NovelToon NovelToon
Faristya

Faristya

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dijodohkan Orang Tua / Bad Boy
Popularitas:764
Nilai: 5
Nama Author: NdahDhani

Karena permintaan terakhir ibunya, Tyasabella Almeera terpaksa menerima kenyataan yang tidak pernah ia inginkan: menikah muda.

Dan lebih parahnya lagi, menikah dengan musuhnya sendiri, Faris Abimanyu Alzavian. Cowok tukang nyolot yang selalu berhasil membuat emosinya naik setiap hari.

"Kenapa harus lo sih?" kesal Tya.

Faris langsung mendelik. "Emangnya gue mau nikah sama lo?"

"Gue juga gak mau."

"Bagus. Berarti kita sepakat."

Tya mendengus. "Sepakat kalau ini ide paling buruk yang pernah ada."

Namun, takdir seolah tidak peduli dengan pendapat mereka. Di tengah kehilangan yang masih terasa, dua remaja keras kepala itu dipaksa menjalani sebuah pernikahan yang tidak pernah mereka pilih sendiri.

Masalahnya, bagaimana jika perlahan mereka mulai menemukan sesuatu yang tidak pernah mereka duga sebelumnya?

Karena terkadang, orang yang paling sering membuat kita kesal justru menjadi orang yang paling sulit dilupakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Bersama sahabat

Piket kelas akhirnya selesai juga. Meski sempat diwarnai drama banjir dadakan akibat timba air yang tumpah karena ulah Faris, kelas XII IPA B kini kembali bersih dan rapi seperti semula. Lantai yang tadi sempat basah sudah mengilap, meja dan kursi kembali tersusun rapi, sementara tempat sampah di sudut kelas juga telah dikosongkan.

Sayangnya, ketua geng badboy itu tidak bertahan sampai pekerjaannya benar-benar selesai. Setelah mengerjakan sekitar setengah bagiannya, Faris diam-diam memilih angkat kaki tanpa pamit. Alhasil, sisa pekerjaannya terpaksa diselesaikan oleh teman-teman piket yang lain.

Untungnya, tidak ada yang memperpanjang masalah. Mereka hanya saling menggeleng pasrah, seolah sudah terlalu terbiasa dengan tingkah Faris yang suka bertindak semaunya.

Sementara itu, Tya hanya bisa mendengus kasar sambil menyampirkan tasnya ke bahu. Ia sama sekali tidak menyadari kapan Faris menghilang dari kelas.

Seandainya tahu cowok itu kembali kabur sebelum piket benar-benar selesai, sudah bisa dipastikan Tya akan mengejar Faris lebih dulu sebelum membiarkannya pulang. Mengomel panjang lebar adalah bonus yang nyaris tidak mungkin terlewat.

"Gue duluan, ya. Thanks semuanya," ucap Tya pada teman-teman piketnya.

"Yoi, Tya! Hati-hati." Sahut salah satu cowok dari mereka.

Tya mengangguk kecil, lalu melangkah keluar dari kelas. Baru beberapa langkah menyusuri koridor lantai tiga, pandangannya langsung menangkap dua sosok sahabatnya yang sudah berdiri di dekat pagar depan kelas.

Starla dan Megan memang masih setia menunggu sejak tadi. Begitu melihat Tya keluar, perhatian mereka langsung tertuju pada seragam sahabatnya yang kini dihiasi beberapa bercak air yang bercampur dengan debu.

Starla mengangkat sebelah alisnya, berusaha menahan senyum yang sudah nyaris lolos. "Ty," panggilnya pelan. "Seragam lo."

Tya melirik seragamnya sekilas, lalu mendengus kecil seolah enggan membahasnya. Sementara Megan hanya tersenyum tipis. Mereka berdua tahu persis bagaimana seragam itu bisa berakhir seperti ini.

