NovelToon NovelToon
The Author Of My Own Destiny

The Author Of My Own Destiny

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Mengubah Takdir / Transmigrasi ke Dalam Novel
Popularitas:701
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Aria Evander, seorang mahasiswi kedokteran brilian di dunia modern, terbangun di dalam tubuh putri Baron yang bangkrut dalam novel fantasi yang pernah ia baca. Mengetahui nasibnya adalah kematian tragis sebagai pion politik, ia menolak tunduk pada naskah 'takdir'. Dengan bantuan Lumi, roh pena takdir yang memberinya kemampuan memanipulasi narasi realitas, Aria memulai permainan catur politik di Kekaisaran Sihir Elgarth. Ia harus menyeimbangkan antara bertahan hidup, memperbaiki kondisi keluarganya yang terpuruk, dan menjinakkan hati para penguasa yang memegang kunci kelangsungan dunianya, sambil menyadari bahwa setiap perubahan yang ia buat menciptakan riak yang mengancam keseimbangan antara terang dan kegelapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: bunyi Trompet

Kabut musim gugur menggantung rendah di atas halaman belakang istana, menyelimuti deretan kandang kuda batu dengan selapis uap dingin. Aroma jerami basah, kulit pelana yang baru digosok, dan bau besi dari ladam berbaur di udara pagi yang menusuk tulang. Aria berdiri di sudut selasar, membiarkan angin dingin menyapu wajahnya guna mengusir sisa kantuk yang menggelayut.

Di sampingnya, Mia sedang berlutut, mengencangkan tali sepatu bot kulit berburu milik Aria dengan jemari yang gemetar. Gadis pelayan itu berkali-kali mengembuskan napas panjang, menciptakan kepulan asap putih kecil di udara.

“Jangan terlalu kencang, Mia,” kata Aria lembut. Ia meletakkan tangan di bahu gadis itu, merasakan ketegangan yang merambat di balik kain katun pelayannya.

Mia mendongak, matanya yang bulat tampak cemas. “Maaf, Milady. Saya hanya... saya mendengar desas-desus dari dapur istana. Mereka bilang hutan perburuan tahun ini terasa berbeda. Lebih sunyi. Bahkan anjing-anjing pelacak milik Duke tidak mau berhenti melolong semalam.”

“Anjing hanya takut pada bayangan mereka sendiri,” sahut Aria dengan senyum tipis yang dipaksakan. Ia tidak ingin menambah beban pikiran pelayannya, meskipun di dalam dada, jantungnya sendiri berdegup kencang seperti tabuhan genderang perang.

Di balik saku mantel berburunya yang tebal, jemari Aria meraba permukaan dingin pena bulu perak milik Lumi. Sentuhan itu memberikan sedikit kehangatan magis yang menenangkan. Sejak malam kemarin, setelah ia mengidentifikasi Hans—kepala pelayan pribadi Pangeran Kael—sebagai pembawa residu necromancy, Aria tidak bisa tidur barang satu jam pun. Otaknya terus berputar, menyusun skenario, menghitung setiap kemungkinan yang bisa terjadi di tengah rapatnya pepohonan Whispering Forest.

“Aria,” bisik sebuah suara halus yang hanya bisa didengar oleh rungu gadis itu. Lumi memunculkan kepalanya yang bercahaya keperakan dari balik lipatan kerah mantel. “Energi di sekitar tempat ini sangat kacau. Ada benang hitam yang tak terlihat, melilit dari arah menara barat menuju ke tempat persiapan perburuan. Kau harus sangat berhati-hati.”

“Aku tahu,” jawab Aria tanpa menggerakkan bibir, hanya berupa gumaman rendah di dalam tenggorokan. “Hans akan bergerak hari ini. Kaisar Magnus tidak akan membiarkan kesempatan di luar tembok istana ini menguap begitu saja.”

Aria melangkah keluar dari selasar menuju area berkumpulnya para pemburu. Di sana, puluhan kuda jantan dengan baju zirah ringan sedang mendengus tidak sabar. Para bangsawan dengan pakaian beludru mewah dan busur di punggung saling bertukar tawa kosong, mencoba menyembunyikan ketegangan politik di balik obrolan tentang siapa yang akan membawa pulang kepala rusa bertanduk sepuluh hari ini.

Di tengah kerumunan itu, sosok Pangeran Kael Ashford berdiri tegak bagai pilar es. Ia mengenakan zirah dada hitam berukir lambang naga emas, dengan jubah merah gelap yang berkibar ditiup angin pagi. Wajahnya yang tegas tampak luar biasa dingin, matanya yang setajam elang menyapu barisan kesatria pengawal.

