NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Sang CEO

Istri Rahasia Sang CEO

Status: tamat
Genre:Romantis / Reinkarnasi / Romansa Fantasi / CEO / Tamat
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tere Nusa

Keira tidak punya apa-apa
Dibuang ibunya saat usia lima tahun dibesarkan di panti asuhan yang lebih mirip penjara dan dijual seperti barang bekas ke dunia orang kaya yang tidak pernah ia pahami
Tapi suatu malam ia terbangun di tepi kolam teratai sebuah mansion mewah di Jakarta basah kuyup jantung berdegup kencang dan kepala dipenuhi potongan memori yang bukan miliknya Api Darah Seorang pria yang memeluk tubuhnya yang tak bernyawa dan ikut terbakar bersamanya
Keira tahu dua hal pertama ia sudah pernah mati Kedua pria itu Darren Hendrawan pewaris konglomerat paling berkuasa di Indonesia akan mati juga Kecuali ia mengubah segalanya
Masalahnya Darren sudah punya tunangan dari keluarga elite Seluruh klan Hendrawan menganggap Keira sampah Dan racun yang perlahan membunuh Darren dari dalam ditanam oleh ayahnya sendiri
Tapi Keira bukan gadis yang mudah menyerah Ia pernah makan dari tempat sampah ia tidak takut dengan tatapan merendahkan para sosialita Jakarta Ia pernah mati ia tidak takut dengan ancaman
Yang ia takutkan hanya satu kehilangan pria yang ternyata telah memilihnya bukan sekali bukan dua kali tapi di setiap kehidupan
Kehidupan ini sudah cukup bisiknya
Tidak jawab Darren Aku akan menemukanmu di kehidupan berikutnya juga
Tapi bagaimana jika kehidupan berikutnya sudah tidak ada

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tere Nusa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

Bab 033: Di Balik Layar

Keira tidak membuka pintu malam itu.

Ia berdiri di balik kayu gelap, mendengar langkah kaki yang makin jauh, sampai koridor kembali sunyi. Setelah itu, ia mengirim satu pesan pendek kepada Darren.

Ada orang lewat menuju tangga belakang.

Balasan Darren datang kurang dari satu menit.

Aku tahu. Tidur.

Keira menatap dua kata itu lama.

Tidur, katanya.

Seolah ia bukan sedang berada di tengah perangkap keluarga besar, dengan Serena yang tersenyum terlalu lembut, Rossa yang diam terlalu dingin, dan seseorang yang berjalan di lorong pukul satu pagi.

Namun anehnya, setelah membaca pesan itu, dada Keira memang sedikit lebih tenang.

Jika Darren bilang ia tahu, berarti bayangan itu sudah masuk ke dalam perhitungannya.

Pagi berikutnya, kabut masih menggantung di atas kebun teh saat Darren membawa Keira ke bangunan kecil di belakang villa.

Dari luar, bangunan itu tampak seperti rumah buku dua lantai. Dindingnya dipenuhi kaca dan kayu, dengan tanaman rambat di salah satu sisi. Di dalam, lantai pertama berisi rak tinggi, meja kerja besar, dan satu sudut yang dipisahkan oleh screen kayu ukir setinggi dada orang dewasa.

Keira menatap screen itu.

"Jadi aku harus bersembunyi di sana?"

"Ya."

"Kedengarannya tidak bermartabat."

"Menang lebih penting daripada terlihat bermartabat."

Keira meliriknya. "Kamu mengatakan itu sebagai orang yang selalu terlihat bermartabat bahkan saat mengancam orang."

Darren membuka laci meja, memeriksa sesuatu di dalamnya, lalu menutupnya kembali.

"Kamu harus mendengarnya sendiri," katanya.

Nada suaranya berubah.

Tidak menggoda. Tidak ringan.

Keira diam.

Darren berjalan mendekat dan berhenti di depannya.

"Aku bisa memberimu laporan. Aku bisa memutar rekaman. Aku bisa menyerahkan bukti sampai dia tidak punya celah. Tapi selama kamu belum mendengarnya dengan telingamu sendiri, akan ada bagian kecil dari dirimu yang bertanya apakah Serena benar-benar sejahat itu."

Keira menurunkan mata.

Ia benci karena Darren benar.

Serena pernah tertawa bersamanya di Grand Indonesia. Serena pernah berdiri di depan Mama Lian dan membelanya dengan suara manis. Serena pernah memanggilnya Cici seolah kata itu bukan pisau yang dibungkus gula.

Keira sudah melihat senyum palsu itu retak.

Tetapi hati manusia memang bodoh. Ia tetap ingin ada penjelasan lain.

Darren mengangkat dagunya dengan dua jari.

