Blurb
"Yang kubenci selama 6 tahun, ternyata malaikat tak bersayap"
Alina membenci Bu Kirana. Seorang guru SD sederhana yang dinikahi Papa dua tahun setelah Mama berpulang.
Selama enam tahun, Alina menolak kehadirannya. Alina menyia-nyiakan makanan yang Ibu masak, menyebarkan cerita yang menyakitkan, bahkan berteriak di depan semua orang: "Maaf Bu, aku tidak bisa memanggilmu Ibu."
Kirana tidak pernah membalas. Ia tidak pernah meninggikan suara. Ia hanya tetap ada. Memasak makanan yang sama setiap pagi, berjalan kaki menjemput Alina saat hujan, menjahit kancing baju Alina yang lepas sampai larut malam.
Sampai suatu hari, Papa kehilangan segalanya. Mansion dijual, teman-teman menghilang, orang-orang yang dulu memanggil "Tuan Aditya" kini berpaling.
Yang tetap tinggal hanya Kirana.
Perempuan yang diam-diam menjual kalung pemberian Papa, menjual motor tuanya, bekerja tiga waktu dalam sehari... hanya agar Alina tetap bisa makan, tetap bisa sekolah.
Semuanya terlambat Alina sadari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: JEJAK DI BALIK KECELAKAAN
...BAB 31...
...JEJAK DI BALIK KECELAKAAN...
Jantung Alina terasa berdegup kencang seolah ingin melompat keluar dari rongga dadanya. Dengan tangan yang masih gemetar, ia memasukkan kembali buku diari itu ke dalam tasnya, lalu bergegas melangkah keluar dari rumah kecil itu. Farhan yang sudah menunggu di depan segera menyiapkan sepeda motornya, tanpa banyak bicara ia tahu betapa mendesaknya situasi ini.
“Pegang erat tasmu, kita berangkat sekarang,” ujar Farhan pelan, tetap menjaga nada bicaranya agar tidak menambah kegelisahan Alina.
Mereka melaju dengan kecepatan yang wajar namun tetap cepat, membelah jalanan kota yang mulai dipenuhi kendaraan sore itu. Sepanjang perjalanan, Alina hanya bisa menunduk, matanya berkaca-kaca, dan doa-doa terus terpanjat dalam hatinya. Bayangan wajah Bu Kirana yang selalu tersenyum lembut, yang selalu menyapanya dengan nada ramah meski sering dibalas dengan dingin, terus berputar di kepalanya. Rasa bersalah itu semakin menyesakkan, seolah ada beban berat yang menindih dadanya.
Setelah perjalanan sekitar dua puluh menit, mereka tiba di halaman rumah sakit umum kota. Alina segera turun dan berlari menuju pintu masuk utama, diikuti oleh Farhan yang tetap menjaga jarak namun tidak kehilangan langkahnya. Sesampainya di depan ruang gawat darurat, terlihat sosok Ayah Alina dan Dimas sedang berdiri di depan pintu, wajah mereka tampak pucat dan penuh kekhawatiran.
Dimas duduk bersandar di dinding, kepalanya tertunduk, dan sesekali ia mengusap air matanya yang tak henti mengalir. Saat melihat kedatangan Alina, ia hanya mengangkat wajah sebentar, lalu kembali menunduk, seolah tak sanggup berkata-kata.
“Papa… bagaimana keadaan Bu Kirana?” tanya Alina dengan suara parau, langsung mendekat ke arah Ayahnya.
Ayahnya menarik napas panjang, lalu mengusap bahu putrinya dengan lembut. “Kondisinya masih kritis, Nak. Dokter bilang ada benturan keras di bagian kepalanya, kemungkinan besar mengalami gegar otak berat. Mereka masih melakukan pemeriksaan dan penanganan intensif. Kita hanya bisa menunggu dan berdoa saat ini.”
Mendengar penjelasan itu, kaki Alina terasa lemas. Ia merosot perlahan duduk di bangku tunggu, tangannya menutup mulut agar isak tangisnya tidak terdengar terlalu keras, namun air matanya tetap mengalir deras tanpa bisa dibendung. “Ini semua salahku… aku belum sempat meminta maaf, belum sempat mengatakan apa pun padanya…” gumamnya berulang kali, suara terputus-putus oleh tangis.
Farhan berdiri di sampingnya, diam dan hanya memberikan ruang, namun tatapannya penuh rasa prihatin. Ia mengerti betapa besar penyesalan yang sedang melanda hati gadis itu.
Pak Aditya melangkah mendekati Dimas dan putrinya. Wajahnya terlihat sangat lelah dan dipenuhi rasa bersalah yang mendalam. Pakaiannya masih kotor sedikit debu dan sisa kardus bekas barang tadi pagi, seolah ia baru saja meninggalkan tempat kejadian begitu saja.
“Maafkan Papa… ini semua salah Papa…” ucap Pak Aditya dengan suara parau, matanya sudah sembab menahan tangis. Ia berdiri di hadapan mereka dengan pandangan tertunduk, tak berani menatap siapa pun.
Dimas yang mendengarnya langsung mengangkat wajah, meski matanya merah, ia mencoba menenangkan pria itu. “Pak, Bapak tidak bersalah. Ini semua kecelakaan, bukan kehendak siapa pun.”
“Tidak, Dimas. Kalau saja tadi Papa lebih berhati-hati, kalau saja Papa tidak terlalu sibuk sampai lupa melihat keadaan jalan, hal ini tidak akan terjadi,” jawab Pak Aditya sambil menggeleng pelan. Ia kemudian duduk di samping mereka dan mulai menceritakan kejadian sebenarnya dengan suara bergetar.
