NovelToon NovelToon
My Favorite Customer

My Favorite Customer

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:774
Nilai: 5
Nama Author: Rygobii_15

Gimana rasanya suka sama customer sendiri?
Kalau customer-nya jomblo, oke lah... masih bisa dideketin pelan-pelan.

Lah, aku?

Aku ajah kerja di toko bunga.

Yang artinya, sebagian besar customer-ku datang buat beli bunga untuk pacarnya, calon istrinya, atau bahkan istrinya beneran.

Sial banget nggak sih?

Gini nih kalau kelamaan jomblo. Sekalinya suka sama cowok, malah suka sama cowok yang kemungkinan besar udah ada yang punya.

Huhuhu.

Tapi tenang, aku tahu diri kok.

Aku cuma mengaguminya dari jauh.

Lagian, mana mungkin ada kisah cinta antara karyawan toko bunga biasa sepertiku dengan customer yang cuma datang sesekali?

...kan?

Atau jangan-jangan, semesta memang sedang menyiapkan sesuatu yang nggak pernah aku duga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rygobii_15, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25 klien paling ribut

Seminggu setelah kabar itu, suasana di Ibusya Flower Studio kembali dipenuhi kesibukan.

Beberapa pesanan buket wisuda memenuhi meja kerja, sementara rangkaian bunga meja yang akan dikirim sudah tertata rapi di dekat pintu.

Sarah tampak sibuk memeriksa daftar kebutuhan di tablet miliknya. "Oke... hydrangea sudah datang. Mawar putih juga aman. Tinggal eucalyptus tambahan nanti sore."

"Iya, Kak," jawab Wulan sambil mencatat di buku kecilnya.

Hari itu mereka memang bersiap menyambut meeting pertama bersama Nara dan Rafi untuk membahas dekorasi pernikahan.

Meski berusaha terlihat tenang, entah kenapa Wulan beberapa kali melirik jam dinding Masih tiga puluh menit lagi.

"Lan."

"Hah?"

Sarah mengangkat sebelah alis.

"Kalau gugup jangan kelihatan banget."

Wulan langsung menggeleng cepat.

"Hah? Siapa yang gugup?"

Sarah tersenyum tipis.

"Kamu dari tadi lihat jam terus, bukannya lihat bunga."

Wulan hanya terkekeh canggung lalu kembali berpura-pura sibuk merapikan pita satin."Nggak kok, Kak."

"Iya deh."

Tak lama kemudian Bel pintu berbunyi.

Ting...

Sarah dan Wulan sama-sama menoleh ke arah pintu.

"Pagi!" Suara ceria yang begitu familiar langsung memenuhi isi toko.

"Nara," sapa Sarah sambil tersenyum.

"Selamat pagi, Kak Sarah!" Nara melambaikan tangan lebar sebelum melangkah masuk.

Di belakangnya, Rafi mengikuti sambil membawa sebuah map berisi beberapa dokumen.

"Pagi semuanya," sapa Rafi ramah.

"Pagi, Kak Rafi," balas Wulan sambil tersenyum.

Baru beberapa langkah memasuki toko, pandangan Nara langsung tertuju pada Wulan. "Eh, Wulan!"

"Hai, Kak Nara."

"Gimana kabarnya?"

"Alhamdulillah baik. Kakak gimana?"

"Baik dong." Nara tersenyum lebar. "Eh, kamu tahu nggak?"

Wulan mengernyit penasaran.

"Apa?"

Nara melirik Rafi sebentar, lalu kembali menatap Wulan dengan senyum jahil.

"Setelah kamu pulang dari rumah kemarin, Mama Papanya saka  nanyain kamu tau"

Wulan tampak terkejut.

"Hah? Nanyain aku?"

"Iya."

"Loh... memangnya kenapa?"

Nara terkekeh pelan."Mereka heran."

"Heran?"

"Iya. ante sampai bilang, 'Tumben ya Saka perhatian sama tamu.'"

Wulan hanya berkedip bingung.

Nara melanjutkan, "O'om juga ikut nimbrung. Katanya, biasanya Saka kalau ada tamu ya biasa aja. Sapa seperlunya, terus balik lagi sama dunianya sendiri."

Rafi ikut mengangguk kecil sambil tersenyum. "Memang jarang lihat dia kayak gitu."

Wulan mulai salah tingkah.

"Perasaan... biasa aja deh."

"Menurut kamu mungkin biasa," sahut Nara sambil menahan tawa.

"Tapi menurut kita sekeluarga? Itu nggak biasa." Wulan hanya tertawa kecil untuk menutupi rasa gugupnya.

"Ah, Kak Nara bisa aja."

"Beneran." Nara mengangkat kedua bahunya. "Makanya ante sama O'om penasaran."

"Penasaran?"

"Iya, 'Itu siapa sih namanya? Kok Saka kelihatannya beda?'"

Wulan langsung memalingkan wajah sambil tertawa canggung.

"masa sihh kakk"

"Tenang aja." Nara terkekeh. "Aku cuma bilang, 'Namanya Wulan. Dia kerja di Ibusya Flower Studio.' Udah."

Rafi menepuk pelan bahu tunangannya."Udah, Nar. Jangan digodain terus."

"Hehehe... habis lucu aja lihat ekspresinya."

Wulan hanya bisa menggeleng pelan sambil tersenyum malu.

Untung saja Sarah yang sejak tadi memperhatikan percakapan mereka akhirnya ikut menyela.

"Kalau ngobrolnya udah selesai, gimana kalau kita mulai meeting dulu?"

"Ih iya!" Nara langsung menepuk dahinya sendiri. "Kebawa ngobrol."

