Aruna (25tahun) adalah wanita karir sukses, cantik, dan mandiri yang hidupnya terusik oleh teror "kapan nikah" dari orang tuanya. Lelah dengan tekanan tersebut, Aruna memutuskan melepas penat di sebuah kelab malam bersama sepupu-sepupunya. Malam itu, di bawah pengaruh alkohol, ia terlibat cinta satu malam (one night stand) dengan seorang pria tampan nan karismatik. Betapa terkejutnya Aruna saat terbangun di apartemen dan mendapati pria tersebut adalah teman akrab sepupunya sendiri. Syoknya bertambah berkali-kali lipat saat mengetahui fakta baru: pria itu ternyata seorang berondong yang usianya jauh di bawah Aruna. Hubungan tak terduga ini mendadak rumit ketika si pria enggan menjauh dan justru menawarkan solusi gila untuk menghadapi orang tua Aruna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NoorBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25.Singa Betina dan Mangsa yang salah alamat
Pagi itu, atmosfer di kediaman Fiki berubah menjadi sangat sakral, khidmat, dan intim. Sesuai kesepakatan, tidak ada tamu luar maupun kerabat jauh yang diundang. Ruangan tengah itu hanya diisi oleh formasi lengkap keluarga besar Erros dan keluarga besar Sterling. Dekorasi bunga melati putih segar yang menghiasi ruangan menebarkan aroma menenangkan, mengimbangi ketatnya penjagaan berlapis dari pasukan Dominic di luar rumah.
Gavin duduk tegak di hadapan meja akad, berusaha menyembunyikan debaran kencang di dadanya. Di sebelahnya, Aruna tampil begitu anggun dalam balutan kebaya putih brokat sederhana yang memancarkan aura keibuan yang lembut.
Saat prosesi inti dimulai, seluruh ruangan mendadak senyap. Tatapan penuh wibawa dari para kepala dinasti, Caspian Alexandro Sterling dan Tommy Erros mengawal setiap detik yang berjalan di ruang keluarga tersebut. Hanya dalam satu tarikan napas, sebuah janji suci yang mengikat takdir dua keluarga besar berhasil diucapkan oleh Gavin dengan tegas dan lancar.
Kata "Sah" yang diucapkan serentak oleh para saksi seketika memecah keheningan, disusul oleh isak tangis haru yang pecah dari Inda, Tania, dan Giska. Di hadapan darah daging mereka sendiri, pernikahan itu sah secara hukum dan agama, mengunci status Aruna dalam perlindungan mutlak dinasti Sterling sejak detik itu juga.
Dua minggu setelah akad nikah dilewati dengan kesibukan tingkat tinggi di kediaman Sterling dan Erros. Seluruh vendor terbaik kelas dunia dikerahkan secara rahasia. Di tengah persiapan intens yang menguras energi tersebut, sebuah kejutan manis datang bagi Aruna yang usia kehamilannya kini menginjak tujuh minggu.
Avina Stella, adik kandung Aruna, akhirnya mendarat setelah menempuh penerbangan dari Malaysia bersama Reyhan. Keduanya sengaja mengosongkan jadwal kuliah dan bisnis mereka di sana demi menghadiri hari besar sang kakak.
"Kak Aruna!" Avina langsung menghambur memeluk kakaknya di ruang rias hotel privat Sterling, tempat persiapan akhir dilakukan. Matanya berkaca-kaca melihat perut Aruna yang masih rata namun menyimpan calon keponakannya.
"Gue kaget banget pas Papa telepon dua minggu lalu. Tapi melihat Kakak bahagia dan dijaga seketat ini, gue lega banget," bisik Avina penuh emosi.
Reyhan yang berdiri di ambang pintu tersenyum hangat, lalu menjabat tangan Gavin yang baru saja masuk untuk mengecek kondisi istrinya.
"Jaga kakak kami dengan baik, Vin. Di Malaysia pun, kami mendengar seberapa besar nama keluargamu."Gavin menepuk bahu Reyhan dengan tegas
. "Tanpa kamu minta, Rey. Dia dan anak kami adalah nyawaku sekarang."
***
Malam yang dinanti pun tiba. Grand Ballroom di hotel privat milik keluarga Sterling telah disulap menjadi sebuah istana modern yang memukau. Dengan tema Royal Elegance, ruangan itu dipenuhi oleh ribuan mawar putih, lampu kristal gantung yang megah, dan pencahayaan dramatis yang memancarkan kemewahan absolut.
Pengamanan malam itu berada di tingkat tertinggi. Setiap tamu undangan, yang terdiri dari para pejabat tinggi, konglomerat, hingga figur-figur berpengaruh dari dunia bawah harus melewati pemeriksaan berlapis oleh anak buah Dominic. Tidak ada satu pun media yang lolos, aliansi ini dirayakan dalam privasi yang sangat mahal.
Pintu besar ballroom terbuka perlahan. Terompet klasik bergema menyambut sang raja dan ratu malam itu.Gavin melangkah gagah dengan setelan tuxedo hitam khusus, sementara Aruna berjalan di sisinya bagaikan dewi dalam balutan gaun pengantin A-line berwarna putih gading yang mewah, dirancang khusus untuk menyamarkan usia kehamilannya namun tetap menonjolkan keanggunannya.
