NovelToon NovelToon
Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

menceritakan seorang pemuda bernama Erlang mencari keadilan dan menuntut balas dendam, dan menemukan cinta sejatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Menuju Selatan.

Meninggalkan gerbang batas Desa Kaliwungu yang mulai temaram, Erlang terus melangkah mantap ke arah selatan. Hujan gerimis yang semalam mengantar kepergiannya kini telah berganti menjadi sisa-sisa embun pagi yang menempel di ujung rumput ilalang. Jalur yang dilaluinya perlahan mulai menanjak, membelah bukit-bukit batu yang sepi dan jauh dari pemukiman warga.

Sembari mengayunkan kaki, tangan kanan Erlang bergerak meraba lipatan terdalam bajunya, memastikan kitab kulit tanpa nama itu masih tersimpan dengan aman di tempatnya. Kejadian menyembuhkan penyakit kronis Ki Demang Wijaya kemarin siang masih membekas sangat jelas di dalam ingatannya.

"Edan... beneran tidak masuk akal kalau dipikir-pikir," gumam Erlang pada diri sendiri sembari memandangi hamparan lembah di bawahnya. "Kitab ini... ternyata bukan cuma berisi tuntunan napas untuk membuat pukulan jadi kuat atau tubuh jadi ringan. Tapi hawa hangat yang dihasilkannya... bisa dipakai untuk membedah penyakit di dalam tubuh manusia."

Erlang menghentikan langkahnya sejenak di bawah naungan sebuah pohon beringin kecil yang tumbuh di tepi jalur bukit. Ia menurunkan pikulan bambunya, lalu duduk bersila di atas sebuah batu datar yang bersih. Ia mencoba menarik napas dalam-dalam, mengikuti pola empat hitungan jantung yang kini sudah sangat melekat di luar kepalanya.

Wusss...

Dalam hitungan detik, rasa hangat yang sangat pekat langsung bergulung-gulung di dalam pusarnya, lalu mengalir dengan patuh menuju kedua telapak tangannya. Erlang membuka matanya, memandangi jemarinya yang tampak sedikit mengeluarkan uap tipis yang tidak kasatmata namun terasa sangat menyejukkan.

"Jadi, rasa hangat ini fungsinya mirip seperti air jernih yang menghanyutkan kotoran," bisik Erlang, berbicara pada angin perbukitan. "Kemarin di dada Ki Demang, hawa murni ini bekerja seperti sapu yang mengikis gumpalan darah hitam itu sampai bersih. Kalau pemahaman kitab ini sedalam ini, berarti aku tidak perlu lagi takut kelaparan di jalan. Aku bisa menolong orang sakit di desa-desa yang kulewati nanti."

Erlang tersenyum sendiri, membayangkan betapa bergunanya ilmu barunya ini. Namun, lamunannya buyar ketika dari arah atas jalur setapak, terdengar suara erangan pelan dan langkah kaki yang diseret dengan sangat susah payah.

“Aduh... Gusti... linu sekali... Tolong...”

Erlang langsung menoleh dan berdiri. Dari balik rimbunnya semak belukar, muncul seorang kakek pembawa kayu bakar yang berjalan terpincang-pincang. Wajahnya berkerut menahan sakit, dan kaki kirinya tampak diseret karena pergelangan kakinya membengkak cukup besar, sepertinya habis terkilir akibat salah menginjak batu besar di jalur pendakian yang licin.

"Nyuwun sewu, Paman," sapa Erlang ramah sembari berjalan menghampiri kakek tua tersebut. "Pundak dan kakinya kenapa? Mari, biar saya bantu bawakan kayu bakarnya."

Kakek tua itu menghentikan langkahnya, bersandar pada sebatang tongkat kayu dengan napas terengah-engah. Ia memandang Erlang dengan tatapan lelah. "Eh, le... Terima kasih banyak. Tadi subuh waktu mau turun dari atas, kaki kiri saya terpeleset batu cadas yang basah. Sepertinya uratnya bergeser atau sendinya lepas. Rasanya linu sekali sampai ke ubun-ubun, tidak kuat kalau harus memikul kayu ini sampai bawah."

