Arjuna Baskoro adalah ketua Geng Petir yang tampan, kaya, dan berpengaruh di SMA Cendekia. Ia dikenal sebagai pemuda yang suka bersenang-senang dan menganggap hubungan dengan wanita hanya sebatas hiburan semata. Semua berubah saat ia bertemu Laila Arsyila-siswi berprestasi, sederhana, mandiri, dan harus bekerja paruh waktu untuk membantu kehidupan keluarganya.
Awalnya Arjuna hanya iseng mengganggu Laila, karena gadis itu satu-satunya yang tidak terpesona dan selalu berani melawannya. Namun rasa penasaran itu perlahan berubah menjadi cinta yang tulus untuk pertama kalinya. Sementara Laila yang awalnya kesal dan menolak, mulai melihat sisi baik Arjuna di balik sikap nakalnya.
Dengan latar belakang kehidupan yang sangat berbeda, keduanya harus menghadapi berbagai rintangan mulai dari kecemburuan orang lain, pandangan lingkungan, hingga tantangan untuk saling memahami. Mampukah cinta mereka menyatukan dua dunia yang terasa begitu jauh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. Menyusun Rencana
Bel tanda dimulainya pelajaran berbunyi nyaring, seketika seluruh siswa berhamburan masuk ke kelas masing-masing dan duduk rapi di bangkunya.
Di ruang kelas 12 IPA 1, suasana berubah hening seketika. Ibu Rina, guru Bahasa Indonesia yang terkenal sabar namun tegas, berdiri di depan papan tulis sambil memegang buku paket. Ia mulai menerangkan materi dengan suara yang tenang namun jelas, terdengar sampai ke sudut paling belakang kelas.
“Hari ini kita akan membahas tentang unsur intrinsik dalam sebuah novel. Salah satu bagian terpenting adalah tema—ide pokok yang menjadi dasar keseluruhan cerita. Tema terbagi menjadi dua, yaitu tema utama dan tema tambahan. Lalu ada penokohan, bagaimana watak tokoh digambarkan, baik secara langsung maupun lewat tindak-tanduknya,” jelas Ibu Rina sambil menuliskan poin penting di papan tulis.
Ia berhenti sejenak, lalu menatap murid-muridnya satu per satu. “Dalam sebuah cerita, biasanya ada konflik yang membuat alur berjalan. Mulai dari konflik batin di dalam hati tokoh, hingga konflik antar tokoh yang saling berhadapan. Nah, yang paling penting adalah pesan moral—apa yang ingin disampaikan pengarang kepada pembacanya.”
Suasana tetap hening, siswa mencatat pelan-pelan. Namun di bangku belakang, Arjuna malah menguap lebar... menurutnya pelajaran ini membuatnya mengantuk. " nyesel gue, kenapa tadi kita ga bolos aja ya." ucap Arjuna kepada Rian yang duduk di sebelahnya.
Rian yang sedang menopang dagu langsung menoleh ke Arjuna, " ya gimana lagi bos, gue aja ngga sadar kalau hari ini ada pelajaran Indonesia."
Arjuna menghela nafas bosan lalu ia diam-diam membuka HP di bawah meja, dia menggulir layarnya di apk instagram... saat sedang asik melihat-lihat, ia tidak sengaja membaca kata-kata di akun milik seseorang yang entah ia juga ngga kenal.
Di slide pertama:
* Saling suka tapi ngga pernah ada kata jadian.*
slide kedua:
* cewek itu paling suka di beri kepastian bukan harapan.*
slide ketiga:
*Selalu bilang sayang tapi ngga pernah di tembak.*
slide terakhir dan paling panjang kata-katanya:
* Intinya kalau lu juga suka kenapa ngga ada ungkapan " mau ngga jadi pacarku", para cewek tuh butuh kepastian bukan cuma ucapan sayang.*
" galau kek nya nih orang." Gumam Arjuna.
Rian yang memang dari tadi mengintip layar HP Arjuna langsung berceletuk pelan, " kok persis kaya lu bos?"
Arjuna langsung menoleh ke arah Rian dengan dahinya yang mengkerut, " maksud lu?"
" ya bos kan tau Laila juga suka sama lu, nah berarti saling suka dong. terus sekarang gue perhatiin bos suka manggil sayang ke Laila, tapi bos ngga pernah nembak dia." terang Rian panjang lebar.
" emang harus banget ya gue bilang "mau ngga jadi pacar gue"? bukannya kalau selama tau perasaannya yaudah berarti kita jadian." ucap polos Arjuna.
Rian menepuk dahinya pelan, " hadeh.. bukanya bos suka gonta ganti cewek ya? kok masalah begini masa ngga tau."
Arjuna mengangkat bahunya cuek, "biasanya mereka duluan yang bilang " Juna gue suka sama lu" yaaa terus gue jawab " gue juga", habis itu yaudah kita jalan kek orang pacaran.
Rian tercengang, ia hanya bisa menggeleng pelan kepalanya. -si gobloookkk- batinya.
" berarti Laila sama kek cewek-cewek yang pernah lu pacarin dong, terus kalau bos udah bosen langsung di tinggal. gitu ya?"
" YA NGGA LAH." ucap spontan dengan keras sampai seluruh kelas menoleh dan Bu Rina pun menatapnya tajam.
