Zhao Fei yang dijuluki Yang Mulia Petir Abadi, tewas ditikam murid kesayangannya sendiri setelah 10.000 tahun berkuasa di Alam Dewa.
Namun ternyata hukum karma memberinya kesempatan kedua. Rohnya dikirim ke dunia bawah, masuk ke tubuh seorang pemuda sampah dari keluarga miskin yang tidak punya bakat, tidak punya harga diri, dan tidak ada wanita yang mau menikahinya.
Kekuatan petirnya lenyap. Akar spiritualnya tertidur dan dirinya harus memulai semuanya dari nol.
Tapi dendam seorang dewa tidak pernah padam. Janji pada pemilik tubuh asli pun juga tidak akan diingkari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Pesan Darurat dari Alam Dewa
Dentangan logam terdengar begitu keras di halaman desa perbatasan. Bilah pedang Pemutus Awan di tangan Zhao Fei beradu sengit dengan pedang raksasa milik Wu Gang. Percikan api spiritual berwarna biru dan putih bisa terlihat jelas, setiap kali kedua senjata itu saling berbenturan dengan kuat.
Adapun Li Xun tampak duduk dengan santai di atas tumpukan karung padi yang berjejer di pinggir halaman lapangan. Sebuah botol arak tanah liat berada di dalam genggaman tangan, dan sesekali dia melayangkan sorakan keras untuk meramaikan suasana latihan.
"Bagus! Tekan terus, Zhao Fei! Jangan sampai kalah sama lemari berjalan itu!" seru Li Xun sebelum kembali menenggak cairan di dalam botolnya.
Wu Gang sama sekali tidak menaruh kepedulian pada ejekan dari rekannya. Sepasang matanya fokus sepenuhnya pada setiap perubahan ritme gerakan kaki Zhao Fei. Pria kekar itu merasakan adanya sebuah tekanan yang unik dari arah teknik berpedang juniornya.
"Teknik pedangmu tidak biasa," kata Wu Gang sembari menahan dorongan senjata Zhao Fei. "Setiap seranganmu sangat efektif. Aku belum pernah melihat gerakan seperti ini sebelumnya."
Zhao Fei memilih untuk tidak melayangkan jawaban vokal untuk menanggapi pujian itu, alih-alih terus melancarkan gempuran, meskipun di dalam lubuk hatinya, dia harus bekerja keras menahan daya hancur murni dari Pemutus Awan. Bilamana dia membiarkan energi petir dewa meluap tanpa kontrol, Wu Gang pasti akan mengalami cedera serius. Di permukaan luar saja dirinya terlihat seperti sedang mengerahkan seluruh tenaga fisik dengan susah payah, padahal konsentrasinya terbagi demi membatasi aliran listrik di bilah senjatanya.
Setelah beberapa puluh putaran ayunan pedang yang intens, Wu Gang mendadak mengangkat tinggi-tinggi pedang besarnya ke udara. "Latihan kita sampai di sini dulu."
Zhao Fei segera menurunkan posisi pedangnya, lalu menyarungkan kembali bilah biru itu dengan gerakan yang tenang ke pinggangnya.
Pria bertubuh kekar itu membuang napas panjang untuk mengatur kembali aliran udaranya setelah bergerak aktif. "Fisik dasarmu memang masih lemah. Tapi, teknik bertarungmu... benar-benar luar biasa. Siapa guru yang mengajarimu?"
"Siapa lagi yang mengajar? Gerakan seaneh itu pasti hasil belajar otodidak," timpal Li Xun dari atas tumpukan karung padi sembari menyeka bibirnya setelah kembali menenggak minuman.
Zhao Fei hanya menanggapi seluruh pertanyaan itu dengan senyuman tipis di wajah mudanya tanpa memberikan konfirmasi rinci.
Kemudian Wu Gang mengagguk dua kali, memperlihatkan rasa kagum yang jujur dari lubuk hatinya. "Bakatmu hebat, Zhao Fei. Untuk ukuran orang dengan ranah kultivasi serendah ini, kau sudah bisa membuatku berkeringat."
"Pertahananmu juga tangguh, Wu Gang. Tubuhmu kokoh seperti dinding benteng yang sulit ditembus senjata biasa," balas Zhao Fei, memberikan apresiasi yang sepadan kepada seniornya.
