Bebas dari tuduhan konspirasi penculikan yang dirancang mantan kekasihnya, Michaela Hokked (24) memilih mati demi melepaskan diri dari masa lalu yang busuk.
Namun, takdir memiliki selera humor yang kejam.
Pelariannya menuju Los Angeles hancur bersama taksi yang ia tumpangi dalam kecelakaan maut yang meremukkan wajahnya.
Enam bulan koma dan melewati enam
Kali operasi wajah, Michaela terbangun dengan rupa baru: wajah cantik milik Cecilia Lynch, wanita bermata teduh yang kecelakaan bersamanya.
Kini, Michaela terjebak sebagai 'Cecilia' di hadapan Killian Vale-Knight (28 th) pria berkuasa yang mengaku sebagai kekasih jarak jauh Cecilia.
Tanpa kecurigaan, keluarga miliarder itu menghujaninya dengan kasih sayang yang tak pernah ia miliki.
Namun, kenyataan pahit menghantam: Cecilia asli tewas dalam keadaan hamil, Mencuri identitas Cecilia adalah tiket kebebasannya, atau justru awal dari labirin misteri yang mematikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
035
Pintu ruangan klinis berdesis pelan saat tertutup, mengaburkan derap langkah tegap Killian Vale-Knight yang melangkah keluar setelah berpamitan singkat untuk menemui ibunya.
Di dalam ruangan bernuansa putih salju yang kini mendadak terasa begitu sunyi dan hampa, Michaela Hokked terpaku seorang diri di atas kursi pemeriksaan.
Ia memandangi punggung suaminya yang menjauh hingga bayangan pria itu benar-benar lenyap di balik daun pintu.
Detik itu juga, topeng ketangguhan, kilat menantang, dan senyuman penuh kelicikan yang beberapa saat lalu ia pamerkan di depan Killian runtuh seketika tanpa sisa.
Yang tertinggal hanyalah bahu yang melorot lesu dan sepasang mata cokelat keemasan yang kini meredup, digelangi air mata yang mati-matian ia tahan agar tidak menetes.
Michaela meremas pelan kimono hitam yang membungkus tubuhnya, lalu berbisik dengan suara yang teramat lirih, nyaris berupa embusan napas yang menyedihkan.
"Lima bulan... lima bulan ini adalah waktu yang lebih dari cukup untuk memuaskan egoku untuk memiliki dirimu, Yin... walaupun aku tahu, cinta yang kumiliki saat ini hanyalah sebatas jalinan kasih yang bertepuk sebelah tangan."
Ia memandangi wajah barunya di cermin perak yang masih tergeletak di atas meja.
Garis wajahnya kini memang sudah berubah, menjauhi bayang-bayang Cecilia Lynch, namun hatinya justru telah terperangkap jauh lebih dalam ke dalam palung neraka yang diciptakan oleh Killian.
"Cinta sepihak yang kumiliki ini... perlahan bisa menghancurkanku jika aku tidak berhati-hati," lanjut Michaela, suaranya bergetar menahan gejolak rasa sesak yang menghimpit ulu hatinya.
"Aku benci menjadi korban, Killian. Aku sangat membencinya. Karena itu, aku tidak ingin kau menang di atas rasa cinta ini. Aku tidak akan membiarkanmu tahu betapa hancurnya pertahananku di hadapan pesonamu. Tujuh bulan tersisa ini... akan kugunakan sebaik mungkin untuk menampung seluruh memori di dalam otak dan pikiranku. Hanya agar seluruh sisa hidupku nanti terisi dengan semua hal tentangmu, sebelum kita benar-benar menjadi orang asing kembali."
Ya, ternyata sang waktu adalah entitas yang paling kejam.
Waktu telah mengubah segalanya tanpa bisa dihentikan.
Selama lima bulan terakhir, Michaela yang awalnya mengobarkan sumpah di dalam kamar mandi mansion bahwa ia membenci posisi sebagai korban, ternyata justru melabuhkan seluruh jiwanya tanpa syarat untuk sang suami.
