NovelToon NovelToon
Suami Karismatik Milik CEO Cantik

Suami Karismatik Milik CEO Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Perjodohan
Popularitas:10.8k
Nilai: 5
Nama Author: Lonafx

Tamara Hadinata adalah perempuan tegas yang terbiasa memegang kendali. Memiliki gaya hidup yang dipenuhi ambisi dan emosi, membuatnya tak pernah serius memikirkan pernikahan.

Ia sibuk bekerja, sesekali terlibat hubungan sementara tanpa komitmen nyata. Sampai keputusan papanya, mengubah segalanya.

Khawatir dengan gaya hidup dan masa depan Tamara, sang Papa menjodohkannya dengan Arvin Wicaksono—Pria karismatik, intelektual, dan dianggap mampu menjadi penyeimbang hidup putrinya.

Namun bagi Tamara, pertemuan mereka adalah benturan dua dunia dan karakter yang tak seharusnya saling bersinggungan.

____
Bagaimana pernikahan mereka bisa terjadi?
Lalu, apa jadinya jika dua orang yang nyaris bertolak belakang, disatukan dalam ikatan pernikahan?
Di tengah kesibukan dan perbedaan, bisakah keduanya hidup berdampingan meski memulai hubungan tanpa cinta?

kuyyy ikuti kisahnya~

📢FYI, cerita ini alurnya santuyy yaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lonafx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 Hal Yang Mulai Berubah

Pagi datang dengan cahaya yang menyelusup lembut, di sela dinding-dinding kaca rumah.

Tamara bangun lebih awal dari biasanya, padahal hari ini masih akhir pekan.

Entah sejak kapan, kakinya membawanya menuju dapur.

Begitu langkahnya memasuki area itu, suasana langsung berubah.

Yuli yang sedang sibuk menyiapkan bahan sarapan, langsung membeku di tempat.

Sorot matanya melebar, melihat sosok sang nyonya besar—mengenakan dress rumahan, rambut diikat seadanya, langkahnya mantap berhenti di depan meja kompor.

"Ibu butuh sesuatu?" tanya Yuli hati-hati.

"Saya mau buat sarapan," jawab Tamara.

"Hah?!"

Yuli terperangah dengan nada suaranya sedikit meninggi, lalu buru-buru membekap mulutnya sendiri.

Matanya menatap heran, seakan sedang menyaksikan peristiwa langka yang harus di catat dalam sejarah rumah ini.

Nyonya besarnya itu, jangankan membuat sarapan, menyentuh kompor saja tidak pernah.

Sementara Tamara menatap ragu ke arah kompor, seperti melihat medan perang kecil yang selama ini tak pernah ia klaim sebagai wilayahnya.

"Bu... " suara Yuli nyaris berbisik, antara kaget dan tak percaya.

"Biar saya—"

"Saya mau mencoba sendiri," potong Tamara cepat.

Ia menoleh ke arah gadis itu.

"Beritahu aja dimana letak wajan dan spatula."

Yuli sempat membeku lagi beberapa detik, sebelum akhirnya berjalan mendekat.

"Ada di laci, Bu," kata Yuli, sambil menunjuk ke arah lemari di depan mereka.

"Oke."

Satu kata itu saja, sudah cukup membuat dapur yang biasanya teratur, menjadi sedikit riuh.

Hanya karena sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya, nyonya besar rumah itu seperti memutuskan menjadi manusia biasa.

Tamara meminta Yuli berdiri di sampingnya.

"Kamu ajarin cara bikin telur ceplok yang bener ya," pintanya.

Yuli mengerjap, sempat bengong.

"Ibu serius?" tanyanya dengan mata terbelalak.

Tamara menghela napas.

"Saya nggak perlu ngomong dua kali, Yuli," ujarnya dengan suara rendah, tapi tak menghilangkan kesan tegasnya.

Yuli langsung mengangguk mantap, lalu menambah satu langkah.

"Oke, Bu! Siap!" katanya sambil menegakkan bahu, seperti prajurit patuh.

Tamara akhirnya membuka laci, mengambil wajan dan spatula.

Sambil mendengarkan arahan Yuli, ia menyalakan kompor.

Menakar minyak dengan hati-hati, belajar memecahkan cangkang telur, meski gerakannya masih kaku dan canggung.

Sesekali tawa kecilnya pecah, karena hasilnya tidak sesuai bayangannya.

Arvin yang baru datang dari arah belakang, berdiri beberapa meter sambil memperhatikannya.

Ia belum menegur, hanya menyunggingkan senyum yang bahkan jarang ia perlihatkan di rumah ini.

"Kamu yakin nggak papa?" tegur Arvin akhirnya.

Tamara menoleh.

Spatula masih di tangannya, seperti memegang benda paling tidak cocok bagi seorang perempuan, yang biasa memimpin rapat staf dengan wajah tanpa ampun.

