Setelah mengorbankan keluarga kandung, masa muda, dan hidupku demi menjadikan suamiku pewaris Mahendra Group, Sebastian justru memfitnah putra kami, membiarkan menantu dan cucuku meninggal, lalu mendorongku hingga tewas.
Saat kembali membuka mata, aku kembali ke hari Sebastian melamar ku.
Jika dulu aku memilih Sebastian Mahendra...
maka di kehidupan ini, aku akan menikahi adiknya, Stefanus Mahendra.
Aku tidak akan menikahi pria yang menghancurkan hidupku.
Aku akan memilih pria yang ternyata diam-diam mencintaiku sejak awal.
Namun, mengubah takdir ternyata tidak semudah mengganti calon suami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Dari Bawah
"Shaquena."
Stefanus memanggil pelan.
Wanita itu sama sekali tidak bereaksi. Tatapannya membeku lurus ke arah tangga darurat di luar jendela kaca. Napas Shaquena memburu cepat. Bahunya naik turun tidak beraturan. Wajahnya seketika memucat.
Stefanus mengenali tatapan itu. Istrinya sedang tersedot masuk ke dalam memori kelam di dalam kepalanya.
Stefanus melangkah maju secara perlahan.
"Shaquena."
Wanita itu memundurkan kakinya satu langkah.
"Jangan." Suara Shaquena nyaris tidak terdengar, bergetar menahan ketakutan absolut. "Jangan dorong aku."
Langkah Stefanus terhenti total. Dadanya terasa diremas sangat kuat.
"Darah. Banyak sekali darah." Air mata mulai mengalir deras membasahi kedua pipi muda Shaquena. "Kamu menghancurkan Samuel. Anak itu darah dagingmu sendiri."
Stefanus mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Samuel. Nama itu kembali terdengar. Nama seorang pemuda yang hanya diketahui oleh mereka berdua. Nama anak laki-laki yang tidak akan pernah lahir di kehidupan garis waktu ini.
Stefanus menarik napas dalam-dalam untuk menstabilkan suaranya. "Aku ada di sini, Shaquena."
Tidak ada jawaban dari wanita di depannya.
"Aku tidak akan menyakitimu."
Shaquena menggelengkan kepalanya semakin keras. "Jangan. Jangan biarkan dia datang mendekat."
"Siapa?"
"Sebastian."
Tubuh Stefanus menegang kaku. Fakta itu akhirnya terkonfirmasi. Mereka berdua benar-benar pernah menjalani kehidupan lain.
Pria itu berjalan semakin dekat. Ia tetap menjaga jarak aman agar tidak membuat Shaquena merasa terancam. "Quena."
Wanita itu akhirnya berkedip. Fokus matanya perlahan kembali. Tatapan Shaquena jatuh tepat pada wajah Stefanus.
Selama beberapa detik yang panjang, mereka hanya saling bertatapan dalam diam.
"Aku sudah mati, ya?" Suara Shaquena terdengar sangat lirih.
Stefanus menelan ludah dengan susah payah. "Tidak."
"Aku tadi merasakannya lagi." Shaquena memejamkan mata rapat-rapat. Air matanya kembali menetes. "Tangga itu."
"Aku tahu."
"Tidak." Shaquena menggelengkan kepalanya. "Kamu tidak tahu."
Stefanus mengukir senyum yang sangat pahit. "Iya, aku tahu."
Shaquena menatap wajah pria di depannya lama sekali. Ia menelisik mencari kebohongan di sana. Matanya perlahan melebar saat menyadari satu hal.
"Kamu juga?" bisik Shaquena.
Stefanus membalas tatapannya dan mengangguk mantap. "Iya, aku juga."
Keheningan tebal memenuhi ruang kamar tidur yang kecil itu. Shaquena menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangan. Isak tangisnya pecah.
"Jadi, semua rasa sakit itu bukan mimpi," gumam Shaquena di sela tangisnya.
"Bukan."
"Aku benar-benar mati malam itu?"
"Iya."
"Dan kamu..."
Stefanus memalingkan wajahnya ke arah dinding kosong. "Aku datang terlambat." Suara pria itu terdengar begitu pelan dan penuh penyesalan. "Andai saja aku tiba lebih cepat."
Shaquena perlahan menggeleng. "Itu bukan salahmu."
"Tetap saja aku datang terlambat." Stefanus tertawa kecil. Tawa itu terdengar jauh lebih menyakitkan daripada suara orang menangis. "Aku selalu berpikir setiap malam. Kalau saja aku datang lima menit lebih cepat."
Stefanus menghentikan kalimatnya sejenak. Rahangnya mengeras menahan emosi. "Mungkin semuanya akan berbeda."
Shaquena menundukkan kepalanya dalam-dalam. Selama ini ia berpikir hanya dirinya yang memikul kutukan masa lalu ini. Ternyata pria di hadapannya ini juga hidup bersama penyesalan yang sama beratnya.
