Zara, gadis sederhana dan polos, dipersatukan dengan Adrian Romanov — pria dingin berkuasa yang membuat hidupnya benar-benar menderita. Dituduh, disakiti, dikucilkan, ia terbelenggu takdir kematian yang mengikatnya erat, selalu membayangi setiap langkahnya.
Namun sebutir nyawa kecil yang tumbuh di dalam rahimnya yang memberi alasan untuk bertahan. Namun di balik semuanya tersembunyi rahasia besar. Nanti saat kebenaran terkuak, akankah ia lepas dari belenggu itu… atau justru terjerat makin dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
topeng kemarahan dan hukuman yang kejam
Sebuah kediaman megah berdiri kokoh bergaya Eropa klasik, memancarkan kemewahan yang tak terlukiskan dengan kata-kata. Seluruh permukaan dilapisi marmer putih yang halus dan bersih, diperindah dengan ukiran rumit namun anggun yang menjulang hingga ke langit-langit tinggi. Jendela kaca besar berbingkai gelap memantulkan cahaya indah setiap kali sinar matahari menyentuhnya, seolah berlian yang tertanam di dinding batu. Di depan pintu utama, tangga lebar dan rapi menuju taman yang tertata sempurna: di tengah jalan air mancur yang indah dan artistik memercikkan air jernih, semak hijau dipangkas membentuk pola rapi dan seimbang, pepohonan tinggi berdiri tenang menciptakan suasana damai, asri, dan agung — seolah tak ada satu pun hal buruk yang bisa terjadi di tempat yang begitu sempurna ini.
Tak lama kemudian, kendaraan mewah melaju pelan memasuki halaman yang luas, berhenti tepat di depan tangga putih yang berkilau. Aku turun lebih dulu: mengenakan gaun malam panjang berwarna merah anggur pekat yang berkilau lembut seperti sutra terbaik yang pernah dibuat tangan manusia. Bahu terbuka dengan potongan leher yang anggun dan sederhana, lipatan rapi di dada membentuk lekuk halus yang memikat tanpa berlebihan. Pinggang dan perut berlipatan kain yang rapi memperjelas bentuk tubuhku, lalu melebar indah hingga menyentuh tanah, lengkap dengan pita besar yang menjuntai anggun di samping. Setiap helai kain jatuh sempurna seolah ditenun khusus untukku, memancarkan keanggunan yang memukau dan berkelas, wibawa yang nyata tanpa harus berusaha keras.
Tak lama setelah itu, Fara pun turun dari kendaraan dengan penampilan yang tak kalah mempesona. Ia mengenakan gaun malam panjang berwarna merah anggur yang sama indahnya, yang memancarkan keanggunan yang abadi. Bahunya terbuka dengan potongan yang lurus namun tetap anggun, bagian atasnya dihiasi butiran kristal halus yang berkilau samar setiap kali terkena cahaya lampu atau sinar matahari. Bahannya terbuat dari kain satin yang lembut dan pas memeluk tubuhnya, ditambah lapisan kain tulle yang ringan dan mengalir indah hingga ke lantai, membentuk siluet yang ramping dan cantik. Ujung gaunnya menjuntai sedikit ke belakang membentuk ekor pendek yang indah, sehingga setiap langkah yang diambilnya terasa penuh wibawa dan keanggunan yang sejati.
Meskipun dari luar kami terlihat serasi dan cantik, hati kami berdua terasa agak kaku dan tidak tenang. Pakaian semewah ini terasa sangat asing dan belum biasa bagi kami. Saat itu, seorang pelayan wanita menghampiri kami dengan sikap yang sangat hormat, lalu membimbing langkah kami menuju ke taman terbuka di bagian samping bangunan itu. Di sana telah berkumpul banyak wanita dari kalangan terpandang, yang semuanya berpakaian rapi dan sopan, berbicara dengan nada yang lembut namun tegas, serta memancarkan kesan kedudukan yang setara dengan Nyonya Elina.
Di tengah-tengah kerumunan itu, Elina berdiri tegak dengan kehadiran yang seolah menguasai seluruh suasana. Penampilannya sempurna tanpa cela sedikit pun: ia mengenakan setelan jas berwarna hitam pekat dari bahan yang halus namun terlihat kokoh, dengan potongan yang rapi dan mempertegas keanggunannya, diperindah dengan deretan kancing emas yang berkilau lembut. Aksesori yang dikenakannya pun terlihat sangat berharga: sebuah kalung bertatahkan mutiara yang berkilau lembut di lehernya, anting emas yang diukir dengan sangat halus, serta cincin berdesain istimewa yang menunjukkan betapa tingginya kedudukannya. Rambutnya disisir rapi ke belakang, memperlihatkan garis wajahnya yang tegas, kulitnya yang halus dan bercahaya, serta sepasang matanya yang tajam namun terasa dingin, memancarkan keyakinan diri dan kekuasaan yang besar.
