Hanya karena sebuah kecelakaan, Sophia terjebak dengan Damian -- pria kaya, dingin, arogan, dan sangat posesif.
Damian memaksa Sophia menjadi tunangan palsunya demi kepentingan keluarga. Sebagai gantinya, utang besar Sophia akan dianggap lunas.
Awalnya Sophia pikir itu hanya sandiwara sementara.
Sampai Damian mulai ikut campur dalam hidupnya. Mengatur siapa yang boleh dekat dengannya. Dan perlahan memperlakukannya seperti miliknya sendiri.
“Kalau sudah tahu tidak bisa kabur… berhentilah melawan.”
Di saat Sophia mulai kehilangan kendali atas hidupnya, Arkan -- pria yang selama ini selalu ada untuknya, justru menyimpan rahasia yang menghancurkan semuanya.
Kini Sophia terjebak di antara pria yang terlalu ingin memilikinya… dan pria yang tak pernah benar-benar bisa ia miliki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AlinaKS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TUNANGAN PALSU - Chapter 27
"Nona mau masak apa?"
Sophia yang sedang sibuk di dapur menoleh lalu tersenyum kecil.
Sejak semalam, ia mulai mengenali beberapa orang di rumah besar itu. Meski jumlah pelayan cukup banyak, anehnya mereka seperti hidup di dunia masing-masing. Tidak ada yang mengobrol tanpa perlu. Tidak ada yang bergosip. Bahkan, langkah kaki mereka pun nyaris tidak terdengar.
Seolah setiap orang sudah memiliki wilayahnya sendiri yang tidak boleh dicampuri.
Sebagai pendatang baru, Sophia tentu merasa canggung.
Apalagi sekarang baru pukul lima pagi.
Biasanya pada jam segini ia sudah selesai sarapan, bersiap berangkat kerja, lalu mengutuk kemacetan yang menunggunya di jalan.
Tapi sekarang? Ia resmi menjadi pengangguran.
Karena itulah saat melihat salah satu pelayan muda muncul di dapur, Sophia langsung mengajaknya memasak bersama.
"Ini namanya ayam goreng ketumbar."
Sophia menunjukkan wadah berisi potongan ayam yang sudah dibumbui.
"Aku biasanya buat banyak sekaligus. Nanti disimpan di freezer. Kalau mau makan tinggal digoreng."
Pelayan itu memperhatikan dengan antusias.
"Wah, praktis sekali."
Sophia tersenyum bangga.
"Tentu saja. Ini jurus bertahan hidup kaum pekerja."
Pelayan itu tertawa.
Sementara Sophia mulai memasukkan beberapa wadah ke dalam freezer.
"Nona rajin sekali."
Sophia mengangkat bahu.
"Kalau tidak begitu, aku bisa mati kelaparan sebelum akhir bulan."
Pelayan itu kembali tertawa.
Obrolan mereka mengalir santai hingga Sophia mengetahui sesuatu yang cukup mengejutkan.
Ternyata hampir semua pelayan Damian tidak tinggal di rumah utama, mereka pulang ke mess masing-masing setelah selesai bekerja. Hanya kepala pelayan yang memiliki kamar khusus di rumah itu karena harus selalu siap jika sewaktu-waktu dibutuhkan.
"Memiliki bos seperti Damian, seperti apa rasanya?" tanya Sophia penasaran.
Pelayan itu berpikir beberapa detik, lalu tertawa kecil.
"Gaji kami cukup untuk membungkam mulut kami, Nona."
Sophia langsung menoleh.
"Hah?"
"Kalau Tuan sedang tidak di rumah, pekerjaan kami justru sangat santai."
Sophia semakin penasaran.
"Memangnya gaji kalian berapa?"
Pelayan itu terlihat malu.
"Pelayan biasa sekitar sepuluh juta."
Tangan Sophia yang sedang menutup freezer langsung berhenti.
"Apa?"
Matanya membulat.
"Sepuluh juta?"
Pelayan itu mengangguk polos.
Sophia nyaris tersedak ludah sendiri.