Sementara Li Xun kembali meneguk araknya dengan santai, membiarkan kakinya berayun-ayun di udara. "Asal kau tahu, Zhao Fei, dulu Liu Xue juga tidak jauh berbeda denganmu. Waktu pertama kali gabung ke divisi ini, dia tidak punya kemampuan apa pun yang menonjol. Tapi, lihatlah sekarang... dia menjadi salah satu yang paling kuat di antara kami semua."
Pemuda nyentrik itu lalu tertawa. "Dan tentu saja, dia juga malah jadi orang yang paling galak di tim kita. Jangan pernah cari masalah sampai membuatnya marah, kalau tidak mau merasakan penderitaan yang bahkan belum pernah terbesit di kepalamu."
Wu Gang menyunggingkan senyuman tipis di garis wajahnya yang kalem saat mendengar penuturan itu. "Dia memang keras. Tapi, semua tindakannya selalu adil untuk setiap anggota divisi."
"Keberadaanmu di unit ini pasti bakal menambah daya gentar kita," timpal Li Xun dengan mata berbinar penuh rasa percaya diri. "Orang luar bakal makin segan saat berhadapan dengan nama besar Divisi Khusus Garuda Putih."
Zhao Fei hanya mendengarkan seluruh pemaparan itu dengan saksama tanpa berniat menyela obrolan mereka.
"Tapi serius, Zhao Fei," ujar Li Xun, mengubah suaranya menjadi sedikit lebih berbobot dari sebelumnya. "Kau harus luangkan banyak waktu buat melatih ranah kultivasimu. Ikuti misi sebanyak mungkin demi menaikkan kekuatan spiritualmu."
"Kalau kau terus bertahan di ranah rendah begini, cepat atau lambat kau juga bakal tertinggal jauh," lanjutnya memberikan peringatan logis yang matang. "Musuh di luar sana tidak akan berbaik hati menunggu sampai dirimu jadi kuat."
Zhao Fei menggerakkan kepalanya sedikit ke bawah, memberikan isyarat bahwa dia menerima wejangan berharga itu. "Aku mengerti maksudmu, Senior."
Wu Gang memalingkan wajahnya menatap ke arah kubah langit yang mulai berubah warna menjadi gelap. "Sudah waktunya patroli perbatasan." Pria kekar itu kembali menoleh menatap Zhao Fei. "Sebaiknya kau segera istirahat di dalam. Urusan pengawasan malam ini biar aku dan Li Xun yang selesaikan."
"Fisikku sebenarnya masih cukup segar untuk ikut bersama kalian," jawab Zhao Fei.
"Tidak perlu untuk saat ini," sela Wu Gang, tidak menerima bantahan dengan senyumannya itu. "Kau sudah menghabiskan banyak energi untuk latihan seharian ini. Belum lagi kemarin kau baru saja bertarung dengan penyihir itu. Segeralah istirahat."
Li Xun melompat turun dari atas tumpukan karung padi dengan gerakan yang lincah, lalu berjalan merangkul bahu Zhao Fei sejenak sembari tersenyum. "Dengarkan saja instruksi Wu Gang, kawan. Pria besar ini tidak terbiasa mengulang perintahnya sampai dua kali."
Kedua elite divisi khusus itu segera meninggalkan pelataran, bergerak menembus kegelapan malam untuk menjaga keamanan garis batas wilayah desa. Kepergian mereka meninggalkan Zhao Fei seorang diri di tengah halaman pemukiman yang mulai sepi dari aktivitas warga fana.
Zhao Fei segera mengayunkan kaki melangkah masuk ke dalam ruangan kamar sederhana yang telah dipersiapkan oleh pihak warga desa. Ruangan itu hanya memuat sebuah ranjang kayu, satu meja kecil, serta sebuah jendela yang dilengkapi dengan tirai.
Dia duduk di tepi ranjang, membiarkan sepasang matanya stagnan menatap ke arah langit-langit ruangan dengan tatapan yang dalam.
Fokus pikirannya kembali melayang bebas, memikirkan kembali intensitas latihan fisik sore tadi, penilaian dari Wu Gang, cerita masa lalu Liu Xue, hingga nasihat untuk segera menaikkan level ranah spiritualnya. Namun, dari seluruh rangkaian informasi itu, ada satu hal yang paling mengusik ketenangan batinnya, yakni untaian kalimat terakhir yang sempat dilontarkan oleh penyihir Miao Yu sebelum raganya hancur menjadi abu di dalam gua.
