yovada, seorang anak remaja yang memilik obsesi pada pengetahuan. ia tidak peduli dengan apapun, selama itu menambah pengetahuannya maka akan ia lakukan. ia di kenal debagai seseorang yang gila dengan ilmu dan tidak mau menjalin sebuah hubungan karena ia tahu bahwa hubungan tanpa memahami pasangan adalah sebuah penyiksaan. ia yakin bahwa tiada yang memahami perasaannya hingha ia bertemu seseorang yang membuatnya merasa nyaman dan aman. sebuah rasa yang membuatnya bingung dengan jalannya. sebuah lembaran baru yang ia buka demi cerita baru dalam hidupnya. apa yang terjadi selanjutnya dan apa semua akan berakhi karena ego atau malah luluh karena sebuah rasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najmun_huda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cp: 1 awal hari
“Astaga... kepalaku sakit... padalah baru 4 buku untuk malam ini”
Yovada aksobus, seorang siswa yang sangat menjunjung tinggi logika dan juga sangat rasionalis. Ia adalah seseorang yang memiliki ketertarikan dengan buku atau pengetahuan yang membuatnya jauh dari kata cinta ataupun perasaan suka pada seseorang. Ia di kenal sebagai seseorang yang sangat dingin dan memiliki pertemanan yang sedikit karena ia tahu bahwa dirinya bisa berdiri dengan kaki tangannya sendiri.
“sebaiknya aku tidur saja, besok adalah hari baru untuk pengetahuan yang jauh lebih baik.”
Yovada menarik selimutnya dan kemudian mematikan lampu dan menyalakan lampu tidurnya. Ia tertidur dengan lelap dengan kepala yang masih berkecamuk masalah ilmu yang masih di cernanya di dalam otaknya.
Pagi tiba dengan di sambut bunyi alarm dari ponselnya. Ia mematikannya lalu mulai bangkit sambil menggosok matanya. Ia meraba mejanya dan mengambil kaca matanya untuk melihat dengan jelas. Ia turun dari ranjangnya dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya lalu ia membereskan ranselnya kemudian ia pergi ke sekolahnya dengan sepeda motor. Ia menjaga kecepatan motornya agar ia tetap berada di kecepatan yang seharusnya.
Ketika ia sampai di sekolahnya, ia langsung masuk ke dalam kelas dan kemudian melihat 3 temannya sedang berkumpul di dekat mejanya untuk mendiskusikan sesuatu. Yovada yang melihat itu langsung menghampirinya kemudian menanyakan apa yang sedang mereka bicarakan di sana. Zico yang mendengar itu langsung menjawab dengan bingung.
“Yovada, kamu ingat hari ini sedang ada ujian? Kami tidak ada belajar dan untungnya kita masih punya beberapa jam sebelum ujian itu di mulai. Bisa kamu bantu kami?” ucap Zico pada Yovada dengan sedikit gugup dan juga panik.
“kita masih punya 2 kali istirahat dan itu bisa kita pakai untuk belajar. Namun apa waktu segitu cukup?” ucap nova pada Yovada dengan penuh harapan dan optimis.
“apa kita punya harapan untuk dapat nilai rata-rata?” ucap Zikri dengan penasaran.
Yovada yang mendengar pertanyaan itu hanya menaruh tasnya di atas kursinya dan kemudian duduk sambil merenung dan melihat ke arah mereka.
“bisa saja, namun jangan banyak berharap. Setidaknya nilai kita ada di atas rata-rata.” Ucap Yovada dengan begitu yakin namun juga bingung bagaimana mengajari mereka dalam waktu sesingkat ini.
Jam pembelajaran pun di mulai, seorang bu guru masuk dan menaruh bukunya di atas meja dan kemudian mengucapkan salam sambil menulis materi di depan papan tulis. Yovada dan teman temannya sudah pasti memperhatikan dan mencatat apa yang mereka anggap penting dan kemudian menjawab pertanyaan yang di lontarkan bu guru pada mereka.
