NovelToon NovelToon
Bai Anshu STORY.

Bai Anshu STORY.

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:10.5k
Nilai: 5
Nama Author: Delia Ata

Menemukan batu bintang, tersambar petir lalu koma tiga hari. Setelah bangun semua berubah, rumah jerami reot perlahan menjadi mewah dan nyaman. Bubur sayuran liar hilang dari meja makan, berganti dengan nasi dan gandum wangi.
Setiap hari akan ada ikan, daging, telur, yang kesemuanya cuma dapat mereka makan setahun sekali.

Bagaimana bisa perubahan itu terjadi pada keluarga miskin tanpa bakat dan kemampuan..?

Apa sebenarnya yang dialami gadis itu saat koma tiga hari..?

Batu bintang, benda apa dan darimana asalnya itu...?

Ikuti perjalanannya dan dapatkan jawabannya di Bai Anshu Story.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Ata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14

Sekembalinya dari desa Qingshan, Bai Dashan dan Chen Muwan menyempatkan untuk mampir berbincang dengan kepala desa. Pokok obrolan utama perihal pembelian tanah.

Desa Qingshan tidak lah besar, jarak hunian dari satu pintu ke pintu lain lumayan jauh. Jadi, kalau mau membeli pekarangan sekitar tempat tinggal sendiri itu sangat gampang.

Seperti kediaman keluarga Bai cabang kedua, bagian kanan kiri dan belakang, masih ada lahan kosong kisaran satu hektare jika digabungkan.

"Lahan disekitaran tempat tinggal kalian termasuk tanah bagus, jadi harganya sedikit mahal." ujar kepala desa.

Pria berusia lima puluh lima tahun itu meneguk ludah kecut dengan susah payah. Ia tak menyangka jika Bai Dashan akan datang guna membeli tanah.

Pertanyaan tentang dari mana pasangan suami istri itu mendapatkan uang pun menari-nari ditenggorokannya.

Namun mengingat soal Bai Anshu yang menggali ginseng, serta seberapa mahal harga jual tanaman herbal yang dikumpulkan warga. Kepala desa Pei akhirnya mengerti.

"Kira-kira berapa kami harus membayarnya, paman..?" tanya Bai Dashan.

"Tiga puluh tael untuk satu hektare."

Bai Dashan dan Chen Muwan bertukar tatapan, lalu mengangguk rendah.

"Kalau begitu kami harus merepotkan paman Pei, untuk membantu mengurus aktanya." ucap Bai Dashan, merogoh dompet, mengambil uang tiga puluh satu tael.

Lebihannya anggap saja upah jalan kepala desa karena harus bolak balik kekota esok.

Paman Pei menerima "untuk pengukuran akan dilakukan besok, sekalian penyerahan akta jual belinya."

"Baik..!"

"Tanah mana yang kalian mau..?"

"Yang disekeliling rumah kami. Sebelah kanan dan kiri masing-masing empat ribu meter, bagian belakang dua ribu meter." jawab Bai Dashan.

Kepala desa Pei mengangguk "baik, besok pagi aku akan mengurusnya kepemerintah."

"Terimakasih paman Pei..!"

Kekaisaran Huancu menerapkan sistem sewa lahan pertanian, makanya harga tanah sangat mahal. Cuma orang-orang dengan harta tak berseri saja yang mampu membeli.

Satu hektare tanah bagus tiga puluh tael, itu dikawasan desa. Jika disekitaran kota prefektur atau ibukota, harganya bisa dua kali lipat.

Oleh karena itu banyak rakyat yang tak mampu membeli, sebab tiga puluh tael adalah penghasilan petani dengan lahan lima hektare selama sepuluh tahun.

Itu pun kalau bisa menabung dengan makan sehari sekali tanpa membeli apa-apa lagi.

Sistem bayar sewa lahan pertanian yang ditetapkan pemerintah ialah setiap selesai panen, petani akan menyetorkan hasil yang ditanamnya.

Untuk biaya sewa satu hektare tanah subur ialah tiga puluh lima kati biji-bijian.