Beberapa puluh menit kemudian, mereka sudah duduk berhadapan di ruang tamu kecil. Suasana kini jauh lebih stabil dan tenang.
Stefanus berdiri di area dapur mungil yang hanya dipisahkan oleh sebuah meja pendek dari ruang keluarga. "Ada sesuatu yang bisa kita makan?"
Shaquena bangkit dan ikut melihat isi lemari dapur. Ruangan penyimpanan itu sangat sepi. Hanya ada dua bungkus mie instan rasa kaldu ayam, beberapa butir telur, dan sekotak teh celup melati.
Stefanus tersenyum sangat canggung. Pria itu menggaruk bagian belakang lehernya. "Sepertinya hanya ini jamuan pertamaku sebagai seorang suami. Maaf ya."
Shaquena menatap dua bungkus mie instan berwarna kuning itu cukup lama. Entah kenapa, dadanya justru merasa sangat lega.
Di kehidupan sebelumnya, hari pertamanya menyandang gelar Nyonya Mahendra dipenuhi hidangan luar biasa mewah. Ada lobster, daging sapi panggang kualitas premium, dan anggur mahal. Namun, perlahan makanan-makanan mewah itu terasa hambar dan menyiksa.
Malam ini, hanya ada mie instan murah di tangannya, untuk pertama kalinya, ia tidak merasa sendirian.
"Aku akan bantu masak," tawar Shaquena.
"Tidak usah."
"Bukankah sekarang kita adalah pasangan?" balas Shaquena cepat.
Stefanus menoleh terkejut. Untuk pertama kalinya hari ini, Shaquena melihat senyum tipis yang tulus terukir di wajah pria itu. "Baiklah."
Mereka pun memasak bersama dalam ruang yang sempit itu. Stefanus menyalakan kompor dan merebus air. Shaquena memotong sebatang daun bawang yang ia temukan di sudut kulkas, kemudian menggoreng dua butir telur di wajan sebelah.
Dapur sempit itu tiba-tiba terasa hidup dan hangat. Sesekali punggung tangan mereka hampir bersentuhan. Keduanya sama-sama menarik tangan lebih dulu dengan gerakan kikuk. Interaksi mereka masih terasa canggung dan asing, tapi jarak di antara mereka tidak lagi sejauh tembok es.
Tak lama berselang, dua mangkuk berisi mie sudah tersaji di hadapan mereka. Aroma gurih kaldu ayam memenuhi udara ruangan.
Karena pesanan meja makan baru mereka belum tiba, Stefanus menarik sebuah kardus tebal bekas kiriman barang untuk dijadikan alas. "Maaf lagi."
Shaquena tertawa ringan. "Kenapa kamu hobi sekali meminta maaf?"
"Karena memang beginilah kenyataan keadaanku." Stefanus memandang berkeliling memindai ruangan sederhana berlantai keramik itu. "Aku belum punya banyak harta."
Shaquena menggeleng pelan. "Menurutku, keadaan kita sekarang ini jauh lebih baik."
"Lebih baik bagaimana?"
"Di sini sama sekali tidak ada orang yang mengawasi gerak-gerikku."
Shaquena menyuapkan mie ke dalam mulutnya. Di tempat ini tidak ada sosok ibu mertua yang selalu mencari kesalahan. Tidak ada Sebastian yang menuntut kesempurnaan. Tidak ada pelayan yang diam-diam menjadi mata-mata. Hanya ada ruangan kecil ini.
Mereka berdua mulai makan dalam diam. Hanya terdengar bunyi dentingan sendok logam yang beradu pelan dengan mangkuk keramik. Sederhana.
Setelah menelan beberapa suapan, Shaquena membuka suara. "Dulu akulah yang membangun fondasi utama Perusahaan Mahendra."
Stefanus menghentikan gerakan mengunyahnya sejenak. "Aku tahu."
"Aku bekerja keras siang dan malam tanpa kenal lelah sedikit pun."
"Iya, aku tahu."
"Semua orang selalu mengira bahwa Sebastianlah sosok pahlawan hebat di balik kejayaan itu."
Stefanus tersenyum tipis. "Fakta itu pun sudah aku ketahui sejak awal."
Shaquena mengangkat alisnya tinggi. "Kamu sudah tahu?"
"Benar."
"Kenapa kamu tidak pernah sekalipun mengatakannya padaku?"
"Bukan kebiasaanku untuk berbicara mengomentari banyak hal."
Shaquena menghela napas panjang mendengarnya. "Benar juga sifatmu memang selalu seperti itu."
Stefanus menunduk menatap sisa kuah di mangkuknya. "Dulu aku sering melihat cahaya lampu ruang kerjamu masih menyala terang sampai dini hari."
Shaquena terdiam kaget. "Kamu melihatnya?"
"Sering sekali."
"Kenapa kamu tidak pernah datang menyuruhku beristirahat?"