"Kenapa?" tanya Tamara ringan. "Takut dapurnya runtuh?"

Arvin tergelak kecil, lalu melangkah menuju ke arahnya.

Ia berhenti satu langkah di belakang istrinya.

"Takut kamu merasa terpaksa," kata Arvin dengan suara lembut.

Ia mengikuti arah pandangan Tamara, yang tertuju pada wajan penggorengan berisi telur percobaan kedua.

Senyum kecil Arvin muncul. "Aku nggak pernah minta kamu, harus berada di meja dapur."

Ia lalu memberi isyarat singkat pada Yuli, agar memberi ruang bagi mereka hanya berdua.

Yuli mengangguk paham, kemudian dengan sopan meninggalkan keduanya.

"Aku nggak terpaksa, kok," sahut Tamara.

Arvin berdiri lebih dekat, meletakkan kedua tangannya di bahu sang istri, mengusapnya lembut.

"Tata... aku menikahi kamu, bukan dengan banyak daftar kewajiban," kata Arvin.

Ada jeda kecil, yang justru terasa hangat.

Tamara meletakkan telur hasil buatannya pada salah satu piring, jemarinya langsung memutar knob kontrol pada kompor.

Ia berbalik, sehingga tubuhnya berhadapan dengan suaminya.

"Justru karena itu, aku sendiri yang mau belajar."

Kalimat itu sederhana, tapi ternyata mengendap lebih lama dari yang mereka duga.

Hingga Arvin bersuara lebih dulu, setelah jeda hening itu. "Ya udah. Aku mau nyobain masakan kamu, kalau gitu."

Tamara melirik sebentar telur ceplok buatannya.

"Kalau rasanya nggak enak, jangan komplain ya."

Ia agak malu dengan hasil buatannya, hal yang bahkan tak pernah ia perlihatkan di luar rumah.

"Ada sedikit gosong, sih," lanjutnya.

Arvin menahan tawa. Ia sedikit menunduk, menempelkan singkat bibirnya pada kening istrinya.

"Aku nggak peduli rasanya."

"Kok gitu?" Tamara terheran.

Arvin mendekat, kedua tangannya memeluk pinggang Tamara, seperti laki-laki yang tidak tahu malu.

"Aku hanya peduli pada siapa yang membuatnya," bisik Arvin.

Tamara menelan ludah.

Tubuhnya selalu bereaksi sama, setiap kali suaminya itu menyentuhnya: ada perasaan tegang yang terasa nyaman.

Hingga Arvin melepaskannya.

"Karena ini hasil dari mencoba, kamu nggak harus langsung mahir," ujar Arvin.

Tangannya terulur meraih piring itu, lalu mengajak Tamara ke meja makan.

Mereka duduk berhadapan, menyantap hasil masakan yang jauh dari sempurna.

Arvin berkomentar jujur, Tamara sesekali membalas dengan pura-pura tersinggung.

Lalu, tawa kecil memenuhi meja makan. Tanpa aba-aba, ringan, dan tidak canggung.

Di sela itu, percakapan mereka mengalir. Mulai dari hal-hal kecil yang dulu tidak pernah di bahas, sampai tentang rencana-rencana seputar pekerjaan.

Hari itu pun, tetap berjalan seperti biasa. Namun, tidak berlalu begitu saja.

Ada hal-hal yang mulai berubah, dan menjadi kebiasaan yang menetap.

Bagaimana cara mereka berbicara, saling menoleh, dan bagaimana jarak itu menghilang dengan sendirinya.

Siang harinya, Tamara menghampiri Arvin yang duduk di taman belakang.

Ia meletakkan secangkir teh hangat buatannya di atas meja, tidak jauh dari laptop suaminya.

Arvin menoleh sebentar, sorot matanya melembut dari balik kacamata.

"Makasih, ya," ucapnya sambil tersenyum.

Tamara mengangguk, lalu duduk di samping Arvin.

"Kamu sedang masa pemulihan jet lag loh, Mas. Masih ada kerjaan?" tanya Tamara.

Jari-jari Arvin berhenti di atas laptop, lalu menoleh istrinya lagi.

"Aku sudah mendingan. Cuma nulis sedikit laporan perjalanan," jawabnya.

Tangannya meraih cangkir teh, menyeruputnya pelan.

Pandangannya meneliti ke arah tumpukan dokumen di atas meja, hingga ia teringat sesuatu.

"Kayaknya aku melupakan satu berkas, deh."

Arvin lantas berdiri, menoleh sebentar. "Aku ke ruang kerja sebentar ya," pamitnya, seraya membelai singkat puncak kepala istrinya.

Tamara mengiyakan, lalu menyandarkan punggung pada kursi taman.

Suara gemerisik air kolam hias di dekatnya, terdengar lebih jelas ketika sendiri menunggu suaminya.

