NovelToon NovelToon
TIRAKAT 4

TIRAKAT 4

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Kutukan
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

SERI KE 4 DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"

Menceritakan tentang perjalanan kehidupan anak gadis bernama Gendis, yang hidup dalam sebuah keluarga miskin. Namun, seiring berjalannya waktu, kekayaan datang dalam kehidupan keluarganya karena orang tua Gendis melakukan pesugihan.

Dan, karena pesugihan itu, justru menjadikan Gendis sebagai "wadah" pencari tumbal agar kekayaan keluarganya tetap bertahan.

Ritual pesugihan apa yang dilakukan orang tua Gendis?
Bagaimana penderitaan Gendis selama menjadi "wadah" pencari tumbal?
Dan, seperti apa perjalanan hidup Gendis sampai ia ditakdirkan bertemu dengan Nisa?

Selamat membaca...
.
.
.
DISCLAIMER!!!

Apabila terdapat kesamaan nama tokoh, latar tempat, agama, budaya, laku tirakat tertentu, dan kepercayaan tertentu dengan para pembaca semua, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30 "BANGSAT!"

Ketika Mas Anto dan Gendis, masih menikmati suasana pagi yang terasa damai (bagi Mas Anto) sekaligus terasa berbeda (bagi Gendis), terlihat sebuah mobil pun datang.

Dan dengan jelas, mobil itu adalah milik Pak Diki dan Bu Fitri. Akhirnya mereka berdua pun pulang. Setelah semalaman lebih mereka tak kunjung pulang.

Mas Anto dalam hatinya bercampur antara perasaan lega dan juga sedikit kesal dengan kelakuan kedua orang tua keponakannya itu.

Saat mobil itu berhenti di garasi, tepat di sebelah mobil Mas Anto, Pak Diki dan Bu Fitri pun keluar.

Dan seolah tanpa rasa khawatir, apalagi rasa bersalah, Pak Diki dan Bu Fitri langsung saja menyapa Mas Anto dengan entengnya.

"Gimana Mas? Nyaman gak tidur di rumahku ini? Hehehe..." ucap Pak Diki, sambil bergaya sedikit sombong.

Mas Anto pun mencoba bersabar melihat tingkah adik iparnya itu, dan menjawabnya singkat dengan tenang, "Alhamdulillah..."

"Gendis, kamu udah makan belum Nak?" tanya Bu Fitri yang juga berdiri di samping suaminya itu.

Dan Mas Anto langsung menjawabnya dengan cepat sambil sedikit mengerutkan dahi, "Sudah, aku yang belikan sarapan buat Gendis."

"Oh gitu... Bagus deh kalo gitu." jawab Bu Fitri, sambil berlalu duluan masuk ke dalam rumah.

Mas Anto melihat tingkah adiknya itu, kini semakin merasa kesal. Betapa tidak, bisa-bisanya adiknya itu bertingkah seolah tak ada sesuatu yang telah terjadi selama Mas Anto berada di rumahnya ini.

Kemudian Mas Anto kembali menatap wajah adik iparnya itu, yang masih berdiri di depannya.

"Kamu tuh habis dari mana sih sama istrimu?" tanya Mas Anto tanpa basa-basi lagi.

"Oh... Itu... Habis ada urusan aja Mas. Maaf ya, hehehe..." jawab Pak Diki.

"Urusan? Urusan apa? Sepenting itu kah urusan kalian?! Sampe kalian tega ninggalin Gendis sendirian di rumah?!" respon Mas Anto yang sudah tak bisa menahan rasa kesalnya.

"Mas tau, kalian sekarang udah sukses, udah punya banyak cabang warung makan, tapi gak kaya gini juga dong caranya Diki!" tambah Mas Anto, mencoba untuk menasihati adik iparnya itu.

"Gendis tuh lagi sakit! Coba kalo Mas gak ada di rumahmu ini, siapa yang akan ngurusin dia Diki?!" tambah Mas Anto lagi.

Dan, sepertinya Pak Diki juga mulai memahami, bahwa kakak iparnya ini mulai terbawa emosi karena kelakuannya. Akhirnya ia menyuruh Gendis untuk masuk ke dalam rumah.

" Gendis, masuk ke dalam... Bapak mau ngobrol dulu sama Pakde mu."

Dan Gendis tanpa sepatah kata pun, menurut dengan perintah Bapaknya itu. Ia langsung beranjak dari kursi teras, berjalan masuk ke dalam rumah.

Kini, Pak Diki mulai memberikan kode pada Mas Anto, untuk tidak mengobrol di teras. Pak Diki mengajaknya untuk berjalan santai di halaman rumah saja yang memang cukup luas itu.

Dan Mas Anto pun mengikuti kode adik iparnya itu. Masih dengan perasaan kesal tentunya, namun ia tetap mencoba untuk bersabar.

Mas Anto berjalan di belakang adik iparnya itu, mengikuti irama langkah kakinya.

Dan semakin terlihat biasa saja Pak Diki di mata Mas Anto, saat ia melihat adik iparnya itu mulai mengeluarkan sebungkus rokok kretek, dan langsung menghisapnya dengan santai.

Mas Anto pun bertanya sekali lagi, karena sudah tak bisa menahan rasa kesalnya melihat tingkah demi tingkah dari Pak Diki di depannya.

"Diki, jawab dulu pertanyaan Mas! Kamu dari kemaren, sampe semalaman gak pulang, habis dari mana?"

Pak Diki berbalik badan, sambil menghisap rokoknya, menjawab pertanyaan kakak iparnya, "Habis ada urusan penting, kan tadi udah kujawab Mas..."

