NovelToon NovelToon
Lima Tahun Dipenjara, Kini Seluruh Keluarga Berlutut

Lima Tahun Dipenjara, Kini Seluruh Keluarga Berlutut

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Putri asli/palsu / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:28.8k
Nilai: 5
Nama Author: Vira Dusk

Lima tahun dipenjara. Enam puluh bulan tanpa satu pun kunjungan.

Keira Pratama keluar dengan kaki pincang, ginjal yang hilang, dan hati yang sudah membeku. Dia putri kandung keluarga konglomerat Pratama, tetapi sejak kecil dibuang ke panti asuhan, sementara Vanessa, anak orang lain, dimanjakan sebagai putri kesayangan.

Dulu, Vanessa mendorong seseorang dari tangga, tetapi Keira yang dipenjara. Mama-nya menghapus CCTV. Papa-nya menyuruhnya diam. Lucas, pria yang pernah dia cintai, justru menjadi orang yang mengirimnya ke balik jeruji.

Namun Keira yang kembali bukan lagi gadis penurut.

Saat rahasia mulai terbongkar, keluarga yang dulu membuangnya satu per satu hancur oleh penyesalan. Dan di saat semua orang meninggalkannya, Rayhan Hartono, pewaris Hartono Group, diam-diam berdiri di sisinya.

Kini mereka semua berlutut di bawah hujan.

Tapi bagi Keira, satu hal tetap belum terjawab: **apakah penyesalan mereka datang terlambat?**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira Dusk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 24

Kevin Muntah Darah

Selama pemulihan setelah operasi lambung, Kevin meminta satu benda setiap pagi.

Bukan laporan Pratama Group.

Buku harian Keira.

Sekretaris Nia menyimpannya dalam map bebas asam dan hanya mengeluarkan beberapa halaman setiap kali. Dokter melarang Kevin mengalami stres berat, tetapi Kevin berkata ketidaktahuannya selama ini jauh lebih berbahaya bagi orang lain.

Pada halaman kelima, tulisan Keira yang berusia lima belas tahun terlihat rapi dan kecil.

`Hari ini ulang tahun Van. Semua orang memberinya kado. Aku diam-diam membuat kartu dari kertas bekas. Mama bilang jangan mengganggu.`

Di bawah kalimat itu ada gambar kue sederhana. Salah satu lilinnya dicoret, seolah Keira berubah pikiran sebelum memberikannya.

Kevin mengingat pesta tersebut. Ia memberikan Vanessa jam tangan pertama, Yolanda memesan ballroom, dan Edmond mengundang mitra bisnis. Ketika melihat Keira berdiri dekat pintu membawa sesuatu di belakang punggung, Kevin menyuruhnya kembali ke gudang agar tidak merusak foto keluarga.

Ia tidak pernah melihat kartu itu.

Halaman lain memuat tanggal pembagian hasil ujian.

`Aku lulus ujian dengan nilai tertinggi se-sekolah. Tidak ada yang tahu. Tidak ada yang bertanya.`

Kevin pernah menandatangani surat sekolah pada hari yang sama tanpa membaca isinya. Ia mengira surat itu adalah teguran karena Keira pulang terlambat. Tanda tangannya masih terlihat pada fotokopi yang diselipkan di buku harian.

Di sampingnya, Keira menulis jumlah ongkos bus dan berapa kali ia harus berjalan kaki agar uang makan siang cukup sampai akhir minggu.

Kevin menutup mata. Jahitan di perutnya terasa tertarik setiap kali bernapas.

"Cukup untuk hari ini, Pak Kevin," kata Nia.

"Satu halaman lagi."

Halaman itu berbau lembap. Tintanya pernah terkena air.

`Fufu mati. Mereka bilang itu salahku. Aku berdiri di bawah hujan selama tiga jam. Aku sedang menstruasi. Seragamku penuh darah, tapi Mama bilang aku mencari perhatian.`

Kevin mengenal hari itu.

Fufu keluar melalui gerbang samping dan tertabrak mobil. Vanessa bersumpah Keira lupa menutup gerbang. Tidak ada seorang pun memeriksa kamera. Edmond menyuruh Keira berdiri di teras belakang selama hujan sampai ia mengaku.

Kevin pulang setelah tengah malam dan melihat lantai basah. Yolanda berkata pelayan baru saja mengepel. Ia tidak bertanya mengapa ada seragam abu-abu putih terendam di ember kamar mandi.

Pada baris terakhir, Keira menulis bahwa Tante Mira menyelipkan pembalut dan obat demam di bawah pintu gudang.

Kevin menekan buku harian ke dadanya.

Tangis keluar tanpa bisa ditahan. Bukan air mata diam seperti malam ia menemukan piagam. Suaranya patah dan keras, membuat perawat membuka pintu untuk memeriksa monitor. Kevin menutup wajah dengan kedua tangan, tetapi bahunya terus berguncang.

Sekretaris Nia berdiri di dekat jendela. Ia tidak mengatakan semua akan baik-baik saja. Tidak ada kalimat seperti itu yang pantas diberikan setelah lima belas tahun pembiaran dan lima tahun penjara.

Setelah napas Kevin stabil, Nia membuka tablet.

"Ada laporan yang harus Pak Kevin ketahui."

Tiga kontrak distribusi Pratama Group dihentikan sementara. Dua bank meminta peninjauan ulang jaminan. Saham anak perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia menyentuh batas penurunan harian untuk kedua kalinya. Surat dari pihak Hartono tidak memuat ancaman. Mereka hanya menarik semua kerja sama dan mengungkap risiko hukum yang selama ini disembunyikan Edmond dari mitra.