"Sini, Paman, taruh saja dulu kayu bakarnya di dekat batu itu. Biar saya periksa sebentar kakinya," kata Erlang santai sembari memapah kakek tersebut untuk duduk di atas batu datar tempatnya beristirahat tadi.

"Kamu bisa mengobati urat terkilir, Le? Memangnya kamu anak tabib?" tanya si kakek dengan nada heran namun pasrah karena rasa sakitnya sudah tidak tertahankan lagi.

"Ah, bukan anak tabib kok, Paman. Saya cuma pengembara biasa yang mau menuju ke arah selatan," jawab Erlang jujur sambil berlutut di depan kaki kiri si kakek yang membengkak merah. "Tapi saya sedikit tahu cara membetulkan aliran darah yang mampet karena urat terjepit. Tolong lemaskan saja kakinya, jangan dilawan ya, Paman."

Erlang memegang pergelangan kaki si kakek dengan kedua belah tangannya. Kali ini, ia tidak perlu lagi bersusah payah memejamkan mata dalam-dalam seperti saat di kamar Ki Demang kemarin. Hanya dengan satu sentuhan dan satu tarikan napas pendek, Erlang langsung mengaktifkan inti tenaga dalam dari kitab kuno tersebut.

“Hmm... sesuai dugaan. Ini cuma urat besar di bagian mata kaki yang terpelintir ke arah luar, membuat aliran darah di sekitarnya tersumbat dan membengkak,” batin Erlang menganalisis dengan sangat cepat. Pemahaman dari kitab itu kini bekerja seperti mata kedua di dalam kepalanya, mampu melihat struktur urat dan darah di balik kulit manusia secara logis.

"Bagaimana, Le? Bisa dibetulkan? Kalau harus diurut kasar, tolong pelan-pelan ya... Saya tidak kuat menahan sakitnya," pinta si kakek dengan wajah cemas.

Erlang tersenyum menenangkan. "Tenang saja, Paman. Ini tidak akan sakit kok. Justru rasanya akan sangat nyaman."

Erlang mulai menyalurkan hawa murni tak terbatasnya melalui ujung-ujung jarinya. Hawa hangat yang lembut itu langsung merembes masuk ke dalam daging pergelangan kaki si kakek, membungkus urat yang terpelintir tersebut. Dengan sangat hati-hati, Erlang menggunakan energi murninya untuk melunakkan otot-otot yang tegang, lalu mendorong urat besar itu kembali ke posisi semula secara perlahan tanpa perlu melakukan urutan yang kasar atau paksaan fisik yang menyiksa.

Kakek tua itu tiba-tiba membelalakkan matanya, ekspresi cemas di wajahnya lenyap seketika. "Lho... lho... kok rasanya hangat sekali? Linu di kakiku mendadak seperti menguap hilang ditiup angin. Enak sekali, Le, seperti ditempeli parutan jahe hangat."

"Iya, Paman. Biarkan hawa hangatnya bekerja dulu untuk membersihkan sisa darah yang mandek di dalam," sahut Erlang santai sembari menggerakkan jemarinya memutar lembut di sekitar mata kaki si kakek.

Hanya dalam waktu kurang dari lima menit, keajaiban kembali terjadi. Benjolan besar yang semula membengkak merah di pergelangan kaki si kakek perlahan-lahan mulai mengempis di bawah pandangan mata mereka sendiri, kembali ke bentuk normalnya yang sehat. Warna kulitnya yang tadinya kemerahan berangsur-angsur menjadi bersih kembali.

Erlang menarik kembali kedua tangannya, lalu mengembuskan napas halus untuk menyudahi aliran energinya. "Nah, selesai, Paman. Coba sekarang kakinya digerakkan sedikit atau dipakai buat berdiri."

