Elara tumbuh sebagai putri tunggal dari pemimpin organisasi mafia paling kejam di negeri ini. Dididik dengan kekerasan dan dicengkeram doktrin psikopat oleh ayahnya, ia terpaksa mengenakan topeng apatis dan minim empati.
Saat berusia 14 tahun, dalam sebuah misi untuk menghabisi geng lokal, takdir mempertemukannya dengan seorang remaja laki-laki yang tengah dikeroyok.
Bukannya takut melihat aksi kejam Elara, pemuda itu justru jatuh cinta pada pandangan pertama dan dengan sukarela menawarkan dirinya untuk masuk ke dalam dunia hitam organisasi demi bisa bersamanya.
Tahun demi tahun berlalu. Remaja laki-laki itu kini telah tumbuh menjadi pengawal pribadi Elara yang paling tangguh dan tepercaya. Tanpa mengetahui rencana pengkhianatan Elara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 : ANCAMAN DI BALIK MEJA PERJAMUAN
Malam perjamuan tiba, ruang makan besar di kediaman didekorasi dengan mewah.
Elara duduk di samping ayahnya, menatap gelas anggurnya dengan tenang. Ia tahu Adrian sedang menatapnya dari seberang meja dengan sorot mata penuh kebencian yang disembunyikan di balik senyum tipis.
Dua belas tahun telah berlalu sejak sang Ayah membawa Adrian masuk ke keluarga ini, namun hubungan mereka sebagai kakak-adik tidak pernah baik sedikitpun.
"Elara," suara berat sang Ayah memecah keheningan. "Besok, Julian akan mulai bekerja sebagai konsultan keamanan kita. Dia punya koneksi yang luas. Dante kau harus membantunya beradaptasi."
Dante yang berdiri tegak di belakang kursi Elara, hanya menunduk sedikit. "Baik, Tuan."
"Konsultan keamanan baru?" Adrian menatap Elara dengan binar mengejek. "Baguslah. Lagipula mengandalkan satu orang saja untuk menjaga aset paling berharga keluarga kita rasanya terlalu beresiko, kan. Kak? Dante mungkin hebat di lapangan, tapi kita sekarang butuh strategi yang lebih... modern."
Elara mengangkat gelas anggurnya, membiarkan cairan merah pekat itu bergoyang di dalam kaca sebelum menyesapnya sedikit.
Rasa pahit dan manis anggur itu membakar tenggorokannya.
Ia meletakkan kembali gelasnya, lalu mengalihkan tatapan matanya yang dingin ke arah Adrian.
"Koneksi yang luas tidak akan ada gunanya, kalau orang itu tidak tahu cara bertahan hidup, Adrian," ucap Elara suaranya mengalun tenang.
"Dante berada di posisinya sekarang bukan karena dia pintar bicara atau punya banyak kenalan, tapi karena dia tahu bagaimana cara melenyapkan ancaman sebelum ancaman itu sempat berpikir."
Adrian menggerakkan rahangnya, merasa tersindir oleh ucapan Elara yang secara tidak langsung meremehkan pilihan sang Ayah dan dirinya.
Kepalan tangan Dante di balik jas hitamnya perlahan mengendur. Ada desakan kepuasan yang aneh di dadanya saat mendengar bagaimana Elara membelanya secara terbuka di meja makan ini.
Sang Ayah berdehem berat, menghentikan adu argumen yang mulai memanas di antara kedua anaknya. "Julian bukan orang sembarangan, Elara. Ayah yang memilihnya sendiri. Malam ini, dia akan datang ke sini."
Tepat setelah Ayahnya selesai berbicara, seorang pria masuk ke ruangan dengan setelan jas mahal dan senyum yang terlalu percaya diri, membuat suasana di ruangan itu berubah.
Pria itu berhenti tepat di depan Elara.
"Nona Elara," sapa pria itu, matanya menatap Elara dengan intens. "Saya sudah mendengar banyak tentang Anda. Senang akhirnya bisa bertemu."
Elara menatap pria itu dengan tatapan dinginnya yang khas. "Kehormatan bagi saya, Tuan Julian. Semoga Anda bisa bertahan di rumah ini."