Tanah bagus dua puluh lima kati, dan biasa lima belas kati.

Itu belum termasuk pajak yang dipungut setahun dua kali.

Malam pun berlalu, pagi datang menyapa lebih awal dari biasanya.

Karena beberapa bahan pembuatan sabun habis, Bai Anshu memilih pergi kesungai untuk menangkap ikan bersama kedua adiknya.

Sementara Bai Dashan, membuat keranjang kemas dari bambu. Kalau Chen Muwan, menjahit kain yang dibeli putrinya.

"Shi-ya...!"

"Kakak sepupu perempuan..!"

Panggil tiga bersaudara dari luar pagar rumah tua keluarga Bai.

"Ya...!" sahut bibi Mei dari halaman samping.

Kriet

Pintu terbuka, Bai Lushi muncul.

"Shu-ya, A-zi, A-yu...!" sapa bibi Mei dan Bai Lushi.

Tiga sekawan tersenyum, masuk kehalaman setelah pagar dibuka.

"Tumben sekali kalian bertiga datang bersama, sepagi ini..?" kata nyonya Mei.

"Bibi, kami mau mengajak kakak sepupu perempuan kesungai untuk menangkap ikan, boleh kan..?" tanya Bai Jinyu.

Dahi bibi Mei mengkeret halus, netra lentik Bai Lushi menyipit lembut, sebelum mereka saling melirik sesaat.

Bibi memberi izin "tapi ingat, kalian harus berhati-hati."

"Baik bibi...!"

"Baik ibu..!"

Bai Lushi gegas mengganti baju, mengambil ember juga bubu dan parang.

Keempat bocah bersaudara, melangkah riang sembari saling meledek.

Meski hidup serba kurang, sejak dulu para anak-anak ini menjalani hari-hari dengan penuh keceriaan. Mereka juga dilimpahi kasih sayang oleh keluarga dan orang-orang sekitar.

Bahagia mereka sederhana. Cukup bermain disungai, mendapat ikan kecil lima ekor, senyum dan tawa terbit tanpa mau luntur.

Sesampainya ditanah gambus yang lembab, mereka menggali cacing, lalu disimpan dalam ember berisi air suci.

Anshu menebang dua batang dahan kayu sebesar lengan kurusnya, kemudian ujungnya disisir sampai runcing.

Diibelakang desa ada sungai besar yang memiliki hulu hingga menciptakan muara-muara kecil dibeberapa wilayah.

Kali ini, empat bocah memilih mengarungi induk sungai dengan menaiki getek bambu.

Dipinggir sungai ada dua rakit yang bebas dipakai oleh siapa saja.

"Kau ikat ini disebelah kiri..!" titah Anshu, memberikan bubu yang sudah diisi cacing pada Lushi.

Bai Lushi mematuhi, mengikat tali bubu diujung rakit bambu.

Sedangkan Anshu, ia bagian mengaitkan bubu lainnya disebelah kanan.

Selesai itu, Lushi dan Hanzi, bersama mendayung rakit ketengah, dengan Bai Anshu mengamati dasar sungai berbatu yang terlihat karena saking jernihnya air.

Dua bubu lainnya dilepaskan, setelah rakit berhenti tempat strategis.

Bai Anshu berjongkok, mengubah air sungai menjadi memilik energi spiritual dengan mencelupkan batu bintang lima warna.

Empat pasang mata sibuk mengamati, berharap ada mangsa mendekat.

"Kakak perempuan..!" pekik Junyi, menunjuk ikan emas rumput yang berenang mendekat.

Bai Anshu bersiap, memusatkan kekuatannya pada tombak kayu serta target sasaran.

"Itu, satu lagi..!" seru Lushi keikan lainnya.

Hanzi ambil ancang-ancang, mengangkat tombak dahan pemberian kakak perempuannya.

"Adik, hitungan ketiga..!" ucap Anshu.

"Baik...!" sahut Hanzi mantap.

Bubu yang berada jauh dibelakang bergerak, pertanda jika ada ikan terjebak.

Anshu dan Hanzi acuh, tetap fokus pada bidikan dengan mengangkat tombak tinggi-tinggi.

