikan napas Alexa yang teratur dan raut wajah pucat wanita itu dari dekat. Hatinya yang dingin mendadak bergejolak hebat oleh amarah dan kekesalan yang tidak terucapkan.
"Skandal?" batin Lucas sinis.
"Dia lebih mengkhawatirkan skandal media daripada fakta bahwa aku adalah suaminya?"
Lucas mengalihkan pandangannya kembali ke layar iPad dengan rahang yang semakin mengetat kaku, memendam kekesalannya sendiri di dalam kesunyian mobil yang terus melaju.
Beberapa saat kemudian, sedan Maybach berhenti mulus di area parkir VIP Rumah Sakit St. Mary London.
Ben bergerak cepat keluar dari pintu kemudi, membukakan pintu untuk baris belakang.
"Kita sudah sampai, Tuan, Nyonya."
Alexa membuka matanya perlahan, menyapukan pandangan ke sekeliling gedung rumah sakit yang megah. Ia bersiap untuk turun sendiri, namun sebelum kakinya menyentuh lantai luar, sebuah tangan kokoh sudah terulur di hadapannya.
Lucas berdiri di luar pintu mobil, menatap Alexa kaku tanpa mengedipkan mata.
Alexa terpana sejenak menatap uluran tangan suaminya. "Aku bisa jalan sendiri, Lucas."
"Pegang tanganku, Alexa!" perintah Lucas kaku dan tak terbantahkan, suaranya rendah namun penuh penekanan.
Tidak ingin berdebat di tempat umum, Alexa akhirnya meletakkan telapak tangannya yang agak dingin ke atas telapak tangan Lucas yang hangat dan lebar. Genggaman Lucas seketika mengencang pelan, menuntun Alexa keluar dari mobil dengan hati-hati seolah wanita itu adalah barang kaca yang mudah pecah.
Ben berjalan selangkah di belakang mereka, memasang pandangan sigap memantau area sekeliling untuk memastikan tidak ada jurnalis atau kamera liar yang mendekat.
Mereka bertiga memasuki lorong khusus VIP rumah sakit yang sepi dan eksklusif. Seorang dokter spesialis kandungan senior berjas putih bersama dua perawat sudah berdiri menyambut kedatangan mereka di depan pintu ruang periksa.
"Selamat sore, Tuan Clinton, Nyonya Clinton," sapa dokter pria paruh baya itu dengan ramah dan penuh rasa hormat.
"Saya Dokter Evans. Mari, silakan masuk."
Alexa menatap plang nama dokter dan papan petunjuk di dinding. Rasa heran kembali menyapa pikirannya. Ini adalah salah satu dokter spesialis terbaik dan tersulit untuk ditemui di London, bagaimana bisa jadwalnya bergeser begitu mudah untuk dirinya?.
"Dokter Evans," sapa Alexa sopan sambil melepas genggaman tangan Lucas secara perlahan.
"Maaf atas perubahan jadwal yang mendadak ini."
Dokter Evans tersenyum hangat. "Sama sekali tidak masalah, Nyonya. Tuan Clinton sudah mengatur semuanya agar pemeriksaan hari ini berjalan sangat pribadi dan nyaman untuk Anda."
Alexa menoleh menatap Lucas dengan mata bulatnya. Pria itu hanya berdiri tegap dengan kedua tangan terbenam di saku celana bahan mewahnya, menatap dokter dengan raut wajah datar tanpa ekspresi.
"Silakan berbaring di tempat tidur periksa, Nyonya Alexa. Kita akan melakukan pemeriksaan USG untuk melihat perkembangan bayi Anda," arah Dokter Evans lembut.
Alexa mengangguk pelan. Ia melangkah menuju tempat tidur periksa dan mulai berbaring dibantu oleh perawat. Ketika gaun hamil bagian perutnya tersingkap sedikit untuk diolesi gel bening yang dingin, Alexa menahan napasnya, ada rasa gugup menyergap dadanya.
Tanpa diduga, langkah kaki mantap mendekat ke sisi tempat tidur. Lucas berdiri tepat di samping kepala Alexa.
Pria bertubuh tinggi menjulang itu menunduk menatap perut buncit Alexa yang terolesi gel. Untuk pertama kalinya, mata abu-abu Lucas yang biasa dingin tampak bergetar pelan. Ada ketegangan yang sangat nyata menyelimuti wajah tampannya.
"Apakah ini akan terasa sakit?" tanya Lucas mendadak pada Dokter Evans, suaranya terdengar sangat kaku.
Dokter Evans terkekeh pelan. "Tidak sama sekali, Tuan Clinton. Gel ini hanya terasa agak dingin."
Alexa menengadah menatap profil samping suaminya. Hatinya berdesir aneh melihat ketegangan yang terpancar dari raut wajah Lucas. Apakah pria dingin ini... sebenarnya memikirkan kondisi bayi ini?.
Dokter Evans mulai menempelkan transducer USG ke atas perut Alexa dan menggerakkannya perlahan. Seketika itu juga, layar monitor di samping tempat tidur menyala, menampilkan bayangan hitam putih bergelombang.
Suara detak jantung yang cepat dan nyaring tiba-tiba memenuhi seluruh ruangan periksa.
Lubb-dubb... lubb-dubb... lubb-dubb...
Ruangan seketika menjadi sangat hening, hanya didominasi oleh suara irama kehidupan kecil di dalam rahim Alexa.
Alexa menahan napas, matanya berkaca-kaca menatap layar monitor. Setetes air mata keharuan lolos di sudut matanya.
"Bayiku..."
Sementara itu, Lucas membeku total di tempatnya berdiri. Tatapan matanya terkunci pada gambar di layar dan suara detak jantung yang menggema di ruangan tersebut. Buku-buku jari tangannya yang berada di saku celana mengepal amat erat. Dada pria itu bergemuruh hebat, sebuah sensasi aneh, hangat, sekaligus misterius merayapi jiwanya secara mendadak.
Itu adalah darah dagingnya. Suara detak kehidupan dari anaknya sendiri.
Bersambung...
Semoga kalian suka ya, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian.🥰
lanjut up lagi thor💪💪💪💪💪💪
lanjut thor