NovelToon NovelToon
Janda Perawan Vs Dokter Tampan

Janda Perawan Vs Dokter Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dokter / Janda
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Dua bulan setelah menikah dengan Benni Ardiansyah, kebahagiaan Winarsih Larasati berubah menjadi penderitaan. Saat Benni bekerja sebagai TKI di Jepang, ibu mertuanya menguasai seluruh uang kiriman dan terus menyiksa hidup Winarsih.

Fitnah demi fitnah membuat Benni percaya bahwa istrinya telah berselingkuh, hingga tanpa mencari kebenaran ia memilih menceraikannya.

Kini Winarsih harus berjuang sendiri dengan bekerja mengantar roti. Di tengah perjuangannya, takdir mempertemukannya dengan seorang dokter tampan yang baru ditugaskan dari kota ke desa Sekar Sari.

Akankah pertemuan itu menjadi awal kebahagiaan baru? Ataukah luka masa lalu masih membayangi kehidupan Winarsih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10 : Memesan Roti

Kini Winarsih telah selesai mengantar seluruh pesanan roti. Keranjang bambunya kini jauh lebih ringan. Ia kembali ke pabrik sambil membawa catatan penjualan. Begitu sampai, Juragan Warso sedang menghitung hasil produksi bersama Rudi.

"Sudah selesai, Winarsih?" tanya juragan Warso.

"Alhamdulillah sudah, Juragan."

"Bagaimana penjualannya?"

Winarsih menyerahkan buku catatan. "Hari ini hampir semuanya habis."

Juragan Warso tersenyum puas. "Alhamdulillah."

Rudi yang sedang menyusun peti roti ikut tersenyum. "Kalau begini, besok harus bikin lebih banyak."

Juragan Warso mengangguk. "Kamu benar, Rud." Ia kemudian menoleh kepada Winarsih. "Kamu sudah makan siang?"

Winarsih sedikit tersenyum. "Sudah, Juragan."

"Bagus."

Juragan Warso memperhatikan wajah Winarsih. Meski senyumnya mulai kembali, sorot matanya masih menyimpan kesedihan yang dalam. Dalam hati ia berdoa. "Ya Allah... semoga Engkau segera mengangkat kesusahan anak ini."

Tak jauh dari sana, tanpa disadari siapa pun, sebuah sedan hitam kembali melintas perlahan di jalan depan pabrik roti. Mobil itu tidak berhenti, hanya melaju pelan.

Di balik kaca filmnya, Clarissa memperhatikan bangunan pabrik sederhana itu. "Laporanmu benar?" tanyanya pelan.

Dimas yang menyetir mengangguk. "Iya, Nona."

"Apa hasilnya?"

"Sesuai informasi warga, Dokter Arga memang cukup dekat dengan pemilik pabrik roti ini karena sering membeli roti untuk puskesmas."

Clarissa masih memperhatikan ke arah halaman. "Lalu perempuan yang tadi?"

"Saya belum sempat mencari tahu identitasnya."

Clarissa mengangguk pelan. "Cari sampai ketemu."

"Baik, Nona."

Tatapan Clarissa kembali jatuh pada sosok Winarsih yang sedang membantu memindahkan keranjang roti di halaman pabrik. Meski hanya melihat dari kejauhan, entah mengapa wajah gadis desa itu terus teringat olehnya.

"Semoga saja instingku salah..." gumam Clarissa. "Tapi kalau ternyata dia memang perempuan yang mulai mengisi hati Arga..." Sorot mata Clarissa berubah dingin. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun merebut sesuatu yang dulu pernah menjadi milikku."

Sedan hitam itu kemudian melaju meninggalkan pabrik roti, sementara Winarsih tetap bekerja seperti biasa, sama sekali tidak menyadari bahwa dirinya perlahan mulai menjadi sasaran perhatian seseorang yang menyimpan obsesi besar.

Menjelang sore...

Aktivitas di Pabrik Roti Juragan Warso mulai berkurang. Aroma roti yang baru matang masih memenuhi ruangan. Para karyawan satu per satu mulai merapikan peralatan sebelum pulang.

Winarsih membantu Rudi menyusun keranjang kosong ke sudut gudang. "Sudah selesai semua, Mbak?" tanya Rudi.

"Alhamdulillah sudah."

"Kalau begitu kita berangkat. Saya antar Mbak sampai kontrakan pakai motor pabrik. Kata Juragan, mulai sekarang Mbak nggak boleh pulang sendirian."

Winarsih tersenyum kecil. "Terima kasih ya, Mas Rudi."

"Iya, sama-sama."

Baru saja Rudi hendak mengambil kunci motor, terdengar suara mobil berhenti di depan pabrik.

Brumm...

Sebuah mobil berwarna abu-abu metalik berhenti di halaman.

Rudi menoleh. "Lho... Dokter Arga?"

Juragan Warso yang sedang menghitung uang penjualan ikut mengangkat kepala. "Dokter?"

Arga turun dari mobil sambil membawa map tipis. Senyum ramah langsung menghiasi wajahnya.

"Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam," jawab semua orang hampir bersamaan.

Juragan Warso segera menghampiri. "Lho, Dok. Tumben datang langsung ke sini. Biasanya kan tinggal telepon."

Arga tersenyum ringan. "Sekalian lewat, Juragan."

"Silahkan masuk."

Arga mengangguk lalu melangkah ke dalam pabrik. Di sudut ruangan, Winarsih yang sejak tadi berdiri bersama Rudi langsung menundukkan kepala. Entah mengapa, ia merasa sedikit canggung sejak kejadian semalam.

"Pagi... eh, sore, Dok," ucapnya pelan.

