NovelToon NovelToon
REMBULAN YANG DIRINDUKAN

REMBULAN YANG DIRINDUKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Penyelamat
Popularitas:939
Nilai: 5
Nama Author: Katumbiri Lazuardi

Fatih, seorang ustadz.. yang hampir 10 merindukan kekasihnya Wulan seorang gadis bercadar sejak dia pesantren dulu.
tak kunjung bertemu, surat terakhirnya pun tak kunjung ada balasan.

Namun, alih-alih menemukan sosok wulan, dia malah terjebak dan terpaksa menikah dengan seorang gadis pelarian bernama Bella, yang kontradiksi dengan kehidupannya sebagai ustadz.. gadis itu datang dengan pakaian yang tidak pantas. namun hatinya tetap mencintai wulan..bagaimana kisahnya...
drama religi ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Suasana fajar di kediaman Kiai Ahmad Bashir terasa begitu sakral. Udara dingin merayap masuk melalui celah-celah jendela, membawa aroma tanah yang basah oleh embun. Di dalam kamar, cahaya lampu pijar kuning memberikan rona hangat. Untuk pertama kalinya dalam satu bulan pernikahan mereka, Fatih berdiri di depan sebagai imam, dan Bella berdiri tepat di belakangnya sebagai makmum yang paling setia.

Suara Fatih saat melantunkan surah Ar-Rahman terdengar begitu bergetar, penuh penghayatan yang menggetarkan sanubari. Ada nada syukur yang mendalam, sekaligus permohonan ampun yang tulus. Bella, di belakangnya, menunduk dalam, air matanya menetes pelan menyentuh sajadah. Getaran suara suaminya seolah menyentuh relung hatinya yang paling dalam, membasuh luka-luka masa lalu yang sempat membuatnya merasa tak berharga.

Setelah salam, mereka tidak langsung beranjak. Fatih memutar tubuhnya, menghadap Bella. Mereka berdua tenggelam dalam doa "diam" yang dipanjatkan ke langit yang sama, namun dengan beban rahasia yang masih tertutup rapat.

Doa Fatih:

> "Ya Allah... ampuni hamba yang seolah telah mengkhianati janji pada seseorang di masa lalu. Hamba pernah bersumpah bahwa takdir hamba hanya untuk Wulan. Namun hari ini, Engkau ubah segalanya. Engkau tumbuhkan rasa cinta yang luar biasa pada Bella, bidadari yang kini berada di hadapan hamba. Hamba mohon, bahagiakanlah Wulan di mana pun ia berada, jagalah ia sebagaimana Engkau menjaga hamba. Terima kasih, ya Allah... Engkau telah menggantikan bidadari yang hanya bisa hamba kenang dengan bidadari nyata yang kini bisa hamba miliki seutuhnya."

Doa Bella (Wulan):

> "Ya Allah, hamba mohon ampun atas pengkhianatan rasa ini pada 'Abbas-ku'. Dia, suamiku, mungkin bukanlah Abbas yang hamba tunggu selama sepuluh tahun ini. Tapi kenyamanan, perlindungan, dan kebahagiaan yang ia berikan saat ini mampu menggantikan sosok Abbas dalam hati hamba. Hamba mencintainya, ya Allah. Semoga Kang Abbas di luar sana mendapatkan pendamping yang jauh lebih baik, yang bisa membahagiakannya lebih dari hamba. Izinkan hamba menjadi istri yang shalihah untuk suamiku ini."

Dua doa itu melambung tinggi, berpapasan di langit ketujuh. Mereka belum sadar bahwa Allah, Sang Maha Sutradara, telah mengabulkan doa-doa lama mereka dengan cara yang paling manis sekaligus ironis. Orang yang mereka doakan agar bahagia "di sana", sebenarnya sedang duduk bersimpuh tepat di hadapan mereka.

Pagi yang Bersemi di Dapur Umi

Matahari mulai mengintip dari ufuk timur, membawa cahaya keemasan yang menembus jendela dapur. Seperti biasa, kesibukan dimulai. Bella tampak begitu cekatan merapikan rumah. Wajahnya yang biasa kuyu dan penuh ketakutan, kini bersinar terang. Ada binar kebahagiaan yang tak bisa disembunyikan.

"Mbak Bella, itu wajah kok cerah banget? Pakai krim apa semalam?" Zahra muncul tiba-tiba dengan gaya konyolnya, membawa keranjang sayur.

Bella tersentak, lalu tersenyum malu. Ia sedang asyik memotong sayuran bersama Umi Fatimah. Pikirannya melayang pada kejadian semalam, pada cara Fatih menatapnya, dan terutama... pada respon konyol suaminya saat ia melarang dipanggil "Mbak".

