"Aku lihat kamu mirip seseorang."
"Mirip siapa?"
"Mirip menantu idaman Papaku."
---
Diego dan Alita, mereka terlihat seperti remaja biasa. Ke sekolah dan belajar seperti siswa pada umumnya.
Perfect partner yang usil dan jahil, tidak sesederhana yang terlihat. Layaknya tumbuhan hijau pemangsa, keduanya menunggu dan memangsa, dan akan menyerang balik jika ada yang mengganggu.
Siang dan malam adalah waktu yang berbeda, begitu pula dengan identitas Mistletoe, Shaun dan Lele.
Status : Tamat.
Lagu rekomendasi :
Johnny Orldano - What if - ft Mackenzie Ziegler
Johnny Orlando - Everybody Wants You
Johnny Orlando - Last Summer
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xiie Lu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Shaun & Lele 30
Happy reading!
.
***
"Shaun Anthony!"
Panggilan itu membuat Diego menghentikan langkah. Pendengarannya tidak bermasalah, Summer memang memanggil namanya. Nama Shaun Anthony yang hanya diketahui sebagai pemimpin masa depan Cosa Nostra, cucu pertama Mark Anthony, pemimpin seluruh bos mafia Sisilia.
Shaun Anthony yang terkenal karena kekejamannya dalam membunuh tanpa jejak, menghilangkan barang bukti dan juga operasi penjualan barang terlarang serta perdagangan senjata ilegal.
"Shaun Anthony ...."
Diego menajamkan pendengarannya, terdengar kekehan kecil dari arah belakang.
"Kamu orangnya, bukan?" Summer membisikkan kalimat itu dengan desisan sinis dan seringai tajam serta tatapan sedingin salju musim dingin. Tangan pemilik lesung pipi itu mengepal, kilatan amarah terpancar jelas dari matanya.
Diego memutar tubuhnya seraya tersenyum lebar, tidak ada ketegangan sama sekali dalam raut wajahnya. Tangannya dilipat di depan dada. "Tepat sekali, akulah orangnya. Shaun Anthony yang menjebakmu dan juga yang mengeluarkanmu dari tahanan serta menghapus riwayat keberadaanmu di kantor polisi," jelasnya dengan seringai serta kilatan tajam.
Tanpa diduga, sebuah pukulan mendarat sempurna di rahang tegasnya. Summer melampiaskan amarah yang memuncak dan mencengkram kerah kemeja pemuda yang memiliki identitas lain itu.
Sudut bibir Diego mengeluarkan darah segar, dia mengusapnya kasar dan kembali tersenyum remeh. "Kamu marah? Itu pantas kamu dapatkan karena menjadikan Alita sebagai pacar pura-puramu, Bajiingan!"
Summer yang dikendalikan amarah karena diserang secara tiba-tiba sebagai tersangka pembunuhan kembali memukul Diego secara brutal. Pemilik manik cokelat muda itu tidak melawan, dia membiarkan Summer memukulnya. Bahkan sampai seluruh wajahnya terciprat darahnya sendiri, Diego masih mempertahankan bibir penuh senyum.
Senyum kemenangan terbit di bibir Summer, tangannya terus memukul Diego, hingga muka tampan itu dan seluruh tubuh pembunuh yang sebenarnya penuh lebam dan luka yang penuh darah.
"Kenapa kamu tidak melawan, Pecundang? Kamu menghancurkan masa remajaku dan aku juga akan menghabisimu dalam sekali pukulan! Aku tidak akan membiarkan hidupmu bahagia!!!"
Summer kembali meninju tepat di tulang hidung Diego membuat hidung mancung pemuda tampan itu mengeluarkan darah. Kini Diego terdiam dengan senyum yang masih terpatri di bibirnya, darah segar terus menguncur dari sana. "Aku tahu, ini kesalahanku."
