Tiga tahun lalu, Reno Wijaya dituduh melakukan kejahatan yang tidak pernah ia lakukan oleh keluarga angkatnya sendiri demi menyelamatkan putra kandung mereka. Dipaksa menjadi menantu numpang di keluarga kelas menengah, Reno diperlakukan seperti pelayan, dihina oleh ibu mertuanya, dan dianggap suami "tidak berguna" oleh orang-orang di sekitarnya. Namun, satu-satunya alasan Reno bertahan dan berpura-pura menjadi orang miskin adalah untuk melindungi istrinya, Alya, perempuan polos yang pernah menyelamatkan nyawanya.
Puncaknya terjadi ketika keluarga mertuanya memaksa Alya untuk menceraikan Reno demi menikahkan Alya dengan seorang pria kaya raya yang sombong. Di hari yang sama ketika surat cerai disodorkan ke wajahnya, organisasi rahasia terbesar di dunia—Grup Naga Hitam—akhirnya menemukan keberadaan Reno.
Ternyata, Reno bukanlah orang biasa. Dia adalah Tuan Muda Penguasa Tunggal dari keluarga terkaya di benua ini yang sengaja menghilang untuk menyelesaikan misi rahasia.
Begitu batasan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deddy kris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Mantan Tuan Muda yang Menjadi Pelayan
Lampu kristal restoran bintang lima itu memantulkan kilau kemewahan yang menyilaukan.
Reno berdiri tegak dengan nampan berisi botol anggur mahal di tangannya. Uniform pelayan yang menempel di tubuhnya terasa agak sesak di bagian bahu.
'Hadeh... tinggal delapan jam lagi masa pengasingan gue kelar, malah harus melayani keluarga nenek sihir ini,' batin Reno menahan napas panjang.
Di meja utama, keluarga Pramudya sedang tertawa lebar mengelilingi Brandon Pratama.
" Brandon, kamu memang calon menantu idaman Tante! Restoran sejuta per malam ini bisa disewa penuh cuma buat kita," puji Maya dengan nada dibuat-buat.
Brandon tersenyum jumawa sambil memamerkan jam tangan mewahnya. "Ah, Tante Maya biasa aja. Bagi keluarga Pratama, uang segini cuma recehan."
Reno melangkah mendekati meja untuk menuangkan anggur ke gelas Maya.
Secara sengaja, siku Maya bergerak menghantam siku Reno dengan keras.
Brakkkk!
Botol anggur terlepas dari genggaman Reno dan langsung tumpah membasahi celana serta sepatu kulit buaya milik Brandon.
"Aduh! Kamu punya mata gak sih, pelayan tidak berguna?!" jerit Maya pura-pura kaget.
"Gila ya lo! Sepatuku ini harganya lima puluh juta!" bentak Brandon sambil berdiri kasar.
"Maaf, tadi tangan Tante Maya sengaja menyenggol—"
Plak!
Maya menampar pipi Reno sebelum dia sempat menyelesaikan kalimatnya.
"Masih berani lo fitnah saya?! Dasar menantu sampah! Sudah numpang hidup, bikin malu keluarga lagi!" amuk Maya.
Deggg...
Arus energi bergolak hebat di dalam dada Reno saat emosinya terpancing.
'Sialan! Sutra Naga Kuno saya hampir bocor! Tahan Reno... kurang dari sehari lagi kekuatan penuhmu balik!' ringis Reno dalam hati.
Darah di dalam tubuhnya mendidih, merembeskan hawa dingin tipis yang membuat suhu udara di sekitar meja mendadak drop beberapa derajat. Kekuatan batin yang ia tekan selama tiga tahun bergetar hebat melintasi urat nadinya.
Alya yang duduk di samping ibunya langsung berdiri. "Mama, stop! Tadi Alya lihat sendiri Mama yang nyenggol lengan Mas Reno!"
"Kamu diam, Alya! Kamu mau belain suami kere yang cuma bisa nyusahin ini?!" bentak Hendra, ayah Alya, ikut mengebrak meja.
Brandon tersenyum licik melihat kekacauan di depannya. Dia sengaja maju satu langkah lalu menginjak sepatu kets kumal milik Reno dengan sepatu kulitnya yang basah.
"Heh, sampah. Sepatu ku rusak gara-gara kamu," bisik Brandon penuh nada ancaman.
Reno menatap mata Brandon dengan pandangan dingin. "Lepasin kaki mu."
"Wah, berani ngatur saya?" Brandon tertawa meremehkan. "Dengar ya. Perusahaan ayah Alya sekarang lagi butuh suntikan dana lima puluh miliar dari keluarga saya."
Brandon menunjuk ke lantai dengan ujung jarinya.
"Berlutut sekarang. Bersihin sepatu gue pakai lidah lo, atau besok pagi perusahaan ayah mertua lo ini gue bikin bangkrut total!" ancam Brandon tajam.
Alya tampak pucat pasi. "Brandon, tolong jangan bawa-bawa bisnis Papa..."
"Tergantung suami miskinmu ini, Alya. Mau berlutut atau mau lihat keluarga kamu hancur?" sahut Brandon tertawa puas.
'Anjing nih orang. Kalau bukan karena aturan latihan batin, udah saya patahin lehernya detik ini juga,' umpat Reno dalam batinnya.
Ujung jari Reno mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Hawa membunuh bertiup samar dari balik matanya, membuat Brandon mendadak merinding tanpa alasan.
"Reno, berlutut! Jangan sampai kamu hancurkan masa depan keluarga kami!" perintah Hendra membentak.
"Iya! Berlutut cepat! Dasar pembawa sial!" tambah Maya.
Sebelum Reno mengambil tindakan, Maya menarik tas mewahnya dan mengeluarkan selembar amplop cokelat tebal.
Sret!
Maya melemparkan berkas di dalam amplop itu tepat ke dada Alya.
"Gak usah nunggu esok hari! Ini surat perjanjian cerai!" seru Maya dengan suara melengking.
Alya menatap berkas di pangkuannya dengan mata berkaca-kaca. "Ma... apa-apaan ini?"
"Tanda tangani surat itu besok pagi jam delapan tepat!" tegas Maya tanpa belas kasihan. "Kamu harus cerai dari si miskin ini dan nikah sama Brandon!"
Brandon tersenyum penuh kemenangan sambil melipat kedua tangannya di dada. "Gimana, Reno? Lo cuma punya waktu sampai besok pagi sebelum istri kamu resmi jadi milikku."