NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Pelayan Cantik

Terjerat Cinta Pelayan Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO / Cintapertama
Popularitas:12.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mutia Ratnasari Husein

Alya—gadis 20 tahun, terpaksa bekerja menggantikan ibunya yang sakit keras. Ia menjadi seorang pelayan di sebuah mansion mewah milik seorang pria kaya yang terkenal dingin dan arogan.

Suatu hari keduanya bertemu.

Maxime, pemilik rumah tersebut jatuh cinta pada gadis itu dan memintanya untuk menikah dengannya.

Namun, Alya menolak, karena merasa dipermainkan oleh pria itu.

Pria itu tidak menyerah, ia melakukan segala cara untuk mendapatkan hatinya.

Apakah pria itu akan berhasil?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab tiga puluh satu.

"Saya tidak mencuri barang-barang itu." sanggah Alya, membela diri.

Ruang dapur kembali ricuh dan tegang.

Sebagian tampak membela Alya dan tidak percaya bahwa gadis itu adalah seorang pencuri. Sebagian lagi percaya dan ikut menuduh gadis itu. Sisanya hanya menjadi pendengar, merasa bahwa masalah itu tidak ada hubungannya dengan mereka.

"Alya tidak mungkin mencuri. Itu pasti hanya akal-akalan mu saja, kan!" seru Desi tajam, tidak terima.

"Iya. Kau pasti sengaja ingin menjebak Alya, kan? Kau kan tidak pernah suka pada Alya." Mira ikut menimpali.

"Kalian semua temannya. Jelas saja membelanya. Atau... jangan-jangan kalian juga ikut terlibat, ya?" tuduh Sinta pada kedua gadis itu.

"Jangan sembarangan menuduh ya!" tegur Desi kesal sambil menunjukkan ke arah Sinta. "Apa kau punya bukti?"

Ucapan itu membuat suasana menjadi panas.

Namun, sebelum Sinta mulai menjawab, Lani lebih dulu menyela dengan nada tajam dan menusuk.

"Kau juga sedang kesulitan, kan?" ucapnya dingin. "Bisa saja kau mengambil barang-barang dirumah ini untuk dijual. Lalu uangnya kau gunakan untuk membayar hutang judi ayahmu yang menumpuk itu."

Plak!

Sebuah tamparan kembali melayang ke pipi Lani dengan keras.

Desi benar-benar tidak terima dengan tuduhan yang ia lontarkan padanya. Ia memang sedang membutuhkan uang, tapi ia bukan pencuri. Ia lebih baik mengemis, daripada harus menggadaikan harga dirinya.

Desi tampak mengepalkan tangannya. "Kau keterlaluan, Lani! Kau tidak punya hak untuk mengungkit hal pribadi seperti itu."

Namun, Lani hanya tersenyum miring, seolah tidak peduli. "Kalau tidak bersalah, kenapa tersinggung."

"Kau..."

"Hentikan!!" suara bariton Pak Dul, sang kepala pelayan, menggema di seluruh ruangan, memotong cepat perkataan Desi. Tatapannya terlihat tajam, penuh kemarahan.

Ruangan itu kembali sunyi dan tenang. Tidak ada lagi yang berani bicara.

Namun, ketenangan belum sepenuhnya reda.

Tatapan Pak Dul menyapu satu per satu wajah yang ada di hadapannya.

"Ini bukan tempat untuk saling menyerang!" ucapnya tegas. "Kalian semua sudah melewati batas."

Desi memunduk, rahangnya masih mengeras. Ia merasa malu pada semua orang. Lani membicarakan aibnya sembarangan, air matanya nyaris jatuh.

Sementara Lani, tetap berdiri dengan ekspresi datar, meski jemarinya tampak mengepal.

Pak Dul melangkah maju, berhenti tepat ditengah-tengah mereka.

"Kita akan menyelesaikan masalah ini dengan kepala dingin." lanjutnya dingin. "Bukan dengan emosi, apalagi membuka aib orang lain."

Ia menghela napas sejenak. "Yang tidak ada hubungannya dengan masalah ini, bisa kembali bekerja."