Di panggung pelaminan, kedua keluarga besar berdiri dengan formasi lengkap. Caspian dan Fiki berdiri berdampingan di barisan depan, memancarkan aura kepemimpinan dua dinasti yang kini telah resmi menyatu. Di sudut ruangan, Bianca melambaikan tangannya dengan ceria ke arah Aruna, sementara Avina dan Reyhan menatap sang kakak dengan senyum penuh kebanggaan.
Saat Gavin dan Aruna tiba di tengah berdansa, Gavin mengecup kening istrinya dengan lembut di bawah hujan kelopak bunga mawar. Skandal yang sempat mengancam kini telah terkubur sepenuhnya, digantikan oleh awal dari sebuah dinasti baru yang tak akan pernah bisa digoyahkan oleh siapa pun.
***
Di tengah kemegahan pesta pernikahan Gavin dan Aruna yang dijaga ketat oleh barikade baja, Bianca berdiri di sudut lobi VVIP ballroom dengan segelas sampanye di tangannya. Sebagai putri tunggal keluarga mafia yang terbiasa bersikap dingin dan skeptis terhadap pria, Bianca malam itu terlihat luar biasa menawan dalam balutan gaun malam merah marunnya.
Namun, pertahanan mental Bianca runtuh dalam satu detik.Pandangan matanya tidak sengaja terkunci pada seorang pria yang baru saja melangkah masuk ke area VIP bersama keluarga besar mempelai wanita. Pria itu adalah Narendra, kakak kembar dari Nareswari, sahabat dekat Aruna sekaligus tunangan dari Ethan Erros.
Narendra tampil sangat memukau dengan setelan jas formal hitam yang pas badan, rambut yang ditata rapi, serta sepasang mata elang yang memancarkan aura ketenangan dan kecerdasan seorang pria matang.
Deg.
Jantung Bianca berdegup sangat kencang. Sebuah sensasi asing yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Ketampanan Narendra yang tegas, berwibawa, namun memiliki sedikit kesan dingin, langsung membuat Bianca jatuh cinta pada pandangan pertama.
"Sial... siapa pria itu?" gumam Bianca lirih. Matanya sama sekali tidak bisa lepas dari setiap pergerakan Narendra yang saat ini sedang menyalami Om Fiki.
Sadar bahwa ia tidak bisa mendekat begitu saja karena gengsi besarnya sebagai putri Sterling, Bianca langsung memutar tubuh. Ia melihat Ethan dan Evan, sepupu Aruna yang sedang mengobrol santai di dekat meja bar. Bianca setengah berlari menghampiri mereka. Wajahnya yang biasa angkuh kini tampak memerah panik bercampur antusias.
"Kak Ethan! Kak Evan! Tolongin gue sekarang!" bisik Bianca setengah mendesak, menaruh gelasnya dengan hentakan pelan di atas meja bar.Ethan dan Evan serentak menoleh, menatap Bianca dengan sebelah alis terangkat heran.
"Kenapa, Bi? Ada penyusup kelompok Barat lagi di luar?" tanya Evan, langsung memasang posisi siaga.
"Bukan penyusup, Kak! Itu..." Bianca menunjuk tipis menggunakan lirikan matanya ke arah Narendra yang sedang berbincang di tengah ruangan.
"Pria jas hitam di sebelah Om Fiki itu... siapa? Kakak kenal, kan?"Ethan melirik ke arah yang ditunjuk Bianca. Sebuah senyuman miring langsung terukir di bibirnya.
"Oh, dia Narendra. Kakak kembarnya Nareswari, tunanganku. Kenapa emangnya, Bi?"
"Gue... gue mau kenalan sama dia. Sekarang juga. Tolong kenalin gue ke dia, Kak Ethan, Kak Evan, gue mohon banget!" pinta Bianca setengah memelas, meremas ujung gaun satinnya dengan gemas.Gengsi tinggi keluarga mafianya mendadak menguap, digantikan oleh ambisi murni seorang wanita muda yang sedang jatuh cinta setengah mati.Evan langsung tertawa renyah, menggeleng-gelengkan kepala melihat kepanikan Bianca yang tidak biasa.
"Buset, Bianca Alexandra Sterling yang biasanya dingin banget sama cowok bisa sampai mohon-mohon gini? Narendra itu tipe pria yang lurus, perfeksionis, dan jutek, Bi. Kamu yakin bisa jinakin dia?"
"Nggak peduli dia lurus atau perfeksionis, Kak! Pokoknya malam ini dia harus tahu nama gue," tegas Bianca. Matanya kembali melirik Narendra dengan binar kepemilikan yang sangat kuat, persis seperti tatapan Gavin saat mengunci Aruna pertama kali.
"Ayo dong, Kak Ethan, Kak Evan... anter gue ke sana sekarang sebelum dia diculik cewek lain!"Ethan menepuk bahu Evan sambil terkekeh penuh intrik.
"Yaudah, yuk kita anter tuan putri kita. Kita lihat gimana jadinya kalau singa betina Sterling mencoba menerkam mangsa yang salah alamat malam ini."
****