Berikut deskripsi novel singkatnya.
Jennaira Hanania Mecca Nirankara tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah setelah menerima perjodohan dengan Arshaka Zayd Kalandra, pria dingin pewaris keluarga Kalandra yang sulit percaya pada cinta.
Pernikahan mereka dimulai tanpa kehangatan. Setelah akad, Shaka menetapkan batas yang jelas antara dirinya dan Jenna. Baginya, Jenna hanyalah tanggung jawab, bukan seseorang yang boleh masuk terlalu jauh ke dalam hidupnya.
Namun Jenna, dengan kelembutan, kesabaran, dan ketulusan hatinya, perlahan membuat pertahanan Shaka runtuh. Dari rasa penasaran, cemburu, hingga perhatian yang tak lagi mampu ia sembunyikan, Shaka mulai menyadari bahwa Jenna bukan sekadar istri yang dijodohkan dengannya.
Ia adalah perempuan yang diam-diam mengubah rumahnya menjadi tempat pulang, dan hatinya menjadi sesuatu yang kembali ingin percaya pada cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aiza-ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 — Rumah Baru
Pagi datang dengan sunyi.
Cahaya matahari perlahan masuk melalui celah tirai kamar hotel, jatuh lembut di atas lantai marmer dan sisi ranjang yang masih rapi. Aroma bunga dari sisa dekorasi pernikahan semalam masih samar terasa di udara, bercampur dengan dinginnya pendingin ruangan.
Jenna membuka mata perlahan.
Untuk beberapa detik, ia hanya menatap langit-langit kamar, mencoba mengingat di mana dirinya berada.
Lalu semuanya kembali.
Akad.
Resepsi.
Ucapan dingin Shaka.
Malam pertama yang penuh jarak.
Jenna bergerak sedikit, lalu menyadari sesuatu.
Ia berada di atas ranjang.
Matanya langsung terbuka lebih lebar.
Jenna bangkit perlahan, menatap sekeliling kamar. Dan di sofa dekat jendela, ia melihat Shaka tidur dengan posisi tidak terlalu nyaman. Tubuh tingginya tampak sedikit tertekuk karena ukuran sofa yang tidak sebanding dengannya. Satu lengannya terlipat di atas dada, wajahnya tetap terlihat dingin bahkan saat tertidur.
Jenna terdiam.
Semalam ia jelas tidur di sofa.
Lalu kenapa sekarang dirinya berada di ranjang, sementara Shaka justru tidur di sofa?
Jawabannya terlalu mudah ditebak.
Shaka memindahkannya.
Untuk sesaat, hati Jenna bergerak kecil. Namun ia segera menahan perasaan itu sebelum tumbuh terlalu jauh.
Tidak.
Ia tidak boleh mudah luluh hanya karena satu sikap kecil.
Laki-laki itu sudah membuat batas. Laki-laki itu sudah berkata bahwa ia menikah karena keinginan ibunya. Laki-laki itu sudah mengatakan Jenna tidak berhak mencampuri hidupnya.
Jadi Jenna tidak ingin mengartikan apa pun.
Ia menurunkan kakinya dari ranjang dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara. Setelah mengambil pakaian dari koper kecil yang sudah disiapkan, ia masuk ke kamar mandi.
Air hangat mengguyur tubuhnya, tetapi tidak sepenuhnya menghilangkan rasa berat di dada.
Setelah mandi, Jenna mengambil wudhu dan menunaikan salat Subuh. Di atas sajadah kecil yang ia bawa dari rumah, ia berdoa lebih lama dari biasanya.
“Ya Allah,” bisiknya pelan, “kuatkan hati Jenna. Jadikan Jenna istri yang sabar, tapi jangan biarkan Jenna kehilangan dirinya sendiri.”
Setelah selesai, Jenna berganti pakaian dengan gamis sederhana berwarna soft beige, khimar panjang senada, dan cadar yang menutupi wajahnya dengan rapi. Ia merapikan barang-barangnya sedikit, lalu duduk di kursi dekat meja kecil sambil menunggu waktu berjalan.