"Apakah Kei meminta mereka melakukan ini?"

"Tidak ada satu pun pesan atau instruksi dari Nona Keira," jawab Nia. "Seluruh surat ditandatangani bagian kepatuhan Hartono. Dasarnya adalah dugaan penghilangan bukti, transaksi rumah sakit yang tidak dilaporkan, dan penggunaan dana perusahaan untuk kepentingan keluarga."

Kevin memahami perbedaannya. Rayhan tidak sedang membeli balas dendam untuk Keira. Ia hanya membuat pasar melihat risiko yang selama ini ditutup nama Pratama.

"Jangan hubungi Kei untuk meminta bantuan. Jangan pakai namanya dalam pernyataan publik."

"Baik, Pak."

"Dan cari auditor independen. Periksa semua pembayaran dari rekening perusahaan yang berkaitan dengan lapas, rumah sakit, dan yayasan selama delapan tahun. Kirim salinan asli ke penyimpanan di luar kantor."

Nia mengangguk. "Termasuk transaksi yang disetujui Pak Edmond?"

"Terutama itu."

"Berapa lama sebelum arus kas terganggu?" tanya Kevin.

"Kurang dari dua minggu jika kredit dibekukan."

Pintu kamar terbuka.

Yolanda mendorong kursi roda Edmond masuk. Bahu, lengan, dan paha Edmond masih dibalut. Wajahnya pucat karena kehilangan darah, tetapi berkas perusahaan tetap berada di pangkuannya.

"Kevin, kamu harus kembali ke kantor besok," katanya tanpa menanyakan kondisi luka operasi anaknya. "Direksi tidak mendengarkan Papa. Hanya kamu yang bisa menenangkan bank."

Kevin meletakkan buku harian di atas selimut.

"Papa tahu Kei punya piagam dua belas tahun?"

Edmond melihat map di meja. "Kita bisa membahas masalah keluarga setelah krisis perusahaan selesai."

"Papa tahu dia diterima di UI dengan nilai UTBK sempurna?"

Yolanda menyela, "Kev, Papa juga sedang terluka. Jangan menekannya."

Kevin tetap menatap Edmond. "Tahu atau tidak?"

Edmond diam.

Keheningan itu tidak sama dengan ketidaktahuan. Ia adalah pilihan.

"Kamu tahu," kata Kevin. "Dan kamu tidak peduli."

"Keluarga ini membesarkan kalian dengan prioritas berbeda. Vanessa membutuhkan lebih banyak dukungan. Keira selalu bisa bertahan sendiri."

"Itu alasan yang sama saat Papa membiarkannya dipenjara."

Edmond menggenggam sandaran kursi roda. "Jangan lupa siapa yang membangun Pratama Group untukmu."

"Perusahaan yang meminta satu anak menjadi biaya pengorbanan tidak dibangun untukku."

Kevin menyerahkan berkas perusahaan kembali kepada Yolanda. "Cari orang lain."

"Kalau kamu menolak, ribuan pegawai bisa kehilangan pekerjaan," kata Edmond.

"Aku akan membantu melindungi gaji pegawai melalui direksi independen. Aku tidak akan kembali sebagai tameng untuk menutup kejahatan Papa."

Untuk pertama kalinya, Kevin memisahkan perusahaan dari kekuasaan ayahnya. Edmond mendengar perbedaannya dan wajahnya mengeras.

Edmond memerintahkan Yolanda membawanya keluar. Saat pintu menutup, ia tidak menoleh kepada putranya.

Tiga hari kemudian, Kevin diizinkan pulang dengan larangan bekerja dan jadwal kontrol ketat. Ia tidak masuk kamar utama. Ia berjalan perlahan menuju gudang Keira.

Sekretaris Nia sudah membawa semua piagam dari penyimpanan aman. Kevin membersihkan dinding berjamur, memasang lembar pelindung, lalu menempelkan piagam satu per satu menurut tahun.

Dua belas tahun memenuhi dinding yang dahulu kosong.

Surat penerimaan UI ditempatkan di tengah. Kartu ulang tahun dari kertas bekas, yang akhirnya ditemukan terselip di belakang buku harian, berada di sampingnya.

Kevin berlutut di lantai gudang.

Ia menundukkan kepala sampai dahi menyentuh ubin dingin. Tidak ada Keira di sana untuk melihatnya. Tidak ada pengampunan yang otomatis lahir dari sikap itu. Yang ada hanya seorang kakak yang akhirnya memahami bahwa penyesalannya datang setelah semua kerusakan selesai.

Sekretaris Nia berhenti di pintu.

Ia mematikan lampu koridor agar gudang tetap menjadi ruang pribadi, lalu mundur tanpa suara.

1
Intan Marliah
mewekkk banget... ceritanya disusun seepik ini.
Iba Sa Iba Daud
apa ginjal tu tuk bokapnya ato evelyn
Iba Sa Iba Daud
Kluarga bangat iblis... si kevin ni ga bs apa" klo udh depan bokapny.. bilang priksa CCTV tp bentakn bokap diam..
Iba Sa Iba Daud
sungguh orgtua yg pling kejam.. tunggu sj katmamu tua bngka
Iba Sa Iba Daud
kavin klo lo sayg kaira cari tau ksuus 5 thn llu dn sobeknya baju adk tiri manja lo tu
Rina Arie
good book
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!