Mulai dari suara Tya saat menjambak Faris, adu mulut keduanya, hingga keributan setelah timba air tumpah, semuanya terdengar cukup jelas dari tempat mereka berdiri. Bisa dibilang, mereka berdua menjadi saksi drama piket sore itu.

"Udah, gak usah dibahas lagi," ujar Megan mengerti. "Kami tau kok."

Tya terdiam sesaat, lalu menghela nafas pelan. Sepertinya, kedua sahabatnya memang sudah mendengar semua keributan yang terjadi tadi.

Megan melirik sekilas ke arah Starla, lalu kembali menatap Tya. "Btw..." Ucapnya hati-hati. "Kami mau ajak lo. Lo mau ikut, gak?"

Tya mengernyit bingung. "Ke mana?"

Starla langsung menjawab antusias. "Ke alun-alun kota." Tatapannya kini jatuh pada seragam Tya yang sedikit kotor. "Tapi, baju lo kotor. Ke rumah gue dulu, yuk. Ganti baju sekalian."

Tya menatap Starla beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum tipis. "Gak ngerepotin, nih?" Tanyanya pelan.

Starla langsung mengernyit heran dengan pertanyaan itu. "Ngerepotin apanya?" Ujarnya spontan. "Lo sahabat gue juga kali, Ty."

Starla kemudian menyenggol pelan bahu Tya sambil terkekeh kecil. "Rumah gue bukan hotel yang harus reservasi dulu."

Megan ikut tersenyum melihat ekspresi Tya yang perlahan mulai tenang. "Lagian, kami memang sengaja ngajak lo. Jadi gak usah sungkan," ujarnya lembut.

Tya memandang kedua sahabatnya bergantian. Kehangatan sederhana dari ucapan mereka membuat sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum yang lebih tulus. "Ya, udah," ujarnya akhirnya. "Thanks ya."

Starla mengayunkan tangannya sekilas sambil tersenyum. "Santai, kayak sama siapa aja lo."

Kalimat itu sontak membuat mereka bertiga terkekeh pelan. Saat itu, Tya tiba-tiba teringat sesuatu. "Oh, bentar."

Starla dan Megan menoleh bersamaan. Sementara Tya mengeluarkan ponselnya dari saku roknya. "Gue bilang ke nyokap Faris dulu. Secara gue udah tinggal di sana, gak enak kalau tiba-tiba pulang telat tanpa ngabarin."

Starla dan Megan mengangguk paham. "Iya, kabarin dulu aja," ujar Megan.

Tya membuka daftar kontak di ponselnya. Jemarinya bergerak pelan hingga berhenti pada satu nama, Tante Mira. Tanpa ragu, ia menekan nama kontak itu dan menunggu panggilannya tersambung.

"Halo, Assalamualaikum, Tante," sapa Tya sopan setelah panggilan terhubung.

Dari seberang sana, suara hangat ibu Faris langsung terdengar. "Waalaikumsalam," sahutnya. "Tya, ada apa, nak? Mau Mama jemput?"

Tya tersenyum kecil sambil menggeleng, meski tahu ibu Faris tidak bisa melihatnya. "Enggak, Tante," ujarnya, tatapannya melirik Starla dan Megan sekilas. "Tya mau izin Tante, boleh enggak kalau sore ini Tya pergi sebentar sama sahabat Tya? Nanti habis itu langsung pulang ke rumah."

Di seberang telepon, ibu Faris terdiam sejenak sebelum menjawab dengan nada lembut. "Boleh, sayang. Main sesekali sama sahabat juga gak apa-apa."

Tya tersenyum lega, "Makasih, Tante."

"Tapi," lanjut ibu Faris. "Jangan pulang kesorean, ya. Kamu perempuan, bahaya kalau pulang sendirian."

"Iya Tante," jawab Tya sopan.

"Nanti kalau udah selesai, kabari Mama aja. Biar Mama jemput."