Stefanus terkekeh pelan. Ada kepahitan di balik tawanya. "Karena yang menyuruhmu terus bekerja lembur itu kakakku sendiri."
Jawaban itu membuat suasana kembali hening. Suara angin di luar jendela menjadi satu-satunya sumber suara.
Tak lama kemudian, Stefanus kembali berucap dengan nada yang sangat lembut tapi mantap. "Kali ini tidak akan ada lagi hal seperti itu."
Shaquena mengangkat wajahnya menatap lurus. "Maksudmu apa?"
"Kamu tidak perlu lagi membangun apapun demi kepentingan orang lain." Pandangan mata mereka saling terkunci. "Kalau kelak kita berdua hendak menciptakan sesuatu, kita akan bangun bersama-sama."
Kalimat sederhana itu menghantam telak pertahanan hati Shaquena. Ia tidak dijanjikan kemewahan dunia. Ia tidak digombali dengan kata cinta murahan. Stefanus hanya memberikan satu jaminan pasti. Bersama.
Sesuatu yang tidak pernah satu kali pun ia dengar selama tiga puluh tahun hidup sebagai istri Sebastian.
Cairan bening kembali menggenang di pelupuk mata Shaquena. Stefanus tampak panik dan gelisah melihatnya.
"Eh, apa aku salah mengucapkan sesuatu?" tanya pria itu canggung.
Shaquena langsung menggeleng cepat. "Tidak sama sekali."
"Lalu kenapa menangis?"
"Aku hanya..." Shaquena tersenyum tipis seraya menyeka air mata di pipinya. "...baru sadar kalau ucapan sederhana dari seseorang ternyata bisa terasa sangat berharga."
Stefanus tidak menjawab apa-apa lagi. Pria itu bangkit mengambil tisu. Ia meletakkan lembaran tisu itu perlahan di sisi meja tepat di dekat Shaquena tanpa menyentuhnya. Ia memberi ruang gerak sepenuhnya bagi wanita itu. Sikap penuh respek itulah yang justru membuat Shaquena merasa sangat aman.
"Aku belum bisa mencintaimu," ucap Shaquena jujur. Suaranya terdengar sangat pelan nyaris berbisik.
Stefanus mengangguk tenang. "Aku mengerti."
"Aku masih sangat takut akan semuanya."
"Aku pun sebenarnya masih merasa takut."
Shaquena terkejut mendengarnya. "Kamu juga takut?"
"Aku takut kehilanganmu untuk kedua kalinya."
Shaquena membeku mencerna pengakuan tulus itu.
Stefanus tersenyum kecil menenangkan. "Jadi sekarang kedudukan kita berdua sudah sama rata."
Suasana kembali hening sesaat, hingga akhirnya Shaquena mengangkat tangannya. Ia mengulurkan jari kelingking kanannya lurus ke arah pria itu.
"Bolehkah kita membuat satu janji?"
Stefanus menatap jari kelingking mungil itu sebelum menyambutnya dengan sentuhan lembut. "Tentu saja boleh."
"Mulai hari ini," ucap Shaquena sembari mengaitkan jari kelingking mereka berdua. "Kita bangun semuanya bersama dari bawah."
Stefanus mengulangi isi janji itu. "Dari bawah."
"Tidak peduli apa pun rintangan yang nanti kita hadapi."
"Dari bawah."
"Tidak peduli berapa kali pun kita keliru atau gagal nanti."
"Dari bawah."
"Segala hal kita hadapi bersama-sama."
Stefanus menggenggam jari kelingking istrinya itu sedikit lebih erat. "Bersama selamanya."
Saat itulah untuk pertama kalinya mereka benar-benar merasa hidup sebagai suami istri sejati. Ikatan ini bukan terbentuk karena surat nikah atau tanda tangan. Ikatan ini lahir karena dua jiwa yang pernah hancur lebur kini bertekad kuat tidak akan menyerah lagi.
Di luar sana, langit kota Jakarta semakin kelabu gelap. Angin kencang bertiup menerpa keras dinding bangunan apartemen mereka.
Tiba-tiba terdengar suara keras yang memekakkan telinga.
Brak!
Kaca jendela ruang tamu pecah berkeping-keping. Serpihan kaca tajam berserakan terbang menghantam lantai keramik ruangan. Shaquena secara spontan menundukkan badan dan melindungi kepalanya.
Stefanus langsung melompat berdiri tegak. Pria itu menghalangi tubuh wanita itu tepat di belakang punggungnya. Sebuah batu bata merah menggelinding jatuh menabrak kaki meja kardus mereka.
Benda itu diikat oleh selembar kain putih yang penuh dengan noda kemerahan menyerupai darah. Stefanus melangkah maju membuka ikatan kain itu.
Di dalamnya terselip secarik kertas kecil yang bertuliskan sebuah pesan ancaman pendek.
"Kalian boleh menikah, tapi jangan pernah berharap bisa hidup tenang."