Dua minggu pernikahan menjadi neraka bagi Freya Arunika. Ia baru menyadari dirinya hanya dijadikan tumbal saat memergoki perselingkuhan suaminya, Sean Ravindra, dengan Bianca—adik tirinya sendiri. Sejak rahasia itu terbongkar, hidup Freya sepenuhnya terkekang.
Namun, takdir berputar liar ketika Ravael, ayah kandung Sean sekaligus sosok penolong masa lalu Freya, kembali dari luar negeri. Jatuh cinta pada pandangan pertama tanpa tahu identitas Freya, obsesi Ravael justru semakin membara setelah mendapati wanita itu adalah menantunya.
Kini, Freya terjebak di antara dua pria sedarah: suami kejam yang membencinya, dan papa mertua berkuasa yang terobsesi memilikinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19.
"Maafkan aku, Freya... Maafkan aku. Aku sudah tidak bisa menahannya lagi," erang Rafael parau. Suaranya bergetar hebat di antara deru napasnya yang memburu panas.
Kedua tangan kokohnya mengunci pergelangan tangan Freya di atas sofa, menatap langsung ke dalam manik mata menantunya yang dipenuhi ketakutan. Obat jahanam itu membakar seluruh pembuluh darahnya, namun di balik kebutaan nafsu itu, ada sebersit kejujuran yang mendalam yang mendadak tumpah dari bibir sang Tuan Besar.
"Aku mencintaimu, Freya. Aku mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu... saat aku membantumu," aku Rafael dengan suara serak, matanya berkilat antara gairah dan kepedihan. "Aku tidak pernah tahu kalau wanita yang mengisi pikiranku selama ini ternyata adalah wanita yang dinikahi oleh putraku sendiri. Aku tidak tahu kau menantuku! Tolong aku, Freya... bantu aku malam ini saja."
Freya membelalakkan matanya. Jantungnya mencelos mendengar pengakuan mengejutkan itu. Freya menggelengkan kepalanya dengan histeris, air matanya mengalir semakin deras membasahi pipi.
"Tidak, Papa! Lepaskan aku! Aku tidak mau melakukan ini!" jerit Freya sambil meronta sekuat tenaga, mencoba melepaskan kungkungan tubuh kekar Rafael. "Ini salah! Ini dosa besar! Aku mencintai suamiku, Papa! Aku mencintai Sean! Hanya Sean!"
Pengakuan cinta Freya untuk Sean seketika memancing amarah yang luar biasa di dalam dada Rafael. Obat di tubuhnya berpadu dengan rasa cemburu yang membakar ego tertingginya.
"Kau mencintai pria bajingan itu?!" bentak Rafael, suaranya menggelegar memenuhi ruangan yang sunyi.
Tanpa membuang waktu lagi, Rafael menyentak tubuh Freya ke dalam gendongannya. Ia mengangkat tubuh ringkih itu dengan kasar dan melangkah lebar menaiki anak tangga menuju lantai dua, menuju kamar pribadinya—bukan kamar utama tempat Freya dan Sean biasanya tidur.
"Lepaskan aku, Paa! Tolong, jangan lakukan ini!" Freya terus memukul dada dan bahu Rafael, menangis histeris hingga suaranya serak.
"Kenapa, Freya?! Kenapa kau begitu mencintainya?!" teriak Rafael sambil menendang pintu kamarnya hingga terbuka lebar, lalu menghempaskan tubuh Freya ke atas ranjang berukuran king size miliknya. "Dia menyiksamu! Dia mencambukmu! Dia bersenang-senang dengan adik tirimu di luar sana! Kenapa kau masih mempertahankan pria yang memperlakukanmu seperti sampah?!"
Freya meringkuk di atas kasur, menatap Rafael yang berdiri di tepi ranjang sambil membuka kancing kemejanya dengan tergesa-gesa. Dengan sisa keberanian dan air mata yang terus mengalir, Freya menjawab jujur dari lubuk hatinya yang paling dalam.
"Karena Sean adalah cinta pertamaku, Paa!" teriak Freya, suaranya pecah tercekat tangis. "Dia pria pertama yang membuatku tahu apa itu cinta! Aku akan terus berjuang agar Sean bisa melihatku dan jatuh cinta padaku! Aku yakin... aku sangat yakin suatu saat nanti Sean pasti akan mencintaiku dan berubah! Jadi kumohon, jangan hancurkan harapanku, Papa!"
Mendengar keyakinan naif dari bibir Freya, rahang Rafael bergetar rapat. Kemarahannya mencapai puncak, beriringan dengan gairah pekat yang sudah mengeras dan terasa sesak di balik celananya.
"Harapanmu itu hanya omong kosong, Freya!" desis Rafael kejam.
Rafael langsung merangkak naik ke atas ranjang, menindih tubuh mungil Freya hingga wanita itu tidak bisa bergerak sama sekali.
Tanpa memedulikan tangisan Freya, Rafael menundukkan kepalanya dan langsung melumat bibir Freya dengan kasar.
Ciuman itu penuh dengan kemarahan, frustrasi, dan tuntutan mutlak. Freya mencoba menutup rapat bibirnya, namun Rafael mencengkeram rahangnya, memaksa tautan itu semakin dalam dan mematikan.