Shaka masih tidur di sofa.
Jenna tidak membangunkannya.
Bukan karena ia ingin bersikap buruk.
Ia hanya belum tahu bagaimana harus memperlakukan laki-laki itu setelah semua yang terjadi.
Sekitar satu jam kemudian, pintu kamar diketuk pelan.
Jenna berdiri dan membuka pintu sedikit. Seorang staf hotel berdiri di luar dengan sikap sopan.
“Selamat pagi, Bu Jenna. Maaf mengganggu. Keluarga sudah berkumpul di restoran privat untuk sarapan bersama. Bapak dan Ibu diminta turun kalau sudah siap.”
Jenna mengangguk.
“Baik, terima kasih.”
Setelah pintu kembali tertutup, Jenna menoleh ke arah sofa.
Shaka masih tertidur.
Jenna menarik napas pelan, lalu berjalan mendekat.
“Mas Shaka.”
Tidak ada jawaban.
Jenna berdiri beberapa langkah dari sofa, menjaga jarak.
“Mas Shaka,” panggilnya lagi, kali ini sedikit lebih jelas.
Shaka bergerak sedikit. Dahinya berkerut, lalu matanya terbuka perlahan.
Untuk beberapa detik, mata mereka bertemu.
Jenna berdiri dengan wajah tertutup cadar, matanya datar dan tenang. Shaka menatapnya dari sofa, masih setengah sadar. Di antara mereka, pagi pertama sebagai suami istri terasa kaku dan asing.
Shaka bangun perlahan, lalu duduk.
“Ada apa?”
Suaranya serak karena baru bangun.
Jenna menjawab datar, “Staf hotel tadi mengetuk pintu. Keluarga sudah menunggu untuk sarapan bersama.”
Shaka mengusap wajahnya, lalu melirik jam di meja.
“Jam berapa?”
“Hampir tujuh.”
Shaka mengangguk singkat. “Saya mandi dulu.”
Jenna tidak menjawab. Ia hanya mundur beberapa langkah, memberi ruang.
Shaka berdiri dari sofa. Bahunya terasa sedikit kaku, tetapi ia tidak menunjukkannya. Saat berjalan menuju kamar mandi, ia sempat melihat ranjang yang tadi ditempati Jenna. Selimutnya sudah rapi, seolah Jenna berusaha menghapus tanda bahwa ia pernah tidur di sana.
Shaka berhenti sebentar.
Lalu ia masuk ke kamar mandi tanpa mengatakan apa pun.
Sementara menunggu, Jenna duduk di tepi sofa yang tadi dipakai Shaka tidur. Ia menyentuh sedikit bantal yang masih hangat, lalu segera menarik tangannya kembali.
Ia tidak ingin hatinya bingung.
Tidak sekarang.
Beberapa belas menit kemudian, Shaka keluar dari kamar mandi. Ia sudah berganti pakaian dengan kemeja putih dan celana bahan hitam. Rambutnya masih sedikit basah, tetapi penampilannya sudah rapi seperti biasa.
Jenna berdiri.
“Sudah siap?” tanya Shaka.
“Iya.”
Mereka berjalan keluar kamar bersama.
Di sepanjang lorong hotel, tidak ada percakapan di antara mereka. Jenna berjalan di sisi kanan Shaka dengan jarak sopan. Shaka menyesuaikan langkahnya agar tidak terlalu cepat, meski ia tidak mengatakan apa-apa.
Ketika lift turun menuju lantai restoran privat, pantulan mereka terlihat di dinding kaca.
Sepasang pengantin baru.
Serasi dari luar.
Jauh dari dalam.
Pintu lift terbuka.
Mereka berjalan menuju restoran privat yang sudah dipesan keluarga. Dari luar saja, suara obrolan hangat sudah terdengar. Begitu mereka masuk, semua mata langsung tertuju kepada mereka.