“Long Wei... akan segera mengerahkan pasukannya untuk menyerang tempat ini.”
"Perdamaian di dunia ini tidak akan pernah ada, dan hal itu tidak akan pernah terwujud sampai kapan pun."
Pandangan mata Zhao Fei beralih menatap ke arah cincin kuno yang melingkar di jari manisnya. Benda itu lagi-lagi memancarkan kilauan yang sarat akan misteri.
"Aku sama sekali tidak memiliki kelayakan untuk membuang waktu dengan beristirahat, terutama pada momen-momen krusial yang dipenuhi oleh ancaman perang seperti saat ini," gumam Zhao Fei.
Dia pun memejamkan mata, lalu memfokuskan seluruh kekuatan energi spiritualnya menuju ke satu titik koordinat dimensi atas. Dia mulai membayangkan wujud dari gudang penyimpanan rahasia miliknya yang terletak di area terdalam wilayah Alam Dewa.
Seketika itu pula, cincin kuno di jarinya memancarkan gelombang energi hangat yang menjalar cepat di sepanjang aliran tubuh.
Tepat ketika dia kembali membuka kelopak matanya, kesadaran jiwanya telah berhasil berpindah, berdiri di dalam ruangan gudang persembunyian rahasia miliknya. Ruangan itu masih mempertahankan bentuk aslinya, dikelilingi oleh dinding batu, barisan peti artefak kuno, serta deretan rak senjata dewa yang berjejer rapi. Suasana di dalam tempat itu terasa teramat sepi. Kendati demikian, tempat terisolasi ini tidaklah berada dalam kondisi yang benar-benar tenang malam ini.
Sebuah getaran energi yang sangat masif terdeteksi mulai mengguncang seluruh struktur bangunan batu tempatnya berada.
Zhao Fei mengerutkan dahi dengan rapat, merasakan intensitas gelombang kejut yang merambat kuat dari arah luar dinding gudang. Sumber dari getaran dahsyat ini dipastikan berasal dari area luar dimensi perlindungannya, sebuah pertanda adanya aktivitas berskala besar yang sedang bergulir.
Langkah kakinya segera digerakkan dengan cepat mendekati pintu keluar gudang batu. Dia menarik daun pintu kayu itu dengan sangat perlahan karena tidak bisa ditembus, membuka sebuah celah sempit untuk mengintip situasi yang sedang terjadi di dunia luar.
Jauh di atas hamparan dataran luas yang membentang di bawah kubah langit keemasan yang mulai meremang gelap, tampak pergerakan dari ribuan pasukan perang yang teramat masif.
Seluruh prajurit di dalam barisan itu mengenakan setelan zirah perang berwarna perak dan emas murni. Logam pelindung mereka terlihat berkilau sangat terang diterpa oleh sisa cahaya senja dimensi atas. Mereka bergerak serentak sembari melayangkan teriakan perang yang membahana, menerjang maju dengan agresif menuju ke satu arah koordinat yang sama.
Zhao Fei segera menggeser arah pandangan matanya, mengikuti lintasan gerak dari serbuan pasukan berarmor mewah itu untuk menemukan target lawan mereka.
Sampai nampak wujud sepotong raksasa berdiri di bagian tengah dataran luas tersebut. Ukuran tinggi dari makhluk kegelapan itu benar-benar berada di luar batas ketentuan logis, dengan permukaan kulit yang gelap legam serta sepasang mata yang memancarkan warna merah menyala laksana kobaran api neraka. Di atas kepala raksasa itu, berdirilah seorang individu misterius, namun jarak pandang yang terlampau jauh membuat Zhao Fei tidak memiliki kemampuan untuk mengenali detail paras wajahnya dengan jelas.
Lengan kanan berukuran raksasa milik makhluk itu mendadak terangkat tinggi menunjuk ke arah langit tertinggi.
Seketika itu pula, kubah langit memberikan jawaban atas panggilan mistis yang dilayangkan oleh lengan gelap itu.
Ratusan kepingan batu meteor raksasa yang diselimuti oleh kobaran api merah membara mulai berjatuhan dari langit dengan kecepatan ekstrem. Satu per satu, lalu berkembang menjadi puluhan, hingga akhirnya menjelma menjadi lautan batuan berapi yang menghujani permukaan dataran.