"Nghh... Mmpff..." Freya melenguh dalam kungkungan, tangannya bergerak lemah di dada Rafael.
Rafael memutuskan tautan bibir mereka secara mendadak, lalu beralih turun ke leher jenjang Freya. Di sana, ia mencium, menyesap, dan menggigit kulit lembut itu dengan kasar, memberikan tanda kepemilikan yang merah keunguan di beberapa tempat. "Kau milikku malam ini, Freya."
"Jangan, Papa... sakit..." rintih Freya.
Tanpa ada kelembutan sama sekali, tangan kekar Rafael menarik ujung kemeja yang dikenakan Freya, merobek kancing-kancingnya hingga terlepas berhamburan di atas ranjang. Ia menyingkap pakaian itu, mengekspos tubuh polos Freya di bawah temaram lampu kamar.
Tak berhenti di situ, Rafael dengan cepat melucuti celana dalam Freya dan melemparnya sembarangan ke lantai, bersamaan dengan celananya sendiri yang kini sudah terlepas sepenuhnya.
Freya menangis histeris, menutup wajahnya dengan kedua tangan yang gemetar. Ia bisa merasakan kehangatan dan ukuran besar dari sesuatu yang menegang di antara kedua paha Rafael. Inti kejantanannya yang besar kini diarahkan tepat di depan inti kewanitaan Freya yang masih tertutup rapat.
"Papa, aku takut... kumohon hentikan... aku takut," tangis Freya pecah, tubuhnya bergetar hebat menghadapi malam yang mengerikan ini.
Rafael tidak menghiraukan tangisan itu. Didorong oleh desakan obat yang menyiksa, ia langsung mendorong miliknya untuk masuk.
Deg.
Satu kali mencoba, Rafael gagal. Inti Freya terlalu sempit dan kaku, menolak kehadirannya dengan kuat. Rafael tertegun sejenak di tengah napasnya yang memburu.
"Ini tidak mungkin..." bisik Rafael parau, menatap wajah Freya yang memerah dan basah oleh air mata.
Sebagai pria matang yang penuh pengalaman, ia tahu apa artinya ini, namun obat di tubuhnya tidak memberinya waktu untuk berpikir jernih.
Rafael kembali memosisikan dirinya, menahan pinggang Freya agar tidak bergeser, lalu menekan dengan daya dorong yang lebih kuat lagi. Masih terasa sangat sulit dan menjepit, hingga akhirnya dengan satu hentakan paksa yang penuh tekanan—
Jlep!
Batang besar milik Rafael melesak masuk sempurna, menembus dinding pertahanan terdalam milik Freya.
"AAAHHH!!! SAKIT!!!"
Freya menjerit histeris, suaranya melengking tinggi memecah keheningan kamar. Rasa sakit yang luar biasa hebat, seolah tubuhnya dibelah menjadi dua, seketika menjalar ke seluruh sarafnya.
Di atas sprei abu-abu milik Rafael, perlahan mengalir noda darah segar—cairan merah yang menjadi tanda kesucian dari seorang wanita yang belum pernah tersentuh sama sekali.
Itu adalah kali pertama bagi Freya. Selama berbulan-bulan menikah, Sean tidak pernah sekalipun menyentuhnya sebagai seorang istri.
Melihat bercak darah itu dan merasakan jepitan yang teramat pekat di bawah sana, Rafael seketika terpaku. Otaknya seolah dihantam kenyataan yang luar biasa mengejutkan.
Putranya, Sean, ternyata tidak pernah menyentuh istrinya sendiri. Kamar yang selama ini ia kira menjadi saksi bisu pernikahan mereka, ternyata hanya menjadi tempat penyiksaan fisik semata. Freya masih suci murni hingga detik ini.
Rasa kesal pada kebodohan putranya sekaligus rasa bersalah yang teramat besar seketika menyergap dada Rafael. Ia menatap wajah Freya yang kini memejamkan mata rapat-rapat, terisak kecil dengan bibir yang bergetar menahan rasa sakit yang teramat sangat.
"Freya... kau... Sean belum pernah..." kalimat Rafael menggantung, suaranya tercekat di tenggorokan.
Namun, penyesalan itu datang terlambat. Kepungan obat perangsang yang membakar darahnya dipadukan dengan kehangatan dinding intim Freya yang menjepit miliknya dengan begitu ketat, membuat seluruh pertahanan akal sehat Rafael runtuh seutuhnya. Hasrat purba di dalam dirinya tidak bisa lagi ditahan atau ditarik mundur.
"Tolong paa. Lepaskan... Ini sangat sakiiit.." Freya merintih parau.
"Maafkan aku, Freya... Aku tidak bisa berhenti," bisik Rafael serak.
Dengan berat hati namun didorong gairah yang teramat pekat, Rafael mulai menggerakkan pinggulnya perlahan, memulai ritme percintaan sepihak yang intens, mengabaikan tangisan lirih dari menantunya yang kini telah ia renggut kesuciannya secara paksa.
*
*
*
bongkar kebusukan ibu & adik tiri Freya. . udah sabar bgt nih Freya di bully dan diselingkuhi tinggal cerai aja 🔥🔥🔥
semoga aja Freya Nerima Rafael setelah dicerai sean