Seumur hidupnya, kenapa ia baru mendengar informasi sepenting ini? Dengan gaji seperti itu, jangankan menutup mulut. Ia bahkan rela menjahit mulutnya sendiri.
Pantas saja tidak ada yang keluar dari rumah ini.
Tiba-tiba Sophia merasa seluruh ketidakadilan hidup sedang menertawakannya.
Kenapa Damian sangat pelit padanya?
Apa pria itu memang menyimpan dendam pribadi?
"Kenapa harus digaji sebesar itu?"
Pelayan itu menjawab tenang.
"Karena kami harus menjaga privasi Tuan."
Sophia mengangguk pelan, lalu rasa ingin tahunya kembali muncul.
"Kalau ada yang membocorkan aib Damian?"
Wajah pelayan itu langsung berubah.
"Nona!" Ia bahkan menoleh ke kanan dan kiri memastikan tidak ada yang mendengar. "Itu tidak pernah terjadi."
"Kenapa?"
"Karena tidak ada yang sanggup menerima konsekuensinya."
Sophia hendak bertanya lagi. Namun, sebelum sempat membuka mulut ....
Seekor kecoa tiba-tiba muncul dari balik lemari dapur, kemudian berlari cepat melintasi lantai.
Sophia membeku.
Matanya membelalak.
"Kecoa ...."
Pelayan itu ikut menoleh.
Belum sempat bereaksi ....
Kecoa itu mengepakkan sayap, kemudian terbang.
Tepat ke arah Sophia.
"AAAAAAAHHHH!"
Jeritan Sophia mengguncang seluruh dapur. Ia langsung melompat mundur, jelas Pelayan muda itu panik mengambil sapu.
"Nona! Tenang!"
"ITU TERBANG!"
"AKU TAHU!"
"KENAPA DIA TERBANG?!"
"AKU JUGA TIDAK TAHU!"
Entah karena takut atau memang berniat membalas dendam pada umat manusia, kecoa itu justru mengejar Sophia.
Sophia berlari mengitari dapur.
Kecoa mengejar.
Sophia berbelok.
Kecoa ikut berbelok.
"JANGAN KE SINI!"
Tentu saja kecoa itu tidak mendengarkan, Sophia berlari keluar dapur tanpa melihat ke depan.
Bruk!
Tubuhnya langsung menabrak seseorang. Dada bidang yang keras membuat dahinya sedikit nyeri. Namun, Sophia bahkan tidak sempat peduli. Ia langsung bersembunyi di belakang punggung orang itu.
"Tangkap dia!" Perintahnya panik.
Damian yang baru datang hanya menatap datar.
Seekor kecoa sedang berjalan santai menuju arah mereka, seolah sedang menikmati olahraga pagi. Sophia menunjuk dengan gemetar.
"Itu! Itu!"
Kecoa itu semakin dekat.
Lalu tanpa rasa bersalah memanjat sepatu Damian.
Damian tetap diam.
Sophia hampir menangis.
"Damian!"
Kecoa itu naik ke celananya.
Damian masih diam.
"Damian!"
Tetap diam.
"APA TELINGAMU SUDAH TULI?!"
Di belakang mereka, pelayan muda itu langsung menutup mulut. Wajahnya pucat. Dalam hidupnya, belum pernah ada orang yang berani meneriaki Damian seperti itu.
Belum pernah.
Sedangkan Damian hanya melirik malas.
"Dia tidak berdosa. Kenapa aku harus membunuhnya?"
Sophia melongo.
"Apa?"
"Makhluk hidup itu sama."
Damian berbicara tenang.
"Aku tidak berhak membunuhnya."
Sophia langsung menyipitkan mata. Ia tahu, Pria ini sedang menyindir kejadian kucing waktu itu. Dasar manusia pendendam.
"Damian sialan."
Pelayan muda itu hampir pingsan.
Sedangkan Damian justru terkekeh pelan, akhirnya ia mengulurkan tangan. Mengambil kecoa yang sedang merayap di lengan Sophia. Dengan santai ia menurunkannya ke lantai.
Sophia mengembuskan napas lega.
