seorang wanita yang mencintai sahabat kecilnya, dia merelakan cinta pertamanya bersama dengan wanita pilihannya. dalam diamnya dia harus memendam perasaan yang teramat menyiksa, tapi cinta yang teramat besar dengan sahabatnya menjadikan dia harus mengorbankan semuanya untuk laki laki yang dia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na_1411, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
maafkan aku Neta.
#flash back satu tahun yang lalu.
"Clara... Setelah ini aku mau ke rumah Tante Niken, aku baru dengar dari Niko kalau Neta sedang sakit "
James mengemudikan mobilnya sedikit cepat, rasanya dia sedikit kawatir dengan kondisi sahabatnya Neta.
clara tampak mengerucutkan bibirnya, dia kesal dengan sikap James yang terlihat mengkhawatirkan kondisi Neta.
Dengan mata yang tampak menatap tajam, clara memberanikan diri berbicara ke James yang kini tengah mengemudikan mobilnya.
"James, yang kekasih kamu itu aku...? Atau Neta sih, dari tadi kamu tampak sangat kawatir setelah mendengar kondisi Neta saat Niko menghubungimu "
suara Clara terdengar meninggi, dia kecewa sekaligus kesal dengan sikap berlebihan dari James.
James yang dari tadi fokus mengemudi tiba tiba memelankan laju mobilnya, dia menoleh ke arah Clara yang masih menatapnya.
"maafkan aku sayang, aku .. Aku hanya sedikit kawatir dengan Neta, kamu tahu sendiri kan kalau Neta adalah sahabatku."
James Kembali menatap ke arah depan, dia kembali fokus dengan setang kemudinya.
"rasa kawatir kamu tidak wajar, hanya karena sahabat kecilmu kamu mau menomer duakan kekasihmu "
Ucapan Clara terdengar ketus, Clara mengalihkan pandangannya menatap pemandangan di samping jendela.
James yang melihat kekesalan clara segera menepikan mobilnya, dia tidak ingin membuat Clara kesal dengan sikapnya.
"Clara, maafin aku. Aku... Aku hanya kawatir dengan kondisi sahabatku, saat.. Saat Niko menghubungi ku waktu itu. Please... Jangan ngambek lagi ya..."
James memegang tangan hangat Clara, rasa sesal melihat kekesalan clara yang kini memalingkan wajahnya menghadap ke arah jendela.
"kamu lebih mentingin Neta dari pada aku James, aku kesal dengan semua itu. Aku seperti penghalang di antara kalian berdua, aku... Aku..."
Belum sempat clara menyelesaikan ucapannya, James dengan gerakkan cepat menarik clara ke dalam pelukannya.
"tidak Clara, kamu adalah kekasihku. Dan prioritas utamaku hanya kamu bukan Neta."
tanpa James sadari di balik pelukan mereka, Clara tersenyum penuh arti. Kali ini Clara bisa menarik simpati laki laki tampan yang kini memeluknya, lain kali Clara tidak akan membiarkan James membagi perhatiannya untuk Neta, walau Clara tahu jika James dan Neta adalah sahabat dari kecil.
"baiklah, aku akan memaafkan kamu. Tapi aku tidak ingin kamu membagi perhatian kamu untuk ku dan Neta, aku ingin kamu selalu memperhatikan aku James, hanya aku."
Suara Clara terdengar ingin mengikat James hanya untuknya, tanpa ada pihak lain di dalamnya.
James mengangguk lemah, dia merasa jika kali ini dia benar benar bersalah dengan Clara. Entah dengan keadaan Neta saat ini, James pikir dia akan bertanya dengan Niko saat dia sudah sampai di apartemennya nanti.
"kita berangkat sekarang...?"
Tawar James setelah melepaskan pelukannya, dia melihat Clara yang mengagumkan kepalanya lemah.
Sedangkan di tempat lain, Neta yang berada di dalam apartemennya tampak lemah di atas pembaringannya. Selimut tebal yang membungkus tubuhnya tampak menemaninya selama dia sakit saat ini, keluarga yang berada jauh di luar kota tidak dapat menemaninya.
Helaan nafas Neta tampak berat, suhu tubuhnya yang terasa panas di tambah kepalanya terasa pusing dan berputar membuat Neta hanya berdiam di bawah selimut tebalnya.
