Intan harus berjuang membuktikan pada keluarga sang suami bahwa dia bukanlah pelacur walaupun dia terlahir dari rahim seorang pelacur. Namun akibat pengkhianatan sang suami yang menikah lagi tanpa sepengetahuan darinya dan tidak diperlakukan dengan adil oleh suaminya, akhirnya Intan terjerumus dalam sebuah dosa dengan kakak iparnya . Dan hal itu lah yang menjadi penyebab hancurnya rumah tangganya bersama dengan Aldy. Dan intan harus rela dibenci oleh anak kandungnya sendir hingga bertahun- tahun lamanya akibat sang anak dipengaruhi oleh keuarga Aldy jika sang ibu bukan orang baik. Apakah Intan bisa kuat menjalani kehidupannya yang dipenuhi dengan kebencian dari keluarga Aldy dan juga anak kandungnya...? Yuk baca cerita selengkapnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Jatuh Talak
Tubuh Intan termulai lemas tak berdaya setelah Aldy mendaratkan seratus cambukan menggunakan ikat pinggang pada punggungnya hingga mengakibatkan guratan- guratan memanjang berwarna merah bercampur darah segar.
Iya, karena setahu Aldy jika seorang istri atau suami melakukan perzinahan, maka dia harus dicambuk sebanyak seratus kali agar dosanya terampuni.
"Sekarang katakan... Siapa laki- laki yang berani berzina denganmu...?" tanya Aldy dengan nada dingin sambil membelakangi Intan yang terkulai di lantai dalam keadaan tubuh polos tanpa sehelai benang dan hanya luka- luka bekas cambukan yang melekat pada punggungnya.
Intan berusaha mengangkat kepalanya namun rasanya sudah tidak sanggup karena merasakan kesakitan yang amat sangat pada seluruh punggungnya.
"Kau masih belum mau menjawab...!'' bentak Aldy lalu dia berjongkok sambil menarik rambut Intan ke arah belakang sehingga kepala Intan mendongak ke arah Aldy yang sedang dilanda amarah yang membara.
Iya, demi Alloh Adly tidak ridho atas apa yang telah diperbuat oleh Intan. Apa lagi Aldy melihat sendiri sisa- sisa perzinahannya dengan laki- laki lain di dalam kamar mereka. Apa lagi Intan melakukan hal hina tersebut di saat Aldy sedang bekerja untuk mencari nafkah di luar kota. Perbuatan Intan tentu saja sangat tidak bisa dimaafkan oleh Aldy, bahkan mungkin untuk selamanya.
"Jadi kamu masih mau melindungi laki- laki jahanam itu, Intan...! '' seru Aldy semakin kesal karena Intan masih belum mau menjawab pertanyaannya.
"Dibayar berapa kamu sama dia...! Satu juta...? Dua juta ...! atau gratis...hah...!'' Aldy benar- benar tak dapat mengendalikan emosinya.
Intan pun lagi- lagi hanya diam, dan hanya air matanya saja yang mengalir di kedua pipinya.
"Baiklah Intan... Kalau itu maumu. Dan mulai sekarang, kamu bukan istriku lagi. Mulai hari ini, aku haramkan tubuhku menyentuh tubuhmu yang hina dan menjijikan itu..." ucap Aldy akhirnya menjatuhkan talak pada Intan.
"Terima kasih Intan, akhirnya kamu sudah membuktikan keraguanku selama ini bahwa kamu adalah seorang pelacur..." ucap Aldy sambil terus menarik rambut Intan.
Lalu Aldy melanjutkan ucapannya bahwa selama menjadi suami Intan, dia masih menyimpan keraguan bahwa Intan bukanlah seorang pel*cur. Namun dia menyimpan keraguannya di dalam hati.
Namun hari Ini, saat mengetahui perzinahan Intan dengan laki- laki lain, Aldy semakin yakin bahwa sebelum bertemu dengannya, Intan adalah seorang pelac*r.
"Aku sangat menyesal karena selama ini aku tidak pernah mendengarkan apa kata umi. Aku merasa bodoh karena telah tertipu dengan kepolosan kamu, Intan...." ucap Aldy dengan mata berkaca- kaca dan rahang yang masih mengeras.
"Dan sekarang, semua sudah terbukti, bahwa kamu benar- benar seorang pel*cur. Anak haram dari ibu seorang pel*cur, tentu saja akan mengikuti jejak ibunya, menjadi seorang pelacur juga...." sambung Aldy kemudian melepaskan rambut Intan dengan kasar.