"Ih... Mbak Bella malah senyum-senyum sendiri! Umi, lihat deh, Mbak Bella kayaknya kesambet jin penunggu pohon mangga depan!" celetuk Zahra polos.

"Zahra, hus! Ngomong apa kamu ini," tegur Umi Fatimah lembut, meski matanya juga menangkap perubahan besar pada menantunya. Umi tersenyum dalam hati, bersyukur badai di hati anaknya sudah mulai reda.

"Bukan gitu, Umi! Umi lihat sendiri kan, Mbak Bella motong wortel aja sambil senyum manis banget. Wortelnya sampai minder itu!" Zahra terus menggoda, membuat wajah Bella semakin memerah seperti kepiting rebus.

"Sudah, sudah... kamu ini. Nanti juga kalau sudah waktunya kamu bakal ngalamin sendiri" jawab Umi sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat kepolosan putrinya.

Bella hanya menunduk, menyembunyikan tawa kecilnya. "Akhirnya dia nyatakan juga perasaannya," gumam Bella dalam hati, mengingat bisikan "Aku mencintaimu" dari Fatih semalam.

Drama Meja Makan: Dari Ayam Serundeng ke "Sayang"

Di ruang makan, Abi sudah duduk rapi sambil membaca kitab kecil. Fatih muncul dengan kemeja kantor yang necis, rambutnya tertata rapi, dan aroma parfumnya memenuhi ruangan. Ia tampak jauh lebih segar dari biasanya.

Umi, Bella, dan Zahra datang membawa hidangan. Aroma ayam serundeng yang gurih dan sop sayur yang segar membangkitkan selera. Setelah doa makan dibacakan Abi, suasana berubah menjadi sedikit... canggung bagi Fatih.

"Mbak... eh..." Fatih berdehem, melirik ke arah Bella yang duduk di sampingnya. Ia menunjuk piring ayam serundeng. "Mbak, kalau ini... kamu yang masak?"

Bella tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru melotot tajam ke arah Fatih, sebuah "ancaman" manis yang mengingatkan janji Fatih semalam untuk tidak memanggilnya "Mbak". Namun, di akhir pelototan itu, Bella menyunggingkan senyum yang sangat manis, seolah sedang menjebak Fatih dalam pesonanya.

Fatih tersentak, teringat janjinya. Ia berdehem lagi, membenarkan posisi duduknya dengan kikuk di depan Abi dan Umi.

"Maksud Abang... sayang... Sayang, kamu yang masak ayam ini?" ucap Fatih dengan nada yang sedikit dipaksakan namun penuh perasaan.

Uhuk! Uhuk!

Zahra yang sedang menyuap nasi langsung tersedak hebat. Ia memukul-mukul dadanya, matanya melotot tidak percaya mendengarkan kakaknya yang kaku itu memanggil "Sayang".

Umi Fatimah dan Abi saling berpandangan, lalu tersenyum simpul. Keintiman yang malu-malu itu adalah pemandangan terindah bagi mereka setelah sebulan penuh ketegangan.

"Pelan-pelan kalau makan, Zahra. Kamu ini kayak belum makan setahun, aja" ujar Fatih ketus, berusaha menutupi rasa malunya sendiri. Ia tahu betul Zahra tersedak bukan karena nasi, tapi karena "Sayang" yang baru saja lolos dari bibirnya.

"Bang... Bang Fatih! Jangan lupa ya, baksonya! Traktir! Traktir pokoknya!" Zahra menagih dengan semangat, suaranya cempreng memenuhi ruangan.

"Apaan sih kamu, berisik!" jawab Fatih mencoba galak, meski telinganya sudah memerah.

Zahra tidak menyerah. Ia mengerlingkan alisnya, matanya melirik bolak-balik antara Bella dan Fatih. Maksudnya jelas: Zahra tahu Fatih sudah jatuh cinta total, dan Bella telah memenangkan taruhan kecil mereka tempo hari. Jika Fatih sampai bertekuk lutut pada Bella, Fatih harus mentraktir Zahra bakso paling enak se-kecamatan.

"Umi lihat, Bang Fatih gengsi tuh!" goda Zahra lagi. "Mbak Bella, jangan mau ya kalau cuma dipanggil sayang. Minta yang lebih, minta beliin emas atau apa gitu, mumpung Bang Fatih lagi mabuk kepayang!"