“Pengantinnya datang!” seru Aruna dengan wajah cerah.
Jenna menunduk sopan. “Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam,” jawab keluarga besar hampir bersamaan.
Ruangan itu dipenuhi keluarga inti dan keluarga besar dari dua pihak. Reza dan Zahra sudah duduk berdampingan. Abizar duduk di sebelah ayahnya, langsung menatap Jenna dengan pandangan memeriksa, seperti biasa. Di sisi lain, Aditya dan Aruna duduk bersama orang tua mereka.
Ada kakek dan nenek Jenna dari pihak keluarga Nirankara, yang wajahnya tampak hangat dan penuh kasih. Ada pula oma dan opa Shaka, pasangan sepuh yang terlihat anggun dan berwibawa, tetapi matanya lembut saat melihat cucu mereka datang bersama istrinya.
Zahra langsung berdiri ketika Jenna mendekat.
“Nak, sudah tidur nyenyak?”
Pertanyaan sederhana itu membuat dada Jenna sedikit menghangat.
Ia mencium tangan ibunya dengan lembut.
“Alhamdulillah, Bu.”
Abizar memperhatikan mata Jenna. Sebagai kakak, ia tahu adiknya terlalu pandai menyembunyikan perasaan. Namun di depan keluarga besar, ia tidak bertanya apa pun.
“Pagi, Dek,” ucapnya.
“Pagi, Kak Abi.”
Abizar melirik Shaka sebentar, lalu kembali menatap Jenna.
“Kalau ada yang kurang nyaman, bilang.”
Jenna tahu maksud kakaknya lebih dari sekadar soal kamar hotel atau sarapan.
Ia mengangguk kecil. “Iya, Kak.”
Sementara itu, Aruna sudah menarik Jenna untuk duduk di dekatnya.
“Jenna, sini duduk dekat Mama.”
Jenna sedikit tertegun mendengar panggilan itu.
Mama.
Aruna mengucapkannya dengan sangat natural, seolah Jenna memang sudah lama menjadi bagian dari keluarga mereka.
Jenna menunduk sopan. “Iya, Ma.”
Aruna langsung tersenyum haru.
Shaka yang melihat itu hanya diam, tetapi ada sesuatu yang bergerak kecil di wajahnya.
Sarapan dimulai dengan suasana hangat. Hidangan tersaji lengkap: nasi goreng, bubur ayam, roti panggang, buah segar, dimsum, teh hangat, kopi, dan berbagai menu sarapan lain. Para orang tua berbincang santai, sementara keluarga besar sesekali menggoda pengantin baru.
Nenek Jenna menatap Shaka dengan mata menyelidik namun lembut.
“Shaka, sekarang cucu Nenek sudah jadi tanggung jawabmu.”
Shaka menunduk sopan. “Iya, Nek.”
“Jenna itu anaknya lembut. Tapi kalau sudah punya pendirian, susah digoyang.”
Abizar langsung menimpali, “Benar, Nek. Jangan tertipu wajah kalemnya.”
Jenna menoleh kepada kakaknya.
“Kak Abi.”
Abizar tersenyum santai. “Apa? Kakak sedang memberi informasi penting.”
Oma Shaka ikut tertawa kecil.
“Bagus kalau begitu. Shaka juga keras kepala. Berarti mereka seimbang.”
Rafa memang tidak ikut sarapan keluarga besar, tetapi kalau ia ada di sana, ia pasti akan menyetujui kalimat itu paling keras.
Aruna menatap Jenna dan Shaka bergantian.
“Pengantin baru biasanya masih malu-malu.”
Aditya tersenyum tipis. “Atau sama-sama terlalu kaku.”
Reza tertawa kecil. “Kalau Shaka kaku, itu sepertinya benar. Jenna biasanya tidak sekaku ini.”
Jenna menunduk semakin dalam.
Shaka tetap diam, tetapi rahangnya sedikit mengeras karena menjadi bahan candaan keluarga.
Abizar melihat itu dan tampak puas.
