NovelToon NovelToon
The Dark Lord

The Dark Lord

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Vampir
Popularitas:555
Nilai: 5
Nama Author: Saasaa

Arthur Fabian Kell adalah vampir yang dianugerahi kekuatan terlarang dari Lucifer. Bukannya dipuja, ia justru dibenci oleh klannya sendiri dan ditolak oleh ayahnya, pemimpin Dark Moon.

Saat sang ibu mengorbankan nyawanya demi menyelamatkannya, Arthur berubah menjadi sosok kejam yang hidup hanya untuk membalas dendam. Untuk menyempurnakan kekuatan hitamnya, ia harus meminum darah manusia yang diberkahi.

Setelah berabad-abad menunggu, Arthur akhirnya bertemu Sonja, gadis yang memiliki darah tersebut. Namun, alih-alih membunuhnya, ia justru jatuh cinta.

Kini Arthur harus memilih, menyempurnakan dendamnya atau mempertahankan satu-satunya orang yang mampu menghidupkan kembali hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kompromi

"Sonja, aku ulangi sekali lagi. Apa kau pernah memberikan darahmu kepada vampir bernama Alea?" Suara Arthur terdengar semakin tajam.

Sonja mengangguk pelan. Dia benar-benar tidak mengerti mengapa Arthur tiba-tiba berubah semarah ini. Kenapa pria itu mendadak menanyakan Alea?

Melihat anggukan itu, rahang Arthur mengeras. Tatapannya berubah dingin. Selama beberapa detik ia hanya memejamkan mata, berusaha meredam amarah yang terus bergolak di dalam dadanya."KENAPA KAU BEGITU CEROBOH!" bentaknya.

Sonja sontak terlonjak kaget. Tubuhnya membeku, sementara mata bulatnya menatap Arthur dengan kebingungan yang bercampur ketakutan. Bibirnya sedikit terbuka, tetapi tak satu kata pun sanggup keluar.

Arthur menyadari tubuh Sonja menegang. Kemarahan yang membuncah di dalam dirinya perlahan berubah menjadi penyesalan saat melihat sorot mata gadis itu. Tatapannya pun mulai melembut. Tanpa berkata apa-apa, ia segera menarik Sonja ke dalam pelukan yang begitu erat, seolah takut gadis itu akan direbut darinya.

"Kenapa kau membentakku?" lirih Sonja.

Arthur hanya mengembuskan napas panjang tanpa menjawab. Sonja sama sekali tidak menyadari bahaya besar yang mengintainya. Jika Alea menyadari bahwa kekuatannya bertambah setelah meminum darah Sonja, semuanya akan menjadi bencana.

Darah gadis terberkati bukan hanya mampu membangkitkan kekuatan iblis yang tersegel di dalam tubuh Arthur, tetapi juga dapat memperkuat makhluk-makhluk alam bawah yang meminumnya. Fakta itu hanya diketahui oleh Penyihir Hitam, Marci. Bahkan ayah Arthur sendiri tidak pernah mengetahuinya.

Demi mengubur rahasia tersebut, Arthur telah melenyapkan Marci beberapa waktu silam. Dia tidak ingin ada makhluk lain yang memburu Sonja demi darahnya.

Karena darah itu hanya boleh menjadi miliknya.

Jika Alea menyadari perubahan pada dirinya, besar kemungkinan wanita itu akan menceritakannya kepada Alex. Dan jika itu terjadi, mereka pasti akan memburu Sonja tanpa henti.

"Arthur, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Sonja sekali lagi. Tak ada jawaban. "Arthur... ada apa? Kenapa kau tiba-tiba marah? Kenapa kau menanyakan Alea? Apa kau bertemu dengannya?" desaknya sambil mendongakkan kepala agar dapat melihat wajah Arthur.

Arthur menggeleng pelan."Tidak ada apa-apa." Suaranya kini jauh lebih tenang. "Jangan pernah lagi membicarakan wanita itu. Dan jika suatu hari nanti ada yang menanyakan apakah kau pernah memberikan darahmu kepadanya, katakan bahwa itu tidak pernah terjadi. Apa kau mengerti, Sonja?"

"Memangnya kenapa?"

"Turuti saja perintahku."

"Tapi aku ingin tahu alasannya."

Tatapan Arthur kembali menajam. Perlahan ia mengangkat tangan, lalu mencengkeram lembut dagu Sonja agar gadis itu menatapnya."Kau benar-benar gadis yang keras kepala," bisiknya pelan. "Dan entah bagaimana, kau selalu berhasil membuat emosiku naik."

Sonja tetap menatapnya, menunggu jawaban yang tak kunjung datang. Namun..

"Pembicaraan kita selesai," ujar Arthur dengan nada tegas."Jangan pernah membahas hal ini lagi."

***

Ketika Alea membuka matanya, rasa nyeri langsung menjalar ke seluruh tubuhnya. Tulang-tulangnya serasa remuk, sementara luka-luka sobek yang menganga masih menyisakan perih yang membakar. Arthur benar-benar telah menghajarnya tanpa ampun. Namun, beberapa saat kemudian Alea merasakan sesuatu yang aneh.