Tidak mendapatkan serangan balasan dari Diego membuat Summer makin melancarkan pukulan berkali-kali disertai sikutan tajam di wajah pemuda itu, hingga Diego memilih menutup matanya dan tidak sadarkan diri.
Andai semua bisa semudah itu, andai semesta memudahkan balasan itu terjadi begitu saja, andai apa yang dipikirkan Summer benar-benar terjadi, dia akan menjadi seseorang yang paling berbahagia di muka bumi ini dengan ditemani makhluk indah ciptaan Tuhan.
Ya, itu hanya ada dalam bayangan Summer. Tentu saja dia bisa mengalahkan Diego hanya dalam khayalannya semata. Buktinya sekarang dia masih menatap punggung Diego yang membelakanginya.
"Shaun Anthony ...," ujarnya kembali.
Diego masih bergeming, bahkan sekadar untuk menyahut saja dia enggan. Dia hanya ingin mengetahui apa yang dipikirkan Summer. Sudut bibirnya mengedut, menahan tawa yang hampir saja pecah.
"Katanya dia seorang pebisnis gelap Sisilia yang misterius. Dan mengejutkan sekali, dia membantuku menyelesaikan kasus itu," cerita Summer seraya terkekeh miris. "Apa kamu mengenalnya? Kalian berasal dari negara yang sama."
Diego tertawa kecil, dia berbalik dan menatap manik ceria milik Summer. Dengan santai, dia menjawab, "Siapa yang tidak mengetahuinya? Dia sangat terkenal dan paling ditakuti warga Italia, dia dikenal sebagai pembunuh yang paling brutal di sana."
"Aku penasaran seperti apa rupanya, dia misterius tapi mau menolongku," imbuh Summer dengan kekehan yang tersirat, bersedekap dan bersisian dengan Diego sambil membuang arah pandang ke lautan lepas.
Diego mengangkat kedua alisnya tinggi, seringai di bibirnya menajam seiring dengan tangan yang merangkul pundak Summer. Keduanya berangkulan ditemani semilir angin yang membawa banyak arti. "Kamu ingin mendengar rahasia tentang Shaun Anthony?"
Tanpa menunggu persetujuan pemuda itu, Diego mulai menceritakan semua hal yang berkaitan dengan Shaun Anthony, yang tidak lain adalah dirinya sendiri. Keduanya melangkah bersama, ke mana pun asal tidak ada yang mendengar pembicaraan rahasia itu.
Langkah mereka diiringi hembusan angin sore yang mulai menyapa pesisir pantai, semburat jingga mulai menoreh warna yang indah di langit yang hendak ditelan malam.
***
Manik hijaunya menyapu seluruh pesisir pantai, mencari keberadaan dua orang yang tadi bersamanya.
Namun yang ditemukannya hanya Summer yang sedang berdiri sambil melipat kedua tangannya di depan dada seraya menonton dirinya yang sedang bermain pasir.
"Di mana Diego?" tanya Alita pada pemuda itu.
Summer mendekat, ikut menghamburkan pasir seperti yang dilakukan Alita. "Aku tidak tahu, dia baru saja membicarakan omong kosong padaku tadi."
Alita mengerutkan keningnya penasaran. "Apa yang dibicarakannya?"
Summer tersenyum tipis, namun matanya mengilat tajam. "Katanya dia pemimpin masa depan Cosa Nostra, Shaun Anthony."
Alita menengang, tangan yang tadi hendak melempar pasir putih itu segera melemas. "Be-benarkah? Benarkah ... dia mengatakan itu?" tanyanya sedikit mendongakkan wajah agar melihat wajah Summer.
Dia sedikit terkejut, pasalnya Diego bukan orang yang mudah memberitahu identitasnya pada orang lain. Meski teman dekat atau pun kerabat yang tidak ada kaitannya dengan dunia hitam, Diego enggan membuka nama Shaun. Kenapa sekarang pemuda itu dengan mudahnya memberitahu nama aslinya pada Summer?