Semua orang pun tertawa kecil sebelum akhirnya masuk ke ruang meeting untuk membahas dekorasi pernikahan.

Mereka pun masuk ke ruang meeting kecil yang berada di samping area utama toko.

Di atas meja sudah tersedia beberapa katalog bunga, contoh palet warna, hingga sketsa awal dekorasi yang disiapkan Sarah.

"Silakan duduk," ujar Sarah sambil membuka laptopnya.

Nara langsung menarik kursi di samping Rafi "Oke! Kita mulai."

Sarah mengangguk. "Jadi, sesuai pembicaraan di telepon kemarin, hari ini kita bahas konsep utama dulu. Setelah itu baru lanjut survei venue minggu depan."

"Siap, Kak," jawab Nara antusias.

Sarah mulai membuka beberapa referensi. "Kalau dari kalian, ada konsep yang benar-benar diinginkan?"

Nara langsung mengangkat tangan.

"Aku maunya nuansanya putih, cream, terus ada sentuhan peach. Pokoknya hangat, elegan, tapi tetap terasa hidup."

Sarah mencatat sambil mengangguk. "Baik, kalau Mas Rafi?"

Rafi tersenyum. "Kalau aku ngikut calon istriku aja."

Sarah kembali bertanya.

"Pelaminannya mau dominan bunga atau dipadukan kain?"

Nara dan Rafi saling berpandangan."Loh?"

"Kok saling lihat?"

Rafi terkekeh."Kita lupa bahas yang itu."

"Serius?"

"Iya."

Nara langsung menepuk keningnya sendiri. "Semalam malah debat makanan."

"Soalnya dia ngotot pengen ada es krim," protes Nara sambil menunjuk Rafi.

"Kan enak."

"Di nikahan siapa tamunya makan es krim lima rasa?"

"Kalau ada ya aku."

Wulan spontan menutup mulutnya menahan tawa.

Sarah pun ikut tersenyum geli.

"Baiklah... berarti urusan makanan nanti kalian lanjut debatnya di rumah."

"Iya, Kak," jawab mereka bersamaan.

Suasana ruang meeting pun berubah jauh lebih santai.

Wulan kemudian menggeser beberapa katalog ke arah Nara.

"Kalau untuk bunga utama, ini ada beberapa pilihan."

Nara langsung memperhatikan satu per satu. "Wah... cantik."

Ia menunjuk salah satu rangkaian.

"Kalau yang ini gimana?"

Wulan ikut melihat. "Kalau konsepnya elegan, rangkaian ini cocok. Tapi menurutku akan lebih penuh kalau ditambah hydrangea sama baby's breath."

"Hmm..."Nara mengangguk pelan. "Iya ya... lebih lembut."

Rafi ikut memperhatikan.

"Aku suka yang itu."

"Berarti kita tandai dulu." Sarah mencatat semua pilihan mereka.

Tak terasa, meja mulai dipenuhi berbagai contoh kombinasi bunga, warna pita, hingga sketsa dekorasi.

Di tengah kesibukan itu...

Ting...

Bel pintu kembali berbunyi.

"Permisi." Suara bariton yang tenang terdengar dari arah depan toko.

Jantung Wulan seolah berhenti sesaat ia mengenali suara itu bahkan sebelum sempat menoleh, Saka.

Nara langsung menoleh ke arah pintu." Akhirnya datang juga."

Saka melangkah masuk mengenakan kemeja biru muda dengan lengan yang digulung hingga siku, Di tangannya terdapat sebuah map hitam. "Maaf agak telat Tadi ada meeting yang molor."

"Nggak kok, pas banget." Nara tersenyum.

Saka mengangguk kecil sebelum menyapa semua orang. "Pagi, Kak Sarah."

"Pagi."

Pandangan Saka kemudian beralih ke arah Wulan, Senyumnya memang tipis, Namun tetap berhasil membuat Wulan salah tingkah."Pagi."

"P-pagi, Kak."Jawabannya bahkan sedikit terbata.

"  kenapa sih gugup muku heran" batin Wulan pada dirinya

Nara yang melihat itu hanya menahan senyum sambil melirik Rafi, Rafi balas menggeleng pelan, seolah sudah tahu tunangannya sedang menahan keinginan untuk menggoda mereka.

Saka mengambil kursi kosong yang kebetulan berada di sebelah Wulan. "Boleh aku lihat konsepnya?"

"Tentu," jawab Sarah.

Wulan segera menggeser katalog yang tadi mereka lihat."Yang ini tadi baru kami pilih sebagai referensi awal."

Saka memperhatikan beberapa halaman dengan saksama."Bagus."

Ia menunjuk salah satu rangkaian bunga. "Kalau dipasang di area lorong menuju pelaminan, kayaknya bakal lebih hidup."

Sarah mengangguk."Aku juga kepikiran begitu."

Wulan tersenyum kecil. "Iya, aku juga tadi sempat kepikiran konsep itu."

Saka menoleh sebentar ke arahnya.

"Berarti selera kita sama."

Kalimat sederhana itu membuat Wulan kembali terdiam Entah kenapa, dadanya mendadak terasa hangat.

" Aduh, Wulan. Jangan GR." batin wulan lagi

Sementara di seberang meja, Nara hanya menggigit bibirnya pelan agar tidak tertawa melihat ekspresi Wulan yang mulai salah tingkah lagi.

Rafi menyenggol pelan lengan nara"Jangan."

Nara berbisik pelan, "Aku makin yakin..."

"Yakin apa?"

Nara hanya melirik sekilas ke arah Wulan dan Saka yang sedang membahas katalog bunga bersama Lalu ia tersenyum kecil "Mereka lucu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!