Alena Rahmawati tidak pernah menyangka bahwa menemukan dompet seorang pria asing di tengah bioskop tengah malam yang akan akan mengubah kehidupannya.
Demi biaya sekolah adiknya Dimas, Alena menerima tawaran aneh dari Arven Alfarizi, seorang CEO muda yang tampak memiliki segalanya. Sebagai imbalan sejumlah uang, Alena harus membuat Arven jatuh cinta kepada dirinya dalam waktu tiga puluh hari.
Awalnya semua hanya kesepakatan. Namun seiring berjalannya waktu, batas antara sandiwara dan perasaan yang sesungguhnya mulai menghilang. Saat Alena benar-benar jatuh cinta, ia baru mengetahui rahasia yang selama ini Arven sembunyikan.
Mampukah Alena membuat Arven jatuh cinta ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Caramel_Machiato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31 ( Hadiah Kedua )
Hari ini Arven berniat untuk mengambil hadiah kedua miliknya dari Alena.
Sejak malam ia terus memikirkan apa hadiah kedua yang akan ia minta kepada kekasihnya itu.
Pagi pagi ia pun kembali meramaikan grup yang berisi dua sahabatnya dan dirinya itu.
[Arven : Menurut kalian, hadiah kedua gue apa ?]
[Bayu : Hotel ]
[Reza : Hotel ]
[Arven : Kenapa sih otak kalian isinya hotel doang ? ]
[Bayu : Pemikiran orang dewasa]
[Arven : Gue juga dewasa]
[Reza : Orang dewasa mana yang pacaran kayak anak SMP ? ]
[Arven : Gue serius]
[Bayu : Yaudah cium bibir aja kalau gitu, kemarin kan udah kening]
[Arven : Bay, gue serius]
[Bayu : Duarius]
[Reza : Tigarius]
Arven langsung membeku
[Arven : Ide kalian ga ada lagi ?]
[Bayu : Hotel ]
[Arven : Ide gila itu namanya]
[Reza : Lo pacaran apa magang sih ?]
[Bayu : Gue yakin Za, dia sampai nikah juga cuma berani cium kening doang]
[Arven : Ga guna ]
Arven meletakkan ponselnya dan menatap langit-langit kamarnya.
" Apa hadiah keduanya ajak nikah aja ya ? "
...
Sore hari Arven datang untuk menjemput Alena di kampusnya.
Alena masuk dengan wajah yang sangat ceria.
" Bahagia banget kayaknya ? Habis menang undian? "
Tebak Arven
" Bulan depan gue udah bisa sidang skripsi Arven "
Arven pun ikut merasa bahagia
" Wihh selamat ya, ga sia sia gue bayarin kuliah lo "
Alena tersenyum dan mengusap pipi Arven
" Makasih ya, ya walaupun sebenarnya ga gratis juga kan ? "
" Hehe iya sih, tapi intinya gue ikut senang Alena "
Arven mengusap kepala Alena dengan lembut.
Sepanjang jalan Alena terus tersenyum..
Bisa Arven rasakan bagaimana bahagianya Alena saat ini.
" Lo beneran kan mau dateng nanti Ar ? "
" Iyah, gue usahain buat dateng "
" Okee "
Alena berpikir sejenak
" Gue mau minta hadiah setelah selesai sidang, boleh ga ? "
" Boleh, lo mau minta hadiah apa ? "
" Tapi hadiahnya cukup mahal sih, lo bisa kasih ga kira-kira ? "
" Apasih ? Tinggal bilang aja lo mau hadiah apa "
Alena diam dan tersenyum.
Lampu pun menunjukkan warna merah, Arven dan pengendara lainnya pun berhenti bersama.
" Malah diem ? Mau hadiah apa Alena ? "
" Kalau gue minta hadiahnya nikah, gimana ? "
Arven membeku seketika.
Jantungnya berdebar-debar dengan kencang..
Karena untuk pertama kalinya, Alena mengajukan permintaan kepada dirinya.
Namun Arven sendiri tak yakin apakah ia bisa memberikan hadiah itu kepada Alena
Sedangkan Alena ia mengalihkan wajahnya ke lain arah.
" Oke "
Jawab Arven dengan tegas dan penuh pertimbangan
" Oke apa ? "
Alena menoleh
" Gue kabulin, asal lo lulus sidang "
" Kalau ga lulus ? "
" Ya tetap sih, karena gue kan cuma mau menua sama lo doang "
Alena tersipu malu begitu juga dengan Arven.
...
Arven mengajak Alena berjalan sore di Taman Kota..
Tempat itu cukup sunyi..
Sambil berkeliling, Alena terus memeluk lengan Arven.
Tak ada pembicaraan diantara mereka saat ini
Hingga Alena pun memecahkan keheningan.
