NovelToon NovelToon
Di Bawah Sepatu, Di Atas Tahta

Di Bawah Sepatu, Di Atas Tahta

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Anak Genius / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: arrasy

Di balik sapu yang digenggamnya, Bagas menyimpan kecerdasan yang tak pernah disadari siapa pun. Ia pun diam-diam memendam rasa pada Naya, wanita yang dunianya terasa sejauh langit dan bumi darinya. Dihimpit kemiskinan dan biaya pengobatan ibu yang mahal, ia bertekad mengubah setiap informasi yang didengarnya menjadi jalan keluar. Cintanya yang tulus perlahan meluluhkan hati Naya, meski harus berhadapan dengan penghinaan, saingan licik, dan larangan tegas orang tua. Saat segalanya tampak mustahil dan terhalang tembok kasta tinggi, Bagas pergi membangun kerajaan bisnisnya sendiri dari nol. Ia kembali bukan lagi sebagai OB yang diremehkan, melainkan pengusaha sukses yang membuat semua orang terdiam kagum. Bukti nyata bahwa kesabaran dan ketajaman akal mampu mengangkat derajat setinggi langit. Akhirnya, ia bersanding dengan pujaan hati, hidup bahagia, dan membuktikan bahwa nasib buruk bisa diubah menjadi kemewahan yang abadi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Benih Usaha dan Fitnah Awal

Berbulan-bulan berlalu. Keringat dan lelah yang Bagas curahkan setiap hari perlahan membuahkan hasil. Di bengkel maupun di toko suku cadang, ia sudah dianggap sebagai tenaga yang paling berharga, meski di balik punggungnya masih selalu ada bisik-bisik dengki dan tangan-tangan yang berusaha menjegal. Namun, bagi Bagas, pekerjaan itu hanyalah sarana bertahan hidup, bukan tujuan akhir. Matanya yang tajam dan otaknya yang cerdas terus mengamati setiap gerak-gerik pasar, setiap alur barang, dan setiap celah yang mungkin terlewatkan orang lain.

Suatu sore, saat sedang mengurus catatan barang masuk dan keluar di toko tempatnya bekerja, Bagas menyadari sesuatu. Ia melihat ada ketimpangan yang sangat mencolok. Barang-barang suku cadang dari kota asalnya bisa didapatkan dengan harga jauh lebih murah, namun di sini harganya melambung tinggi karena rantai pengiriman yang panjang dan dipegang ketat oleh segelintir pengusaha lama. Di sisi lain, banyak bengkel kecil dan pedagang eceran di daerah sekitar kesulitan mendapatkan pasokan tepat waktu dan dengan harga terjangkau. Mereka terpaksa membeli dari pengecer dengan harga berlipat ganda, sehingga keuntungan mereka sangat tipis.

"Ini celah besar," batin Bagas berbinar.

"Kalau aku bisa memutus mata rantai itu, membeli langsung dari sumber, mendistribusikannya sendiri ke pembeli kecil pasti harganya bisa jauh lebih murah dan ketersediaan barang terjamin. Ini peluang emas."

Malam itu juga, di samping tempat tidur ibunya yang mulai sering terbangun karena sesak napas, Bagas membuka pembukuan kecilnya. Ia menghitung setiap rupiah yang berhasil ditabungnya dari hasil bekerja ganda. Jumlahnya sangat kecil, nyaris tidak ada artinya di mata pengusaha besar, tapi bagi Bagas, itu adalah modal harapan. Ia ragu, takut mengambil risiko, takut gagal, dan takut tidak bisa menutupi kebutuhan hidup jika ia berhenti bekerja sebagai buruh.

Namun, Ibu yang sejak tadi mengamati kecemasan di wajah anaknya, menyentuh tangan kasar itu dengan lembut.

"Nak..." suara Ibu terdengar lirih namun tegas, "Ibu tahu ada sesuatu yang sedang kau perjuangkan. Kau ingin berusaha lebih, bukan? Jangan ragu. Rezeki itu sudah diatur Tuhan. Kalau niatmu baik, untuk menafkahi Ibu dengan halal, dan untuk masa depanmu... pergilah. Gunakan apa yang ada. Ibu restu."

