NovelToon NovelToon
Labirin Hati

Labirin Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / Persahabatan / Romansa
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Kenaya_10

"Umur Ruby tuh udah 25 tahun, Masko. Kalau Ruby sampai gak dapet-dapet jodoh…” ia berhenti sejenak, lalu menoleh ke arah Miko, “masko aja deh yang jadi suami Ruby!” Miko yang sedang menyeruput iced americano langsung tersedak dan tanpa sengaja menyemburkannya ke wajah Ruby. “MASKOOO!!!” teriak Ruby murka seketika, lalu memukul-mukul tubuh Miko bertubi-tubi. Miko justru terbahak sambil berusaha menangkis pukulannya. “Sorry! Sorry! Sengaja!” Iya, Ruby tahu! Ruby bukan tipe masko!” sungut Ruby kesal. Miko hanya terkekeh, lalu meraih tisu dan mengelap wajah Ruby dengan santai, seolah tak terjadi apa-apa. Ruby tidak tahu saja kalau, Miko itu justru telah menyukai Ruby sejak mereka masih kecil. Ruby selalu ada, menjadi saksi paling setia atas keterpurukan Miko, terutama di masa-masa setelah ia mengetahui bahwa perempuan yang selama ini ia panggil Mama ternyata bukan ibu kandungnya. Sejak itu, Miko seperti kehilangan pijakan. Ada amarah di dalam dirinya, tapi ia tak tahu harus menujukannya ke

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenaya_10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Nggak ada rasa yang lebih pahit daripada ngerasa nggak diinginkan. Perasaan itu nggak datang sekali terus hilang. Dia tinggal. Diam-diam nempel, tumbuh pelan, dan tanpa gue sadar, ngubah cara gue ngeliat diri gue sendiri.

Gue tahu banget rasanya.

Hampir setengah hidup gue, gue jalanin dengan perasaan itu. Perasaan jadi orang yang ditinggalin. Yang nggak cukup berarti buat dipertahankan. Yang bisa dilepas gitu aja, tanpa perlu ditoleh lagi.

Sejak gue tahu kalau Mama bukan ibu kandung gue, ada satu lubang kosong dalam hidup gue yang nggak pernah benar-benar bisa gue jelasin. Gue punya Mama Mira yang sayang gue setengah mati. Mama yang selalu ada, yang nggak pernah nyerah, yang selalu berdiri di depan gue waktu dunia terasa berat. Tapi tetap aja… ada satu pertanyaan yang nggak pernah hilang dari kepala gue.

Kenapa gue ditinggalin?

Mama selalu coba jawab. Pelan. Hati-hati.

Katanya, ibu gue waktu itu nggak punya pilihan.

Katanya, dia kalah sama keadaan.

Katanya, pergi adalah satu-satunya jalan yang dia punya.

Mama nggak pernah ngomong dengan nada marah. Nggak pernah nyalahin. Bahkan sebaliknya, Mama selalu cerita kalau ibu kandung gue itu perempuan yang kuat. Perempuan yang hebat. Yang sudah lewat banyak hal yang nggak mudah.

Mama juga pernah bilang, waktu itu pernikahan mereka—Mama, Ayah, dan Ibu—bukan soal siapa yang salah atau benar. Mereka bertiga sama-sama terluka, cuma dengan cara yang berbeda.

Tapi tetap aja… pada akhirnya, dia yang nggak bertahan.

Dia yang pergi.

Dan gue yang ditinggalin.

Dulu gue coba ngerti. Gue pengen percaya sama Mama. Gue pengen percaya kalau semua itu memang nggak bisa dihindari. Kalau ada keadaan yang lebih besar dari keinginan seseorang.

Tapi makin gue pikirin, makin semuanya terasa nggak masuk akal.

Kalau seseorang benar-benar mau… bukannya dia bakal berjuang?

Kalau seorang ibu benar-benar menginginkan anaknya… bukannya dia bakal tetap bertahan?

Kayak Mama Mira bertahan buat gue.

Kayak Mama yang nggak pernah pergi, nggak peduli seberapa berat dan sakitnya keadaan.

Pikiran itu muter terus di kepala gue bertahun-tahun. Sampai akhirnya pelan-pelan cara gue ngeliat semuanya berubah. Apa yang dulu kedengarannya masuk akal, sekarang terasa kosong.

Alasan tetaplah alasan.

*

Hari itu, setelah Miko tanpa sengaja mendengar kenyataan bahwa Bu Andini yang selama ini ia kenal sebagai pemilik perkebunan tempatnya bekerja ternyata adalah ibu kandungnya, Miko memutuskan untuk pergi menemuinya.

Ia sendiri belum tahu apa yang akan ia lakukan saat bertemu nanti.

Apakah ia akan memeluknya?

Hanya melihatnya dari jauh?