Begitu melihat kami datang, Elina segera menyunggingkan senyum yang terlihat ramah namun terasa sangat dibuat-buat, seolah ada maksud tersembunyi yang disimpannya di balik senyuman itu. “Wah, bagaimana perjalanan kalian tadi? Semoga kalian berdua merasa nyaman dan dalam keadaan sehat ya,” sapanya dengan nada bicara yang lembut namun penuh kepura-puraan, sembari memberi isyarat agar kami duduk di kursi yang sudah disiapkan khusus.
Aku dan Fara menjawabnya dengan suara yang sopan namun masih terasa sedikit gugup: “Terima kasih, Bibi. Kami baik-baik saja.”
Beberapa tamu menghampiri untuk berbincang. Seorang wanita berwibawa menatapku lekat-lekat, matanya menyelidik namun tetap sopan, lalu bertanya dengan nada penasaran yang tulus: “Nak, kau cantik sekali — sungguh mempesona. Tapi izinkan aku bertanya… kenapa kau mau menikahi Adrian padahal dia sudah beristri dan kini punya dua istri sekaligus? Bagaimana awal perkenalan kalian?”
Jantungku berdegup kencang seolah ingin melompat keluar dari dada, bingung dan cemas tak tahu harus menjawab apa. Namun sebelum aku sempat membuka mulut, Elina memotong dengan senyum yang tetap terjaga namun matanya menatapku tajam: “Aduh, jangan tanya banyak sekaligus ya. Mereka masih asing dan canggung. Biarkan mereka beradaptasi dulu; hal itu bisa dibicarakan nanti pada waktu yang tepat. Jangan sampai membuat mereka malu atau tertekan.”
Suasana kembali menjadi tenang sejenak, hingga Fara merasa perlu untuk pergi sejenak ke kamar kecil. Ia meminta izin dengan sangat sopan dan berusaha berdiri dengan hati-hati, namun tanpa sengaja lengannya menyenggol gelas berisi minuman yang diletakkan di tepi meja. Cairan itu tumpah seketika dan membasahi bahu serta bagian depan jas hitam yang sedang dikenakan oleh Elina.
Wajahku seketika berubah menjadi pucat pasi melihat kejadian itu, hatiku dipenuhi rasa takut dan cemas yang luar biasa. Fara pun terkejut sangat, tubuhnya terlihat gemetar hebat, dan ia segera meminta maaf dengan suara yang penuh ketakutan: “Maafkan saya, Nyonya Elina! Sungguh ini tidak disengaja sama sekali, mohon ampunilah kelalaian saya!” Ia segera meraih tisu yang ada di meja dan berusaha membersihkan sisa cairan itu dengan tangan yang masih gemetar.
Raut wajah Elina berubah seketika — dari ramah menjadi mengerikan dalam sekejap mata. Matanya menatap tajam ke arah Fara, jari-jarinya terkepal rapat hingga buku-buku jarinya memutih, menahan amarah yang hampir meledak seperti gunung berapi. Namun masih ada tamu yang hadir, ia menahannya sekuat tenaga. Perlahan ia membuka kepalan tangannya dengan gerakan yang dingin dan penuh penekanan, memaksakan senyum tipis yang lebih menakutkan dari kemarahan, lalu berucap halus namun penuh ancaman yang terasa hingga ke tulang: “Tenang saja… ini bukan hal besar.”
Setelah semua tamu pulang dan ruangan menjadi sunyi sepenuhnya, hanya tersisa kami, Elina, dan beberapa pelayan yang berdiri kaku menahan napas. Topeng keramahan Elina luruh seketika menjadi debu — yang tersisa hanyalah wajah penuh kebencian dan kemarahan murni. Tanpa peringatan sedikit pun, Elina bergerak cepat menghampiri Fara dan menampar pipi kanannya dengan keras. Suara tamparan yang nyaring bergema di seluruh ruangan yang sepi, menusuk telinga dan hati.
“Berani kau lakukan ini! Sengaja mempermalukan saya di hadapan orang-orang terhormat tadi!” hardiknya meledak dengan amarah yang tak bisa lagi ditahan.
Fara terhuyung mundur terkena kekuatan tamparan itu, lalu memegang pipinya yang terasa panas dan perih, kemudian ia berlutut di lantai sambil menatap Elina dengan pandangan yang penuh ketakutan: “Mohon ampun, Nyonya Elina! Sungguh saya tidak memiliki niat buruk sedikit pun, kejadian itu benar-benar terjadi tanpa sengaja!”