Semua drama, semua naskah sandiwara yang dimainkan Killian dengan begitu rapi dan sempurna di depan umum justru menjadi bumerang yang menghancurkan benteng pertahanannya sendiri. Michaela telah jatuh cinta sejatuh-jatuhnya pada pria itu.
Bagaimana mungkin ia tidak jatuh cinta?
Diperlakukan sehormat itu di depan keluarga besar Knight, dilindungi dengan kuasaan yang mutlak, dan dirawat dengan gestur-gestur kecil yang terlihat begitu tulus—meskipun Michaela tahu semua itu hanyalah akting di atas panggung sandiwara.
Namun, di bagian mana dirinya harus mencari alasan untuk membenci pria itu?
Killian memujanya di depan semua orang, dan bahkan di atas tempat tidur di dalam kamar pribadi mereka yang terkunci, setiap sentuhan dan desahan pria itu selalu berhasil membakar habis akal sehat Michaela.
Killian menjalankan perannya dengan teramat baik, terlalu baik, hingga tanpa sadar Michaela telah kalah telak dalam permainan ego yang mereka ciptakan sendiri.
Ia jatuh cinta pada Killian Vale-Knight, dan ia tahu betul bahwa perasaan ini adalah sebuah kesalahan besar.
Tidak akan pernah mungkin bagi Michaela untuk mengakui kebenaran ini di hadapan Killian. Ia tahu, jika kata 'cinta' itu lolos dari bibirnya, Killian yang berdarah dingin pasti akan langsung mencap dirinya sebagai gadis murahan, naif, dan tidak tahu diri karena berani mengharapkan ketulusan dari seorang Knight.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, di lorong luar klinik yang sepi dan berlantai marmer mengkilap, Killian Vale-Knight berdiri bersandar pada dinding.
Kedua tangannya terbenam di dalam saku celana panjangnya, sementara kepalanya menengadah menatap langit-langit lorong dengan napas yang berembus berat.
Panggilan dari Mommy Suzzy yang ia jadikan alasan untuk keluar ruangan tadi?
Itu hanyalah bualan belaka. Ibunya sama sekali tidak memanggilnya.
Killian sengaja melangkah keluar dari ruangan medis itu karena merasakan dadanya mendadak sesak, seolah pasokan oksigen di sekitarnya menipis. Ia tidak tega, benar-benar tidak sanggup lagi berlama-lama melihat bagaimana sepasang mata sayu milik Michaela tadi sempat menatapnya dengan pandangan sinis yang menyembunyikan kerapuhan.
Entah mulai dari mana, dan sejak kapan perubahan itu terjadi, jantung Killian selalu berdegup kencang dengan ritme yang tidak beraturan setiap kali ia berada di dekat Michaela.
Dadanya akan terasa begitu sempit dan dihantam rasa bersalah yang teramat pekat saat menatap mata teduh milik istrinya.
Killian memejamkan sepasang mata elangnya dengan rapat. Ingatannya mendadak terlempar pada ritual percintaan mereka selama beberapa minggu terakhir di kamar mansion, tepat sebelum operasi besar ketiga ini dilaksanakan.
Pria itu terpaksa menutup matanya sendiri rapat-rapat di dalam kegelapan kamar yang lampunya sengaja ia matikan total.
Kenapa?
Karena setiap kali ia melihat guratan wajah Michaela yang mulai dipoles menyerupai wajah aslinya di masa lalu melalui operasi bertahap, hati Killian bergetar hebat.
Ada dorongan aneh di dalam jiwanya yang membuat pria tangguh itu ingin menangis di atas tubuh istrinya.
Killian tahu, sangat tahu, bahwa tidak seharusnya ia memperlakukan Michaela sekejam ini sejak awal.
Gadis itu hanyalah korban.
Dialah, seorang Killian Vale-Knight, yang menyabotase taksi hari itu karena rasa benci dan dendamnya yang membara pada Cecilia Lynch. Namun, ketika ego kelelakiannya terluka akibat kenyataan bahwa ia telah ditipu oleh identitas palsu selama enam bulan koma, Killian justru melimpahkan seluruh amarah dan dendam berdarahnya pada Michaela yang tidak bersalah.