Sampai ....
Krak.
Damian menginjak kecoa itu sampai mati.
Sophia terdiam.
Pelayan muda terdiam.
Damian menatap bangkai kecoa itu beberapa detik, lalu berkata tanpa dosa, "Tapi untuk yang satu ini, aku berubah pikiran."
Sophia: "..."
Pria ini memang gila.
Saat Sophia masih berusaha memproses logika barusan, langkah kaki tergesa terdengar dari belakang.
Jack muncul dengan wajah serius.
"Tuan."
Damian menoleh.
"Ada yang ingin bertemu."
Kening Damian langsung berkerut.
"Jam lima pagi?"
Jack mengangguk.
"Tamu penting."
Ekspresi santai Damian perlahan menghilang.
Sedangkan Sophia mendadak memiliki firasat buruk.
Sangat buruk.
_____
Ruangan itu dipenuhi keheningan yang terasa menyesakkan.
Arkan berdiri di dekat pintu, sementara Sintia duduk di sofa dengan kepala tertunduk. Sejak pertengkaran mereka di makam Julian beberapa jam lalu, tidak ada lagi percakapan di antara mereka.
Tidak satu kata pun.
Awalnya Arkan ingin mengusir wanita itu saat itu juga. Namun, ketika melihat jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari, akal sehatnya masih bekerja.
Ia mungkin marah.
Sangat marah.
Tetapi ia bukan orang gila yang tega mengusir wanita hamil ke jalanan di tengah malam. Lagipula, di mata hukum maupun orang lain, Sintia masih berstatus istrinya.
Jika sesuatu terjadi pada wanita itu setelah keluar dari rumahnya, orang pertama yang akan dicurigai tentu dirinya.
Meski begitu, Arkan tetap tidak berniat menunda semuanya.
Begitu jam menunjukkan pukul empat pagi, ia langsung membawa Sintia keluar. Ia ingin mendapatkan jawaban.
Hari ini juga.
Tidak peduli apa pun yang harus ia dengar.
Beberapa saat setelah kedatangan mereka, Jack yang sempat menghilang akhirnya kembali. Kali ini tidak sendirian. Damian berjalan masuk dengan langkah tenang.
Seolah kedatangan tamu subuh-subuh bukan sesuatu yang aneh baginya.
Tatapannya sempat jatuh pada Sintia.
Sudut bibirnya terangkat tipis.
Namun, sesaat kemudian perhatiannya beralih kepada Arkan.
Damian duduk santai di kursi tunggal yang berada di seberang mereka.
Ia mengeluarkan sebungkus rokok dari sakunya.
Menyulutnya.
Lalu menyandarkan tubuh dengan nyaman.
"Kudengar cutimu masih tersisa satu hari lagi." Asap tipis keluar dari bibirnya. "Kenapa tidak dipakai untuk berlibur?"
Tatapannya bergeser ke arah Sintia.
"Malah membawa istrimu ke sini pagi-pagi sekali."
Arkan mengabaikan nada santai itu.
Rahangnya mengeras.
"Ada sesuatu yang ingin kutanyakan."
Damian mengangguk kecil.
Seolah sudah menduga alasan kedatangan mereka.
"Kalau begitu tanyakan."
Ruangan kembali sunyi.
Arkan menatap Damian beberapa saat.
Mencari sesuatu di wajah lelaki itu.
Petunjuk.
Kebohongan.
Atau mungkin penyesalan.
Namun, seperti biasa, ia tidak menemukan apa pun. Wajah Damian terlalu tenang, terlalu sulit dibaca. Arkan akhirnya membuka suara.
"Sintia menyuruhku bertanya padamu."
Damian mengangkat sebelah alis.
"Tentang?"
Arkan mengepalkan tangannya.
"Tentang kematian Kakakku."
Untuk pertama kalinya sejak duduk, sorot mata Damian berubah sedikit lebih tajam.
Arkan melanjutkan.
"Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi setelah Julian meninggal."
B e r s am b u n g .....
Jangan lupa tinggalkan jejak, yah. Makasih (◍•ᴗ•◍)❤