Su Yinyin adalah aktris cantik yang baru mekar. Ia banyak memghabiskan waktu bersama pria tampan dan mempermainkan mereka. Semua mengagumi dan mencintai nya. Namun, bagaimana jika ia harus masuk ke dalam novel berlatar kuno dan menakhlukan hati seorang pangeran kedua yang dingin dengan tingkat cinta minus seratus! Gila itu sih bukan cinta tapi sudah tidak cinta dari awal!
Belum lagi ditambah konflik Dikrit Kaisar yang mengharuskan pangeran kembali menikahi Putri Mahkota dari Utara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Kertas tua di tangan Su Yinyin bergetar tertiup angin malam yang menderu pelan di antara pilar-pilar batu kuil yang lapuk. Sketsa teratai perak yang tertera di atasnya memantulkan cahaya pucat bulan sabit, seolah menyimpan rahasia besar yang selama bertahun-tahun sengaja dikubur rapat di luar jangkauan kekaisaran. Bau anyir darah segar dari para penyerang yang tewas mulai bercampur dengan aroma dupa tua yang menguap dari altar reruntuhan.
Mo Jue mendekat tanpa suara. Pria itu merapikan mantel bulu serigala di pundak Su Yinyin untuk melindunginya dari hawa dingin malam yang semakin menusuk tulang. Jemari kekarnya menyentuh pundak wanita itu sejenak, memastikan tidak ada luka tersembunyi di balik jubah sutra yang dikenakannya. Setelah itu, Mo Jue menunduk, ikut memandangi lambang asing tersebut dengan kening berkerut dalam. Urat di pelipisnya merileks perlahan, berganti dengan sorot mata yang penuh pertimbangan.
"Wilayah perbatasan selatan," gumam Mo Jue rendah, suaranya hampir tak terdengar di atas desau angin malam. Manik mata kelamnya menyipit tajam, menatap hamparan peta geografis kekaisaran yang terpatri di dalam ingatannya. "Tempat itu bukan bagian dari teritori yang mudah dijamah. Selama puluhan tahun, wilayah tersebut berada di bawah kendali klan independen dan pedagang gelap. Mereka tidak pernah tunduk secara mutlak pada titah Kaisar di ibu kota."
Su Yinyin bangkit perlahan dari posisi jongkoknya. Ia melipat kertas itu dengan hati-hati, memastikan tidak ada bagian sketsa yang rusak, lalu menyimpannya di dalam kantong rahasia di dalam jubahnya. Kepalanya mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata suaminya. Tidak ada keraguan di dalam dirinya, meski ia tahu perjalanan ke selatan berarti melangkah keluar dari zona aman istana dan masuk langsung ke sarang singa.
"Berarti petunjuk tentang asal-usul tubuh ini—dan alasan mengapa sistem transmigrasi ini membawaku masuk ke dalam alur cerita novel ini—ada di sana," ucap Su Yinyin tegas. "Dokumen-dokumen administrasi militer yang kita sita di istana kemarin malam hanyalah permukaannya saja. Ada benang merah yang menghubungkan kematian keluarga asli Su Yinyin dengan konspirasi besar di perbatasan selatan."
Mo Jue menghela napas pendek. Ia meraih tangan Su Yinyin, menggenggam jemari wanita itu yang masih terasa sedikit dingin. Tidak ada penolakan dari bibir pangeran itu. Di dunia yang penuh dengan tipu muslihat ini, ia tahu bahwa mengabaikan petunjuk ini sama saja dengan membiarkan musuh meracuni masa depan mereka dari arah yang tidak terduga.
"Kalau begitu, kita siapkan perjalanan rahasia ke selatan begitu fajar tiba," putus Mo Jue tanpa ragu. "Aku akan membawa pasukan pengawal bayangan terpilih. Kita tidak bisa bergerak secara terbuka di wilayah kekuasaan klan independen."
Tiga hari kemudian, fajar menyingsing dengan warna jingga pucat yang menghiasi langit ibu kota. Suasana di gerbang utama Kediaman Pangeran Kedua tampak sibuk namun terkendali. Dua ekor kuda perang berbulu hitam legam, bertubuh kekar dan terbiasa dengan medan terjal, berdiri berdampingan di halaman paving stone.
Kasim Gui berdiri tidak jauh dari sana dengan postur agak membungkuk. Wajah tua kasim itu tampak kusut dan penuh kekhawatiran, memegang sebuah kantong perbekalan tebal berisi ramuan obat dan gulungan peta kering yang diserahkan kepada pengawal pribadi istana.
"Hati-hati di jalan, Yang Mulia, Putri," pesan Kasim Gui dengan suara bergetar dan mata yang mulai berkaca-kaca. Selama bertahun-tahun melayani di kediaman ini, ia jarang melihat tuannya turun tangan langsung melakukan perjalanan jarak jauh tanpa pengawalan resmi istana. "Hamba akan memastikan Kediaman Pangeran Kedua tetap aman, tertutup dari segala intrik, dan siap menyambut kepulangan kalian."
Su Yinyin mengangguk tersenyum tipis, menghargai ketulusan Kasim Gui. Ia melangkah ringan, lalu melompat ke atas pelana kudanya dengan tangkas, memegang tali kekang kulit dengan mantap. Di sebelah kanannya, Mo Jue sudah berada di atas pelana kudanya, mengenakan jubah perjalanan berwarna gelap yang menyatu dengan aura wibawanya.
"Jaga gerbang kediaman selama kami pergi, Kasim Gui. Jika ada menteri yang mencari, katakan aku sedang melakukan inspeksi perbatasan atas titah langsung," perintah Mo Jue datar namun tegas.
"Baik, Yang Mulia!" Kasim Gui membungkuk hormat dalam-dalam.
Tanpa membuang waktu lagi, Mo Jue memberikan isyarat dengan mengibaskan tangan kanannya. Kedua kuda perang itu melangkah serentak, lalu berlari kencang meninggalkan gerbang utama Kediaman Pangeran Kedua. Derap kuku kuda bergemerisik memecah kesunyian pagi di jalanan batu pualam ibu kota, membawa mereka keluar melalui gerbang selatan yang mulai terbuka perlahan.
***
Mohon dukungan untuk Like, Komen, dan Ikuti Penulis yah, terimakasih ❤️
permaisuri
jika kau berdamai dgn mu jue pasti hidupmu akan tenang
TPI sayang sekali kau selalu mengusik singa yg sedang tidur
lalu kenapa seorang permaisuri begitu merasa terancam dgn kehadiran dan kesuksesan jendral joe
sehingga permaisuri hidup semena mena👊
kena kaisar begitu ceroboh
permaisuri👊
wah gawat, dua wanita dlm satu atap
yg terkadang sejalan😭😭
semoga putri mahkota bisa diajak kerja sama
pasti bisa meluluhkan pangeran kedua
su😁😁
gak tau apa gimana hantun su yinyin😁😁👊
sungguh belum tau rasanya jadi buucin yaa🤣
apa dia dicekik atau terpeleset di kamar🤔🤔🤔