" ngga apa Juna? ada yang salah dengan penjelasan ibu?"
Arjuna langsung gelagapan sedangkan Rian langsung pura-pura sedang menyatat. "E-eh anu bu, itu si Rian bilang kalau catatan yang saya tulis katanya salah." Arjuna langsung menyengir lebar.
Bu Rina hanya mengganggukan kepala lalu melanjutkan lagi pelajarannya.
Arjuna dan Rian langsung menghela nafas lega, "Kenapa harus teriak sih bos." bisik Rian.
" gara-gara lu bego, kalau lu ngga ngomong begitu gue ngga kaget." tuduh Arjuna.
"lah gue kan cuman nanya." elak Rian.
" intinya Laila tuh beda dari para mantan gue, dia tuh spesial di hati gue, cuma dia yang bikin jantung gue berdebar cepat." ucap Arjuna pelan, telinganya memerah karena malu
Rian yang mendengar itu langsung tersenyum menggoda Arjuna.
" ekhm.. ya intinya gitu, Laila beda dari yang lain." lanjut Arjuna yang langsung lanjut menggulir layar hpnya untuk menutupi rasa malunya.
" iya deh iya, Laila emang beda dari yang lain. terus kapan nih nembaknya? biasanya cewek suka yang romantis gitu." ucap Rian sambil menggoda Arjuna yang tengah salah tingkah.
" ngapain nembak, lagian gue udah tau perasaan dia. jadi yaudah jalanin aja kayak sekarang, biasanya juga gue begitu." acuh Arjuna.
Rian kembali tercengang mendengar ucapan Arjuna, " Bos kalau goblok ya goblok aja jangan pakai banget." yang hanya di balas Arjuna dengan mengangkat bahunya.
" Bos status itu penting loh, percuma kalau kalian saling suka tapi ngga ada status. itu namanya lu ngegantung dia... "
belum selesai Rian mengucapkan katanya, bibir Rian langsung di comot dengan tangan Arjuna. "Sttt.. gausah banyak bacot, gue udah nembak dia kok."
Rian langsung melepaskan tangan Arjuna dari mulutnya. " Kapan?"
" lu lupa apa anemia? kan gue udah pernah cerita ke inti geng Petir kalau gue pernah nembak Laila walaupun akhirnya di tolak."
" Amnesia bos." ucap Rian lelah dengan tingkah Arjuna. " itukan udah lama bos, nah setelah lu tau perasaan dia harusnya lu nembak lagi."
" harus di ulang kah? ngga bisa di sambung aja gitu?"
" ck.. tau dah serah lu aja, awas aja nanti Laila di tembak cowok lain jangan misuh-misuh ke kita ya." kesal Rian.
" dih mana bisa begitu, kalau ada yang berani nembak cewek gue, siap-siap babak belur."
" ya bisalah, emang bos siapanya Laila? pacarnya bukan. jadi sah sah aja kalau ada yang nembak dia. karena bos sama Laila ngga ada status apa-apa, cuman sekedar saling suka."
Arjuna langsung terdiam mendengar perkataan Rian, dan diapun membenarkan perkataannya.
" yaudah bantu gue dong, gue ngga tau cara nembak yang romantis gimana." Tanya Juna.
" hmm si bos ngeledek nih, gue mana pernah nembak cewek. eh tapi coba cari di internet pasti banyak tuh caranya." usul Rian.
Arjuna langsung mengetik di ponselnya, Rian pun ikut mencondongkan badan melihat layar. Saat mereka berdua fokus membaca, tiba-tiba bu Rina sudah ada di belakang mereka.
" nah ini nih kayaknya romantis banget, Jadi ngga sabar gue." seru Arjuna yang masih menatap layar hpnya dan langsung di angguki Rian tanpa tahu ada bahaya yang siap menerkam mereka.
" iya saya juga ngga sabar ngehukum murid nakal kayak kalian." ucap bu Rina yang seakan sudah siap menerkam.
badan Arjuna dan Rian seketika menegang, lalu mereka menoleh kebelakang secara bersamaan. saat mereka menoleh, mereka melihat bu Rina sudah memegang penggaris kayu besar dan panjang di tangannya. Arjuna dan Rian hanya menyengir Kaku.
" Ehh ada bu Rina, udah lama bu ngajar di sini?"
seketika semua murid menahan tawa mendengar celetukan Rian.
Bu Rina hanya melotot tajam melihat kedua muridnya yang memang terkenal susah di atur, "cepat berdiri di depan dan angkat kakinya satu sampai jam pelajaran saya selesai." ucap tegas Bu Rina.
" Aduh Buu.. jam pelajaran ibukan masih lama. di diskon dong bu." keluh Arjuna.
Bu Rina langsung menghentakan penggaris besarnya ke lantai, " Cepat jangan ada keluhan. itu hukuman kalian, bisa-bisanya di jam pelajaran saya kalian malah asik main HP."
" bos udah bos ayo, bisa berabe kita kalau Bu Rina malah nambahin hukumannya." Rian langsung menarik tangan Arjuna, Arjuna pun langsung berdiri dengan malas malasan.
Akhirnya mereka mau ngga mau menjalankan hukumannya karena kesalahan yang mereka buat.