Kakek tua itu menurunkan kakinya ke tanah dengan ragu-ragu. Ia menghentakkan telapak kaki kirinya beberapa kali, lalu bangkit berdiri dan mulai berjalan memutar di sekitar pohon beringin tanpa menggunakan tongkat kayunya lagi. Wajah keriputnya seketika dipenuhi oleh rasa takjub dan kegembiraan yang luar biasa.

"Gusti Allah... beneran sembuh! Sama sekali tidak sakit lagi, Le! Bahkan rasanya kaki kiriku ini sekarang jauh lebih kuat dan segar daripada kaki kananku!" seru si kakek kegirangan seperti anak kecil mendapatkan mainan baru. Ia langsung menatap Erlang dengan pandangan penuh rasa hormat. "Le... kamu ini beneran tabib sakti yang sedang menyamar ya? Ajaib sekali, cuma dipegang sebentar tanpa diurut sampai menjerit, kakiku langsung sembuh total."

Erlang tertawa renyah, kembali memikul bambu buntalannya ke pundak. "Ah, Paman bisa saja. Saya beneran cuma pengembara biasa yang kebetulan lewat kok. Kebetulan paman saya dulu sering mengajarkan cara membetulkan urat yang salah posisi. Yang penting sekarang Paman sudah bisa berjalan pulang dengan aman tanpa perlu diseret lagi kakinya."

"Aduh, Le... saya tidak punya uang untuk membayar jasamu. Saya cuma pencari kayu bakar miskin," kata si kakek dengan wajah yang mendadak merasa tidak enak hati.

"Waduh, tidak usah dipikirkan masalah uang, Paman," potong Erlang cepat sambil melambaikan tangan dengan gaya santai. "Melihat Paman bisa berjalan dengan sehat lagi saja sudah menjadi bayaran yang sangat lebih dari cukup untuk saya. Malah kalau boleh, saya cuma minta petunjuk jalan saja. Apakah jalur selatan ini benar bisa tembus ke perbatasan kadipaten berikutnya sebelum matahari tenggelam?"

Kakek tua itu mengangguk mantap dengan mata berkaca-kaca karena haru. "Benar, Le. Ikuti saja terus jalan setapak bukit ini ke arah bawah. Nanti setelah melewati jembatan bambu di dasar lembah, kamu akan langsung sampai di kadipaten sebelah. Jalurnya sudah aman dan tidak membingungkan."

"Nggih, Paman. Terima kasih banyak atas petunjuk jalannya. Saya pamit melanjutkan perjalanan dulu ya, nggih? Hati-hati waktu turun membawa kayu bakarnya," pamit Erlang dengan sopan, membungkuk sedikit sebelum melangkah pergi.

"Selamat jalan, Le! Semoga Gusti Allah selalu melindungi setiap jengkal langkahmu! Kebaikanmu pasti akan dibalas oleh Yang Kuasa!" teriak kakek tua itu melepas kepergian Erlang dengan lambaian tangan penuh doa.

Erlang melangkah kembali, meneruskan perjalanannya mendaki dan menuruni jalur perbukitan menuju ke arah selatan. Angin siang yang berembus kencang menerpa wajah rupawannya sama sekali tidak mengurangi rasa mantap di dalam hatinya. Sepanjang jalan, senyuman tipis tidak pernah lepas dari bibir Erlang.

Kesadaran baru yang ia dapatkan dari dua kejadian berturut-turut ini, di pendopo kademangan dan di tepi jalur bukit tadi, membuat pandangan hidupnya kini berubah sepenuhnya. Kitab kulit tanpa nama di balik bajunya bukan lagi sekadar alat untuk membalaskan dendam masa lalu, melainkan sebuah anugerah tak ternilai yang menjadikannya mampu membawa keajaiban kesembuhan bagi siapa saja yang membutuhkannya di sepanjang jalan panjang pengembaraannya menuju selatan.

1
anggita
novel laga lokal yg cukup menghibur 👌
anggita
nama jurus yg sederhana namun tetap keren👌👍
Rokok Remik
sampai bab ini ceritanya bagus.
erlang terlalu polos, untung bukan ltipe musang birahi /Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!