NovelToon NovelToon
Isi Anak Kampung Penakluk Jakarta

Isi Anak Kampung Penakluk Jakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Faris Arjuna hanyalah pemuda kampung yang datang ke Jakarta dengan modal nekat, sebuah tas usang, dan mimpi besar untuk mengubah nasib keluarganya.
Diremehkan karena miskin, dihina karena tidak punya koneksi, Faris harus menghadapi kerasnya kehidupan ibu kota. Dari jalanan yang penuh preman, persaingan bisnis yang kejam, hingga konflik dengan orang-orang berkuasa, semuanya menjadi ujian yang harus ia taklukkan.
Namun mereka tidak tahu satu hal. Di balik penampilannya yang sederhana, Faris memiliki keberanian, kecerdasan, dan tekad yang tidak bisa dihancurkan.
Mampukah seorang anak kampung menaklukkan Jakarta dan membuktikan bahwa kesuksesan bukan milik orang kaya saja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Awal yang Terasa Seperti Biasa Saja

Seminggu setelah semua urusan beres dan tak ada lagi berita yang bikin kepala pusing, kantor Surya Abadi mulai berjalan lagi seperti dulu — bahkan lebih rapi dan tenang dari sebelumnya. Pagi itu matahari terbit bersih, cahayanya masuk lewat jendela kaca tanpa terhalang awan atau debu yang menempel tebal. Faris Arjuna datang agak santai, nggak buru-buru seperti orang yang ada tugas berat, cuma melangkah pelan sambil memutar batang rokok di jari sebelum masuk ke ruang kerja Viona.

Begitu duduk di tempatnya, dia menyandarkan punggungnya enak, kaki disilang dengan santai, lalu melirik ke arah meja yang sudah ada tumpukan berkas baru yang ditandai dengan sampul warna biru. Viona datang membawa teh hangat dan meletakkannya di depan Faris Arjuna, wajahnya terlihat tenang tapi ada sedikit kerutan di dahinya yang tak bisa disembunyikan sepenuhnya.

Selamat pagi Faris Arjuna,” sapa Viona pelan sambil duduk di seberang meja. “Ini daftar calon pemasok baru yang dikirim bagian pengadaan kemarin sore. Sudah diseleksi awal, tapi saya minta kamu lihat lagi pelan-pelan. Setelah kejadian sama Rusdi, saya jadi lebih berhati-hati, takut ada yang berlagak baik di depan tapi punya niat lain di belakang.”

Faris Arjuna mengangkat satu lembar berkas itu, melirik sekilas tulisannya, lalu meletakkannya lagi sambil tersenyum miring gaya sengklek khasnya. Dia baru menyalakan rokoknya dengan bunyi cesss pelan, menghirup sebentar lalu menghembuskan asapnya memutar naik ke atas.

Tenang saja Bu Viona, nggak perlu sampai takut berlebihan sampai semua orang dianggap salah dari awal,” jawab Faris Arjuna dengan nada santai tapi jelas. “Lihat saja dulu cara dia berjalan, bukan cuma apa yang dia janjikan. Orang yang jujur nggak perlu ditanya berkali-kali baru menjawab, nggak perlu sembunyi kertas di balik punggung saat bicara, dan tulisannya di kertas selalu sama dengan yang keluar dari mulutnya.”

Dia lalu menunjuk ke salah satu nama di daftar itu, jari telunjuknya menyentuh kertas pelan saja. “Ini namanya Pak Dedi, katanya sudah lama bergerak di bidang yang sama, punya gudang di daerah pinggir sungai. Tadi pagi Faris Arjuna sempat lewat situ lihat-lihat sekadar iseng, bukan mau memata-matai. Pintu gudangnya terbuka lebar, orang bisa lihat langsung tumpukan barangnya, ada papan nama yang jelas, dan catatan keluar masuknya ditempel di dinding depan supaya siapa saja yang lewat bisa lihat sekilas. Kalau ada yang ditanya, penjaganya langsung tunjukkan tempatnya tanpa berputar-putar cari alasan.”

Viona mengangguk perlahan tapi masih bertanya dengan hati-hati: “Terus apa bedanya sama yang dulu? Rusdi juga awalnya kelihatan rapi, punya tempat yang bagus, dan janjinya terdengar meyakinkan kan?”