Pertemanan Yovada bukanlah pertemanan yang memang bisa di anggap remeh, pasalnya mereka adalah orang-orang yang memang memiliki minat belajar yang tinggi dan sering di anggap manusia dengan penuh logika. Zico sendiri adalah seseorang yang ahli dalam melakukan parket dan pengamatannya memang sangat tajam, nova sendiri memiliki seorang ayah profesor yang memang sering di didik agar menjadi seseorang yang tekun dalam belajar dan memiliki pengetahuan yang luas. Sedangkan Zikri adalah seorang yang memang gemar memahami hal baru. Yovada sendiri bukanlah seseorang yang bisa di anggap remeh, ia adalah seseorang yang memilik pengetahuan yang sangat luas dan sering menjadi kebanggaan sekolah sebelumnya. Perpustakaan adalah tempat yang sering di kunjungi Yovada, bahkan ia tahu siapa saja petugas yang bekerja di setiap harinya dan juga mereka mengenal Yovada adalah seseorang yang suka membaca dan selalu duduk di meja nomor 17 di pinggir ruangan tang memudahkan akses dengan rak buku lain dan juga tempat yang paling dekat dengan pendingin ruangan yang membuat Yovada betah berada di sana hingga jam tutup perpustakaan itu.
Di saat jam istirahat, mereka berkumpul di meja taman dan membahas mata pelajaran yang akan di ujikan nanti di jam terakhir. Yovada dan teman-temannya langsung mendiskusikan apa yang mereka ingat dan ketahui satu sama lain. Tiada kecurigaan di antara mereka, bahkan mereka juga saling bertanya dan menyimak apa yang di sampaikan temannya. Di saat pembicaraan masalah pembelajaran itu, seseorang dari kelas mereka ikut bergabung dalam pembahasan mereka. Yovada dan yang lainnya sebenarnya tidak keberatan dengannya namun ada tatapan yang berbeda dari Yovada. Bukan karena dia tidak sepintar dengan dirinya namun Yovada tahu bahwa ia adalah manta dari pemenang cerdas cermat tingkat nasional sebelumnya. Namun dirinya kini berubah dan menjadi seseorang yang di butakan cinta. Ia bukan lagi seseorang yang jenius namun menjadi pemegang peringkat 10 dari bawah selama beberapa semester terakhir.
Ia ikut berbicara dengan Yovada dan teman-temannya dan kemudian ikut mendengarkan dan menjelaskan apa yang ia tahu tentang pembelajaran yang ia paham tantang pembelajaran itu. Melihat kerja sama yang cocok dan juga mereka bisa mengimbangi pembicaraannya, diskusinya pun berlangsung cukup lama bahkan sampai membuat mereka hampir saja terlambat masuk kelas.
Di saat Yovada duduk di kursinya, orang itu juga duduk di sebelah Yovada. Mereka berkenalan dan orang itu adalah Mahfuz seorang mantan cerdas cermat yang kini di butakan oleh cinta. Yovada menatapnya seakan ia adalah seseorang yang aneh karena menjual logikanya demi cinta yang dapat membuatnya menjadi bodoh. Di saat menunggu guru lain masuk ke kelasnya, ia sedikit berbicara pada Yovada. Yovada pun menanggapinya dengan baik dan menjawab dengan seadanya, namun di balik jawaban Yovada itu sendiri ia memiliki pertanyaan yang sangat ia bingungkan dirinya. Pada akhirnya ia memutuskan membuat janji dengan temannya itu dan mereka akan bertemu dan berbicara nanti di taman literasi dekat perpustakaan yang biasanya memang sepi dan jarang sekali ada orang yang berada di sana. Ia pun setuju dan seketika seorang guru masuk dan mulai menjelaskan pembelajaran dan mereka mulai mencatatnya.
Di saat istirahat ke dua, ia bertemu di taman literasi dan kemudian Yovada memulai pembicaraan di antara mereka.
“Mahfuz, senang bisa bicara pada seseorang yang memenangkan cerdas cermat di tingkat nasional. Bagaimana kabarmu?” ucap Yovada dengan lembut kepadanya.
“tentu saja aku baik. Oh... ngomong-ngomong terima kasih sudah membantuku belajar tadi, aku juga lupa belajar dan setelah mendengar penjelasan kalian aku jadi tambah mengerti.” Ucap Mahfuz pada Yovada dengan senang.
