Pernikahan adalah tentang kepercayaan. Setidaknya itu yang diyakini oleh Arini selama lima tahun pernikahannya dengan Galang. Namun saat kenyataan itu terungkap secara tidak sengaja, ternyata pernikahan mereka hanyalah sebuah lelucon yang dibuat oleh suami dan selingkuhannya selama ini. Dan dia hanyalah wanita bodoh yang tidak tau apa-apa, dan sudah bekerja keras untuk membangun reputasi suaminya sebagai istri yang baik selama ini.
Hancur dan merasa di bohongi sudah pasti, lalu apa yang akan dilakukan Arini setelah mengetahui semua kebohongan suaminya?
Apakah dia bisa bertahan di kerasnya hidup tanpa Galang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Baru
Galang berdiri mematung di balik barisan wartawan, tubuhnya gemetar hebat. Kenyataan itu menghantamnya lebih keras daripada palu hakim mana pun. Arini, wanita yang selama lima tahun ia anggap sebagai alat untuk memperkaya diri, yang ia bohongi dengan pernikahan palsu, dan ia isolasi dari dunianya ternyata adalah pemegang takhta tertinggi di salah satu imperium bisnis yang selama ini ia kagumi.
"Tidak mungkin... ini tidak mungkin," gumam Galang dengan bibir pucat.
Di atas panggung, Arini tampak begitu bersinar. Ia menjawab pertanyaan wartawan dengan kecerdasan yang selama ini Galang gunakan untuk kepentingannya sendiri. Namun kali ini, Arini melakukannya untuk dirinya sendiri.
"Nona Arini, bagaimana dengan perusahaan-perusahaan kecil yang selama ini bernaung di bawah arahan Anda sebelumnya? Apakah Samudera Group akan melakukan akuisisi?" tanya seorang jurnalis.
Arini tersenyum tenang, melirik Kevin sejenak sebelum menjawab. "Kami hanya akan bekerja sama dengan perusahaan yang memiliki nilai moral yang sejalan dengan kami. Untuk perusahaan yang dibangun di atas pondasi kebohongan dan kepalsuan, kami tidak memiliki ruang bagi mereka."
Kalimat itu adalah belati bagi Galang. Ia tahu Arini sedang berbicara padanya, di depan seluruh negeri.
Setelah konferensi pers berakhir, Galang mencoba menerobos barisan keamanan dengan sisa-sisa keberaniannya. Ia harus bicara pada Arini. Jika ia bisa berlutut dan memohon, jika ia bisa menjelaskan bahwa ia terpaksa melakukan itu semua, mungkin Arini akan luluh.
"Arini! Arini, tunggu!" teriak Galang saat melihat Arini berjalan menuju lift eksekutif didampingi Kevin dan Pak Bayu.
Langkah Arini terhenti. Ia menoleh perlahan. Kevin segera pasang badan, menghalangi jalan Galang, namun Arini menyentuh lengan Kevin lembut, memberi isyarat bahwa ia bisa menanganinya.
"Biarkan dia, Vin. Ada satu hal yang perlu dia dengar secara langsung," ucap Arini dengan nada datar.
Galang terengah-engah di depan Arini, wajahnya tampak menyedihkan dibandingkan dengan penampilan Arini yang sempurna. "Rin... kenapa kamu tidak pernah bilang? Kenapa kamu membiarkan aku... aku melakukan semua kesalahan itu tanpa tahu siapa kamu sebenarnya?"
Arini tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat asing di telinga Galang. "Kesalahan, Galang? Kamu menyebut pengkhianatan dan kebohongan selama lima tahun sebagai 'kesalahan' karena kamu baru tahu aku kaya? Jadi, jika aku tetap menjadi Arini yang si gadis miskin kamu akan merasa tindakanmu benar?"
"Bukan begitu, Rin. Aku... aku hanya bingung. Aku mencintaimu, aku bersumpah. Dita itu hanya masa lalu yang sulit kulepaskan karena Galih—"
"Cukup, Galang. Jangan bawa nama anak kecil itu untuk menutupi kebusukanmu," potong Arini tajam. "Kamu tidak mencintaiku. Kamu mencintai apa yang bisa kuberikan untuk perusahaanmu. Sekarang, ketika kamu tahu siapa Papa dan siapa aku, kamu merasa menyesal bukan karena kehilangan cintaku, tapi karena kehilangan akses menuju kekuasaan ini."
"Aku bisa berubah, Arini! Beri aku kesempatan. Aku akan melakukan yang terbaik, aku bisa membantumu!" Galang mencoba meraih tangan Arini, namun Kevin dengan cepat menepisnya.