"Iya, tapi urusan penting apa sih? Kamu dan istrimu itu, gak seharusnya kayak gitu juga dong... Ada anakmu di rumah, dan dia lagi sakit! Tega banget sih kamu!" respon Mas Anto, sambil menatap mata Pak Diki sedikit tajam.

"Halaaah... Maaas-Mas... Jangan terlalu emosi dong, santai aja lah, santai..." jawab Pak Diki, sambil tersenyum tipis yang terlihat menjengkelkan.

"Heh! Kamu tuh kalo Mas nasihatin, jangan jawab terus!"

"Ya terus aku harus gimana sih Mas jawabnya? Harus sambil emosi juga kaya Mas ini?"

"Astaghfirullohal azhim..." respon Mas Anto, sambil sedikit menggeleng pelan.

"Lagian juga, yang namanya punya usaha udah maju pesat kaya sekarang, wajar dong kalo aku sama istriku itu ngurusin semuanya dengan lebih serius kan Mas?" kata Pak Diki.

Pak Diki kembali berjalan santai, menuju ke dekat kolam ikan. Sementara Mas Anto, masih berdiri diam memperhatikannya.

Setelah beberapa langkah, Pak Diki kembali berbalik badan, menatap wajah kakak iparnya itu.

"Mas, aku mau tanya sesuatu." kata Pak Diki.

"Apa?" jawab Mas Anto.

"Mas sekarang ngerasa iri kan sama kekayaanku? Hahaha..."

Sontak, Mas Anto tak habis pikir dengan ucapan adik iparnya itu, dan ia segera menjawabnya, "Gila kamu ya Diki?!"

"Hahaha... Udahlah Mas... Akui aja, Mas iri kan? Hahaha..."

Sungguh, betapa menjengkelkannya kelakuan Pak Diki di hadapan Mas Anto.

"Diki, Mas akui memang kamu sekarang udah kaya, udah banyak uang, udah punya rumah mewah kayak gini, udah punya mobil, bisa beli apapun yang kamu mau." kata Mas Anto.

Dan Mas Anto pun berjalan mendekat, ke arah Pak Diki. Sampai jarak antara mereka hanya tersisa dua langkah saja.

"Tapi, Mas tau sesuatu." tambah Mas Anto sambil menatap wajah adik iparnya itu dengan tajam.

"Hahaha... Apa Mas? Tau apa kamu Mas? Hah? Hahaha..."

"Kekayaan yang kamu dapatkan, bukan dengan cara yang wajar!"

Sontak, ekspresi sombong Pak Diki, berubah seketika. Menjadi terlihat heran, bingung, dan seperti seseorang yang sudah terbongkar rahasia besarnya.

"Ingat Diki, apa yang kamu lakukan itu, kelak akan mendapatkan balasannya. Dan balasan itu akan menimpa dirimu, istrimu, dan juga bisa menimpa Gendis!" jelas Mas Anto kemudian.

Pak Diki kini terlihat bergelagat seperti orang yang benar-benar ketahuan. Namun, Pak Diki menjadi heran, bagaimana mungkin kakak iparnya itu bisa mengetahuinya? Dan sudah sejauh mana kakak iparnya itu tahu?

Akan tetapi, Pak Diki mencoba berlagak tetap santai, dan seolah ia tak mengerti apa maksud perkataan kakak iparnya itu.

"Halaaah... Jangan ngomong sembarangan kamu Mas... Gak boleh kayak gitu sama adik iparmu sendiri." kata Pak Diki.

"Cepat atau lambat, dan sekuat apapun kamu tutup-tutupi, kelak pasti akan terbongkar dengan sendirinya Diki!" jawab Mas Anto.

"Dan Mas berharap, kamu segera bertaubat! Dari jalan apapun yang sudah kamu lakukan demi kekayaanmu sekarang. Sebelum semuanya terlambat!"

Mas Anto, saking sudah merasa jengkel, merasa kesal, akhirnya meninggalkan adik iparnya itu sendirian di dekat kolam halaman rumah.

Dan Pak Diki, masih berdiri, melihat kakak iparnya berlalu...

Ia kembali menghisap rokoknya...

Lalu membuangnya dengan kesal...

Dan berkata dalam hatinya...

"BANGSAT!"

1
💜⃞⃟𝓛 🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣѕ⍣⃝✰
eh habis😄
Deni Komarullah: Iya Kak, segera saya up... Masih proses Kak...hehe... 🙏🙏
total 1 replies
💜⃞⃟𝓛 🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣѕ⍣⃝✰
Darah terakhir itu sii Salsa ya sahabat nya Gendhis. Sekar Arum ini anak nya mbah siapa tuh ya mbah Marjo apa ya? jadi perewangan Gendhis?
💜⃞⃟𝓛 🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣѕ⍣⃝✰: siapp kak...

aku kira anaknya mbah marto itu Arum juga namanya 😄
total 2 replies
🔵🌹 Widian🧕
ini 2 anak yang berbeda kah ?
Deni Komarullah: Tokoh Gendisnya sama Kak... Korbannya yang berbeda...
total 1 replies
SecretS
Merinding juga, kepala sampai hancur. Lanjut kak, memang sampai berapa tumbal? Kalau dihitung pasti lebih dari 5 sebab bertahun tahun loh sebelum ketemu nisa?
Deni Komarullah: Iya Kak...
total 1 replies
SecretS
😰😰menegangkan kak pas gendis mojokin sinta 😆😆, lanjut kak gimana cerita nya gendis kok bisa di pondok dan ketemu nisa 😃
SecretS
Ini kisah pesugihan ya
😆😆 lanjut kak👍👍👍
Yeni Yeni: lanjut dah
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!