"Satu...!"

Keempat bocah menahan nafas.

"Dua...!"

Mata makin melotot, menembus kejernihan air.

"Tiga...!"

Syut Jleb

Dua tombak bergerak selaras, mengoyak air, menancap kuat dibadan ikan.

Anshu dan Hanzi mengangkat tombak. Ikan menggelepar diujung ajal, ekornya bergoyang liar.

"Yeah, dapat...!" seru girang Lushi dan Jinyu.

Lumayan besar, satu ekor ikan beratnya sekitar satu kati. Ini baru yang dinamakan panen raya.

"Itu, datang lagi." jerit Lushi "ada dua. Eh tiga...!" sambungnya tercengang senang.

Anshu dan Hanzi bersiap, tehnik yang sama dilakukan.

Dalam hitungan ketiga----

Wus jleb jleb

Dua ekor kembali masuk kedalam ember.

"Ini----

Bai Lushi tak bisa meneruskan kata-katanya. Ia jelas saja kaget linglung. Terlalu mudah, padahal biasanya untuk dapat satu ikan saja butuh waktu berjam-jam.

Ujung rakit bergoyang lagi, kali ini lebih kencang.

"Sepertinya banyak ikan yang terjebak..?" kata Hanzi, menarik satu tali bubu.

Jinyu ikut ambil bagian, menarik satu juga.

Bai Anshu bersama Lushi, turut menarik dua bubu tersisa.

"Ini nyata kan..?" Lushi tercenung, menatap sembilan ekor hidup yang kini ada diember besar, hasil dari empat bubu terpasang.

Tiga bersaudara terkekeh, memercikkan air kewajah Lushi bersamaan.

"Ais, kalian ya...!"

Mereka tergelak, sebelum kembali melakukan perburuan.

Dua jam sudah mereka berada diatas air. Dua puluh ekor ikan emas rumput hidup dan delapan mati karena tombak, akan menjadi oleh-oleh bagi keluarga.

Cukup, mereka sepakat untuk pulang.

Ikan yang mati dibersihkan langsung disungai.

Sedangkan yang hidup akan dipelihara, agar nanti jika sewaktu-waktu ingin makan ikan tinggal ambil saja.

Ketika pulang, mereka sengaja melewati jalan didekat rumah nenek Pan, sebab ingin memberi keluarga itu satu ekor ikan yang paling besar.

"Kalian sungguh anak-anak yang berbakti, terimakasih...!"

1
Anna Setyo
up yg banyak thor biar puas bacanya
SENJA
mantabs lah nambah pekerja terus 👌
Erna Fkpg
tetap semangat thor dan terimakasih untuk upnya 😘😘😘
Datu Zahra
tumben banyak typo thor...?
Delia ATA: Sudah direvisi ya kak 🫰

Terimakasih sudah mengoreksinya.
total 1 replies
Datu Zahra
Aku juga beruntung karena dapat bacaan keren dan seru lagi 🤩
Erna Fkpg
keberuntungan keluarga bai dan Chen dan seluruh desa
Dewisiregar
up thor yang banyak, tambah seru ceritanya💪🙏👍
Maria Lina
kok 2 thor kmrin 3 bab kurang ni
vipp
semangat thor
Rai Gojess
lagi thor, kenapa ceritamu ini best sekali, koin ku sdh habis, belum top up..tunggu ya aku top up
SENJA
mantabs maju terus bisnis sabun 👌
Datu Zahra
Kurang kak 🤪
SENJA
buseh bisnis baru lagi
Datu Zahra
Selama ada air suci, apa pun paati menghasilkan banyak dan enak
Datu Zahra
Murong Canfeng jpdohnya Anshu kek'y 🤭
SENJA
songong sih lu padab🤣
Fauziah Daud
trusemangattt... seru
Chen Nadari
mantulll Thorr
Dewiendahsetiowati
kayak dikit deh authornya nulis,apa ceritanya bagus jadi gak sadar sudah habis bacanya😭😭
SENJA
bagus jangan kasih kendor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!