Aldy lalu bangun dan berdiri. Namun dia masih berdiam di samping tubuh Intan.
"Aku beri waktu tiga hari, untuk kamu pergi dari rumah ini. Karena rumah ini saya sudah haramkan buat perempuan najis dan pelac*r seperti kamu..." ucap Aldy.
"Dan satu lagi... Buang sprei yang banyak terdapat najis sisa zina kamu dengan laki- laki itu..." sambung Aldy sambil melirik sprei berwarna putih yang masih terdapat bercak sisa bercinta yang sudah mulai mengering.
Kedua tangan Aldy mengepal melihat bercak- bercak sisa percintaan Intan dengan laki- laki selingkuhannya. Padahal padahal tetesan air hina milik Aldy tidak pernah berceceran di atas sprei setiap kali dia bercinta dengan istrinya itu.
Bagaimana tidak, selama menikah dengan Intan, Aldy selalu memakai alat kontrasepsi berupa k*nd*m agar benda miliknya tidak bersentuhan langsung dengan milik Intan. Hal itu dikarenakan keraguan Aldy pada Intan yang belum sepenuhnya percaya jika Intan tidak pernah melakukan hubungan suami istri dengan laki- laki lain selain dirinya.
Aldy takut akan tertular penyakit, seperti yang pernah umi Fatimah katakan padanya. Dan lihatlah sekarang, justru laki- laki lain lah yang pada akhirnya menyentuh Intan dengan bebas tanpa penghalang apapun. Dan tentu saja Aldy merasa tidak terima akan hal itu.
Aldy lalu melangkah hendak keluar kamar. Namun saat sampai di ambang pintu, tiba- tiba Intan bersuara.
"Tu...tunggu mas..." ucap Intan dengan suara lirih dan terbata.
Aldy pun menghentikan langkahnya tanpa menoleh ke belakang.
"Ka...mu... Pasti penasaran kan, si...siapa la..ki- la...ki yang ber...sama...ku...malam ta..di...?" tanya Intan dengan nafas memburu karena dadanya begitu sesak mungkin karena efek cambukan di punggung.
"Laki- laki...itu...adalah...mas Dirga... ka...kak..kamu ... Sen..di..ri..." sambung Intan yang masih dalam keadaan tengkurap karena tidak mampu hanya sekedar menggerakkan tubuhnya.
Sekujur tubuhnya terasa sakit dan dadanya sesak dan kepalanya berkunang- kunang.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Intan, mata Aldy melebar kaget bukan main.
"A...apa...! Ma...mas Dirga...?'' dada Aldy naik turun karena nafasnya tidak beraturan.
"Apa yang kamu katakan Intan...!'' seru Aldy kembali berjongkok di samping Aldy dan menarik rambutnya kembali ke belakang.
Iya, emosi Aldy yang sudah mulai turun tiba- tiba naik lagi begitu Intan menyebut nama mas Dirga kakak kandung Aldy sendiri yang telah menyetubuhinya.
Intan terdiam. Iya, tadinya Intan memang tidak ingin memberitahu Aldy siapa laki- laki itu. Tapi setelah apa yang dilakukan Aldy padanya, Intan merasa tidak adil jika yang disiksa dan disalahkan hanya dirinya saja.
Iya, Intan mengakui kesalahannya. Namun Intan merasa apa yang dilakukan, bukan sepenuhnya kesalahan dia sendiri, tapi ada kesalahan Dirga juga yang telah membuat Intan terlena. Intinya Intan merasa dia dan Dirga sama- sama salah. Jadi dia dan Dirga pantas untuk mendapatkan hukuman.
"Apa kamu sudah tidak waras Intan...! Bisa- bisanya kamu menggoda kakak ipar kamu sendiri...!'' seru Aldy terus menarik rambut Intan dengan keras. Dan lagi- lagi beberapa helai rambut tercabut dari akarnya.
"A...aku...ti...tidak meng...goda... Mas... Dirga... Ta..tapi... Semua...ter...ja..di.. Begitu...sa...ja..." ucap Intan sambil menahan kesakitan.
"Dasar wanita jalang...!" Dengan nafas memburu, Aldy menghantamkan kepala Intan ke lantai.
Tubuh Intan tak bergerak, entah dia masih sadar atau tidak.
"Kalian berdua benar- benar manusia- manusia laknat...!" seru Aldy yang masih belum puas memaki Intan.
"Dengar Intan... Secepatnya kamu pergi dari rumah ini, dan jangan berharap kamu bisa bertemu lagi dengan Arkan...!'' sambung Aldy lalu dia keluar dari kamar dan meninggalkan rumah mengunakan mobilnya.