"Kamu harus mendengarnya sendiri. Supaya nanti, kamu tidak ragu."

Keira menarik napas pelan.

"Baik."

Rencana dimulai sebelum makan siang.

Pak Ji, yang sepanjang hidupnya mungkin tidak pernah benar-benar ceroboh, hari itu memainkan peran sebagai orang tua yang terlalu santai. Ia berdiri di ruang keluarga villa sambil berbicara dengan Ningsih tentang jadwal makan siang, tepat saat Serena lewat membawa nampan buah untuk Jessica.

"Nanti jangan ada yang masuk rumah buku," kata Pak Ji dengan suara yang cukup jelas. "Pak Darren menyimpan dokumen ekspansi Asia Tenggara di sana. Rencana Vietnam dan Thailand. Nilainya ratusan miliar. Kalau sampai hilang, kita semua repot."

Ningsih yang tidak tahu ia sedang menjadi bagian dari drama langsung membelalak.

"Ratusan miliar, Pak?"

Pak Ji mendesah. "Makanya saya bilang hati-hati."

Serena berhenti selama setengah detik.

Hanya setengah detik.

Lalu ia melanjutkan langkah, tersenyum kepada Jessica yang duduk di sofa.

"Ci Jessica, buahnya aku potong kecil-kecil. Kamu harus makan sedikit."

Keira duduk di kursi dekat jendela, pura-pura membaca buku. Dari balik halaman, ia melihat mata Serena yang tadi sempat berkedip terlalu cepat.

Umpannya ditelan.

Siang hari, Darren sengaja meninggalkan villa dengan alasan memeriksa lokasi pembangunan kecil di dekat perkebunan. Rio ikut bersamanya secara terbuka. Pak Ji menyatakan akan menemui pengelola villa. Mama Lian beristirahat di kamar. Felicia berjalan di taman. Rossa mengurung diri di kamar dengan laptop. Jessica tidur setelah minum obat ringan dari Dokter Xiao. Ningsih dan Ratna sibuk di dapur belakang.

Semua orang tampak punya tempat masing-masing.

Tepat pukul dua lewat sepuluh, Serena keluar dari ruang keluarga.

Ia memakai cardigan putih dan membawa buku tipis, seolah hendak berjalan santai. Di depan pelayan, ia bahkan berkata, "Aku mau cari udara sebentar."

Pelayan mengangguk tanpa curiga.

Keira sudah berada di balik screen rumah buku.

Sudut itu sempit tetapi cukup nyaman untuk berdiri dan duduk bergantian. Dari celah ukiran, ia bisa melihat sebagian meja kerja Darren. Di atas meja ada folder hitam yang sengaja diletakkan agak miring. Di sampingnya, sebuah flash drive kecil berwarna perak tampak seperti barang yang terlupa.

Terlalu jelas sebagai umpan.

Tetapi orang yang serakah sering melihat umpan sebagai keberuntungan.

Pintu rumah buku terbuka.

Serena masuk.

Langkahnya pelan pada awalnya. Ia menutup pintu tanpa suara, lalu berdiri diam beberapa detik, mendengarkan.

Keira menahan napas.

Wajah Serena tidak lagi lembut.

Tidak ada senyum, tidak ada mata berkaca-kaca, tidak ada Cici manis yang suka memegang tangan orang. Yang berdiri di sana adalah perempuan yang dingin, waspada, dan sangat terbiasa masuk ke tempat yang bukan miliknya.

Ia berjalan ke meja kerja.

Pertama, ia membuka folder hitam.

Kosong.

Serena mengerutkan alis, tetapi tidak panik. Ia memeriksa laci pertama. Terkunci. Ia mengambil sesuatu dari lengan cardigan, sebuah alat kecil yang Keira tidak kenali, lalu mencoba membuka laci itu dengan gerakan cepat.

Klik.

Laci terbuka.

Keira merasakan kuku jarinya menekan telapak tangan.

Serena mengambil beberapa lembar dokumen dari dalam. Di bagian atas tertulis rencana ekspansi Hendrawan Group ke Vietnam dan Thailand, lengkap dengan angka, nama perusahaan, dan jadwal pertemuan.

Keira tahu dokumen itu palsu.

Darren sudah memberitahunya.

Namun cara Serena memotretnya dengan ponsel, cepat dan terlatih, membuat dada Keira tetap terasa dingin.

Setelah selesai memotret, Serena mengambil flash drive, memasukkannya ke ponsel dengan adaptor kecil, lalu menyalin file yang disiapkan di sana.

Ia bukan gadis polos yang kebetulan salah membeli gelang.

Ia mata-mata.