Tya terdiam sesaat. Perhatian yang diberikan ibu Faris terasa begitu hangat. Hampir sama seperti perhatian yang dulu selalu diberikan almarhumah ibunya. Meski ia tahu ibu Faris adalah sahabat dekat mendiang sang ibu, ia masih belum terbiasa diperlakukan sehangat itu.

Tya akhirnya tersenyum kecil. "Gak usah repot-repot, Tante," ujarnya lembut. "Nanti Tya pulang naik ojek aja."

"Yakin?"

Tya mengangguk perlahan, "Iya, Tante." Jawabnya singkat.

Di seberang sana, terdengar helaan nafas kecil. "Ya sudah. Kalau begitu, hati-hati di jalan, ya."

"Siap, Tante. Terima kasih," balas Tya.

Setelah berpamitan, Tya mengakhiri panggilan itu. Sesaat ia menatap layar ponselnya yang kini telah padam, sebelum akhirnya memasukkannya kembali ke dalam saku roknya.

Tak lama kemudian, Megan menepuk pelan pundak Tya. "Udah?"

Tya mengangguk kecil, "Iya, udah. Gue udah bilang dan Tante Mira izinin."

"Kalau gitu, ayo!" Sahut Starla ceria.

Tanpa menunggu lebih lama, ketiganya pun mulai menuruni anak tangga menuju halaman sekolah. Sore itu, suasana sekolah perlahan mulai lengang. Sebagian murid sudah pulang dengan kendaraannya masing-masing, sementara beberapa lainnya masih terlihat mengobrol di sekitar gerbang.

Langkah mereka menyusuri trotoar yang teduh, ditemani semilir angin sore yang terasa jauh lebih sejuk dibanding siang tadi.

Rumah Starla memang tidak terlalu jauh dari sekolah. Karena itu, mereka lebih memilih berjalan kaki sambil mengobrol. Sesekali tawa kecil terdengar di antara mereka, membahas hal-hal ringan yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan sekolah. Bagi Tya, obrolan sederhana seperti itu terasa menenangkan, mengisi kekosongan yang sempat hilang semenjak kepergian ibunya.

Mereka bertiga akhirnya tiba di depan sebuah rumah dua lantai bergaya semi modern yang berdiri di kawasan perumahan yang tenang. Halaman depannya tertata rapi dengan pot-pot bunga, sementara pohon mangga di sisi rumah memberi sedikit keteduhan.

Starla membuka pagar, lalu berbalik menatap kedua sahabatnya. "Masuk, yuk."

Tya dan Megan mengikutinya hingga ke teras rumah. Begitu pintu dibuka, suasana di dalam rumah begitu hening. Tidak terdengar suara televisi ataupun percakapan penghuni rumah.

Tya menoleh ke kanan kiri sejenak, lalu akhirnya bertanya. "Lagi sendirian di rumah, Star?"

Starla yang sedang melepas sepatunya langsung menjawab spontan tanpa berpikir. "Enggak, sekarang bertiga sama kalian."

Tya dan Megan saling bertukar pandang lalu menggeleng pelan sambil menahan tawa.

"Ya ampun," gumam Megan sambil terkekeh. "Maksudnya sebelum kami datang."

Starla baru menyadari ucapannya sendiri. Ia ikut tertawa kecil sambil menggaruk belakang kepalanya. "Iya, maksud gue emang lagi gak ada orang di rumah. Ortu gue masih kerja, Vina juga les."

"Kirain emang sengaja jawab gitu," celetuk Tya.

Ketiganya tertawa kecil sebelum Starla melangkah menuju tangga. "Ayo ke kamar gue."

Tya dan Megan mengikuti dari belakang hingga akhirnya mereka memasuki kamar Starla yang tampak rapi. Sebuah rak dipenuhi dengan buku, beberapa tanaman hias kecil, serta foto-foto kebersamaan mereka bertiga yang dipajang di atas meja belajar.

Starla membuka lemari pakaiannya, lalu mengambil satu set pakaian santai untuk dirinya. "Gue ganti dulu, bentar."