“Mas Shaka harus banyak sabar. Jenna kalau sudah merajuk, diamnya bisa lama.”
Jenna menatap Abizar tajam dari balik cadar.
“Kak Abi tahu dari mana?”
“Pengalaman sebagai kakak laki-laki selama dua puluh enam tahun.”
Zahra menahan tawa.
Jenna sebenarnya ingin membalas, tetapi ia memilih diam. Bukan karena kalah, melainkan karena tidak ingin suasana semakin membuatnya malu.
Shaka melirik Jenna sekilas.
Diamnya Jenna pagi itu terasa berbeda. Ia bukan hanya malu karena digoda keluarga. Ada jarak yang masih ia pertahankan.
Jarak yang dibuat oleh ucapan Shaka sendiri.
Sarapan berlangsung cukup lama. Keluarga besar berbincang tentang acara pernikahan semalam, memuji dekorasi, makanan, dan kelancaran akad. Para orang tua juga membicarakan rencana kunjungan keluarga setelah Jenna dan Shaka mulai tinggal di rumah baru mereka.
Setelah makan selesai, Shaka meletakkan gelasnya dan menatap Aditya serta Aruna.
“Pa, Ma.”
Percakapan perlahan berhenti.
Aditya menoleh. “Iya?”
Shaka duduk lebih tegak.
“Shaka pamit. Setelah ini Shaka akan membawa Jenna ke rumah baru kami.”
Ruangan menjadi sedikit hening.
Aruna yang sejak tadi tersenyum langsung menahan napas pelan. Ia sudah tahu keputusan itu, tetapi mendengarnya diucapkan di hadapan keluarga tetap membuat hatinya berat.
Zahra juga terdiam. Jemarinya yang tadi memegang cangkir teh berhenti bergerak.
Jenna menunduk.
Ia tahu momen ini akan datang.
Momen ketika ia benar-benar pergi dari keluarganya sebagai seorang istri.
Reza menatap putrinya, lalu menatap Shaka.
“Rumahnya sudah siap?”
“Sudah, Om.” Shaka berhenti sebentar, lalu mengoreksi dirinya. “Ayah.”
Reza terdiam sepersekian detik.
Lalu senyum kecil muncul di wajahnya.
“Iya. Ayah.”
Jenna menatap Shaka sekilas. Ia tidak menyangka Shaka akan menggunakan panggilan itu dengan begitu cepat.
Aditya mengangguk.
“Kalau rumahnya sudah siap, bawa istrimu dengan baik.”
“Iya, Pa.”
Aruna menggenggam tangan Jenna.
“Nak, kalau butuh apa pun, hubungi Mama. Jangan sungkan. Rumah Mama dan Papa tetap rumahmu juga.”
Jenna merasakan matanya mulai panas.
“Iya, Ma. Terima kasih.”
Zahra berdiri perlahan, lalu mendekati Jenna. Ia memeluk putrinya dengan lembut, berusaha menahan air mata.
“Jaga diri baik-baik, Nak.”
Jenna membalas pelukan ibunya.
“Iya, Bu.”
“Jangan lupa makan. Jangan terlalu lelah. Kalau ada apa-apa, cerita.”
Jenna hanya mampu mengangguk.
Reza berdiri dan mendekat. Ia menatap putrinya lama, lalu mengusap pelan puncak kepala Jenna seperti yang sering ia lakukan sejak Jenna kecil.
“Anak Ayah sudah punya rumah sendiri sekarang.”
Air mata Jenna akhirnya jatuh.
“Ayah…”
Reza tersenyum, meski matanya ikut berkaca-kaca.
“Bahagia, ya. Itu doa Ayah.”
Jenna mengangguk.
Abizar berdiri di belakang mereka dengan wajah yang berusaha biasa saja. Namun ketika Jenna menoleh kepadanya, wajah kakaknya jelas menahan haru.
“Kak Abi,” panggil Jenna lirih.
Abizar menghela napas, lalu membuka tangannya sedikit.