"Tuan Galang, saya rasa Anda lupa posisi Anda," Kevin melangkah maju, sorot matanya mengintimidasi. "Besok pagi, tim hukum saya akan melayangkan gugatan perdata terkait penggelapan aset pribadi Arini yang Anda gunakan untuk membeli aset atas nama Dita. Dan jangan lupa soal investigasi pajak. Anda tidak butuh pekerjaan baru, Anda butuh pengacara yang sangat hebat untuk menghindari jeruji besi."
Galang ternganga, matanya beralih ke Pak Bayu yang sejak tadi hanya diam menatapnya dengan jijik.
"Pa... tolong, saya pernah menjadi menantu Anda..."
"Jangan panggil papa. Kamu tidak pernah menjadi menantu saya," sahut Pak Bayu dengan suara berat. "Kamu hanya seorang penipu yang sudah berhasil anakku yang bodoh. Dan waktu itu sudah habis. Pergi dari sini sebelum saya memanggil polisi atas kekacauan yang kamu buat."
Galang tersungkur di lantai lobi saat petugas keamanan menyeretnya keluar. Ia melihat dari kejauhan pintu lift tertutup, memisahkan dunianya yang hancur dengan dunia Arini yang kini melambung tinggi.
Di dalam lift yang bergerak naik, keheningan sempat menyelimuti mereka bertiga. Arini menghela napas panjang, melepaskan sisa ketegangan yang sempat muncul.
"Kamu baik-baik saja, Rin?" tanya Kevin lembut.
"Aku merasa lebih dari baik, Vin. Melihat wajahnya yang ketakutan tadi... itu adalah penutup yang sempurna untuk lima tahun penderitaanku," jawab Arini. Ia menatap Kevin dengan tulus. "Terima kasih sudah berdiri di sana tadi."
Kevin tersenyum, kali ini ada binar yang berbeda di matanya. "Aku akan selalu berdiri di sana, selama kamu mengizinkannya. Bukan sebagai pelindung karena kamu lemah, tapi sebagai mitra karena kamu hebat."
Pak Bayu berdeham, mencoba mencairkan suasana yang mulai terasa hangat di antara dua orang muda itu. "Nah, sekarang kita punya perusahaan untuk dikelola. Arini, kamu sudah siap melihat kantormu yang sebenarnya?"
"Sangat siap, Pa. Aku akan memimpin perusahaan kita dengan baik."
"Sudah seharusnya, karena kamu adalah satu-satunya penerus papa.
Satu bulan berlalu. Dunia bisnis Jakarta dikejutkan dengan runtuhnya perusahaan Galang. Seluruh asetnya disita, dan kabarnya Galang harus tinggal di kontrakan sempit bersama Dita setelah rumah mewahnya dilelang oleh bank. Tidak ada satu pun rekan bisnis yang mau menolongnya, mereka semua takut berurusan dengan kekuatan Samudera Group dan ketajaman hukum Mahendra Group.
Di kantor pusat Samudera Group, Arini sedang meninjau laporan mingguan saat Sania muncul di ruangannya. Ternyata, Arini menarik Sania untuk bekerja di perusahaannya karena tahu Sania adalah pekerja keras yang jujur.
"Bu Arini, ada kiriman bunga lagi di lobi," ujar Sania dengan senyum menggoda.
Arini mengerutkan kening. "Dari siapa lagi? Jika dari mantan klien yang ingin menjilat, buang saja."
"Bukan, Bu. Ini dari Pak Kevin Mahendra. Katanya... untuk merayakan satu bulan kesuksesan merger kita dengan investor Singapura yang baru," Sania meletakkan kartu ucapan di meja Arini.
Arini mengambil kartu itu dan membacanya.
'Untuk Arini yang sudah tidak lagi menjadi figuran. Mari kita tulis bab baru malam ini. Makan malam di tempat biasa?'
Arini tersenyum tanpa sadar. Ia merogoh ponselnya dan mengetik pesan balasan.
'Bab baru terdengar menarik. Jemput aku jam tujuh. Dan jangan bawa berkas hukum kali ini, Vin.'
Di pinggiran kota, Galang mungkin sedang meratapi nasibnya di tengah tumpukan surat tagihan. Namun di sini, di bawah langit Jakarta yang mulai jingga, Arini Samudera berdiri di dekat jendela besarnya. Ia bukan lagi wanita yang terbangun karena teriakan amarah di ruang makan. Ia adalah wanita yang menyambut pagi dengan keyakinan, dikelilingi oleh orang-orang yang menghargainya bukan karena apa yang ia miliki, tapi karena siapa dia sebenarnya.
Badai telah berlalu, dan matahari yang terbit kali ini benar-benar miliknya.