Iya, tadi Aldy menemukan kunci mobilnya di bawah meja makan saat dia mencari Intan.
🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓
Tak lama kemudian datanglah Tantri yang terlihat sudah menggunakan pakaian rapi. Iya, hari ini Tantri dan Intan sudah janjian akan pergi ke mall untuk menonton bioskop.
"Assalamualaikum...Intan..." ucap Tantri yang heran melihat pintu pagar dan pintu rumah Intan terbuka lebar. Begitu juga dengan pintu garasinya. Iya, tadi Aldy yang pergi dalam keadaan marah tidak sempat menutup semua pintu tersebut.
Karena tidak mendapat jawaban, Tantri pun masuk ke dalam ruang tamu sambil terus memanggil nama Intan. Namun lagi- lagi tidak mendapat jawaban.
"Ke mana sih dia...? Teledor banget, semua pintu dibuka. Coba kalau ada maling, habis semua barang...'' ucap Tantri sambil berjalan ke ruang tengah yang gabung dengan ruang makan.
Dan di samping meja makan Intan melihat pintu kamar Intan juga terbuka.
"Intan... Kamu di mana....? Kamu lagi mandi ya...?" tanya Tantri berdiri di depan pintu yang terbuka.
Entah kenapa seperti ada dorongan besar yang meminta Tantri masuk ke dalam kamar Intan walaupun Tantri sendiri itu hal yang salah dan tidak sopan.
Namun Tantri memberanikan diri masuk ke dalam kamar Intan. Kamudian melihat ke sekeliling kamar yang sepi. Dan mata Tantri terbuka lebar saat melihat tubuh Intan tergeletak di lantai dekat tempat tidur dalam keadaan tanpa busana dan punggung penuh luka bercampur darah.
"Intan...!!'' Tantri berteriak histeris ketakutan dengan apa yang dia lihat.
"Intan kamu kenapa... Ya Alloh Intan...!'' Tantri menangis histeris dan segera menghampiri tubuh Intan.
"Intan...Intan kamu kenapa Intan... Hik...hik...." Tantri mencoba membangunkan Intan berharap Intan masih hidup.
Iya, karena keadaan Intan yang cukup parah, sempat terlintas dalam pikiran Tantri bahwa Intan meninggal.
Namun tak lama kemudian Intan menggerakkan kepalanya.
"Intan....intan...kamu masih hidup kan ... Apa yang terjadi sama kamu Intan...kenapa bisa begini...hik...hik..." Tantri terus menangis tidak tega melihat keadaan sahabatnya.
Iya, dalam pikiran Tantri mengira bahwa telah terjadi perampokan dan pemerk*saan pada Intan. Apa lagi Tantri tadi melihat garasi mobil terbuka, dan tidak ada mobil di sana.
"Uhuk...uhuk....." Intan batuk- batuk dan keluar darah segar dari mulutnya.
"Ya Alloh...Intan...hik..hik... Kamu kenapa Intan...hik...hik...Astagfirullahalazim... Intan...hik..hik..." Tantri yang panik bukannya menolong Intan tapi justru dia malah terus menangis.
"Tan...Tan..tri..." ucap Intan lirih lalu kembali tidak sadarkan diri.
"Intan....! Hik...hik...."
Tantri lalu mengambil tisu untuk membersihkan darah yang keluar dari mulut Intan. Kemudian Tantri menyelimuti tubuh polos Intan dengan menggunakan selimut. Tantri pun berlari ke dapur mengambil air hangat untuk diberikan pada Intan.
🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓
Dengan sekuat tenaga setelah Intan bangun dari pingsan dan sudah diberi minum, Tantri memapah Intan berbaring di atas tempat tidur. Tentu saja terlebih dahulu Tantri mengganti sprei yang sudah kotor dengan sprei yang baru.
Tantri lalu mengompres dahi Intan yang benjol akibat dihantamkan ke lantai oleh Aldy dan memberikan obat pada luka- laku di punggungnya. Intan meringis menahan rasa pedih bercampur sakit jadi satu.
Sebenarnya Tantri sudah bicara pada Intan untuk memanggil dokter ke rumah. Karena kebetulan di kompleks perumahan mereka ada dokter yang bisa dipanggil ke rumah. Namun Intan menolaknya.
