Desi adalah seorang guru di sebuah sekolah negeri, saat ini ia memiliki 3 orang anak. Si sulung bernama Bagas, adiknya Rafi dan si bungsu bernama Aqilla. Jarak umur mereka rata-rata 2 tahun. Kehidupan rumah tangga Desi awalnya baik-baik saja. Namun, kebutuhan ekonomi yang kian mendesak membuat suami Desi mencoba mencari pekerjaan di luar kota. Suami Desi bekerja di luar kota demi untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, siapa sangka ternyata Ridwan menikah lagi diam-diam tanpa sepengetahuan Desi. Akibatnya, Ridwan menjadi abai dengan nafkah untuk anak-anaknya. Bahkan seringkali tidak memberi nafkah sama sekali, sehingga Desi harus berjuang seorang diri untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Ya, anak-anaknya memiliki ayah tapi nasib mereka tak jauh berbeda dari anak yatim yang tidak memiliki ayah. Bahkan terkadang untuk makan pun Desi harus berhutang. Sungguh menyedihkan kehidupannya. Pernikahannya bagai tergantung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yayuk riyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. Firasat Desi
Setelah Bagas sembuh dari penyakit DBD, kehidupan rumah tangga Desi kembali diwarnai oleh masalah orang ketiga. Firasat Desi semakin kuat, namun Desi belum tau pasti siapa yang mulai masuk dan mengganggu rumah tangganya. Desi hanya bisa melihat dari tanda-tanda perubahan sikap Ridwan suaminya.
"Ma, nanti pulang kerja, mas ada reuni teman-teman SMA. Nggak usah ditunggu, pulang nya pasti malam." , ujar Ridwan suatu pagi.
"Mama ikut ya, bawa anak-anak sekalian." , jawab Desi.
"Jangan, acaranya sampai malam, kasihan anak-anak kalau ikut, lagian ada acara karaoke juga." , larang Ridwan.
"Iya deh mas, tapi jangan terlalu malam pulang nya." , jawab Desi.
"Iya, lihat situasi nanti." , jawab Ridwan.
Akhirnya, Desi menuruti perkataan Ridwan untuk tidak ikut reuni. Malam nya, Ridwan pulang sekitar pukul dua malam dan dalam keadaan mabok.
"Kebiasaan mas Ridwan." ,ucap Desi lirih.
"Kalau pulang malam, pasti mabok. Tidak bisa apa tidak minum, sudah kebiasaan sejak kecil sulit dihilangkan. Kalau tidak ada yang mengajak minum pasti mas Ridwan sendiri yang beli." , ucap Desi lagi kesal.
Desi menggerutu sambil ngomel-ngomel sendiri. Dia pun segera memapah suaminya ke kamar agar cepat tidur. Desi malas menemani suaminya yang sedang mabok. Dia ingin cepat beristirahat kembali. Jujur, Desi masih pusing karena tiba-tiba bangun pas suaminya pulang.
Namun, Ridwan tidak langsung tertidur, justru berteriak-teriak tidak jelas seperti orang frustasi saja. Desi hanya bisa geleng-geleng kepala mendengarnya.
"Dimana pacarku? Kamu pacarku, bukan...bukan...pacarku pintar nyanyi...kamu tidak bisa nyanyi..." , racau Ridwan.
Desi sakit hati mendengarnya. Apa benar suaminya punya pacar lagi? Pertanyaan macam apa ini? Desi pusing sendiri melihat tingkah suaminya. Namun, dalam hati kecil Desi beranggapan, jika benar apa yang dikatakan suaminya, berarti suaminya telah berkhianat.
'Biasanya, orang mabok berkata jujur. Jadi benar mas Ridwan punya pacar lagi.' , gumam Desi lirih.
Hampir saja Desi menangis membayangkannya, namun buru-buru ia tepis semua prasangka buruk itu.
'Tidak, tidak mungkin.' , jawab Desi di dalam hati.
Kemudian Desi meninggalkan Ridwan di kamar sendirian, tidak lupa dia kunci pintunya. Ridwan masih teriak-teriak tidak jelas, Desi malas menanggapinya.
'Biar saja mas Ridwan sendiri, nanti juga lama-lama tidur.' , gumam Desi dalam hati.
Kemudian Desi melanjutkan tidurnya di kamar anak-anak. Dia harus menjaga kondisi tubuhnya agar tetap fit karena besok dia harus bekerja.
Setelah cukup lama berteriak-teriak tidak jelas, akhirnya Ridwan tertidur juga. Desi merasa lega karena tidak mendengar teriakan Ridwan lagi. Sehingga ia bisa tidur dengan nyenyak.
Pagi menjelang, seperti biasa Desi melaksanakan rutinitas paginya. Saat Desi hampir selesai memasak, mbok Muna datang.
"Mbok, semalam bapak mabok. Sekarang masih tidur. Biarin aja, nggak usah dibangunin ya mbok, kebetulan hari ini pergantian shift malam. Kalau sampai siang belum bangun, nanti saya aja yang bangunin." , ucap Desi.
"Iya bu, mbok juga nggak berani bangunin." , jawab mbok Muna.
"Iya mbok. Ini sudah selesai masaknya, tolong bantu masukkan ke kotak bekel ya mbok. Saya mau siap-siap dulu." , ucap Desi minta tolong.
"Iya bu." , jawab mbok.
