SERI KE 4 DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"
Menceritakan tentang perjalanan kehidupan anak gadis bernama Gendis, yang hidup dalam sebuah keluarga miskin. Namun, seiring berjalannya waktu, kekayaan datang dalam kehidupan keluarganya karena orang tua Gendis melakukan pesugihan.
Dan, karena pesugihan itu, justru menjadikan Gendis sebagai "wadah" pencari tumbal agar kekayaan keluarganya tetap bertahan.
Ritual pesugihan apa yang dilakukan orang tua Gendis?
Bagaimana penderitaan Gendis selama menjadi "wadah" pencari tumbal?
Dan, seperti apa perjalanan hidup Gendis sampai ia ditakdirkan bertemu dengan Nisa?
Selamat membaca...
.
.
.
DISCLAIMER!!!
Apabila terdapat kesamaan nama tokoh, latar tempat, agama, budaya, laku tirakat tertentu, dan kepercayaan tertentu dengan para pembaca semua, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 TUMBAL KE TIGA
"Buuu!! Paaak!!" teriak seorang ibu-ibu yang sudah menjadi pelanggan tetap di warung makan keluarga Gendis.
Pak Diki dan Bu Fitri yang sedang membersihkan kaca depan warungnya itu pun menoleh.
"Ya Bu? Kenapa? Kok panik gitu?
"Itu Bu!! Pak!! Ada kecelakaan di depan pom bensin!!" jawab Ibu-ibu itu.
"Hah?! Kecelakaan?!" respon Bu Fitri sedikit kaget.
"Ah, yang bener Bu?" respon Pak Diki dengan santainya.
"Iya loh, masa saya bohong sih!" jawab ibu-ibu itu.
"Siapa yang kecelakaan Bu?" tanya Pak Diki, sambil menghisap sebatang rokok dengan santainya.
"Itu Pak, Toto! karyawan Bapak yang kecelakaan!"
"Hah?!" respon Pak Diki dan Bu Fitri bersamaan.
"Iya Pak, Bu, beneran saya ngomong."
Akhirnya Pak Diki dan Bu Fitri pun menuju ke tempat kejadian. Sedangkan warung makan yang masih ramai pembeli juga jadi sedikit gaduh dengan informasi bahwa Toto kecelakaan. Beberapa pembeli pun ikut bersama Pak Diki dan Bu Fitri, karena mereka juga penasaran.
Dan sesampainya di tempat kejadian, sudah berkerumun banyak orang di ke dua sisi jalan, beberapa orang juga berkerumun di dekat jasad Toto yang masih bersimbah darah tak bernyawa. Arus kendaraan pun menjadi macet.
Terlihat jelas, wajah Bu Fitri sedikit merasa kasihan dengan karyawannya itu. Sedangkan Pak Diki, tampak santai saja wajahnya, dengan nikmat dia masih menghisap rokoknya yang hampir habis.
Beberapa orang pun akhirnya menanyakan kepada Pak Diki dan Bu Fitri, bagaimana Toto sebelum kejadian naas itu terjadi.
Beberapa menit kemudian, datanglah sebuah mobil polisi dan juga sebuah ambulan. Dengan sigap petugas ambulan mengevakuasi jasad Toto. Sedangkan petugas kepolisian sibuk mengatur kerumunan, dan juga mengatur arus kendaraan agar kembali normal.
DAN SUDAH DIPASTIKAN...
GENDIS...
TAK ADA DI SANA...
Singkat cerita, Pak Diki dan Bu Fitri pun mau tak mau, harus menunjukkan simpatinya kepada keluarga Toto. Paling tidak, supaya tidak ada anggota keluarga Toto yang menjadi "curiga" pada mereka berdua.
Dan karena hal itulah, Pak Diki dan Bu Fitri selalu datang ke acara tahlilan di rumah keluarga Toto selama 7 malam berturut-turut setelah kejadian naas itu, serta memberikan uang santunan sebesar 20.000.000,- rupiah.
Uang sebesar itu diberikan sebagai bentuk simpati dan kepedulian. Dan juga sebagai cara untuk "menutupi" kenyataan bahwa Toto telah ditumbalkan demi kelancaran usaha warung makan mereka.
Dan benar saja, cara yang dilakukan oleh mereka berdua itu bisa mencegah kecurigaan keluarga Toto. Dan menganggap bahwa itu semua sudah menjadi takdir Sang Maha Kuasa.