Beberapa pelayan saling melempar pandangan. Ada yang ragu, ada pula yang langsung menunduk patuh. Perlahan, sebagian dari mereka mulai meninggalkan ruangan, meski langkah mereka terasa berat, penasaran dengan pelaku sebenarnya.

Namun, suara langkah kaki yang terdengar dari arah pintu, menghentikan langkah semua orang yang hendak meninggalkan ruangan tersebut.

Seorang pria tinggi, dengan kaos lengan pendeknya, memasuki ruangan.

Pak Dul dan pelayan lainnya, langsung menunduk hormat. "Tuan."

Ini pertama kalinya sang tuan muda menginjakkan kakinya di dapur.

Semua orang langsung terdiam, tidak ada yang berani bicara.

Langkah kaki Maxime yang tegas, berhenti di tengah ruangan, tepat di hadapan Alya.

"Aku menunggumu sedari tadi di ruang kerja, tapi ternyata kau malah berdiri di sini." ucap Maxime menatap Alya, sama sekali tidak memperdulikan orang-orang di sekitarnya.

"Saya..."

"Ia baru saja ketahuan mencuri, Tuan. Kami sedang mengintrogasinya di sini." Lani dengan cepat memotong perkataan Alya.

Maxime seketika mendengus kasar. Ia paling tidak suka dengan orang yang suka menyela perkataan orang lain. Apalagi di saat ia sedang berbicara dengan orang tersebut.

"Pak Dul." panggilnya dingin pada pria paruh baya itu.

"Iya, Tuan." jawab Pak Dul patuh.

Maxime mengalihkan pandangan ke arahnya. "Apa kau tidak bisa lagi mendisiplinkan para pelayan di rumah ini?" tanyanya dengan nada tajam, memberi teguran keras padanya.

"Mendisiplinkan pelayan adalah salah satu tugasmu sebagai kepala pelayan. Jika hal itu saja tidak bisa kau kerjakan, maka..."

Ia berhenti sejenak. Tatapannya mengeras, menyapu seluruh ruangan, sebelum kembali menatap Pak Dul.

"... apa aku masih bisa mempercayakan rumah ini padamu?"

Kalimat itu membuat Pak Dul seketika menelan ludah. Wajahnya yang biasanya tegas, kini terlihat membeku, namun ia segera menunduk hormat.

"Maaf, Tuan. Saya tidak akan membiarkan hal ini terjadi lagi." jawabnya cepat, suaranya tetap terdengar tenang.

Maxime tidak langsung menanggapi perkataannya. Tatapannya kembali pada Alya. Gadis itu masih tertunduk kaku di hadapannya.

"Sekarang jelaskan padaku, apa yang terjadi sebenarnya?" tanyanya pelan, namun tetap tegas.

Pak Dul menjelaskan semua padanya. Di mulai dari tuduhan Lani, sampai cangkir yang ditemukan di loker Alya.

Maxime tampak tenang mendengarkan semua penjelasan dari Pak Dul.

"Hanya menyelesaikan masalah itu saja, kau membutuhkan waktu yang lama." ucap Maxime pada kepala pelayannya.

Pak Dul kembali menunduk hormat. "Maaf, Tuan."

"Ambilkan tablet-ku, Pak Dul. Kita lihat rekaman CCTV."

Perintah itu keluar dari mulut Maxime dengan tenang, tetapi langsung membuat seluruh ruangan kembali berguncang dalam ketegangan yang berbeda.

Pak Dul tampak sedikit terkejut, namun ia tidak berani membantah. “Baik, Tuan,” jawabnya cepat. Ia segera berbalik dan melangkah keluar ruangan dengan tergesa-gesa.

Beberapa pelayan tampak saling menoleh.

CCTV?

Bukankah selama ini mereka yakin rumah ini tidak memilikinya?

Lani yang semula tampak tenang dan merasa menang, seketika merasa panik. Wajahnya berubah pucat. Tubuhnya kembali gemetar.

Bagaimana bisa ada CCTV di rumah ini? Aku sudah memastikannya dengan benar dan memastikan bahwa tidak ada satu pun CCTV yang terpasang. Bahkan Bi Sari juga tidak mengetahui hal itu. Habislah aku!!