Elina mendekatinya perlahan dengan tatapan yang tidak percaya, lalu menoleh ke arah pelayan dan memerintah dengan suara yang lantang: “Kalau begitu, biar aku ajarkan kau bagaimana sopan santun yang benar! Cepat bawakan cambuk itu ke sini!”
Mendengar perintah itu, wajah Fara seketika menjadi pucat sama sekali. Ia merangkak mendekat sambil memegang ujung gaun Elina, lalu memohon dengan suara yang mulai terisak: “Mohon ampun, Nyonya Elina! Saya berjanji tidak akan pernah mengulangi kesalahan seperti ini lagi!” Melihat hal itu, aku pun segera berlari mendekat dan ikut berlutut di sampingnya, memohon dengan hati yang hancur: “Mohon berikan ampunan, Nyonya Elina! Maafkanlah Kak Fara, ia benar-benar tidak melakukannya dengan sengaja. Tolonglah jangan hukum dia seberat ini!”
Namun permohonan kami sama sekali tidak didengar. Elina sendiri meraih cambuk itu, lalu dengan kasar ia mengayunkannya hingga menyambar punggung Fara. Sebuah jeritan kesakitan yang nyaring terdengar memecah keheningan: “Aaaaaahhh!!” Suara itu meledak dari tenggorokan Fara saat ujung cambuk menyentuh kulitnya, terasa sangat perih seolah membakar hingga ke dalam tulang. Ia menggigit bibirnya sekuat tenaga berusaha menahan rasa sakit itu agar tidak mengeluarkan suara lagi, namun penderitaannya terlalu berat untuk ditanggung sendirian. Jeritan itu terus terdengar diselingi napas yang tersengal-sengal, sementara seluruh tubuhnya gemetar hebat menahan rasa perih yang luar biasa itu.
Saat aku berdiri berusaha melangkah maju untuk melindungi tubuh Fara dari pukulan berikutnya, dua orang pelayan pria segera menahan tubuhku dengan kuat hingga aku tidak bisa bergerak sedikit pun. Salah seorang dari mereka berbicara dengan nada yang tegas namun sopan: “Mohon tenang, Nyonya Zara. Jangan ikut campur… jangan membuat keadaan semakin memburuk.”
Aku hanya bisa berdiri diam terpaku memandang ke arah Fara dengan pandangan yang penuh kesedihan, air mata mengalir deras dari mataku tanpa sanggup kutahan lagi, dan hatiku terasa hancur berkeping-keping karena tidak mampu menolong orang yang sedang kusayangi itu.
Sesampainya kami kembali ke kediaman Adrian, suasana terasa sangat sunyi dan berat, seolah masih tertinggal rasa sakit serta ketakutan yang mendalam dari tempat tadi. Sebelum aku sempat membuka mulut untuk bertanya keadaan atau sekadar menenangkan hatinya, Fara sudah berjalan perlahan menaiki tangga menuju kamarnya, lalu menutup pintu dengan rapat di belakangnya. Aku hanya bisa berdiri diam di bawah sana, menatap arah pintu itu dengan hati yang terasa hancur dan penuh rasa bersalah karena tidak mampu melindunginya dari semua itu.
Di negeri yang jauh, Rusia, di sebuah gedung perkantoran yang megah namun dingin dan tak berjiwa, Adrian baru saja menyelesaikan pertemuan penting yang seharusnya menjadi prioritas utamanya. Saat ia berjalan keluar ruangan, asistennya Yamal menghampirinya dengan wajah serius, lalu berbisik sesuatu tepat di telinganya — kata-kata yang mengubah seluruh dunianya dalam sekejap mata. Seketika wajah Adrian berubah total: kaget, lalu takut, lalu berubah menjadi serius dan dingin sedingin es abadi. Tanpa membuang waktu sedetik pun, ia memberi perintah tegas dengan suara yang penuh kekhawatiran yang tak bisa ia sembunyikan: “Segera pesan tiket pulang. Aku harus kembali secepat mungkin ke rumah — sekarang juga.”
Yamal hanya mengangguk tanda mengerti, lalu segera berbalik untuk melaksanakan perintah itu secepat yang ia bisa. Sementara itu Adrian kembali duduk di kursinya, menatap lurus ke arah jendela kaca yang luas dengan pandangan yang dalam dan penuh ketegangan, seolah hatinya sudah merasakan bahwa sesuatu yang buruk dan tidak menyenangkan baru saja terjadi.