Faris Arjuna tertawa kecil mendengar pertanyaan itu, lalu melanjutkan bicara dengan gaya yang makin santai tapi nyelekit halus. “Bedanya jelas Bu Viona, cuma butuh mata yang tak terburu-buru melihat. Dulu Rusdi datang selalu bawa amplop tebal, selalu bilang ‘ini rahasia antara kita saja’, dan kalau ditanya soal mutu barang dia selalu jawab ‘tenang saja nanti saya atur supaya lebih untung’. Sedangkan orang yang baru ini, lihat saja penawarannya — angkanya sama persis dengan harga pasar, nggak ada yang terlalu murah sampai bikin curiga, nggak ada yang bilang bisa dapat keuntungan lebih besar tanpa alasan yang masuk akal.”

Dia melanjutkan lagi sambil memutar-mutar batang rokok yang sudah mulai memendek: Faris Arjuna juga sempat ngobrol sebentar sama supir yang biasa antar barang dari sana. Katanya semua muatan ditimbang di depan mata, kertas tanda terima dibuat rangkap tiga, satu untuk dia, satu untuk penerima, satu lagi ditempel di gerbang gudang. Nggak ada yang lewat jalan belakang, nggak ada yang bawa barang malam-malam sambil lampu diredupkan. Kalau sudah begini, kita tinggal lihat saja jalannya, nggak perlu mengawasi sampai setiap detik.”

Tepat saat mereka sedang bicara, ada orang yang mengetuk pintu pelan lalu masuk dengan sikap sopan tapi terbuka. Itu Pak Dedi sendiri, datang tanpa pemberitahuan khusus tapi membawa map berisi contoh barang dan surat keterangan resmi. Dia meletakkannya di meja dengan rapi, lalu bicara dengan nada yang tenang dan langsung ke intinya:

Selamat pagi Nona Viona, Mas Faris Arjuna. Saya datang cuma bawa contoh barang dan keterangan asal-usulnya supaya bisa dilihat dulu. Kalau ada yang kurang jelas atau mau dicek langsung ke gudang, kapan saja boleh datang, pintunya selalu terbuka. Saya nggak janji bisa kasih harga lebih murah dari orang lain, tapi saya jamin apa yang tertulis di kertas itu sama persis dengan yang akan diterima di tempat tujuan.”

Faris Arjuna menatap Pak Dedi sebentar, lalu tersenyum lebar dan mengangguk setuju. “Bagus begini Pak Dedi, bicara apa adanya saja memang paling enak. Nanti kalau sudah ada kesepakatan, kita coba jalankan satu kali dulu lihat hasilnya. Nggak perlu terburu-buru buat perjanjian panjang, biar semuanya berjalan pelan dan terang.”

Setelah Pak Dedi pergi, Viona memandang Faris Arjuna dengan wajah yang makin lega. “Kelihatannya memang beda sekali ya, nggak bikin orang bertanya-tanya terus dalam hati.”

Memang beda Bu Viona,” jawab Faris Arjuna sambil menghembuskan sisa asap rokoknya sebelum mematikan batangnya di dalam asbak. Yang baik itu dari awal sudah terasa ringan dilihat dan didengar. Yang licik itu dari awal sudah terasa berat, banyak kata tambahan buat menutupi yang kurang, dan selalu bikin orang merasa ada yang belum dikatakan. Sekarang kita mulai lagi dari nol, tapi kali ini kita sudah tahu mana yang harus diperhatikan dan mana yang cukup dibiarkan berjalan sendiri.”

Dia menyandarkan punggungnya kembali dengan tenang, melirik keluar jendela ke arah jalan yang makin ramai dengan kendaraan yang lewat teratur. “Cerita lama sudah jadi pelajaran, jangan sampai jadi ketakutan yang berlebihan. Kita cukup pakai mata dan telinga yang jujur, nggak perlu jadi orang yang curiga terus. Biarkan setiap orang menunjukkan jalan mereka sendiri, nanti waktunya akan bicara mana yang bisa dipercaya dan mana yang cuma bisa dilihat sekilas saja.”

1
Samsul Samsi
😍😍😍😍
Watono
teruskan Faris bela yang benar
FARIZARJUNANURHIDAYAT: siap kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!