Rasa sakit itu perlahan menghilang. Tulang-tulang yang tadi terasa hancur seolah menyatu kembali, sedangkan luka-luka di kulitnya menutup dengan kecepatan yang mustahil. Dalam hitungan detik, seluruh tubuhnya kembali pulih seperti semula, seakan pertarungan brutal itu tidak pernah terjadi. Alea tertegun. Ada apa dengan tubuhnya?

Belum sempat menemukan jawaban, sebuah erangan lirih membuyarkan lamunannya. Alea segera menoleh dan mendapati Elleanor terbaring lemah di sampingnya. Wajah sahabatnya tampak pucat, napasnya memburu, sementara tubuhnya sesekali bergetar menahan rasa sakit.

"Elle." panggil Alea cemas. Dia segera membantu Elleanor duduk, lalu meletakkan telapak tangannya di dada sang sahabat. Perlahan, Alea menyalurkan sebagian energinya. Beberapa saat kemudian, Elleanor membuka matanya.

"Lea, kau tidak apa-apa?" gumamnya lirih. Dalam ingatannya, Arthur terus menghajar Alea hingga tubuh wanita itu nyaris tak berbentuk. Saat itu Elleanor benar-benar mengira sahabatnya tidak akan selamat.

"Aku baik-baik saja."

"Kita ada di mana?" tanya Elleanor sambil menyapu sekeliling ruangan dengan pandangan bingung. Ruangan itu gelap, lembap, dan berbau anyir.

"Mungkin penjara bawah tanah. Apa kau sanggup berdiri?" tanya Alea seraya membantu Elleanor bangkit.

"Aku bisa."

"Kalian ternyata cukup tangguh."

Suara dingin itu membuat Alea dan Elleanor sontak membelalak.

Arthur berdiri tegak di balik jeruji besi, menatap mereka dengan wajah tanpa ekspresi. Aura mengerikan yang memancar darinya membuat udara di sekitar terasa semakin mencekam."Apa kabar, Alea?" desisnya. "Sepertinya percuma saja Sonja mengkhawatirkanmu. Kau terlihat sangat sehat."

Elleanor melirik Alea sekilas. Benar saja, tubuh sahabatnya sama sekali tidak memperlihatkan bekas luka. Bahkan Alea masih mampu membagi energinya untuk menyembuhkan dirinya.

"Ya, aku baik-baik saja. Maaf kalau itu mengecewakanmu," balas Alea dingin.

Tatapan Arthur tetap terpaku pada Alea. Dia harus segera membungkam mulut vampir itu."Aku datang untuk menawarkan sebuah kompromi." Arthur mengucapkannya tanpa basa-basi.

"Kompromi?" gumam Elleanor heran.

"Sebenarnya aku bisa melenyapkan kalian kapan saja." Arthur menyeringai tipis. "Namun, Sonja tampaknya terlalu mengasihi kalian. Dan itu cukup membuatku muak." Dia berhenti sejenak sebelum melanjutkan."Kalau kalian menerima tawaranku, aku akan membiarkan kalian hidup. Tetapi jika menolak..." sudut bibirnya terangkat dingin,"aku akan melenyapkan kalian saat ini juga."

"Bagaimana keadaan Sonja?" tanya Alea tenang. Tak sedikit pun ketakutan terlihat di wajahnya, meskipun sosok yang berdiri di hadapannya adalah Pangeran kegelapan, makhluk yang paling ditakuti oleh seluruh penghuni dunia bawah.

Arthur menyeringai tipis."Kau akan mengetahui keadaannya setelah menerima kompromiku."

"Katakan apa maumu." Suara Alea terdengar tajam.

Sementara itu Elleanor hanya memilih diam. Tatapan Arthur bergantian mengamati kedua vampir tersebut. Baginya, mereka hanyalah bidak yang bisa dimanfaatkan."Bersekutulah denganku." Tatapan Arthur kembali tertuju pada Alea."Dan kau, Alea, akan kuizinkan menjadi penjaga Sonja seumur hidupmu. Gadisku membutuhkan seseorang yang mampu melindunginya selain aku, tentu saja."

Alea mengernyit. Menjaga Sonja? Bukankah...

"Apa maksudmu dengan 'gadismu'?" tanya Elleanor penuh kebingungan. "Apakah kau dan Sonja? Kalian..."

"Ya." Arthur memotong ucapan itu tanpa ragu. "Dia adalah milikku."

Kedua vampir itu terdiam. Keterkejutan jelas tergambar di wajah mereka. Kini semuanya masuk akal. Itulah alasan Arthur belum membunuh Sonja ataupun meminum darah gadis manusia itu. Selama ini, Sonja bukanlah mangsa baginya, melainkan seseorang yang ingin ia miliki.

"Jadi," ujar Arthur dengan nada datar. "Apa keputusan kalian?"

Ia menatap mereka bergantian."Bersekutu atau mati?"