Tya dan Megan mengangguk. Keduanya lebih memilih duduk di tepi tempat tidur sambil mengobrol ringan, sembari menunggu Starla selesai berganti pakaian.

Beberapa menit kemudian, Starla keluar dari balik kamar mandi dengan kaus oversized dan celana training yang nyaman dipakai. Ia kembali membuka lemari, mengambil beberapa pakaian lain lalu menoleh ke arah Tya dan Megan.

"Nih," ujar Starla sambil meletakkan pakaian itu di atas kasur. "Kalian juga ganti aja. Pilih yang mana yang kalian suka."

Megan langsung mengernyit heran sambil menunjuk dirinya sendiri. "Lah, gue juga?"

Starla mengangguk mantap, "Iya, lah."

"Tapi gue kan bajunya gak kotor," timpal Megan.

"Sayang baju sekolahnya," jawab Starla santai. "Nanti kalau kita jalan-jalan terus duduk di alun-alun, takutnya malah kotor atau kusut. Mending ganti yang santai aja."

Megan hanya mengangguk pelan tanpa kata. Sementara Tya mengambil salah satu pakaian, tatapannya kini tertahan pada kaus yang berada di tangannya. Ia mengangkat kaus itu sedikit, lalu membandingkannya dengan tubuhnya sendiri.

"Kayaknya, kegedean buat gue," gumam Tya.

Starla dan Megan refleks menoleh. Memang begitulah kenyataannya. Di antara mereka bertiga, postur tubuh Tya yang paling mungil. Sementara Starla dan Megan sama-sama memiliki tinggi badan yang sedikit lebih menjulang darinya.

Starla justru terkekeh kecil. "Iya sih, tinggi badan kita beda."

Megan ikut mengangguk sambil menahan senyum. "Paling nanti kelihatan kayak pakai oversized."

Tya menghela nafas kecil sambil menatap lagi kaus di tangannya. "Oversized banget, malah."

Ucapan Tya langsung mengundang gelak tawa dari dua sahabatnya. Starla yang masih terkekeh tiba-tiba mengingat sesuatu.

"Eh, bentar," Starla kembali membuka lemari pakaiannya. Lalu mengaduk beberapa tumpukan baju di bagian bawah. "Kayaknya masih ada beberapa baju waktu SMP yang masih bagus," gumamnya sambil mencari.

Tak lama kemudian, Starla mengangkat sebuah kaus berwarna pastel dan menunjukkannya kepada Tya. "Nah, ini."

Starla mengamati tubuh mungil sahabatnya dari ujung kepala hingga kaki, lalu mengangguk yakin. "Coba pakai yang ini aja. Harusnya ukurannya lebih pas buat lo."

Tya menerima kaus itu dengan raut wajah yang sedikit lega. "Serius masih muat?"

Starla mengangkat bahu santai. "Masih, jarang gue pakai. Tapi kondisinya masih bagus, kok."

Megan yang melihat itu langsung tersenyum kecil. "Nah, itu baru cocok. Yang tadi kalau dipakai Tya, bajunya bisa jalan sendiri." Guraunya.

Tya langsung mendelik ke arah Megan. "Megan..." Nada suaranya terdengar datar, tapi sorot matanya seolah memberi peringatan.

Megan yang melihat itu justru menutup mulutnya, berusaha menahan tawa. "Hehe, bercanda Ty."

"Bercanda mulu," gerutu Tya sambil memeluk kaus itu di depan dada. "Nanti gue lempar pakai hanger juga, baru tau."

Starla langsung terkekeh. "Waduh, ibu bendahara mulai galak."

"Emang dari dulu. Jadi ya... Wajar sih," sahut Megan.

Tya menggeleng pelan, ujung bibirnya ikut terangkat. "Kalian berdua, kompak banget ngerjain gue."

Melihat Tya akhirnya ikut tersenyum, Starla dan Megan pun tertawa lepas. Suasana kamar yang semula tenang kembali dipenuhi canda tawa khas persahabatan mereka.