Di samping Kael, berdiri seorang pria paruh baya dengan pakaian pelayan yang sangat rapi tanpa cela. Hans.

Pria tua itu sedang memeriksa tali busur perak milik sang pangeran dengan kehati-hatian seorang abdi yang setia. Gerakannya begitu tenang, santun, dan penuh pengabdian. Siapa pun yang melihatnya akan berpikir bahwa Hans adalah jiwa yang paling tulus di seluruh istana ini. Namun, di bawah penglihatan khusus milik Aria, sisa-sisa energi necromancy berwarna ungu pekat tampak menguar tipis dari ujung jari Hans, menempel pada kayu busur yang akan digunakan oleh Kael.

Itu adalah racun kutukan lambat. Sekali Kael menarik busur itu dengan mananya, racun tersebut akan meresap melalui pori-pori kulitnya, melumpuhkan sirkulasi mana naga miliknya dalam hitungan menit.

“Kau menatapnya terlalu lama, Lady Evander.”

Sebuah suara berbisik tepat di samping telinga Aria, membuat bulu kuduknya berdiri. Aria tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa pemilik suara dengan nada malas namun berbahaya itu. Duke Lucien Veritas berdiri di sana, bersandar pada pilar kayu dengan kedua tangan terlipat di dada. Pakaian berburunya yang berwarna abu-abu perak membuatnya tampak menyatu dengan kabut pagi.

“Selamat pagi, Duke Lucien,” kata Aria, memantapkan suaranya agar tidak terdengar terkejut. “Saya hanya mengagumi betapa setianya para pelayan di istana ini.”

Lucien terkekeh rendah, suara yang terdengar seperti gesekan daun kering. Matanya yang keperakan menatap lurus ke arah Hans, lalu beralih ke wajah Aria dengan binar jenaka yang menyembunyikan maksud mendalam. “Kesetiaan adalah komoditas yang paling mudah dipalsukan di tempat ini, Aria. Kadang, orang yang paling sering membungkuk di hadapanmu adalah orang yang sedang mengukur jarak untuk menusuk belikatmu.”

Aria menoleh perlahan, menatap mata Lucien yang tampak mengetahui segalanya. “Apakah Anda sedang memperingatkan saya, atau hanya menikmati pertunjukan dari baris terdepan?”

“Keduanya,” jawab Lucien tanpa ragu. Ia menegakkan tubuh, melangkah selangkah lebih dekat hingga aroma kayu cendana dari pakaiannya mengalahkan bau dingin udara pagi. “Hutan di utara sangat luas, Aria. Sangat mudah bagi seseorang untuk tersesat, dan lebih mudah lagi bagi sebuah kecelakaan untuk dianggap sebagai takdir. Jika aku jadi kau, aku tidak akan membiarkan sang pangeran melepaskan anak panah pertamanya hari ini.”

Sebelum Aria sempat membalas, Lucien sudah melangkah pergi dengan keanggunan seorang predator, menyapa beberapa bangsawan tinggi yang baru tiba. Aria mengepalkan tangannya di dalam saku mantel. Lucien tahu tentang busur itu. Atau setidaknya, dia tahu Hans merencanakan sesuatu.

Pangeran Kael tampaknya menyadari kehadiran Aria. Ia membalikkan badan, membiarkan jubah merahnya menyapu lantai berbatu saat ia berjalan mendekat. Hans mengikuti di belakangnya dengan kepala tertunduk patuh, membawa busur perak yang telah terkontaminasi.

“Lady Evander,” sapa Kael. Langkahnya berhenti dua langkah di depan Aria. Matanya menyapu penampilan Aria, dari rambut yang diikat rapi hingga sepatu botnya yang masih bersih. “Kuharap kau tidak berniat untuk berkuda di barisan paling belakang hari ini. Hutan ini tidak ramah pada mereka yang tertinggal.”

“Saya bisa menjaga diri saya sendiri, Yang Mulia,” jawab Aria sambil membungkuk hormat. Matanya sengaja melirik sekilas ke arah busur di tangan Hans, lalu kembali menatap Kael. “Namun, saya mendengar bahwa angin di utara pagi ini sangat tidak menentu. Mungkin busur perak Anda tidak akan bekerja dengan baik dalam kondisi seperti ini.”

Kael menaikkan satu alisnya. “Busur ini dibuat oleh pengrajin terbaik kekaisaran. Angin utara tidak akan bisa membelokkan jalannya.”

“Tentu saja,” potong Aria cepat, mencoba mencari celah tanpa menimbulkan kecurigaan Hans yang berdiri tepat di belakang Kael. “Tetapi kayu busur yang terlalu dingin setelah semalaman disimpan di ruangan lembap bisa retak saat ditarik dengan mana yang terlalu besar. Bukankah begitu, Kepala Pelayan Hans?”