Air mata Bagas hampir tumpah mendengar itu. Dukungan ibunya adalah kekuatan terbesarnya. Dengan keberanian yang tumbuh dari keyakinan dan restu itu, Bagas memutuskan melangkah. Ia mengundurkan diri dari pekerjaan tetapnya, mengambil seluruh tabungannya, dan memulai langkah baru sebagai perantara barang.

Awalnya berjalan mulus. Karena ia bekerja dengan jujur, mengutamakan kualitas, dan melayani dengan hati, para pembeli kecil mulai menyukainya. Mereka mendapatkan barang lebih murah dan Bagas pun mendapat keuntungan wajar. Namanya mulai dikenal perlahan sebagai pendatang baru yang cerdas dan dapat diandalkan.

Namun, kesuksesan kecil itulah yang justru memicu badai.

Para pengusaha lama di kota itu yang sudah puluhan tahun menguasai pasar dan menentukan harga sesuka hati, merasa sangat terancam. Bagi mereka, Bagas bukan sekadar pendatang, tapi duri dalam daging. Ia merusak tatanan yang sudah mereka bangun untuk meraup keuntungan besar. Mereka tidak bisa menerima ada orang baru, apalagi orang miskin dan pendatang, yang ikut bermain di "kekuasaan" mereka.

Maka, mulailah serangan kotor itu. Mereka tidak melawan Bagas di pasar dengan persaingan sehat, melainkan menggunakan senjata paling kejam dalam dunia usaha, fitnah.

Berita buruk mulai berhembus kencang ke seluruh penjuru kota. Dikabarkan bahwa Bagas adalah seorang penipu ulung yang baru lari dari hukum di Jakarta. Dituduh bahwa barang-barang yang ia jual adalah barang curian atau barang palsu yang tidak layak pakai. Bahkan, tersebar kabar bahwa uang modal yang ia gunakan bukanlah hasil keringat, melainkan hasil merampok atau korupsi di tempat kerjanya yang dulu.

"Jangan mau bekerja sama dengan anak itu!" bisik para pengusaha besar itu kepada para pemasok. "Dia pendatang nakal. Sekarang dia minta barang utang, nanti pas uangnya ada dia kabur. Kami sudah punya data buruk tentang dia. Jangan sampai kalian rugi."

Berita itu menyebar liar, lebih cepat daripada kebaikan yang pernah Bagas buat. Dampaknya terasa sangat nyata. Para pemasok yang dulu bersedia bekerja sama, tiba-tiba menolak. Ada yang meminta uang tunai di muka dengan jumlah yang tak mungkin dipenuhi Bagas, ada yang langsung menutup pintu, dan ada pula yang menatap Bagas dengan pandangan jijik seolah ia adalah sampah masyarakat.

Usaha yang baru tumbuh setinggi jengkal itu hampir saja tumbang. Bagas terjebak. Ia tidak punya modal tunai besar, dan orang-orang menolak memberi kepercayaan. Ia berjalan dari satu gudang ke gudang lain, berbicara, menjelaskan, bersumpah demi Tuhan bahwa ia jujur, tapi kata-katanya seolah tak ada harganya dibandingkan fitnah para pengusaha kaya itu.

Di tengah tekanan yang membelit, musibah lain datang menghantam. Kesehatan Ibu Bagas yang sudah rapuh, kini benar-benar ambruk.

Selama ini, demi menghemat uang untuk modal usaha dan obat-obatan, Ibu sering menahan diri. Ia sering tidak makan cukup, hanya menyisakan sedikit makanan untuk Bagas. Ia pun memaksakan diri mengurus rumah, mencuci baju, dan memasak meski tubuhnya sering gemetar lemas. Akibat kekurangan gizi yang parah dan kelelahan yang menumpuk, ditambah kekhawatiran melihat anaknya yang terus-menerus disusahkan orang, Ibu akhirnya jatuh sakit keras.

