Zara — gadis sederhana, polos, dan hidup dalam keterbatasan, namun tetap memancarkan keanggunan yang tak dimiliki siapa pun. Dipermainkan takdir, ia dipersatukan dengan Adrian Romanov, pria dingin, berkuasa, dan menjadi sumber segala penderitaannya. Dituduh, disakiti, dan dikucilkan, Zara harus menelan semua kepahitan sendirian. Namun ketika sebutir nyawa tumbuh di dalam rahimnya, semangatnya bangkit kembali. Demi bayi yang dikandungnya, ia berjanji akan bertahan, melewati badai, dan membuktikan bahwa ketabahan akan mengalahkan segala kepalsuan. Akankah takdir berubah, atau justru luka yang semakin dalam menantinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Yang Penuh Kesibukan,Malam Yang Membawa Rasa
Setelah mandi dan membersihkan diri, aku mengenakan pakaian berwarna coklat susu yang lembut dan jatuh indah di tubuh — bahannya halus, terasa ringan dan tak menyusahkan bergerak kemana saja. Aku menyisir rambut lurusku rapi, lalu menyelipkan perhiasan kecil yang sederhana tapi membuat penampilan terlihat lebih anggun.
Tak lupa aku mengambil tas berisi buku-buku, juga membungkus rapi kotak bekal berisi makanan yang sudah disiapkan pagi tadi — nanti bisa dimakan Ibu dan adikku di rumah. Langkahku ringan berangkat, pertama menuju tempat bimbel bahasa Inggris dan komputer, duduk fokus sampai pelajaran usai.
Setelah itu aku mampir sebentar ke rumah sakit , menitipkan bekal itu, lalu berjalan lagi ke perpustakaan kota untuk membaca dan meminjam buku tambahan. Dari sana aku langsung melanjutkan perjalanan ke rumah sakit, menjenguk Ayah sebentar, menanyakan kabarnya sambil mengambil kembali kotak bekas makanan yang sudah kosong.
Perjalanan pulang terasa panjang, baru sampai di depan gerbang rumah tepat jam tujuh malam, langit sudah mulai gelap diterangi lampu jalan.
Begitu masuk kamar, aku meletakkan tas dan kotak itu pelan di meja, lalu menjatuhkan diri duduk di tepi tempat tidur sambil mengusap bahu yang terasa sedikit pegal. Baru saat itu terlintas di pikiran: “Seharian ini sibuk sekali sampai lupa… pagi tadi berangkat terlalu terburu-buru, sampai sekarang pun belum sempat melihat atau bertemu Fara. Entah dia ada di mana ya?”
Namun rasa lelah sudah menyelimuti seluruh tubuh, matanya terasa berat tak tertahankan. Akhirnya aku hanya menghela napas pendek, memutuskan untuk tak memikirkannya dulu, lalu merebahkan diri dan tak lama kemudian sudah terlelap pulas.
Di dalam kamarnya, Fara duduk tenang di depan meja rias, jemarinya sesekali menyentuh lembut pipi dan sudut bibirnya. Setelah selesai merias wajah — tak berlebihan, hanya cukup membuat kulit tampak bersinar dan mata terlihat makin hidup — ia berdiri perlahan.
Begitu memutar badan, terlihat jelas gaun yang ia kenakan: berwarna krem pucat lembut, bahu terbuka miring dengan lipatan kain yang jatuh rapi mengikuti lekuk tubuh, dihiasi butiran halus yang berkilau samar saat terkena cahaya. Kainnya tipis dan mengalir ringan, melangkah saja terasa seperti melayang. Ia memutar badan sebentar, senyum bahagia merekah lebar di wajahnya, jantungnya berdebar tak sabar membayangkan malam ini.
Dengan gerakan anggun, ia mulai menuruni tangga satu per satu, ujung gaunnya sedikit terangkat agar tak tersandung. Begitu tiba di pintu depan, terdengar suara mesin mobil mewah masuk ke halaman — itu mobil Adrian. Di balik kaca jendela yang sedikit turun, terlihat sosok Adrian yang sudah duduk di dalamnya. Sebenarnya dia baru saja menyelesaikan urusan penting yang tertunda, tapi langsung kembali tepat waktu demi memenuhi pesan Nyonya Elina untuk menjemput Fara.
Begitu Fara masuk dan duduk di dalam mobil, pandangannya langsung jatuh pada sosok Adrian yang duduk tenang — dingin dan datar persis seperti biasa, tak ada sedikit pun perubahan di wajahnya.
Jantung Fara langsung berdegup lebih kencang tanpa sadar. Dia menggigit pelan ujung bibir bawahnya, menahan senyum yang ingin mekar lebar agar tak terlihat terlalu berlebihan. Tangan kecilnya mengepal lembut di atas pangkuan, berusaha menenangkan diri sambil sesekali melirik diam-diam — memandang wajah itu, rahangnya yang tegas, sampai sorot matanya yang dalam, dengan tatapan penuh kekaguman yang dia sembunyikan rapat-rapat.