Atau justru mengonfrontasi, meluapkan semua amarah yang sekarang membakar dadanya?

Semua ini terasa gila.

Selama ini ia sudah sedekat itu dengan ibu kandungnya, bahkan bekerja di tempat yang sama, tapi perempuan itu memilih diam. Berpura-pura tidak mengenalinya. Seolah Miko tidak pernah ada.

Dan itu menyakitkan.

Lebih menyakitkan lagi saat Miko tahu bahwa Om Tony pernah menemui ibunya. Memintanya untuk jujur. Memintanya kembali hadir dalam hidup Miko.

Tapi ibunya tetap menolak.

Saat ini, hati Miko seperti hancur. Benar-benar hancur, sampai rasanya tidak lagi berbentuk..

Miko berdiri di depan sebuah kamar rawat inap. Ia tidak bergerak. Tatapannya menembus kaca kecil di pintu, mengarah ke dalam ruangan.

Di sana ada Bu Andini. Arini. Ibu kandungnya.

Perempuan itu terlihat lemah, bersandar di kepala ranjang. Tapi wajahnya tidak menunjukkan penderitaan. Wajahnya tenang. Bahkan sesekali tersenyum.

Kepalanya bersandar ringan di bahu Fathur. Anak angkatnya.

Fathur duduk di sampingnya, mengupas jeruk dengan sabar. Ia memisahkan setiap serat, lalu menyuapkannya perlahan. Sesekali ia bicara, mungkin bercanda, mungkin sekadar menghibur. Dari luar, suaranya tidak terdengar. Tapi reaksi perempuan itu cukup jelas.

Ia tersenyum.

Bahkan tertawa kecil.

Pemandangan itu sederhana. Tidak berlebihan. Tapi hangat.

Dan justru itu yang terasa menyakitkan.

Miko berdiri kaku.

Di kepalanya terngiang ucapan lama yang dulu pernah ia dengar di perkebunan.

"Bu Andini itu sayang banget sama A Fathur, padahal A Fathur itu bukan anak kandungnya."  

Saat itu, Miko sempat merasa kagum. Ia pikir, tidak semua orang bisa mencintai seperti itu. Tanpa syarat. Tanpa membedakan.

Ia teringat pada Mama Mira.

Mama yang juga melakukan hal yang sama padanya.

Tapi sekarang, semua itu terasa berbeda.

Bukan lagi sesuatu yang indah.

Melainkan sesuatu yang menyakitkan.

Perempuan munafik! bathinnya

Rahang Miko mengeras.

Dadanya terasa penuh.

Kalau perempuan itu bisa mencintai anak orang lain seperti itu… kenapa tidak bisa melakukan hal yang sama pada anak kandungnya sendiri?

Miko tetap berdiri di sana selama beberapa menit. Tidak bergerak. Tidak bersuara.

Tapi di dalam dirinya, sesuatu berubah.

Perasaan yang dulu hanya berupa luka, sekarang berubah menjadi sesuatu yang lebih keras.

Amarah.

Matanya memperhatikan setiap detail. Cara perempuan itu terlihat nyaman. Cara senyumnya tidak terlihat dipaksakan. Cara ia menatap Fathur dengan penuh perhatian.

Tidak ada beban di sana.

Tidak ada penyesalan yang terlihat.

Miko tertawa kecil.

Pelan.

Tanpa suara.

Ironis.

Sangat ironis.

Perempuan yang meninggalkan anak kandungnya sendiri bersikap bak malaikat, menyayangi yang bahkan bukan anak kandungnya!

Suara Om Tony kembali terngiang di kepala Miko.

"Saya sudah memintanya untuk jujur kepada Miko… memintanya datang dan hadir kembali dalam kehidupan Miko… tapi dia menolak." 

Menolak.

Miko mengatupkan giginya.

Dadanya benar-benar terasa panas.

Padahal, beberapa waktu terakhir, ia sempat berubah. Sedikit saja. Ada bagian kecil dalam dirinya yang mulai melunak. Ia sempat berpikir untuk mencari tahu lebih jauh. Untuk mencoba memahami.

Bahkan mungkin… memaafkan.

Apalagi kata-kata Mama Mira tidak pernah benar-benar hilang dari ingatannya.

"Maafkan ibumu, Miko… dia orang yang kalah. Dia tidak punya pilihan. Maafkan Ayah, maafkan Mama. Semua ini terjadi akibat keegoisan kami"  

Miko mengulang kalimat itu dalam hati.

Lalu ia tersenyum tipis.

Mama itu selalu menyalahkan dirinya. Padahal perempuan di dalam sana yang memang tidak punya hati! Ucap bathin Miko kembali.

Masih melalui kaca jendela kecil kamar pintu kamar rawat inap, Miko menatap dingin ke arah Bu Andini alias Bu Arini alias ibu kandungnya yang memilih untuk menyayangi anak orang lain dibanding dengan anak kandungnya.

