SERI KE 4 DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"
Menceritakan tentang perjalanan kehidupan anak gadis bernama Gendis, yang hidup dalam sebuah keluarga miskin. Namun, seiring berjalannya waktu, kekayaan datang dalam kehidupan keluarganya karena orang tua Gendis melakukan pesugihan.
Dan, karena pesugihan itu, justru menjadikan Gendis sebagai "wadah" pencari tumbal agar kekayaan keluarganya tetap bertahan.
Ritual pesugihan apa yang dilakukan orang tua Gendis?
Bagaimana penderitaan Gendis selama menjadi "wadah" pencari tumbal?
Dan, seperti apa perjalanan hidup Gendis sampai ia ditakdirkan bertemu dengan Nisa?
Selamat membaca...
.
.
.
DISCLAIMER!!!
Apabila terdapat kesamaan nama tokoh, latar tempat, agama, budaya, laku tirakat tertentu, dan kepercayaan tertentu dengan para pembaca semua, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 "AKU SUKA SALSA..."
☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️
🌳🌳🌳🏠🌳🌳🌳
Sinar matahari pagi yang menembus setiap jendela rumah Gendis, terasa hangat...
Kicau-kicau burung di luar sana mengiringi syahdunya cahaya matahari itu...
"Gendiiis... Bangun..." ucap Mas Anto yang sudah berdiri di samping kasur Gendis.
"Gendiiis... Bangun..." ucapnya lagi sambil menggoyang lengan keponakannya itu.
.....
.....
"Eemmhh..."
Gendis mulai bergerak, merespon Pakde nya itu.
"Ayo, bangun dulu, udah pagi..." ucap Mas Anto sekali lagi.
Gendis pun membuka perlahan matanya.
Tak lama, Gendis pun mulai duduk, tapi masih menggunakan selimut di setengah badannya.
Wajahnya tampak normal, mata putihnya pun terbuka sambil ia kucek sesaat.
Tapi, ada satu hal yang berbeda dari Gendis...
Dirinya, seperti tampak agak linglung...
Seperti terbangun dari sebuah alam mimpi yang berbeda...
"Gendis... Ayo kamu mandi dulu ya, terus kita sarapan." pinta Mas Anto, sambil tetap menemani keponakannya yang masih belum beranjak dari kasur.
"Eemmhh... Pak-De..." ucap Gendis sedikit terbata.
"Iya, ini Pakde." jawab Mas Anto kemudian.
Mas Anto mencoba untuk membantu Gendis agar bisa beranjak dari kasur. Ia pegang dengan lembut tangan kanan Gendis, dan mencoba mengajaknya untuk menurunkan kaki.
Sinar matahari yang menembus jendela kamar Gendis pun, bisa menyinari wajahnya yang terlihat linglung itu.
Dan sepertinya Mas Anto juga tak menyadari kondisi Gendis pagi ini. Baginya, keponakannya itu sama saja seperti anak-anaknya saat bangun tidur.
Masih terlihat malas...
Masih terlihat mengantuk...
Dan akhirnya, Gendis pun bisa beranjak dari kasurnya, lalu keluar kamar dengan menggunakan tongkatnya. Sambil dibantu oleh Pakde nya itu.
.....
.....
Mas Anto pun segera menyiapkan sarapan untuk Gendis.
Ia barusan membeli dua porsi bubur ayam, di tukang bubur yang lewat depan rumah, sebelum ia membangunkan keponakannya itu.
Dua porsi bubur ayam yang cukup untuk mengisi tenaga mereka berdua di pagi hari ini.
Dan Gendis pun mandi, dengan menggunakan air hangat yang ternyata juga telah disiapkan oleh Pakde nya itu.
Setelah Gendis berganti pakaian, ia langsung berjalan ke dapur. Mencari keberadaan Pakde nya.
Saat sudah sampai di depan pintu dapur, langsung tercium aroma gurih bumbu bubur ayam itu. Dan Mas Anto ternyata sudah mulai makan duluan. Mungkin karena dirinya sudah menahan lapar sejak semalam.
"Alhamdulillah, udah selesai mandi. Makin kelihatan cantik aja nih keponakan Pakde..." ucap Mas Anto sambil tersenyum hangat, saat melihat Gendis berjalan mendekati meja makan.
Gendis membalas dengan senyuman...
Tapi, agak terasa sedikit datar ekspresi wajahnya itu...
Mas Anto pun membantu Gendis untuk duduk di kursi meja makan, kemudian mendekatkan semangkuk bubur ayam yang sudah ia siapkan.