Seketika tatapan Yovada sedikit lebih serius kepada Mahfuz. “Mahfuz, aku tahu kamu pintar namun kenapa tingkahmu menjadi lebih konyol dari biasanya. Awal aku bertemu denganmu aku pikir kamu adalah sainganku dan aku akan kewalahan untuk menyaingi pemikiranmu. Namun kenapa kamu malah jatuh ke bawah? Apa lagi setelah kamu dekat dengan wanita itu, kamu jauh berubahnya.” Ucap Yovada pada mahfuz dengan nada pelan namun serius seakan Yovada sedang menginterogasinya.
Mahfuz hanya tersenyum dan menatapnya dengan bercanda. “Yah... sudah jadi rahasia umum bahwa aku di kenal sangat pintar namun kini menjadi lebih bodoh dari yang mereka bayangkan. Namun ini bukan sepenuhnya salah diriku... yah... mungkin di butakan cinta itu tidak seburuk itu...” ucapnya dengan tertawa namun juga memberikan kesan seakan tertarik dengan pertanyaan Yovada.
“apa yang ada di otakmu saat kamu memikirkan menjual logika dan pengetahuanmu dengan suatu cinta yang fana? Apakah kepalamu terbentur sesuatu hingga membuatmu berpikir cinta itu lebih baik dari pada logika untuk pengetahuan?” Tanya Yovada dengan lebih dalam, nada suaranya seakan menekan Mahfuz untuk mengatakan bahwa itu adalah kesalahannya.
“baiklah... jika kamu tahu, itu bukanlah kesalahan. Aku memang menyukainya dan aku memutuskan seperti ini untuknya. Aku tidak ingin mengecewakannya dan kamu tahu itu harusnya. Aku memang terdengar gila namun jujur saja itu tidak seburuk yang kamu pikirkan sebenarnya. Aku yakin suatu saat nanti kamu juga akan merasakan cinta itu.” Ucap Mahfuz pada Yovada dengan nada yang berusaha meyakinkannya agar tidak takut pada sebuah cinta.
“cinta? Apa itu? Aku tidak akan menjual logikaku demi sesuatu yang fana. Aku menantang apa itu cinta karena aku sendiri tidak pernah merasakan apa yang kalian sebut dengan gelombang cinta. Apa layak seseorang jatuh cinta padahal dirinya harus berubah seperti yang ia inginkan demi mendapatkan cintanya?” ucap Yovada pada Mahfuz dengan sikap seperti tidak percaya pada apa yang di ucapkan temannya.
“Yovada... tidak ada seseorang yang tidak jatuh cinta di dunia kecuali ia membunuh cinta itu. Juga tidak ada yang membunuh cinta itu sebelum ia mencobanya. Kamu harus tahu kenapa kamu membunuhnya dan melihat bahwa cinta tidak seburuk itu...” ucapnya meyakinkan Yovada. Namun tatapan Yovada seperti tidak tertarik sedikit pun pada cinta yang di katakan Mahfuz itu. Namun ia sendiri penasaran dengan apa yang di katakan Mahfuz.
“hemm... aku tidak tertarik sedikit pun. Namun aku mengerti apa yang kamu katakan. Mungkin jika aku butuh bantuanmu akan aku tanyakan lagi.”
Mereka pun pergi dengan arah yang berlawanan. Yovada melihat ke belakang dan melihat Mahfuz berpelukan dengan pacarnya dengan penuh mesra dan juga canda tawa. Yovada tidak dapat memahaminya dan ia berbalik kembali lalu ia berjalan memasuki perpustakaan sekolahnya. Setelah ia memasuki perpustakaan. Seperti biasanya perpustakaan sekolah, buku-buku kuno dan juga yang sudah tidak relevan dengan sistem belajar yang sekarang. Ia melihat hanya ada beberapa orang saja yang ada di sana. Bahkan jari tangannya saja masih lebih banyak dari pada jumlah pengunjungnya.
Di saat ia mengambil sebuah buku, tiba-tiba sebuah buku kamus yang tebal jatuh menimpa kepala Yovada. Seorang wanita berdiri dan menatap ke arah Yovada. Ia memperhatikan Yovada yang terkapar di lantai dan kacamatanya bulatnya terlepas dari wajahnya. Wanita itu menatapnya dengan dingin namun ia menyenderkan Yovada di tembok dan kemudian menunggunya tersadar.
Di saat Yovada mulai tersadar, ia mulai membuka matanya dan melihat seorang wanita di hadapannya sambil berkata di hadapannya dengan wajahnya yang sangat dingin.
“kamu... tidak papa...?”