Miko menggeleng pelan.

Tidak masuk akal.

Kalau memang tidak punya pilihan… kenapa sekarang terlihat begitu mudah untuk bahagia tanpa dirinya?

Satu langkah ia mundur.

Tatapannya lepas dari kaca itu.

Dan tanpa ragu, ia berbalik.

Ia pergi.

Meninggalkan perempuan itu.

Sama seperti dulu, saat ia ditinggalkan.

*

Sudah tiga hari Miko tidak pulang.

Tidak ada kabar. Tidak ada pesan. Tidak ada jejak.

Rendy akhirnya datang ke rumah Tony untuk memberi tahu. Mereka berkumpul di ruang keluarga. Tony, Renata, Rendy, dan Ruby duduk dengan perasaan yang sama.

Cemas.

Bingung.

Tidak ada yang tahu harus berbuat apa.

Tony terlihat paling gelisah. Ia terus memandangi ponselnya, seolah berharap ada kabar masuk. Sampai akhirnya ia menarik napas panjang dan mulai mengetik. Ia hendak menghubungi orang-orangnya, meminta bantuan untuk mencari Miko.

Tapi sebelum ia sempat menekan tombol panggil, terdengar suara deheman dari arah ruang tamu.

Semua kepala langsung menoleh.

Dan di sana, Miko berdiri.

Sunyi langsung memenuhi ruangan.

Penampilannya berbeda.

Rambutnya dipotong pendek, ditata rapi dengan pomade. Pakaiannya juga berubah. Ia mengenakan jeans biru gelap yang bersih, dipadukan dengan kemeja hitam yang pas di badan. Wajahnya terlihat lebih tegas dan dewasa. Ia tidak lagi terlihat seperti anak yang kehilangan arah.

Semua orang hanya bisa menatapnya.

Terkejut.

Seolah tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.

Renata menutup mulutnya dengan kedua tangan. Rendy dan Tony menatap tanpa berkedip. Ruby berdiri sedikit dari duduknya, matanya membesar.

“Masko…?” suaranya pelan, hampir tidak terdengar.

Miko melangkah masuk.

Langkahnya tenang.

Tatapannya lurus.

Tidak ada keraguan.

Ia berhenti di tengah-tengah ruang keluarga.

“Om,” katanya datar, “kapan Miko bisa mulai kerja di perusahaan Ayah?”

Kalimat itu terdengar sederhana.

Tapi cukup untuk membuat semua orang diam.

Tony tidak langsung menjawab.

Miko melanjutkan, masih dengan nada yang sama.

“Sekarang Miko siap. Miko pulang. Miko akan meneruskan apa yang sudah Ayah dan Mama perjuangkan. Miko akan terima semuanya. Miko akan jadi Atmodjo sepenuhnya.”

Tidak ada emosi berlebihan dalam suaranya.

Tapi justru itu yang terasa berat.

Tony menatapnya.

Matanya mulai memerah.

Tanpa berkata apa-apa lagi, ia bangkit dan berjalan cepat mendekat. Lalu ia memeluk Miko erat.

Sangat erat.

Tangannya menepuk punggung Miko berkali-kali, seolah memastikan bahwa anak itu benar-benar ada di sana. Bahwa ia tidak menghilang lagi.

“Miko…” suaranya bergetar.

Air matanya akhirnya jatuh.

“Tuhan… terima kasih…” ucapnya Tony kembali, dengan suara yang masih bergetar menahan haru.

1
💞Putri Chania💞
yang d tunggu" akhir nya update juga..tq thor
Kenaya: sama-sama. makasih ya udah mau dabar dan terus baca cerita ini 🌹
total 1 replies
merry yuliana
kak ini lanjutkah??kok ga ada update update lagi kak?😄
Kenaya: lanjut kak...lg agak writer's block hehehe...kemungkinan paling lambat pagi bsk bs up bab baru 🙏
total 1 replies
merry yuliana
kak crazy up pleaseee jangan mendadak ghpib yaaa
merry yuliana
crazy up ya kak
merry yuliana
crazy up kak🙏💪
merry yuliana
crazy up kak💪💪💪
merry yuliana
lukamu jadi duri yang nempel.ya ko...masih banyak yang sayang dan care km koooo...semangat dan lepaskan semua💪💪💪 crazy up ya kak
Kenaya: 🫰🏽🫰🏽🌹
total 1 replies
merry yuliana
crazy up kak💪💪🙏
merry yuliana
sehat semangat up terus ya kak jangan memfafak brenti n ilang ya💪💪💪🙏🙏🙏😍😍😍
merry yuliana: 😍😍😍😍😍🙏
total 2 replies
merry yuliana
kak lanjut ya jangan ilang ya.....sehat semangat terus kak...ditunggu crazy upnya yaaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!