Sementara itu, di kantin sekolah yang kini mulai lengang, tiga orang cowok tampak masih duduk santai di salah satu meja paling pojok.

Andre yang sejak tadi menopang dagunya di atas meja sontak mengangkat kepala ketika melihat sosok jangkung berjalan santai menghampiri mereka.

"Buseett!" Seru Andre. "Dari mana aja lo, Ris? Lama banget."

Faris meletakkan tasnya begitu sampai di kursi kosong. Di tangan kirinya, tampak dua buah mangga hijau yang masih segar. Bahkan, getah putihnya masih menetes di bagian tangkai.

Lex melirik mangga itu lalu kembali menatap Faris. "Habis ngapain, lo?"

Dhyo langsung menyenggol lengan Andre sambil menyeringai jahil. "Paling habis ngintip cewek."

Andre mengangguk sok serius. "Bisa jadi."

"Wah, Faris... Diam-diam menghanyutkan, ya," timpal Lex sambil menaik-naikkan alisnya.

Faris yang baru saja duduk langsung mendelik. "Ngaco!"

"Terus dari mana?" Tanya Andre lagi.

"Habis piket," jawab Faris datar.

"HAH?!" Ketiga temannya kompak menatap Faris tidak percaya.

Dhyo bahkan sampai menunjuk wajah Faris. "Sejak kapan babang Faris kita mau piket kelas?!"

"Rekor dunia, cuy!" Timpal Lex sambil tertawa bahkan tanpa sadar memukul-mukul meja.

Faris langsung berdecak kecil, lalu mengalihkan pandangannya. "Berisik."

Dhyo yang masih tertawa tiba-tiba memicingkan mata. Tatapannya turun ke dua buah mangga di tangan Faris. "Woi! Lo nyolong mangga lagi?!" Ujarnya. "Ngapa gak ngajak gue, woi?!"

Faris memasang wajah tanpa dosa sedikit pun. "Gak nyolong, cuma nemu di pohonnya."

"Itu namanya nyolong," jawab Andre.

"Ribet amat," gumam Faris. "Cuma mangga doang."

"Terserah lo, deh." Dhyo melirik jam di tangan kirinya sekilas, lalu menyandarkan punggung ke kursi. "Masih sore," gumamnya. "Ngapain kita sekarang?"

Andre mengangkat bahu santai, "Pulang juga males."

Lex yang sejak tadi memainkan sedotan minumannya tiba-tiba mengangkat kepala. "Bro, alun-alun kuy. Udah lama gak makan cilok."

"Boleh, udah lama juga gak nongkrong di sana." Timpal Dhyo.

Ketiganya serempak menoleh ke arah Faris yang masih sibuk memainkan mangga di tangannya.

"Bro?" Tanya Andre singkat.

Faris hanya mendengus kecil, lalu berdiri sambil menyampirkan tasnya ke bahu. "Buruan."

Mereka akhirnya berjalan meninggalkan kantin menuju parkiran, bersiap menghabiskan sisa sore dengan nongkrong seperti biasanya.

^^^Bersambung...^^^

1
xuer jinghao
kak lanjut semangat terus kak 🤭🤭
Enz99
bagus banget
xuer jinghao
dan sehat selalu 💪💪
𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱 𝓻𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲: Terima kasih kak, semoga kakaknya juga sehat selalu😄
total 1 replies
xuer jinghao
kak lanjut semangat terus kak 😍😍
Shintara
Faris : Dari sekian banyak cewek di dunia ini, kenapa harus lo?
Tya : Karena lo gak mampu cari cewek kayak gue 🤣🤣🤣
𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱 𝓻𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲: Hehehe bener banget kak🤭
total 1 replies
Shintara
❤️❤️❤️
Shintara
lanjut kak..
jangan lupa mampir juga ya. ❤️
𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱 𝓻𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲: Siap kak, terima kasih sudah mampir 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!