"Sore, Mbak Winarsih."

Arga membalas dengan senyum hangat yang membuat Winarsih semakin salah tingkah.

Juragan Warso memperhatikan mereka bergantian sambil tersenyum tipis. "Ada yang bisa saya bantu, Dok?"

"Saya ingin memesan roti."

Juragan Warso mengangguk. "Seperti biasa untuk puskesmas?"

"Kali ini lebih banyak."

"Lebih banyak?"

"Iya."

Arga membuka map yang dibawanya. "Hari Jumat nanti kami akan mengadakan Jumat Berkah. Saya ingin membagikan roti untuk pasien, keluarga pasien, petugas kebersihan, dan warga yang datang berobat."

Mata Juragan Warso langsung berbinar. "Masyaallah... itu ide yang bagus sekali."

"Saya butuh sekitar tiga ratus bungkus roti."

Rudi sampai membulatkan mata. "Tiga ratus?"

Arga mengangguk. "Kalau kurang nanti saya tambah."

Juragan Warso tertawa kecil. "Dokter ini bikin saya kaget saja."

Arga ikut tersenyum. "Maaf."

"Tapi kenapa repot-repot datang sendiri? Biasanya tinggal telepon."

Arga menggaruk pelan tengkuknya. "Lagi ada waktu luang."

Juragan Warso mengangguk-angguk, tetapi sudut bibirnya menyunggingkan senyum penuh arti. Pandangannya diam-diam mengikuti arah mata Arga.

Dan benar saja, sesekali Arga tanpa sadar melirik ke arah Winarsih yang sedang berdiri sambil menggenggam ujung celemeknya. Winarsih yang merasa diperhatikan semakin menundukkan kepala. Pipinya perlahan memerah.

Juragan Warso menahan senyum. "Hmm... ternyata bukan sekadar pesan roti, ya." batinnya geli.

"Kalau begitu, pesanannya akan saya siapkan. Hari jumay pagi sudah bisa diambil."

"Baik, Juragan."

"Atau seperti biasa, Winarsih yang mengantar ke puskesmas?" ucap Juragan Warso sambil melirik kearah Winarsih.

Belum sempat Arga menjawab, Rudi lebih dulu menyela. "Juragan, kalau pesanannya sebanyak itu, Mbak Winarsih nggak mungkin kuat ngangkut sendirian."

"Iya juga."

Arga langsung berkata, "Tidak usah diantar. Saya saja yang akan mengambilnya ke sini."

"Dokter sendiri?" tanya Juragan Warso.

"Iya."

Juragan Warso terkekeh pelan. "Baiklah."

Saat suasana mulai mencair, Rudi menepuk pundak Winarsih. "Ayo, Mbak. Kita pulang."

Winarsih mengangguk. "Iya." Ia mengambil tas kainnya lalu berpamitan. "Juragan, saya pulang dulu."

"Hati-hati."

"Iya."

Winarsih kemudian menoleh kepada Arga. "Saya permisi dulu, Dok."

Arga mengangguk. "Hati-hati di jalan."

"Terima kasih."

Winarsih dan Rudi berjalan menuju halaman pabrik. Saat Rudi sedang menghidupkan motor, Arga tanpa sadar masih memperhatikan Winarsih hingga gadis itu memakai helm.

Juragan Warso yang berdiri di sampingnya berdeham pelan. "Ehem..."

Arga langsung tersadar. "Eh... kenapa, Juragan?"

Juragan Warso tersenyum penuh arti. "Dokter..."

"Iya?"

"Saya ini sudah tua."

Arga mengangguk bingung.

"Tapi mata saya masih awas."

Arga semakin bingung. "Maksud Juragan?"

Juragan Warso tertawa kecil. "Dokter datang ke sini cuma mau pesan roti... atau ada alasan lain?"

Pertanyaan itu membuat Arga terdiam beberapa detik.

Lalu ia tersenyum kecil sambil menggeleng. "Juragan ini bisa saja."

Juragan Warso ikut tertawa. "Kalau memang ada niat baik, jangan buru-buru. Anak itu sedang banyak ujian."

Senyum di wajah Arga perlahan memudar, berganti menjadi tatapan yang tenang. "Saya tahu, Juragan."

Ia menatap ke arah jalan tempat motor yang ditumpangi Winarsih mulai menghilang. "Itu sebabnya... untuk saat ini saya hanya ingin memastikan dia baik-baik saja."

Mendengar jawaban itu, Juragan Warso mengangguk pelan. Dalam hati, ia semakin yakin bahwa dokter muda itu tidak sekadar merasa iba kepada Winarsih.

Namun ia juga melihat satu hal yang membuatnya menghormati Arga, pria itu memilih menjaga batas dan tidak memanfaatkan keadaan saat Winarsih sedang berada di titik terendah hidupnya.

1
Amoera
kasihan winarsih/Sob/
Amoera
wihh, Dokter keren😍
Amoera
suka banget ka sama ceritanya, novel ter-the best🥰
Arditya
Ayo dokter arga pepet terua winarsih🤣
It's me Sky: iya kaka🤣
total 1 replies
Arditya
kagak beres deh ini ada preman, aduh winarsih.
Arditya
kacau ni nenek lampir, ko kesel ya thoor
Arditya
Ko kesel ya, sama si benni😄
Arditya
Gila mertua jahat tuh si Sulastri, ini sih cerita menyayat hati kaum wanita. Apalagi yang punya mertua seperti Sulastri, pingin di rujak bibirnya🤭
Arditya
Karyamu luar biasa sekali thoor, aku suka banget sama ceritanya. Semangat thoor😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!