***

Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya Pangeran Alex tiba di Hutan Fork. Ia langsung memasang kewaspadaan. Selain mencium aroma para Werewolf, ia juga dapat merasakan keberadaan Alea di dalam hutan itu.

Alex berusaha menjalin telepati dengan Elleanor dan Alea, tetapi tidak ada respons. Sebelum berpisah, Elleanor sempat mengatakan bahwa mereka akan memasuki Hutan Fork. Lalu, di mana mereka sekarang? Jangan-jangan mereka sudah tertangkap oleh Arthur.

Tidak ada pilihan lain. Alex harus mencari tahu sendiri. Meski Hutan Fork merupakan wilayah terlarang bagi kaum vampir, ia tidak akan membiarkan Alea dan Elleanor menghadapi bahaya seorang diri."Kalian tunggu di sini. Aku akan masuk lebih dulu untuk memastikan keadaan," perintah Alex kepada anak buahnya.

"Tidak, Pangeran. Kami tidak akan membiarkan Anda memasuki Hutan Fork seorang diri. Izinkan kami ikut," protes salah seorang pengawalnya.

"Perjalanan ini sangat berbahaya. Nyawa kita bisa menjadi taruhannya." Alex tidak sanggup membayangkan jika anak buahnya harus dibantai habis oleh kakaknya.

"Kami siap gugur demi melindungi Pangeran."

Alex mengembuskan napas panjang."Baiklah. Kalau begitu, kita hadapi semuanya bersama."

Namun, ketika baru saja ia hendak melangkah, tiba-tiba sebuah suara menggema di dalam kepalanya.

Pangeran Alex.

Alea!

Wanita itu akhirnya menghubunginya melalui telepati.

"Tahan!" seru Alex sambil mengangkat tangan, menghentikan langkah seluruh pasukannya.

"Alea, kenapa baru memberi kabar? Di mana kalian sekarang?"

"Kami baik-baik saja, Pangeran. Aku dan Elle, sudah berhasil memasuki Hutan Fork dan sedang menyusup."

"Aku akan menyusul kalian."

"Jangan, Pangeran!" sahut Alea cepat. "Kalau Anda datang ke sini, nyawa Anda dan misi kami justru akan berada dalam bahaya. Percayalah, kami baik-baik saja. Aku akan terus memberi kabar."

"Alea..."

"Kami sungguh tidak apa-apa."

Sesaat kemudian hubungan telepati itu terputus. Alex terdiam. Sulit dipercaya Alea dan Elleanor masih selamat, padahal mereka berada tepat di jantung wilayah musuh.

"Pangeran," panggil salah seorang pengawalnya, membuyarkan lamunannya.

"Kita kembali," putus Alex.

***

"Bagaimana keadaanmu, Yuno? Apa kau sudah merasa lebih baik?" tanya Sonja sambil menghampiri ranjang Yuno dan duduk di sampingnya. Begitu mendengar pria itu terluka, ia langsung memutuskan untuk menjenguknya.

"Jauh lebih baik, My Lady," jawab Yuno sambil tersenyum tipis.

"Jangan memanggilku seperti itu, Yuno."

Sonja benar-benar tidak menyukai panggilan tersebut. Sejak kemarin, ketiga vampir itu terus memanggilnya dengan sebutan Lady.

"Mereka memang harus memanggilmu begitu, Sonja. Itu perintah dariku." Suara berat Arthur tiba-tiba terdengar dari ambang pintu. Pria itu berdiri tegak sambil menatap Sonja.

"Kenapa mereka harus memanggilku seperti itu?" gumam Sonja ketus tanpa sedikit pun menoleh ke arahnya.

"Karena kau adalah pasanganku."

Victoria dan Yuno saling bertukar pandang, menahan senyum mendengar jawaban pemimpinnya yang begitu tegas.

Arthur kemudian melangkah mendekati Sonja dan menggenggam pelan tangannya."Aku punya kejutan untukmu."

"Kejutan?" Kening Sonja berkerut bingung.

Arthur mengalihkan pandangannya ke pintu yang masih terbuka. Sonja pun mengikuti arah tatapan pria itu."Alea!" Tanpa berpikir panjang, Sonja berlari menghampiri Alea dan langsung memeluk wanita itu erat."Syukurlah kau baik-baik saja, Lea. Elle kau juga selamat."

Elleanor membalas dengan senyum hangat.

"Ya, Sonja. Aku baik-baik saja," bisik Alea sambil mengeratkan pelukannya. Namun, di balik senyum itu, hatinya dipenuhi gejolak. Keputusannya telah bulat. Demi melindungi Sonja, ia rela dicap sebagai pengkhianat oleh klannya sendiri.

1
Firkoh
menegangkannya dapet, cepet update ya kaka author
Saasaa: Terimakasih 🙏 Update tiap hari
total 1 replies
Firkoh
ngeri banget loe thur
Firkoh
kaaaaan bener
Firkoh
ikut tegang Cuy
Firkoh
jangan2 Arthur nih pangeran kegelapannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!