.....
.....
.....
Singkat waktu...
1 tahun pun berlalu sejak kematian Toto...
Dan sekarang, Gendis juga sudah naik ke kelas 4 SD...
Pundi-pundi kekayaan semakin datang dengan derasnya kepada keluarga Gendis.
Pak Diki dan Bu Fitri sekarang sudah punya satu cabang warung makan, letaknya agak jauh dari warung makan pertama. Dan kondisinya juga sama ramainya dengan warung makan pertamanya itu.
Setiap malam ketika jadwal warung makan sudah tutup, Pak Diki dan Bu Fitri selalu menghitung uang yang didapatkan setiap harinya. Dan sekarang, hampir setiap hari, jumlah uang yang didapat dari dua warung makan milik mereka itu sekitar 12.000.000,- rupiah. Kadang kurang sedikit dari itu, dan terkadang juga lebih sedikit dari itu.
Sungguh...
Sebuah nominal harian yang tak masuk akal sehat...
Dan sudah tentu, semua itu semakin membuat Pak Diki dan Bu Fitri buta mata hati dan nuraninya...
.....
.....
.....
🌧️🌧️🌧️🌧️🌧️🌧️🌧️
⚡⚡⚡⚡⚡⚡⚡
Di suatu sore hari...
Cuaca sedang tak bersahabat...
Hujan turun dengan derasnya disertai kilatan petir yang menyambar di langit...
Gendis yang sudah pulang dari sekolah, sedang berada di warung makan kedua, milik orang tuanya itu. Ditemani oleh Pak Diki yang sedang mengontrol seluruh kinerja karyawannya. Sedangkan Bu Fitri tetap berada di warung pertama.
Pak Diki menyuruh salah seorang karyawannya yang bernama Dita untuk mengantar pulang Gendis.
"Dita... Sini sebentar..." ucap Pak Diki.
"Iya Pak?" jawab Dita dengan sopan.
"Tolong anter anak saya pulang ya, pakai motor kamu aja. Nanti bensinnya saya ganti full tank." ucap Pak Diki.
Sontak, Dita sedikit ragu dengan perintah boss nya itu...
"Emmm... Maaf Pak Diki... Tapi, masih hujan deras loh. Apa gak lebih baik tunggu reda dulu?" kata Dita.
"Kayaknya hujan bakalan lama, kasihan anak saya, dari sekolah kan tadi langsung saya ajak ke sini sehabis saya jemput. Udah, anterin dulu sana Dit..." jawab Pak Diki dengan santainya.
Dita pun memandang sebentar ke arah Gendis. Anak itu hanya diam saja, dengan tatapan mata putihnya yang lurus tapi tak memandang ke arah Dita.
Sebenarnya Dita mengharapkan agar Gendis mendukung pendapatnya untuk menunggu hujan sampai reda saja. Tapi harapannya sia-sia...
Gendis berkata...
"Ayo kita pulaaang..." dengan suara Gendis yang pelan, bercampur dengan suara derasnya hujan.
"Emmm... Tapi Pak..." Dita kembali berucap dengan perasaan ragu.
"Kenapa lagi Dita?" tanya Pak Diki.
"Saya gak bawa jas hujan Pak." jawabnya.
Meskipun memang sebenarnya Dita tak membawa jas hujan di motornya, tapi dia berharap alasan itu akan membuat Pak Diki atau Gendis mengurungkan niatnya untuk pulang di tengah derasnya hujan.
Tapi, lagi-lagi...
Harapan Dita sia-sia...
"Ahhh... Kamu ini... alesan aja... Itu di depan warung ada yang jualan jas hujan. Beli dulu sana." kata Pak Diki.
Dan entah kebetulan atau bagaimana, ternyata memang ada seseorang yang sedang berjualan jas hujan plastik di depan warung makan.
Pak Diki pun memberikan selembar uang 50.000,- kepada Dita...
"Kamu beli aja dua jas hujannya, kembaliannya ambil aja buat kamu." kata Pak Diki.
Dan...
Entah apa yang terjadi dengan Dita...
Dita malah merasa senang mendapatkan uang tip dari bossnya itu, meskipun itu adalah uang kembalian. Akhirnya Dita pun berjalan keluar warung, dan membeli dua buah jas hujan.
Setelah itu, Dita pun segera mematuhi perintah Pak Diki untuk mengantar Gendis pulang.