Rupanya perubahan wajah Alita tidak luput dari pandangan Summer. Pemuda itu mengulum senyum simpul yang tersirat kekejaman di dalamnya. "Sebenarnya aku tidak percaya, tapi dia meyakinkan dengan menunjukkan foto Mr. Michael yang dia bunuh."
Sekali lagi Alita terkejut. Bukan pada pengakuan Summer tentang identitas Shaun Anthony, tetapi dia fokus pada nama Mr. Michael. "Bu-bunuh? Diego pembunuhnya? Tidak mungkin!" ujar Alita sedikit ragu-ragu.
Meski mengetahui identitas asli Diego sebagai Shaun Anthony, Alita tidak tahu banyak tentang apa yang dilakukan Diego di luar selain bersamanya, mencuri dan meledakkan mesin atm tentunya.
Mulutnya tidak bisa berkata apa-apa tatkala Summer mengangguk. "Itu dia, aku tidak percaya," tukas Summer sambil tersenyum.
Alita ber-oh ria, tidak tahu menjawab apa. Dia masih belum yakin dengan pernyataan Summer. Tangannya yang tadi menggenggam pasir harus menelan kekecewaan karena pasir putih itu tidak mendarat di tempat yang diinginkannya.
Melihat raut wajah terkejut milik Alita, Summer kembali bertanya. "Dia benar Shaun Anthony?"
Belum sempat Alita memberi jawaban, suara teriakan dari arah jalanan membuatnya makin meringis kaget. Manik hijaunya melebar sempurna tatkala melihat segerombolan pemuda menuju ke arahnya.
"Hari kiamat bukan besok atau lusa, tapi detik ini juga," gumamnya sambil menghembuskan napas berulang-ulang, bersiap untuk aksi selanjutnya.
Summer yang memerhatikan setiap gerak-gerik Alita mengerut bingung tatkala gadis itu menarik tangannya kasar dan berlari bersama.
"Kenapa lagi sekarang? Kenapa menarikku dengan tiba-tiba?" protes Summer yang sedikit terkejut.
"Jangan banyak bertanya lagi, ayo lari!"
Alita menarik Summer menembus angin sore yang berhembus pelan, menghindar dari kejaran kelompok pemuda yang Alita tahu semua adalah pacarnya.
"Aku tahu ini akan terjadi, tidak mungkin bajiingan itu sebaik hati ini untuk mengantarku ke tempat kencan dengan pria lain," gerutu Alita dengan napas yang tersengal-sengal.
"Mereka ke arah sana!" Terdengar teriakan seseorang.
Alita makin melangkah lebar, menarik Summer yang hendak berhenti. "Jangan berhenti lagi, Bodoh!"
Gerombolan pemuda tampan itu terus mengejar dan Alita mulai kelelahan. Tentu saja, sejak siang dia belum mengisi perutnya dengan makanan. Dan sialnya, sekarang Diego mempermainkannya dengan membawa gerombolan pemuda yang masih sah menjadi pacar selingannya. "Diego brengsekk," umpatnya sambil terus berlari.
Sementara itu, dari arah laut, pemilik manik cokelat itu berbaring dengan santai di atas perahu, menonton aksi kejar-kejaran yang sengaja dibuatnya tadi. Kacamata hitam menutupi manik cokelat madunya dari paparan sinar jingga.
Diego menyeringai saat mengetahui Summer juga menjadi sasaran. "Tentu saja aku tidak akan membiarkanmu mendapat informasi tentangku dari Lele, Summer. Kamu menggunakan kecerdasanmu, tapi aku menggunakan kelicikanku. Kamu mungkin bisa memancing Lele, tapi tidak denganku. Siapa bilang Shaun Anthony akan mudah dikalahkan oleh golongan kecil dan lemah?" ucapnya sambil tertawa lebar.
.
---
---
***