Iya, Intan ingin merasakan sakitnya sebagai balasan atas dosa yang telah dia perbuat. Menurutnya dia pantas merasakan semua kesakitan ini. Karena baginya rasa sakit di dunia belum ada apa- apanya dibanding rasa sakit yang akan dia terima di akhirat kelak.
"Intan... Kamu makan ya...aku suapin..." Tantri menyuapi Intan bubur ayam yang dia beli di ujung jalan perumahannya.
Intan lalu makan bubur tersebut cukup lahap karena sejak tadi malam dia belum makan.
"Intan... Apa yang sebenarnya terjadi...?'' tanya Tantri sambil menatap wajah Intan.
Intan terdiam beberapa saat. Lalu dengan suara lirih dan terbata serta air mata penyesalan yang terus menetes di kedua pipinya, Intan menceritakan apa yang terjadi padanya. Dari mulai dia yang menghabisakan malam dengan Dirga dan kedatangan Aldy yang melihat kondisi tubuh Intan yang banyak terdapat tanda sisa- sisa bercinta.
Dan akhirnya Aldy mencambuknya sebanyak seratus kali dan menjatuhkan talak padanya.
"Astagfirulahalazim..." Tantri menggeleng- gelengkan kepala kaget dengan cerita Intan.
"Kamu pasti jijik kan setelah mendengar ceritaku...?'' tanya Intan sambil tersenyum getir.
Tantri menggelangkan kepalanya.
"Nggak Intan... Aku tahu semua tentang kamu... Jika kamu melakukan kesalahan yang seharusnya tidak kamu lakukan, itu bukanlah kesalahan kamu sendiri..." sahut Tanti sambil mengusap lengan Intan.
Iya, karena menurut Tantri, semua ada sebab dan akibat. Intan pernah mengatakan padanya jika Aldy tidak memberinya nafkah batin pada Intan selama lima bulan lebih. Dan dia juga jarang pulang ke rumah. Bahkan ketika Intan berseteru dengan ibu mertua, Aldy bukannya menjadi penengah, tapi dia justru menyudutkan Intan dan ikut menyalahkannya tanpa memikirkan sedikitpun perasaan Intan.
"Nggak Tan... Apapun alasannya, aku tetaplah salah. Aku tidak ingin menyalahkan siapapun sekarang..." ucap Intan sambil menangis.
"Aku malu Tan... Selama bertahun- tahun aku selalu membela diriku di depan keluarga mas Aldy, kalau aku bukanlah seorang pel*cur..." sambung Intan sambil memejamkan matanya beberapa saat, namun air matanya terus mengalir.
"Tapi lihatlah...Hari ini aku telah membuktikan bahwa aku memang seorang pelacur, Tantri... Hik...hik...Aku menyerahkan tubuhku dengan suka rela pada mas Dirga... Bahkan kami sama- sama sadar melakukan perbuatan hina itu Tantri... Hik..hik...." Intan menangis.
Intan lalu mengimbuhkan bahwa dulu dia juga pernah melakukan zina dengan Aldy. Namun saat itu keadaannya beda. Dulu Aldy dalam keadaan pengaruh obat per*ngs*ng yang tidak bisa mengendalikan hasrat s*ksualnya.
Tapi kali ini tidak ada pengaruh apapun. Semua terjadi begitu saja dan mereka berdua menginginkan satu sama lain, dan merasa puas dengan kenikmatan yang mereka berdua rasakan.
"Iya aku tahu Itu Intan, kamu dan mas Dirga memang salah besar.... Tapi setidaknya Aldy juga berdosa karena dia telah mengabaikan kamu selama berbulan- bulan...." sahut Tantri.
"Sebagai suami Aldy juga harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi sama kamu Intan. Aku yakin kamu tidak akan melakukan semua perbuatan itu jika Aldy memperlakukanmu dengan baik..."Sambung Tantri yang memang sejak lama dia kesal dengan perlakukan Aldy pada sahabatnya itu.
"Sssshhhttt..." Intan meringis sambil memejamkan matanya dan memijit keningnya.
"Intan .. Kamu kenapa...?'' Tantri kembali dibuat panik.
"Pusing Tan..." jawab Intan lirih.
"Ohhh.,. Ya ampun Tantri.. Sakit sekali...." Intan terus memijit keningnya yang benjol, dan perlahan pandangan mata Intan kabur.
"Tantri... Mataku kenapa...?'' tanya Intan panik.
"Kenapa Intan... Kenapa dengan mata kamu...?'' Tantri juga terlihat panik.
"Ma...mataku... Tidak bisa melihat dengan jelas, Tantri..." jawab Intan.
Bersambung...