Suatu malam, saat Bagas pulang dengan hati gundah karena ditolak lagi oleh pemasok, ia mendapati ibunya tergeletak lemas di lantai dapur yang sempit. Suhu tubuhnya panas luar biasa, napasnya tersengal-sengal berat, dan ia sudah tidak sadarkan diri.

"BU! IBU!" teriak Bagas histeris, langsung menggendong tubuh ringkih itu ke pelukannya.

Malam itu, Bagas berlari memanggil tetangga, membawa ibunya ke puskesmas terdekat dengan berjalan kaki karena tak punya ongkos kendaraan. Di ruang perawatan sederhana itu, Bagas duduk mematung di samping ranjang ibunya. Ia menatap wajah pucat wanita yang melahirkannya itu dengan air mata yang akhirnya tumpah ruah. Ia tidak sanggup lagi menahannya. Rasa lelah, rasa sakit hati karena difitnah, rasa marah pada ketidakadilan, dan rasa bersalah yang luar biasa bercampur menjadi satu.

"Salahku... semua salahku," isak Bagas dalam hati, memegang tangan ibunya yang kurus kering.

"Karena aku, Ibu jadi begini. Karena aku nekat berusaha, karena aku mau membuktikan diri, Ibu jadi kekurangan makan, jadi sakit, jadi menderita. Untuk apa aku berjuang kalau orang-orang terus menghalangi? Untuk apa aku kaya kalau orang yang aku sayangi malah sakit-sakitan begini? Rasanya aku ingin menyerah saja."

Namun, saat air matanya membasahi punggung tangan ibunya, Ibu perlahan membuka mata. Meski lemas, ia tersenyum samar saat melihat anaknya menangis.

"Jangan menangis, Nak..." bisik Ibu parau.

"Ibu... Ibu cuma lelah sedikit. Tidak apa-apa. Jangan dengar omongan orang. Kejujuran tidak akan kalah oleh fitnah, Bagas. Kau anak baik. Tuhan tahu. Teruslah... buktikan."

Kata-kata itu menampar kesedihan Bagas. Ia mengusap kasar air matanya, mengeratkan gigi, dan menatap ibunya dengan tekad yang kembali menyala, kali ini berkali-kali lipat lebih kuat.

Ia sadar, menyerah bukanlah pilihan. Ia tidak boleh membiarkan fitnah jahat itu menang. Ia tidak boleh membiarkan pengusaha-pengusaha tamak itu menguasai segalanya dengan cara kotor. Dan yang paling penting, ia harus sembuhkan ibunya, ia harus berikan kehidupan layak bagi wanita itu, apa pun yang terjadi.

Keesokan harinya, meski uangnya tinggal sedikit dan tubuhnya sendiri terasa mau runtuh, Bagas kembali bergerak. Tapi kali ini, caranya berbeda. Ia tidak lagi hanya mengandalkan kata-kata. Ia mulai mendatangi satu per satu pembeli kecil yang pernah ia layani. Ia datang, menawarkan barang dengan sistem pembayaran belakangan, dan memberi kualitas terbaik dengan bukti nyata. Ia berkeliling dari pagi sampai malam, menembus panas dan hujan, masuk ke gang-gang sempit, berbicara dari hati ke hati, membuktikan bahwa ia bukan penipu, melainkan pemuda yang jujur dan berintegritas tinggi.

Langkah itu berat, melelahkan, dan menyakitkan hati. Banyak pintu yang tertutup, banyak tatapan sinis yang diterima. Namun, Bagas menahannya demi ibunya yang sedang berjuang sembuh di rumah, demi janji pada Naya, dan demi membuktikan bahwa kebenaran pada akhirnya akan menang atas segala kebohongan.

1
miumiu
ada sedihnya tapi ada kekuatan juga. lanjuut ya thor.
curbel
seru juga. Dan enak dibaca. 👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!