.....
.....
.....
Roda motor Dita melaju pelan menembus lebatnya hujan, bersama Gendis yang ia bonceng di belakang.
"Gendiiis... Kamu kedinginan gaaak?" tanya Dita sedikit berteriak, supaya terdengar oleh Gendis di tengah derasnya suara hujan.
"Iya Mbaaak..." jawab Gendis.
"Sambil peluk Mbak aja, biar gak terlalu dingin kamuuu..." kata Dita.
"Iya Mbak Ditaaa..."
Dan terasa, Gendis pun memeluk tubuh Dita dari belakang...
Akan tetapi...
Sedikit terasa aneh pelukan Gendis itu...
"Loh? Kok terasa sedikit panas ya?" gumam Dita dalam hati.
Namun ia mengacuhkan semua itu. Tetap ia fokus ke depan, menembus derasnya hujan. Ia juga ingin segera sampai di rumah Gendis, dan ingin segera kembali ke warung makan itu untuk bekerja.
Ketika sudah sampai di teras halaman rumah Gendis, Dita membantu anak itu untuk turun dari motor. Membantu mengeluarkan tongkat lipat milik Gendis dari dalam tas, dan segera memberikannya pada Gendis.
Dita membantu Gendis melepas jas hujannya juga saat sudah di teras rumah...
"Alhamdulillah, baju kamu gak basah Gendis, rok sekolahnya juga gak basah..." ucap Dita.
"Iya Mbak Dita... Terima kasih ya udah anterin aku sampe rumah..." jawab Gendis.
"Iya, sama-sama Gendis..."
Dita melihat Gendis yang berjalan mendekati pintu depan rumahnya. Sedikit merasa khawatir terhadap anak itu.
"Hebat banget ya... Dia berani loh sendirian di rumah pas lagi hujan deras begini..." gumamnya dalam hati.
"Gendis, Mbak pamit dulu ya... Mau balik lagi ke warung." ucap Dita.
Suaranya itu membuat Gendis berhenti di depan pintu rumah...
Tapi Gendis tak menjawab...
Gendis berdiri diam membelakanginya...
"Gendis, Mbak pamit dulu ya..." ucap Dita sekali lagi.
Dan kali ini, Gendis hanya menolehkan sedikit wajahnya, tanpa tubuhnya ikut bergerak...
Dan alangkah kagetnya Dita...
Saat melihat wajah Gendis yang terkena cahaya kilatan petir itu...
Berubah...
.....
.....
.....
"CTAAAARRRR... BLAAAAARRRRR!!!"
Kilatan cahaya petir menyinari wajah Gendis...
Terlihat di pandangan Dita, wajah anak itu berubah pucat pasi, dengan guratan-guratan hitam di pipinya, dan juga matanya yang putih berubah hitam seluruhnya...
"Hah?! Astaghfirulloh!!" ucap Dita terkaget.
Dan...
"CTAAAAARRRR... BLAAAARRRR!!!"
Kilatan cahaya petir kembali menyinari wajah Gendis...
Tapi sudah berubah lagi wajah Gendis seperti sebelumnya...
Dita pun tanpa banyak kata, kembali ke motornya, dan segera beranjak meninggalkan Gendis di depan rumahnya sendirian.
.....
.....
.....
Dengan hati yang heran bercampur rasa tak percaya dengan apa yang tadi ia lihat dari Gendis, Dita memacu motornya lebih kencang di jalan raya yang sangat basah...
Menerjang hujan yang justru turun semakin deras...
Dengan kilatan petir yang beberapa kali menyambar di atas langit...
Dita mencoba memfokuskan pandangannya...
Beberapa kali mengusap wajahnya yang disiram air hujan...
Namun...
Tiba-tiba...
Terjadi dengan sangat cepat...
Ada dua buah tangan yang hitam berkuku panjang menutup ke dua matanya...
"HAAAHHH???!!! AAAAAAHHH!!!"
Seketika Dita membanting motornya ke arah kanan jalan...
Dari arah berlawanan sedang melaju sebuah bus pariwisata...
Dan...
"AAAAAAAAAAAA!!!!!!"
.....
.....
.....
GUBRAAAKKK!!!
.....
.....
.....
CRAAAAKKKKKKHHHHHH!!!!!!
Kepala Dita hancur terlindas ban depan bus pariwisata itu...
😆😆 lanjut kak👍👍👍