" Lo masih takut ga ? "
Arven menoleh
" Masih "
" Takut apa ? "
" Takut lo pergi Alena "
" Bukan takut penyakit lo ? "
" Kehilangan lo lebih serem daripada penyakit gue ternyata "
Alena tersenyum dan begitu juga dengan Arven.
Cukup lelah berkeliling, Arven mengajak Alena untuk duduk diantara rumput hijau itu.
Alena menyandarkan kepalanya tepat di pundak Arven.
" Lo cape ya ? "
Tanya Alena
" Engga "
" Bohong "
" Engga Alena "
" Beneran ? "
" Beneran sayang "
Alena Diam dan menatap lurus kedepan
Tanpa keduanya ketahui, dibalik sebuah pohon besar ada dua orang yang terus mengikuti mereka.
Bayu dan Reza, kedua diam diam mengikuti Arven dan Alena.
Mereka penasaran dengan hadiah kedua yang Arven minta dari Alena.
" Kapan ciumannya mereka Za ? " tanya Bayu
" 3 jam lagi kali " jawab Reza
" Buset keburu malem Za "
" Kayak ga tau Arven aja "
Mereka pun kembali fokus dengan misi mereka berdua.
Arven menatap Alena yang sedang mengambil gambar dari ponselnya.
" Alena "
" Ya ? "
Alena menoleh dan meletakkan ponselnya
" Gue.. Gue boleh minta hadiah kedua gue ga ? "
Alena membeku seketika
Jantungnya berdebar-debar dengan kencang
" Emang udah izin ? "
Ucap Alena gugup
" Belum "
Arven menggeleng
" Kalau gue ga kasih izin ? "
" Gue bikin proposal "
" Proposal apa ? "
" Proposal meminta izin mencium Alena "
Alena tersipu malu mendengar ucapan Arven
" Alena, gue serius "
" Serius apa ? "
" Gue mau minta hadiah kedua gue "
" Sekarang ? "
" Ya kalau lo siap "
Arven menunggu jawaban Alena
Sedangkan gadis itu masih menunduk karena malu.
Kemudian Alena mengangguk kecil
" Berarti iya ? "
" Lo kebanyakan izin Arven, sengaja ya bikin gue malu ? "
Arven tersenyum melihat Alena yang salah tingkah
Arven memegang dagu Alena, mengangkat wajah wanita itu yang sejak tadi menunduk.
Arven menatap wajah perempuan itu dengan lekat.
Jantung Arven berdebar dengan kencang, begitu juga dengan Alena.
Perlahan Arven mendekati wajah Alena, hingga akhirnya bibir Arven berhasil mendarat di bibir Alena.
Disaat bersamaan Raka yang tidak sengaja lewat sore itu melihat semuanya..
Ia tidak menghampiri, tapi ia hanya memandangi dari jauh sambil tersenyum.
" Ternyata ini jawabannya ya Al .."
Arven mencium bibir Alena dengan lembut dan hati-hati..
Dunia terasa berhenti sejenak saat ini..
Begitu menjauh keduanya sama-sama membeku
Alena menundukkan kepalanya
Arven menatap langit
" Alena.. "
" Hmm "
" Gue pengen pingsan rasanya "
" Arven.. "
Arven tertawa melihat Alena salah tingkah
Sedangkan Alena ia tertawa karena malu.
Diwaktu yang sama Reza dan Bayu masih dengan misi mereka.
Mereka bersembunyi di semak-semak yang tak jauh dari tempat Arven dan Alena
" Lo rekam ga ? "
" Rekam aman aman "
" Akhirnya pasien lo sembuh Za. Kirim ke gue cepetan "
" Ga mau "
Disaat keduanya sedang ribut, keduanya mendengar suara yang tak asing bagi mereka.
" Mas Bayu sama Dokter Reza, ngapain ?? "
Keduanya membeku..
Arven berdiri sambil menatap keduanya.
" Kalian ngapain disini ? Ngikutin gue ? "
Tanya Arven menatap sinis
" Gue cuma pastiin kalau lo ga ke hotel Arven " ucap Bayu
" Gue juga pastiin pasien gue baik-baik aja Arven " jawab Reza
Arven mengambil batu kecil yang ada di dekat sana.
" Lo berdua bosen kerja ?? "
" Za.. Kabur Zaa kabur "
Reza dan Bayu pun segera lari dari sana, sedangkan Alena ia tertawa dengan lepas.
" Temen lo lucu juga ya Arven "
" Diem "
" Kayaknya lebih lucu mereka juga daripada lo "
" Alenaaa "
Alena pun segera berlari meninggalkan Arven sambil tertawa, Arven pun dengan cepat mengejar Alena.