Setelah semua rapi, Desi dan Bagas segera berangkat ke sekolah. Qilla yang sudah bangun masih digendong sama mbok. Rafi malah belum bangun.
"Qilla sayang, mama berangkat ya. Jangan nakal ya, kasihan mbok." , ucap Desi lembut sambil mencium pipi Qilla.
"Iya ma, Qilla nggak nakal kok. Qilla kan sudah besar." , jawab Qilla.
"Iya sayang, anak mama pintar. Assalamu'alaikum." , ucap Desi.
"Wa'alaikumsalam ma. Dadah..." , jawan Qilla sambil melambaikan tangan.
Desi balas melambaikan tangan juga.
Saat di sekolah, kebetulan ada pelajaran bidang studi, Desi memanfaatkan waktu dengan mengoreksi buku-buku anak-anak. Sambil mengoreksi, pikiran Desi kurang fokus, Desi sambil melamun. Kebetulan ada sahabat Desi yang bernama Mila, juga ada di kantor. Melihat Desi melamun, Mila berinisiatif bertanya.
'Mungkin Desi lagi ada masalah.' , gumam Mila dalam hati.
"Des, ada apa? Kok melamun terus dari tadi. Apa ada masalah? Kalau mau, saya bisa jadi tempat curhat. Tenang, rahasia dijamin aman." , tanya Mila.
"Iya nih Mil, saya lagi pusing. Mas Ridwan belum bisa menghilangkan kebiasaan mabok nya. Semalam dia reuni sama teman-teman SMA nya, pulang nya mabok. Selain itu, sikap mas Ridwan akhir-akhir ini juga mengarah ke perselingkuhan." , jawab Desi.
"Kalau itu mah, sudah mendarah daging Des, nggak bakalan bisa hilang kecuali dia sakit parah, baru deh bisa hilang., hehehe...Tunggu-tungguçMaksud mu suamimu selingkuh gitu?" , jawab Mila sambil ketawa.
"Iya ya Mil. Masa selamanya saya melihat orang mabok Mil? Sudah kapok dan jenuh sebenarnya." , jawab Desi lagi.
"Yang sabar ya Des." , jawab Mila berusaha menghibur Desi.
"Iya Mil, doakan saya kuat ya menghadapi semua ini demi anak-anak saya. Saya tidak ingin mereka kehilangan kasih sayang dari ayahnya walaupun hati saya sakit Mil." , jawab Desi.
"Iya Des, semangat demi anak-anak." , jawab Mila.
"Makasih ya Mil atas support nya." , ucap Desi.
"Sama-sama Des." , jawab Mila.
Pulang sekolah, begitu sampai di rumah, Desi langsung bertanya pada mbok Muna tentang suaminya. Ternyata Ridwan belum bangun.
'Jam segini belum bangun. Giliran bangun nanti malam pasti begadang lagi. O iya, aku lupa. Mas Ridwan memang harus bangun karena nanti malam giliran shift malam.' , gumam Desi.
'Sebaiknya aku bangunkan sekarang aja.' , bathin Desi.
"Mas bangun mas, sudah mau sore nie, nanti kan mas kerja shift malam." , ucap Desi sambil membangunkan suaminya.
"Mmmhhh..." , kata Ridwan.
"Pasti mas lapar. Ayok sekalian makan mas." , jawab Desi bersemangat.
"Iya, mas mau mandi dulu." , jawab Ridwan.
"Baik mas, mama tunggu di meja makan ya mas." , ucap Desi.
"Iya, siapkan makanan sekalian, mas lapar banget." , jawab Ridwan.
"Iya mas, " , jawab Desi dari arah dapur.
Selesai mandi, Ridwan segera makan dengan lahapnya. Setelah itu, bermain bersama anak-anaknya. Sehabis solat maghrib, Ridwan bersiap-siap berangkat kerja.
Sesampainya di tempat kerja, Ridwan segera menelpon pacarnya, lebih tepatnya mantan pacarnya waktu SMA dulu. Dia baru bertemu kembali semalam saat reuni. Apalagi sekarang mantan pacar Ridwan itu sudah menjadi janda. Seakan sinyal buat Ridwan bahwa mantannya adalah jodohnya. Ridwan tambah bersemangat mendekati mantannya itu. CLBK itu yang Ridwan ucapkan pada mantannya semalam. Ridwan menelpon sambil senyum-senyum dan tertawa-tawa. Seolah lupa bahwa dia sudah menikah dan mempunyai tiga orang anak yang masih kecil-kecil.
Ridwan ["Hallo sayang ? Lagi ngapain?"] , tanya Ridwan pada mantannya.
Sartika [" Iya sayang. Ini lagi nungguin telpon kamu."] , jawab Sartika sambil tertawa.
Rudwan [" Wah,masa sih. Jadi melayang deh.")
Sartika ["Mas bisa aja nie."]
Cukup lama Ridwan menelpon mantan pacarnya. Akhirnya, ia memutuskan panggilan itu dan bekerja kembali.
pulang juga desi masih mau di tiduri ma laki nya pdhl laki nya gk peduli ma mereka kerja jauh krn punya gundik. desi tau tp masih mau berarti desi yg kecintaan ma lakinya. pdhl anak anak juga dia ngurus sendiri masih hrs kerja juga.
kl aku juga ogah jd desi.
kl Aku mnding cerai toh anak juga gk di nafkahi. cerai lbih jos bhgia walau tanpa suami.