Di balik meja, Adrian tertawa kecil, suara tawanya terdengar sumbang. "Tentu saja dia akan bertahan, Elara. Tidak seperti orang-orang yang dulu mencoba mendekatimu, bukan?"
Julian tidak memedulikan sindiran Adrian. Dengan gerakan penuh percaya diri, ia merapikan kancing jasnya, menegakkan punggungnya, lalu mengambil tempat duduk kosong di sebelah Adrian—tepat berhadapan langsung dengan Elara.
"Izinkan saya memperkenalkan diri secara resmi, Nona Elara," ujar Julian, suaranya tertata rapi, tipikal orang-orang kelas atas yang lihai bermain kata-kata.
"Saya Julian Vance. Lulusan terbaik dari akademi militer di London, dan lima tahun terakhir saya habiskan untuk merombak sistem keamanan sindikat terbesar di Eropa Timur. Terimakasih kepada Tuan Besar yang telah mempercayakan posisi ini kepada saya."
Suasana makan malam berlanjut dengan ketegangan yang kian merayap. Para pelayan mulai menyajikan hidangan utama.
Di belakang kursi Elara, hawa membunuh yang dipancarkan Dante terasa begitu pekat. Rahangnya mengeras, dan matanya tidak lepas dari Julian.
Dante bisa membaca jenis tatapan Julian—itu bukan tatapan seorang profesional, melainkan tatapan seorang pria yang penasaran secara pribadi.
Sesuatu yang membuat monster di dalam diri Dante ingin merobek tenggorokan pria itu sekarang juga.
"Ayah dengar, pergerakan di dermaga barat sedikit terhambat akhir-akhir ini," sang Ayah membuka suara, memotong daging di piringnya dengan tenang, tidak terganggu dengan atmosfer mencekam di ruangan itu. "Julian, bagaimana analisis awalmu?"
Julian menyesap air putihnya sedikit, lalu menegakkan posisi duduknya.
"Sederhana saja, Tuan Besar. Sistem pengawasan manual yang selama ini diterapkan oleh... pengawal Anda," Julian sengaja menjeda kalimatnya, matanya melirik Dante dengan ekspresi merendahkan, "sudah terlalu kuno. Kita butuh enkripsi digital pada jalur logistik dan perombakan total pada pos-pos penjagaan. Jika anda mengizinkan, besok saya akan meminta akses penuh pada seluruh peta perimeter ruangan, termasuk area privat."
"Area privat?" Elara menyahut, ia meletakkan pisaunya perlahan. "Saran yang menarik, Tuan Julian. Tapi di rumah ini, ada batas-batas yang bahkan tidak boleh dilewati oleh teknologi secanggih apapun."
Adrian terkekeh, sengaja mengetukkan garpunya ke pinggiran gelas anggur hingga berdenting nyaring, tampak sangat menikmati konfrontasi ini.
"Kenapa, Kak? Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan di kamarmu? Atau kamu cuma takut kalau efesiensi Julian akan membuat anjing penjagamu yang setia ini menjadi tidak berguna lagi di rumah ini?"
Mata Elara beralih pada Adrian, "Dante tidak akan pernah menjadi tidak berguna. Adrian."
Julian tersenyum tipis, memutar gelas anggurnya dengan santai untuk menyembunyikan rasa terusik dari harga dirinya yang sedikit tersengat oleh ucapan Elara. "Tentu saja, kesetiaan adalah hal yang langka dalam bisnis kita. Saya sangat menghargai itu, Nona Elara. Tapi bisnis besar tidak bisa digerakkan dengan sentimen kesetiaan, kita butuh hasil nyata."
"Kita lihat saja nanti, apakah hasil nyatamu sebanding dengan bicaramu yang tinggi." ucap Elara dingin seraya menyeka sudut bibirnya dengan serbet kain.
Nggak bisa nebak endingnya 💪💪
qu rasa nanti hadir laki" yg melebihi mrk smua
juliaaan👍👍
takut nii
semangat kak💪💪
bikin penasaran
kenapa feeling ku bilang ini sad ending yaa🤔🤔
semangat kak💪💪
sebenarnya apa niat dia yaa 🤔
jangan bilang ini belum kemampuan elara yang sebnernya..