"Gak usah dengerin dia, Sayang..." Fatih menimpali, kali ini kata "Sayang" itu keluar lebih lancar, meski ia langsung membuang muka ke arah piring."kamu gak masak sayur lodeh kluwih lagi."  Tanya Fatih

Tiba-tiba, ingatan tentang Wulan kembali melintas di benak Fatih. "Wulan... kenapa bayanganmu selalu datang di saat seperti ini? Maafkan aku, Wulan... Aku harus melupakanmu. Bella adalah istriku, kenyataanku sekarang," batin Fatih dengan sedikit rasa sesak.

Melihat wajah Fatih yang mendadak kikuk dan melamun, Bella (Wulan) justru teringat masa lalu. Gaya tengil Fatih yang berusaha bersikap manis di meja makan sangat mirip dengan gaya "Abbas" saat pertama kali mengaku sebagai pacarnya di depan Abah Darman.

"Kang Abbas... gaya tengilmu nggak berubah, bahkan setelah sepuluh tahun," batin Bella sambil senyum-senyum sendiri.

"Kamu kenapa?" tanya Fatih setengah berbisik, menyadari istrinya sedang memperhatikannya sambil tersenyum misterius. "Kamu bahagia... kan, sama aku?"

Bukannya menjawab, Bella mengambil sepotong ayam, lalu menyuapkannya ke arah mulut Fatih. "Aaa..." ucap Bella lembut.

Fatih seperti terhipnotis. Ia, yang biasanya sangat menjaga wibawa di depan orang tuanya, kini menurut seperti anak kucing. Ia membuka mulutnya dan menerima suapan itu.

"Ya Allah... bidadari ini senyumnya indah banget. Kenapa aku baru sadar sekarang? Bego benar kamu, Fatih!" teriaknya dalam hati, memaki kebodohannya selama sebulan ini.

Uhuk! Uhuk!

Zahra kembali tersedak untuk kedua kalinya. "Aduh... Umi, Zahra butuh air segalon! Pemandangan di depan mata ini terlalu manis, Zahra bisa kena diabetes!"

Umi dan Abi hanya tertawa kecil, mengucap syukur berkali-kali dalam hati melihat kebahagiaan anak-anak mereka.

Perpisahan Manis dan Mata-Mata di Luar Gerbang

Selesai sarapan, Fatih berpamitan. Di depan pintu, suasana terasa begitu romantis. Bella mengantar sampai ke teras. Dengan lembut, Bella meraih tangan Fatih dan menciumnya dengan penuh takzim. Sebagai balasan, Fatih menarik dagu Bella pelan, lalu mendaratkan sebuah ciuman hangat di kening istrinya.

"Hati-hati di jalan ya, Bang..." ucap Bella lembut.

"Iya, Sayang. Kamu di rumah baik-baik ya," jawab Fatih dengan tatapan yang sangat dalam. Mereka saling bertatap mata, seolah dunia hanya milik berdua, mengabaikan Zahra yang mengintip dari balik gorden sambil menutup mata dengan jari terbuka.

Namun, kebahagiaan itu berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di luar gerbang. Sebuah mobil hitam dengan kaca gelap terparkir seratus meter dari sana. Di dalamnya, dua orang pria sedang mengamati menggunakan teropong.

"Bagaimana, sudah aman?" tanya sebuah suara kasar dari handy-talky.

"Target aman, Bos. Suaminya baru saja berangkat. Dia sendirian di rumah dengan dua orang tua dan satu anak kecil," jawab si pengintai, matanya tajam menatap Bella yang sedang melambai pada mobil Fatih.

"Bagus. Jangan bertindak dulu. Tunggu pak Akbp Heri dan dahlan datang. Mereks terjebak macet sedikit di jalan utama. Jangan sampai perempuan lepas lagi, atau kepala kalian jaminannya!" bentak suara di seberang telepon.

Si pengintai menurunkan teropongnya. Di kejauhan, ia melihat Bella masuk ke dalam rumah dengan senyum yang masih mengembang, sama sekali tidak menyadari bahwa maut sedang mengintai di balik rimbunnya pohon mangga depan rumah. Badai yang sesungguhnya baru saja akan dimulai, tepat saat Fatih tidak berada di sana untuk melindunginya.

1
falea sezi
😒😒 umi umi klo qm. jodohin fatih pasti bella pergi jauhh🤣🤣🤣 biar mampus anak mu itu
Katumbiri Lazuardi: iya kak, makasih komen nya.. sehat selalu.. jangan lupa like dan subcribe ya.. ikuti terus
total 1 replies
falea sezi
lanjut
Katumbiri Lazuardi: siap kak, jangan lupa like dan subcribe nya .. terus ikuti yah🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!