"huh... Rasanya kepala ini semakin pusing." batin Neta sambil berusaha membuka kedua matanya.
Bunyi suara tombol dari smart door di balik pintu apartemen Neta, membuat pandangan mata Neta tampak terfokus ke arah pintu kamarnya.
perlahan senyum Neta terukir di kedua ujung bibirnya, dia tahu siapa yang telah menekan sandi di depan pintunya.
Suara deritan pintu yang terbuka membuat Neta semakin merasa lega, dia berharap jika seseorang yang dari tadi dia tunggu kedatangannya menampakkan dirinya dan dapat merawatnya kali ini.
Langkah kaki seseorang tampak mendekat perlahan ke arah kamar Neta, pandangan Neta yang terlihat fokus membuat langkah seseorang tersebut terdengar pelan dan berat.
"kak Neta..."
Suara berat seorang pemuda membuat Neta menghela nafasnya berat, harapan Neta pupus sudah. Dia berharap James yang akan datang, tapi ternyata harapan Neta tidak sesuai keinginannya.
"Niko.."
Lirih Neta menatap adik semata wayangnya yang datang dengan kantong plastik di tangan kanannya.
"ya ampun kak, kenapa Kakak memakai selimut setebal itu...?"
Niko segera berjalan cepat menghampiri Neta, dia segera membuka selimut yang menutupi tubuh Neta yang terasa panas.
"kita kerumah sakit sekarang, tubuh kakak panas seperti ini. Pasti kakak lupa jaga kesehatan, makanya kakak sakit seperti ini."
Celotehan Niko membuat kepala Neta semakin terasa pusing, dia tahu jika Niko sangat mengkawatirkan kondisi Neta saat ini.
"aku baik baik saja nik, kamu jangan kawatir."
Neta berusaha bangun dari tidurnya, dia merasa badannya akan segar kembali setelah memakan makanan yang di bawa Niko yang kini sudah Niko buka dan letakkan di atas nakas.
tapi Neta yang merasa lemas merasa tidak kuat menahan bobot tubuhnya sendiri, dia tiba tiba limbung dan merasa kepalanya semakin berputar.
Dengan sigap dan gerakkan cepat, Niko segera meraih tubuh Neta. Panas yang Niko rasakan di kulit Neta membuat Niko semakin kawatir dengan kondisi wanita cantik yang kini tampak sangat pucat.
"kita kerumah sakit sekarang, aku tidak ingin mendengar kakak membantah permintaanku."
Dengan sigap Niko segera mengendong tubuh Neta ala bridal style, dia akan membawa Neta ke rumah sakit tanpa menunggu persetujuan Neta.
"nik, aku..."
Niko tidak peduli dengan penolakkan Neta, tubuh Neta yang ringan memudahkan Niko mengangkat dan menggendong Neta keluar dari dalam apartemen.
Beruntung apartemen terlihat sepi, sehingga Neta tidak merasa malu jika di lihat beberapa orang yang ada di apartemen saat berada di dalam gendongan Niko.
"tubuhmu tingan sekali kak, apa selama ini kakak tidak pernah makan...?"
Bisik Niko membuat Neta memukul dada bidang Niko.
"aku makan dua kali sehari, jika tubuhku ringan itu karena tubuhmu saja yang semakin berisi."
Gerutu Neta kesal dengan ledekan dari Niko.
"asal kakak tahu, tubuh kakak lebih ringan dari pada tubuh Selfi."
Cubitan Neta terasa panas saat jemari Neta mendarat di lengan kekar Niko.
"ya tuhan kak, ini sakit."
desis Niko merasa panas di lengan kekarnya.
"lepas nik, aku bisa jalan sendiri."
Pinta Neta dengan suara lemah, tapi kedua tangan Neta masih merangkul di leher Niko.
"tubuh kakak lemas, dan aku tidak ingin melihat kak Neta pingsan sebelum sampai di rumah sakit."
Helaan berat terdengar dari Neta, Niko yang merasa udara yang keluar dari hidung Neta terasa panas membuat rasa kawatir Niko semakin terasa.
Mobil yang terparkir di dekat lift membuat Niko segera membuka pintu mobilnya, dia segera memasukkan tubuh lemah Neta kedalam mobil.
Niko yang tidak ingin berlama lama segera membawa Neta ke rumah sakit terdekat, perjalanan yang memakan waktu hanya lima belas menit dari apartemen Neta.