Hari demi hari yang ia habiskan bersama Michaela di dalam mansion—melihat bagaimana manisnya gadis itu saat tersenyum menatap ibunya, bagaimana teduh tatapan matanya saat menyambut kepulangannya dari kantor—membuat Killian sadar bahwa pesona sejati seorang Michaela Hokked telah merayap masuk ke dalam celah hatinya yang paling dalam.
Gadis itu ikut berakting bersamanya, membalas setiap kalimat romantisnya dengan tak kalah menawan, dan hal itu justru membuat Killian kehilangan arah, tidak lagi mengerti dengan perasaannya sendiri.
Ia selalu mendoktrin dirinya sendiri bahwa ia membenci Michaela karena kebohongan identitas itu.
Namun kini, ia harus menelan kenyataan pahit bahwa rasa bencinya sebenarnya tidak pernah sebesar itu.
Jika ia memang membenci gadis itu setengah mati, lalu atas dasar apa hingga detik ini ia tidak pernah membebaskan Michaela dari dekapannya?
Kenapa ia justru terus mengurung wanita itu di dalam sangkar emasnya dengan alasan kontrak Balas Budi?
Mengingat bagaimana wajah Michaela yang sudah selesai dioperasi tadi tampak begitu pasrah namun tetap berusaha menantangnya, air mata Killian rasanya ingin tumpah di dalam ruangan tadi.
Pria itu mengepalkan kedua tangannya dengan sangat kuat di dalam saku celana hingga buku-buku jarinya memutih dan gemetar.
Rasa bersalahnya bertumbuh menjadi sebuah monster yang mengerikan, berbanding lurus dengan rasa cintanya yang semakin menggebu-gebu untuk memiliki gadis itu seutuhnya.
Namun... Killian adalah seorang Knight yang angkuh. Ia bersumpah tidak akan pernah mau mengakui perasaan yang ia anggap "murahan" itu di depan Michaela.
Selama menyentuh tubuh Michaela selama ini, di dalam hati kecilnya, Killian selalu mengutuk dirinya sendiri yang terus-menerus mendambakan kehangatan dari wanita itu.
Secara bersamaan, pikiran buruk Killian selalu berbisik bahwa Michaela tidak akan pernah mungkin membalas perasaannya.
Michaela tentu sangat membenci dirinya karena malam pertama mereka yang brutal, karena ancaman-ancamannya, dan karena cairan kontrasepsi yang ia suntikkan secara paksa.
Michaela pasti sangat membenci seorang Killian Vale-Knight. Killian tahu hal itu dengan sangat pasti.
Oleh karena itu, tidak akan pernah ada kata jujur yang keluar dari mulutnya mengenai perasaan ini.
Jika ia sampai menurunkan harga dirinya dan mengaku bahwa ia telah jatuh cinta pada gadis itu, Michaela pasti akan langsung tertawa penuh kemenangan di atas panggung sandiwara mereka.
Killian tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi.
"Tujuh bulan lagi..." gumam Killian dengan suara serak, menatap kosong ke arah ujung lorong klinik yang sepi.
"Mungkin saja... setelah masa kontrak ini berakhir dan dia pergi dari hidupku, perasaan sialan ini pasti akan langsung hilang dengan sendirinya. Aku harus memastikan hal ini terjadi."
Killian menarik napas panjang, mencoba menstabilkan debaran jantungnya yang masih berantakan.
Tujuh bulan terakhir ini akan ia gunakan sebagai bungkusan memori terakhir tentang masa-masa kebersamaan mereka. Atau mungkin, mulai besok, ia harus melatih dirinya sendiri untuk menjaga jarak dan tidak lagi terlalu dekat dengan Michaela.
Karena jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Killian tahu sebuah kebenaran yang menakutkan: jika waktu perpisahan itu benar-benar tiba... dia tidak akan pernah siap untuk kehilangan Michaela Hokked dari hidupnya.
itu Mischa kenapa muntah? mungkin kah hamil 🤨🤨🤨