Begitu mobil berhenti di tempat tujuan dan pintu terbuka, Adrian turun lebih dulu, lalu berdiri tegak menunggu. Saat Fara melangkah keluar, dia diam-diam menjulurkan lengannya, memberi isyarat pelan agar Fara dapat bergandengan bersamanya.
Mata Fara langsung berbinar terang, seolah tak percaya melihatnya. Jantungnya berdegup kencang lagi, menatap tepat ke dalam tatapan mata Adrian yang dalam itu — rasanya seolah seluruh dunianya melambat, hatinya makin tenggelam dalam rasa kagum yang membara. Dari luar, keduanya terlihat begitu serasi, anggun, seolah memang diciptakan untuk berdampingan seperti pasangan yang tak terpisahkan.
Dengan gerakan lembut dan sedikit ragu karena senang, Fara perlahan melingkarkan tangannya memegang lengan Adrian, merasakan kehangatan dan kekuatan yang membuatnya merasa aman sekaligus bangga.
Di dalam kamar, aku perlahan terbangun dari tidur, matanya masih terasa berat dan kabur. Aku mengucek-ucek pelan dengan punggung tangan, lalu meraih ponsel di samping tempat tidur — layarnya menyala, terlihat sudah pukul setengah sebelas malam. Aku menghela napas pendek, lalu mengganti pakaian dengan baju tidur yang lembut.
Setelah itu melangkah turun tangga perlahan, kaki masih terasa sedikit lemas. Aku duduk di ambang pintu utama, bersandar sedikit pada tiang pintu, wajah terlihat jelas bosan sekaligus gelisah. Sesekali aku bangkit berdiri, melangkah mondar-mandir pendek di depan teras, lalu kembali duduk lagi, matanya tak lepas memandang ke arah jalan. Rasa khawatir itu terlihat jelas di raut wajahku — persis seperti anak kecil yang menunggu ibunya pulang, tak tenang sampai melihat sosok yang ditunggu akhirnya tiba.
Fara baru saja melangkah turun dari mobil, tapi Adrian tidak ikut turun. Pria itu hanya mengangguk sekilas, lalu langsung meminta pengemudi melaju kembali — tumpukan urusan mendesak menunggunya, tak sempat berhenti lebih lama.
Fara menatap mobil itu sampai lenyap di tikungan, tapi senyum di wajahnya tak luntur sedikit pun. Hatinya masih terasa hangat dan berbunga-bunga, seperti bunga yang baru mekar sempurna setelah mendapat sinar matahari.
Saat ia berbalik menuju pintu, matanya langsung menangkap sosok Zara yang duduk di sana. Di bawah cahaya lampu teras, mata gadis itu terlihat berbinar lembut memandangnya, tersenyum tulus tanpa beban. Dalam hati Fara bergumam pelan: “Rasanya… benar-benar seperti punya adik sendiri yang menunggu kepulanganku.”
Ia segera menghampiri, lalu tanpa ragu mencubit pipi kiri Zara dengan lembut tapi gemas. “Hei, kenapa belum tidur? Besok harus sekolah, lho. Istirahatlah, nanti malah bangun kesiangan dan lemas seharian.”
Zara langsung mengerutkan hidung kecilnya, memalingkan wajah sedikit sambil membusungkan bibirnya manja: “Kak Fara ngomong apa sih… Kau kira aku masih anak kecil? Aku ini sudah dewasa, lho!”
Melihat tingkahnya itu, Fara langsung tertawa lepas, bahunya bergoyang pelan — sungguh, meski sudah dikatakan dewasa, ekspresi merajuknya itu tetap terlihat persis seperti anak kecil yang sedang marah halus, tak bisa membuat orang lain kesal sedikit pun.
Setelah tertawa puas, Fara mengangkat tangannya lalu mengelus kepala Zara perlahan, sangat lembut seolah menyentuh sesuatu yang halus: “Lihat kan, kau ini memang tetap saja seperti anak kecil. Sudah ayo, masuk ke dalam.”
Ia melangkah santai melewati Zara menuju ruangan dalam. Sementara itu, Zara yang merasa tak terima dengan kata-kata itu semakin membusungkan pipinya, tangannya sedikit melambai-lambai kecil tanda protes. Ia segera berjalan mengikuti langkah Fara dari belakang, mulutnya tak berhenti bergumam pelan mengomel:
“Kak Fara ini jahat… selalu saja bilang aku masih anak kecil. Padahal badanku sudah tumbuh, bisa mengerjakan semuanya sendiri lho! Kenapa tak mau percaya kalau aku sudah dewasa?”
Suaranya terdengar manja, bukan benar-benar marah — hanya ingin membuktikan dirinya sendiri, tapi justru membuat sikapnya terlihat makin menggemaskan.