Jenna langsung memeluk kakaknya.
Abizar mengusap punggung adiknya pelan.
“Jangan sok kuat terus,” bisiknya hanya untuk Jenna. “Kalau sedih, bilang. Kalau butuh pulang, pulang. Rumah ini tetap rumahmu.”
Jenna menangis pelan dalam pelukan kakaknya.
“Iya, Kak.”
Setelah melepas pelukan, Abizar menatap Shaka.
Tatapannya berubah serius.
“Mas Shaka.”
Shaka menoleh.
“Jaga adik saya.”
Shaka menatap Abizar tanpa menghindar.
“Iya.”
Abizar masih menatapnya beberapa detik, seolah memastikan jawaban itu bukan sekadar formalitas.
Lalu ia mengangguk pelan.
Keluarga besar kemudian bergantian memberi doa. Nenek dan kakek Jenna menasihati mereka agar sabar dalam rumah tangga. Oma dan opa Shaka mengingatkan bahwa pernikahan bukan tentang siapa yang paling kuat, tetapi siapa yang paling mau mengalah demi kebaikan.
Jenna mendengarkan semua itu dengan hati berat.
Di satu sisi, ia takut.
Takut memasuki rumah baru bersama laki-laki yang belum benar-benar membuka hatinya.
Namun di sisi lain, ia tahu ini adalah jalan yang sudah ia pilih.
Setelah berpamitan, Shaka dan Jenna berjalan keluar dari restoran privat. Beberapa staf hotel sudah membantu membawa barang-barang mereka ke mobil.
Di lobi hotel, Aruna kembali memeluk Jenna erat.
“Mama akan sering datang, ya?”
Jenna tertawa kecil di tengah air matanya. “Iya, Ma.”
“Shaka, jangan melarang Mama datang.”
Shaka menjawab datar, “Tidak, Ma.”
“Bagus.”
Zahra juga memeluk Jenna sekali lagi. Kali ini lebih lama.
Ketika akhirnya Jenna masuk ke mobil, ia menatap keluarganya dari balik kaca. Reza berdiri dengan wajah tegar. Zahra mengusap air matanya. Abizar mengangkat tangan kecil, memberi isyarat agar Jenna tetap kuat.
Mobil mulai bergerak perlahan meninggalkan hotel.
Jenna menatap ke belakang sampai keluarganya tidak lagi terlihat.
Di kursi kemudi, Shaka menyetir dalam diam.
Ia bisa mendengar napas Jenna yang sedikit bergetar. Ia tahu perempuan itu menangis pelan, meski berusaha tidak bersuara.
Untuk beberapa saat, Shaka tidak mengatakan apa-apa.
Lalu, dengan suara rendah, ia berkata, “Rumah kita tidak jauh dari rumah orang tuamu.”
Jenna menoleh sedikit, tetapi tidak menjawab.
Shaka tetap menatap jalan.
“Kalau kamu ingin pulang mengunjungi mereka, saya tidak akan melarang.”
Jenna terdiam.
Kalimat itu bukan permintaan maaf.
Bukan pula kehangatan yang ia harapkan.
Tetapi setidaknya, untuk pagi itu, kalimat tersebut menjadi tanda kecil bahwa Shaka tidak sepenuhnya ingin memutusnya dari keluarga.
Jenna mengusap air matanya perlahan.
“Terima kasih,” jawabnya datar.
Shaka mendengar nada itu.
Masih jauh.
Masih terluka.
Namun ia tidak menyalahkan Jenna.
Mobil terus melaju menuju rumah baru mereka.
Rumah yang akan mereka tinggali bersama.
Rumah yang seharusnya menjadi awal kehidupan baru.
Namun bagi Jenna dan Shaka, rumah itu bukan hanya tempat pulang.
Ia adalah tempat dua orang asing yang sudah terikat akad akan belajar menghadapi jarak, luka, dan kemungkinan untuk saling memahami.
Entah perlahan.
Entah sulit.
Entah dengan air mata lebih dulu.