“Pagi itu seperti biasa, truk pasokan barang datang lebih awal. Papa sedang membantu petugas menurunkan kardus-kardus yang berat, tidak menyadari dari arah utara melaju sebuah motor besar dengan kecepatan sangat tinggi. Jalannya agak sempit karena barang yang tergeletak di pinggir, dan pengendara itu seolah tidak bisa mengendalikan kendaraannya. Ia melaju lurus ke arah Papa. Papa sempat terkejut dan terpaku, tidak sempat menghindar.”
Pak Aditya berhenti sejenak, menarik napas panjang untuk menenangkan dirinya sebelum melanjutkan. “Saat itu, Ibu kalian menjerit memanggil Papa di depan toko. Begitu melihat Papa dalam bahaya, ia langsung berlari tanpa berpikir dua kali, mendorong tubuh Papa menjauh dari lintasan motor itu. Namun akibatnya, ia sendiri yang terhantam keras oleh kendaraan itu. Pengendaranya langsung terlempar sedikit, lalu dengan cepat bangkit dan melarikan diri tanpa menoleh ke belakang. Keterlaluan, pengendara itu tidak mau bertanggung jawab sama sekali.”
Mendengar penuturan itu, seluruh tubuh Alina terasa dingin. Ia semakin mengerti betapa besarnya ketulusan hati wanita itu—bahwa ia rela mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan orang lain, dan itu Papanya sendiri, tanpa memikirkan dirinya sendiri. Rasa hormat, cinta, dan penyesalan bercampur menjadi satu, membuat tangisnya semakin deras.
“Apakah ada yang melihat ciri-ciri pengendaranya, Pak? Atau ada yang bisa mengingat plat nomor motornya?” tanya Farhan dengan nada serius, berusaha mencari kejelasan yang sejak tadi ikut mendengarkan.
“Untungnya ada,” jawab Pak Aditya sambil mengeluarkan ponselnya. “Seorang warga yang kebetulan ada di depan rumahnya melihat kejadian itu. Ia sempat mengabadikan momen itu dengan kamera ponselnya sebelum pengendara itu pergi. Katanya ia merasa curiga melihat motor itu melaju sangat kencang sejak tadi. Ini fotonya, meski agak buram karena diambil dari kejauhan dan tergesa-gesa.”
Pak Aditya membuka galeri foto dan menunjukkannya kepada mereka. Di dalam gambar terlihat sosok pengendara yang mengenakan jaket kulit berwarna hitam pekat, helm penuh yang menutupi seluruh wajahnya, dan sebuah motor besar berwarna hitam mengkilap dengan bentuk yang cukup mencolok. Di bagian depan terlihat jelas nomor plat kendaraannya, meski sedikit terhalang cahaya.
Saat Alina melihat gambar itu, seketika tangisnya terhenti sejenak. Matanya terbelalak, dan jantungnya kembali berdegup kencang, kali ini bukan karena sedih, melainkan karena rasa terkejut yang luar biasa.
Bentuk motor itu, warnanya, bahkan jenis helm dan jaket yang dikenakan… semuanya terasa sangat akrab di ingatannya. Ia pernah melihat motor itu berkali-kali diparkir di depan gerbang sekolah, pernah melihatnya melintas di jalan raya dekat rumahnya. Bahkan nomor plat yang tertera itu, meski hanya sebagian yang terlihat, membuatnya yakin—ini seperti motor milik Raka, pemuda yang sering membuat masalah dan pernah bersinggungan dengannya beberapa waktu lalu.
“Tidak mungkin… tapi persis sekali…” gumam Alina pelan, matanya tak lepas dari layar ponsel itu.
Farhan yang melihat reaksi Alina segera menoleh, “Kamu kenal motor ini, Alina?”
Alina mengangkat wajahnya, matanya masih basah oleh air mata, namun kini terlihat sorot ketegasan dan kekhawatiran baru. “Aku mengenalnya. Motor ini milik Raka… siswa kelas dua belas yang sering terlibat perkelahian dan selalu mengendarai kendaraannya dengan ugal-ugalan. Bentuknya sama persis, bahkan ciri khas goresan di sisi bodi motor itu juga terlihat di foto ini.”
Suasana menjadi hening seketika. Dugaan yang mengerikan itu mulai terlintas di benak mereka masing-masing. Jika benar pelakunya adalah Raka, maka kejadian ini bukan sekadar kecelakaan biasa, melainkan tindakan yang disengaja dan harus dipertanggungjawabkan.
Namun, sebelum mereka sempat membahas lebih lanjut, pintu ruang UGD terbuka. Seorang dokter keluar dengan wajah yang masih serius. Semua orang segera berdiri menghampirinya dengan harapan yang bercampur cemas.
“Bagaimana keadaan istri saya, Dok?” tanya Pak Aditya dengan suara tergesa.
Dokter itu mengangguk pelan, “Kami sudah melakukan penanganan awal. Pendarahan di bagian kepalanya berhasil dikendalikan untuk sementara, namun gegar otaknya cukup parah. Kesadarannya belum kembali, dan kita harus menunggu setidaknya dua puluh empat jam ke depan untuk melihat perkembangannya. Semoga saja ia bisa melewati masa kritis ini dengan baik.”
Mendengar itu, Dimas kembali terisak, sedangkan Alina menggenggam kedua tangannya erat-erat, berdoa sekuat tenaga dalam hatinya. Ia tidak hanya berharap Bu Kirana selamat, tapi juga berjanji dalam hati—ia akan mencari kebenaran, memastikan pelakunya harus bertanggung jawab, dan tidak akan membiarkan pengorbanan wanita yang dicintainya itu sia-sia begitu saja.
Bersambung...
nanti Alina juga perlahan luluh