Serena kemudian menyalakan panggilan melalui aplikasi yang tidak familiar. Ia memasang earbud kecil di satu telinga, tetapi suara dari ponsel tetap cukup bocor dalam ruangan sunyi.

"Dokumennya ada di sini," katanya.

Suara Serena rendah, efisien, dan sama sekali tidak bergetar.

"Rencana ekspansi Hendrawan ke Vietnam dan Thailand. Ada jadwal negosiasi, daftar perusahaan target, dan angka estimasi. Ini bisa dijual mahal."

Keira memejamkan mata sesaat.

Di seberang, suara laki-laki terdengar samar, tidak jelas sepenuhnya.

Serena menjawab cepat, "Om Yuwono tenang saja. Darren tidak curiga apa-apa."

Nama itu jatuh seperti palu.

Yuwono.

Jadi Darren benar.

Serena bukan hanya terkait Rossa. Ia juga tersambung ke jaringan Yuwono, lingkaran yang sejak awal bergerak seperti bayangan di belakang banyak luka.

Serena berjalan ke rak buku, seolah mencari sudut dengan sinyal lebih baik.

"Keira?" Ia tertawa pelan. "Anak panti asuhan bodoh itu percaya semua yang kukatakan."

Keira membuka mata.

Kalimat itu tidak mengejutkannya.

Justru karena tidak mengejutkan, rasa sakitnya terasa lebih dalam.

Serena melanjutkan, suaranya penuh hinaan yang tidak pernah ia tunjukkan di depan Jessica.

"Dia pikir aku temannya. Cukup panggil dia Cici, ceritakan sedikit tentang keluarga miskin, lalu dia lunak. Perempuan seperti itu mudah sekali dibaca. Seumur hidup kekurangan kasih sayang, begitu diberi sedikit perhatian langsung merasa punya saudara."

Keira merasakan sesuatu hangat di telapak tangannya.

Ia menunduk.

Kukunya menembus kulit. Titik darah kecil muncul di garis telapak.

Namun ia tidak bergerak.

Tidak bersuara.

Serena belum selesai.

"Cepat atau lambat, dia akan dibuang juga. Perempuan dari panti, mana bisa bertahan di dunia ini? Beri waktu, Darren akan bosan. Saat itu terjadi, kita tinggal ambil sisanya."

Suara di telepon berkata sesuatu.

Serena tersenyum miring.

"Jessica? Jangan khawatir. Gadis itu masih percaya aku. Dia bahkan bilang bukan salahku. Lucu, kan? Orang kaya memang gampang hancur kalau disentuh dari tempat yang tepat."

Keira hampir maju.

Bukan karena hinaan tentang dirinya.

Ia sudah pernah mendengar yang lebih buruk. Anak panti. Tidak tahu diri. Barang murah. Perempuan yang beruntung karena dipungut pria kaya.

Kata-kata itu pernah membunuhnya pelan-pelan di kehidupan sebelumnya.

Hari ini, ia masih berdiri.

Tetapi saat Serena menertawakan Jessica, sesuatu di dalam dada Keira berubah menjadi besi.

Ia ingin membuka screen. Ia ingin menampar wajah lembut palsu itu sampai topengnya jatuh di lantai.

Lalu ia teringat suara Darren.

Kamu harus mendengarnya sendiri. Supaya nanti, kamu tidak ragu.

Keira menggigit bibir.

Ia menunggu.

Serena kembali ke meja, memotret satu halaman lagi.

"Aku kirim setelah keluar dari sini. Jangan pakai jalur lama. Rio terlalu dekat belakangan ini. Rossa juga bilang..."

Ia berhenti.

Mungkin suara di telepon memotongnya.

Serena mendengarkan, lalu mengangguk.

"Baik. Aku tahu. Setelah malam ini, semua akan lebih mudah."

Keira mengangkat kepala.

Setelah malam ini?

Apa lagi yang mereka rencanakan?

Sebelum ia sempat menyusun pikiran, terdengar suara langkah di luar pintu.

Tidak cepat.

Tidak terburu-buru.

Tenang, seperti seseorang yang sedang berjalan di taman.

Serena membeku.

Pintu rumah buku terbuka.

Cahaya sore dari luar masuk bersama sosok Darren.

Ia berdiri di ambang pintu, jas kasualnya rapi, wajahnya tenang, bahkan terlalu tenang.

Serena memutar tubuh.

Ponsel masih di tangannya. Layar masih menyala. Di seberang, suara laki-laki terdengar samar.

"Halo? Serena? Kamu masih di sana?"

Darren melangkah masuk.

Satu langkah.

Lalu satu lagi.

Tatapannya tidak jatuh pada dokumen palsu, tidak pada laci terbuka, tidak pada flash drive di meja.

Ia hanya menatap Serena.

"Cukup."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!