Aria mengalihkan pandangannya langsung ke arah pria tua itu. Hans mendongak perlahan. Untuk sesaat, Aria melihat kilatan keterkejutan di pupil mata Hans yang abu-abu keruh, sebelum digantikan oleh senyum ramah yang biasa.

“Lady Evander sangat jeli,” kata Hans dengan suara serak yang sopan. “Saya telah memeriksa busur ini dengan teliti, namun jika Milady merasa khawatir, saya bisa membawa busur cadangan untuk Yang Mulia.”

“Tidak perlu,” sela Kael dingin. Ia mengambil busur itu dari tangan Hans dengan gerakan cepat. Aria menahan napas saat melihat kulit tangan Kael bersentuhan langsung dengan gagang busur. Beruntung, Kael belum mengalirkan mananya.

Kael menatap Aria dengan pandangan menyelidik, seolah sedang membaca pesan tersirat yang coba disampaikan oleh gadis itu lewat sorot matanya yang tegang. “Aku akan menggunakan busur ini. Jika memang ada yang salah dengannya, aku sendiri yang akan mematahkannya.”

Terompet perak kekaisaran tiba-tiba berbunyi dari arah gerbang luar, suaranya yang melengking memecah kesunyian pagi dan menandakan bahwa perburuan resmi dimulai. Suara riuh rendah para bangsawan langsung meningkat. Kuda-kuda mulai dipacu keluar dari halaman, menciptakan suara gemuruh ladam yang beradu dengan batu.

“Tetaplah di dekatku, Aria,” bisik Kael sebelum berbalik. Suaranya begitu rendah hingga hampir tenggelam oleh suara terompet, namun nada protektif di dalamnya terdengar sangat jelas.

Aria tidak menjawab. Ia segera menaiki kuda bay miliknya yang sudah disiapkan oleh petugas kandang. Dari sudut matanya, ia melihat Evelyn Roselia sedang menaiki kuda putihnya di dekat barisan para putri bangsawan. Evelyn menatap Aria dengan senyum manis yang biasa ia tunjukkan di depan publik, namun ada kilat kepuasan yang dingin di matanya. Aria tahu, Evelyn telah menyiapkan panggungnya sendiri untuk menjatuhkannya hari ini.

Kuda-kuda mulai bergerak memasuki kegelapan Whispering Forest. Cahaya matahari pagi hanya mampu menembus celah-celah sempit di antara rimbunnya daun pinus raksasa, menciptakan berkas-berkas cahaya pucat yang menari di atas tanah yang tertutup salju tipis dan dedaunan kering.

Aria memacu kudanya beberapa meter di belakang Kael. Di samping kanan sang pangeran, beberapa kesatria pengawal berkuda dengan waspada, sementara Hans berada di barisan belakang pembawa perbekalan, mengawasi setiap gerak-gerik dengan mata flatnya.

Saat rombongan mulai masuk lebih dalam ke dalam hutan, kabut terasa semakin tebal. Suara riuh para bangsawan perlahan menjauh, menyebar ke berbagai jalur perburuan yang telah ditentukan. Kelompok Kael memilih jalur barat, wilayah yang terkenal dengan tebing-tebing curam dan sarang binatang buas.

Aria meraba sakunya, memastikan pena takdirnya siap digunakan kapan saja. Ia memejamkan mata sejenak, mengaktifkan Time Vision miliknya dalam jangkauan pendek. Di depannya, jalur setapak yang mereka lalui tampak dipenuhi oleh jaring-jaring energi hitam yang melintang di antara pepohonan—perangkap sihir necromancy yang telah dipasang sebelumnya.

“Kael, berhenti!” teriak Aria tiba-tiba, melupakan tata krama istana.

Namun, teriakan itu terlambat. Tepat saat Kael menarik kendali kudanya karena terkejut, seekor rusa hitam berukuran raksasa dengan mata merah menyala melompat keluar dari balik semak-semak, langsung menerjang ke arah sang pangeran. Kudanya meringkik panik, berdiri dengan dua kaki belakangnya.

Kael dengan refleks cepat menarik busur perak di tangannya, bersiap mengalirkan mana naga untuk melepaskan anak panah.

“Jangan gunakan manamu!” Aria berteriak lagi, memacu kudanya maju ke depan tanpa memedulikan keselamatannya sendiri. Jika Kael mengalirkan mana sekarang, kutukan pada busur itu akan langsung membunuhnya dari dalam.

1
Rahman Hayati
lanjut
Rahman Hayati
baru mampir thir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!