"Ayo, sarapan dulu ya... Pakde barusan beli bubur ayam. Kamu suka kan bubur ayam?" ucap Mas Anto, membuka obrolan yang hangat pagi ini.
Tapi, Gendis tak menjawab...
Ia tetap saja hanya memberikan balasan berupa senyuman yang terasa datar...
Namun, Mas Anto seperti tak menaruh rasa curiga atau apapun. Ia tetap melihat Gendis dengan penuh kasih sayang.
Mas Anto melanjutkan sarapannya. Sesekali sambil meminum segelas air putih hangat di gelas.
Dan sebenarnya Gendis juga mulai ikut sarapan buburnya...
Akan tetapi, cara makan Gendis pagi ini, terasa...
Agak lain...
Gendis menyuap pelan-pelan buburnya itu. Namun kali ini, ia tak menggunakan tangan kanannya seperti biasa.
Justru Gendis makan bubur itu menggunakan tangan kirinya. Sungguh sebuah perbedaan pada Gendis yang cukup jelas.
Namun, entah mengapa, Mas Anto pagi hari ini seperti tak mampu untuk menyadarinya.
.....
.....
Ketika sudah selesai Mas Anto sarapan, ia menemani keponakannya itu sebentar, sampai Gendis menghabiskan semangkuk bubur ayamnya itu.
Kemudian Mas Anto membantu Gendis untuk minum.
Setelahnya, Mas Anto mengajak Gendis ke teras rumah, untuk menikmati sinar matahari pagi yang semakin hangat.
Langsung terasa di tubuh Mas Anto, aliran kehangatan sinar matahari itu, sambil duduk di kursi teras.
Akan tetapi...
Bagi Gendis...
Sinar matahari itu terasa berbeda...
Walau Gendis tak bicara pada Pakde nya yang duduk di sebelahnya itu, namun ia benar-benar merasakan sinar matahari justru lebih dingin dari biasanya.
Ke dua mata buta putihnya juga hanya menatap lurus ke depan...
Dengan ekspresi wajah yang lebih datar...
Tanpa senyuman, tanpa ekspresi seperti biasanya...
Tapi lagi dan lagi, Mas Anto seperti tak mampu untuk "merasakan dan menyadari" perbedaan pada keponakannya itu. Seolah-olah ada sebuah energi yang menghalangi Mas Anto.
Mas Anto sesekali sambil memeriksa HP miliknya, berharap akan segera ada kabar dari ke dua orang tua Gendis. Karena sejak kemarin mereka berdua belum pulang ke rumah.
Terlihat juga dua kali Mas Anto mencoba untuk menelepon Bu Fitri. Namun masih saja belum bisa dihubungi.
Begitu juga dengan Pak Diki, nomor HP nya juga masih belum bisa tersambung saat di telepon Mas Anto.
Terlihat raut wajah Mas Anto yang merasa khawatir, bingung, bercampur heran.
.....
.....
"Gendis, gimana sekolahmu?" tanya Mas Anto, kembali mengajak keponakannya itu mengobrol di teras.
"Baik Pakde..." jawab singkat Gendis, dengan nadanya yang juga datar.
"Alhamdulillah... Bagus-bagus..." respon Mas Anto sambil mengangguk pelan.
"Oh iya, kemarin teman kamu cerita sama Pakde, kalo kamu di sekolah ternyata pinter pelajaran matematika." kata Mas Anto.
"Iya Pakde..." jawab datar Gendis.
"Hehehe... Hebat kamu Gendis. Anak-anak Pakde aja sama sekali gak ada yang suka matematika loh... Makanya, mereka bertiga nilai matematikanya, ya gak bagus-bagus amat. Hehehe..." cerita Mas Anto sambil sedikit cengengesan.
Gendis kembali merespon dengan senyuman datar, tanpa menoleh ke arah Pakde nya itu.
"Oh iya, kamu juga beruntung banget bisa punya temen kayak Salsa..." kata Mas Anto, sambil melihat wajah keponakannya itu, yang masih saja menatap lurus ke depan.
"Di jaga baik-baik ya Gendis, siapa tau nanti kamu bisa berteman sampai tua sama Salsa... Hehehe..." nasihat Mas Anto ringan.
Dan...
Kali ini Gendis menjawab...
"AKU SUKA SALSA..."
Dengan senyuman yang sedikit lebih lebar di bibirnya Gendis, tapi tetap menatap lurus saja ke depan. Tak menoleh sedikit pun ke arah Mas Anto.
"Hehehe... Iya... Pakde juga kalo jadi dirimu, pasti suka banget punya temen kayak Salsa." sahut Mas Anto dengan santainya.
😆😆 lanjut kak👍👍👍