Rentetan ledakan dahsyat yang mengerikan seketika hancur lebur menghancurkan seluruh barisan pasukan berzirah emas dan perak itu dalam sekejap mata. Tubuh para prajurit elite itu terlempar matang ke udara, dengan lapisan zirah pelindung mereka yang remuk hancur berkeping-keping akibat hantaman energi maut.
Zhao Fei berdiri kaku di balik celah pintu gudang, menyaksikan pembantaian massal itu dengan batin yang didera ketegangan psikologis yang hebat.
Dengan gerakan spontan yang dilakukan tanpa berpikir panjang, Zhao Fei segera memutuskan koneksi spiritual jiwanya dari dimensi tersebut. Seketika itu pula, cincin kuno di jarinya merubah suhunya menjadi dingin, memutus paksa jalur penglihatan spasialnya.
Sepasang kelopak matanya kembali terbuka dengan cepat, mendapati dirinya kembali menatap langit-langit kayu kamar milik warga desa di Alam Bawah.
Dia mengambil posisi duduk tegak di atas permukaan ranjang kayu, dengan helaan napas yang berjalan pendek-pendek serta tidak teratur. Begitu pula detak jantung yang sangat cepat akibat sisa ketegangan yang melanda jiwanya.
Kejadian ini benar-benar di luar dari segala bentuk kalkulasi taktis dari benaknya.
Dia sangat mengenali dengan jelas karakteristik dan wujud dari makhluk raksasa bermata merah yang baru saja disaksikannya di Alam Dewa tadi.
Makhluk itu tidaklah seperti raksasa liar biasa yang menghuni kawasan hutan terlarang di Alam Dewa. Eksistensi monster itu merupakan perwujudan dari bangsa iblis tingkat tinggi, wujud Dewa Jahat kuno yang di masa lampau telah berhasil disegel secara kuat oleh dirinya bersama dengan Li Tianming agar tidak bisa keluar mengacaukan ketenteraman dunia.
Namun, kenyataan nyata yang tersaji di depan mata hari ini membuktikan bahwa formasi segel kuno itu telah rusak sepenuhnya, membiarkan sang Dewa Jahat kembali menghirup udara kebebasan.
Zhao Fei menekan bagian pelipis kepalanya dengan menggunakan ujung jemari tangan yang sedikit gemetar, mencoba meredam pergolakan batinnya yang bising.
Lalu, siapakah sebenarnya faksi kuat yang memimpin pergerakan dari barisan pasukan perlawanan berzirah emas dan perak yang mencoba menantang kekuatan monster itu tadi?
Berdasarkan catatan ingatan masa lalunya, hanya dirinyalah satu-satunya penguasa tertinggi yang memiliki kualitas keberanian serta kapasitas murni untuk menentang eksistensi dari sang Dewa Jahat di medan perang.
Apakah barisan pasukan militer itu digerakkan di bawah komando dari Li Tianming?
Kemungkinan itu terasa sangat janggal dan tidak masuk akal bagi logikanya. Li Tianming adalah seorang murid pengkhianat yang egois. Apakah dia merupakan pihak yang secara sengaja merusak segel kuno itu demi membebaskan sang Dewa Jahat, ataukah dia justru menjadi pihak yang saat ini tengah kewalahan menghadapi amukan makhluk itu?
Zhao Fei mengembuskan napas panjang untuk melepaskan beban bising di dalam kepalanya yang dipenuhi misteri.
Terlalu banyak rentetan pertanyaan rumit yang bermunculan di dalam benaknya, sementara jumlah jawaban konkret yang berhasil dia kumpulkan saat ini terbilang sangat sedikit.
Namun, ada satu kesimpulan mutlak yang telah terpapar dengan sangat jelas bagi dirinya saat ini, yakni stabilitas keamanan di wilayah Alam Dewa saat ini tengah berada dalam kondisi yang semakin kacau dan hancur berantakan.
Dan dirinya sendiri, yang saat ini masih terjebak di dalam wadah raga baru yang lemah ini, diakui masih berada dalam kondisi yang terbilang lemah untuk bisa melakukan tindakan penyelamatan apa pun di atas sana. Tekadnya untuk menaikkan ranah kultivasi fisik harus segera dimantapkan dengan intensitas yang jauh lebih ekstrem dari sebelumnya jika dia ingin merebut kembali takhta langitnya.