Batin Lani tak berhenti bergejolak. Pikirannya seketika menjadi kacau. Ia akan tertangkap dan tidak bisa mengelak lagi.

Semua orang tampak tegang, menunggu dengan perasaan campur aduk.

Tak lama kemudian, Pak Dul kembali membawa tablet di tangannya. Ia segera menyerahkan pada Maxime.

Ia memeriksa rekaman di ruang dapur selama beberapa hari terakhir.

Butuh beberapa saat untuk memeriksanya.

Lani mulai terlihat tegang dan semakin pucat. Keringat dingin tak henti mengalir dari pelipisnya.

Sementara Alya, tampak tenang. Ia memang tidak bersalah, jadi apa yang perlu ditakutkan .

Maxime lalu tersenyum sinis. Tatapannya dan Pak Dul mengarah ke satu orang.

Ia membalikkan layar tablet itu, dan tatapan semua orang seketika terpaku pada layar.

"Sekarang kita lihat, siapa yang sebenarnya berbohong di rumah ini." ucapnya dingin.

Wajah Lani jelas tertangkap oleh layar. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali di waktu yang hampir bersamaan.

Alya yang semula ikut tegang, perlahan mulai bernapas lega. Begitupun juga Desi dan Mira.

Tapi tidak dengan Bi Sari. Tatapannya dipenuhi oleh kemarahan dan kekecewaan yang mendalam.

Ia mendekat ke arah Lani dan melayangkan sebuah tamparan padanya.

Matanya terlihat berkaca-kaca, menahan amarah.

"Sekarang, minta maaflah pada Alya!" perintahnya tegas, suaranya terdengar bergetar menahan marah. "Tega sekali kau memfitnah Alya. Jelas-jelas kau yang bersalah. Bibi benar-benar malu melihat kelakuanmu ini."

Plak!

Ia kembali menamparnya untuk kesekian kalinya.

🌺🌺🌺

1
Rain Aricia
Ya udah lah gapapa, sekarang pikirin dirimu dulu mau ga jadi model itu
Rain Aricia
Dia kan tau diri Max
Rain Aricia
Kalau gitu suruh lah dia log out dari club malam itu, Max
🔵 MULIANA💦
bisa-bisanya kepikiran nyolong peralatan rumah tangga /Facepalm/
-Thiea-: soalnya barangnya bermerek semua.. dikira yang punya rumah kagak bakalan tahu..😁
total 1 replies
🔵 MULIANA💦
kayaknya itu ungkapan hatinya deh 🤭
🔵 MULIANA💦
lah, masih sempat-sempatnya /Facepalm/
🔵 MULIANA💦
bayarannya, tanpa bunga kan max 🤭
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
ih meni eweh gawe sia ih 🫣😆/Chuckle/
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
lumayan terharu.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
untungnya si Al masih punya nurani ke baikan tersisa yah, klw nggak udh aku tendang tuh.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
adeuh 🤦 meuni sok asa 😤 Jol seak gampangnya menyebut dirinya ayah. akibat obses yg tak jelasnya itu.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
kayaknya klw ada di hadapan kehidupan ku, aing tak Sudi mendengar ucapan itu, lihatny🫤a pun aing tak Sudi 😒🙄☹️
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
masa sih, masa iya 😒🙄
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
andai di sini bisa kirim stiker kaya di wa nanti aing bakal kirim Poto stiker aku yg natap mode kaya 😒. untuk ucapan seperti itu sebel rasanya.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
harusnya Lo om cari info yg lebih dalam lagi, jadi jangan seolah menyalahkan emaknya si Al, karena pasti ada satu hal yg membuatnya pergi dari kau paham tuan.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
dari sudut bicara anda ini kayak menganggap hal sepele, kayak menggampangkan aja gitu 🤦 terserah lu lah om.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
om kau emang tua keladi yang rese, gw klw jadi emaknya si Al sama kayaknya karena nggak mudah. soalnya kau tiba² muncul terus bikin suasana kacau di kondisi kagak Bae rese Lo ya om.
Three Flowers
saking cantiknya si Alya, Maxime yang lagi bete sampai terlena
Three Flowers
jadi dia memilih tidak hadir ya
Cimol krispy
Alya tenang, gantian nax yang degdegan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!