Suasana itu terlalu nyaman, dan terlalu tenang.

Sampai ponsel Arvin bergetar lama, Tamara melirik, tapi tak berniat memeriksanya.

Hingga layar ponsel kembali gelap. Tak lama, layarnya menyala lagi ketika bergetar singkat.

Sekali.

Dalam waktu singkat, menyala sekali lagi.

Tamara menegakkan punggung, tubuhnya sedikit mencondong ke arah meja.

Notifikasi pesan itu terlalu jelas di layar pop up ponsel, seolah menantang untuk dilihat.

Satu nama yang tidak asing muncul: Nelly.

|Kamu udah di rumah, Vin?

|Congrats atas penghargaannya.

|Jangan lupa istirahat ya.

Tamara membeku.

Kalimat itu memang tidak romantis. Namun, terlalu perhatian, juga terlalu akrab.

Terlalu terkesan seperti seseorang, yang berhak masuk terlalu jauh, dalam ruang pribadi seorang suami.

Tamara menyandarkan kembali punggung, tapi tak sepenuhnya bisa mengabaikan kalimat itu.

Ia terdiam lama, sampai Arvin kembali dengan membawa lembaran kertas di tangannya.

Arvin duduk santai, tidak menyadari apa-apa.

Sementara Tamara menelan napas. Pikirannya sudah tidak di taman itu, melainkan melayang ke masa lalu.

Teringat dirinya dulu, yang lebih banyak bersikap dingin, dan cenderung mengabaikan perannya sebagai istri.

Tiba-tiba satu kesadaran menusuknya seperti jarum kecil, betapa mudahnya, suaminya mendapat perhatian dari orang lain.

Bukan karena Arvin yang menggoda, tapi karena laki-laki itu memang pantas dicintai.

"Are you okay?" tanya Arvin, yang menyadari istrinya sedang melamun.

Tamara mengerjap. "Ya," sahutnya cepat.

Arvin tersenyum tipis, jelas tak percaya, meski matanya masih sibuk pada layar laptop.

"Bohong... " katanya pelan.

"Aku nggak bohong," elak Tamara.

Awalnya.

Sampai ia kembali menatap Arvin, hanya untuk berpikir ulang.

Ia tidak akan tahan, jika terus-terusan menyimpan kegelisahan ini sendirian.

Tamara menatapnya sedikit lebih lama, seperti menimbang-nimbang sesuatu.

"Nelly, siapa?" tanyanya, akhirnya.

Nada bicaranya tenang, tidak mendesak, tapi tetap menuntut jawaban.

BERSAMBUNG...

1
Wawan
Salam kenal buat Tamara ✍️
🌺Bunga_Ros⁹⁷
baca nyicil dlu beb, nnti aku kembali lgi setelah iklan yg satu ini😂🤣😁
🌺Bunga_Ros⁹⁷
pilihan papa pasti pria yg lebih matang dan dewasa, Tamara tenang aja.. semua akan baik² aja.. wkwkwkw 🤣
🌺Bunga_Ros⁹⁷
pasti pilihan papa yg terbaik dan GK pernah salah, ayo ta terima jgn di tolak😁
🌺Bunga_Ros⁹⁷
papanya pasti ngejodohin sama pria lain nih klo udh gini cerita percintaan tamara😂
🌺Bunga_Ros⁹⁷
rata² seorang ayah memang gtu yah, di balik sikap cuek nya dia sama anak perempuan nya pasti di lain sisi ia tetap mengawasi
🌺Bunga_Ros⁹⁷
berita dlm sekejap udh tersebar aja nih🤭 makin deg²an aja
🌺Bunga_Ros⁹⁷
nyonya CEO mah santai 🤣
🌺Bunga_Ros⁹⁷
GK usah di buat galau, Tamara GK rugi amat ninggalin pria yg GK tau diri kayak Andra itu jg
🌺Bunga_Ros⁹⁷
Tamara pasti cuman Mandang fisik sih ini pantas aja udh seefort itu, GK tau nya mokondo🤦
🌺Bunga_Ros⁹⁷
mampir di karya mu lgi beb walau udh terlambat jauh sekali 😂
🌺Bunga_Ros⁹⁷
bagi lu yg normal tapi bagi Tamara itu hal yg paling menjijikan 🤭
🌺Bunga_Ros⁹⁷
nikah dlu bloon biar GK lakuin dosa klo lgi birahi😁🤣
🌺Bunga_Ros⁹⁷
adegan yg tadi udh cukup jls, mau lu jlsin apa lgi woii😁
🌺Bunga_Ros⁹⁷
jgn gini, lu pikir semua cwek bisa lu bodoh²in.. 😁🤣
🌺Bunga_Ros⁹⁷
udh ketauan baru saling menyalahkan😂
🌺Bunga_Ros⁹⁷
udh mokondo gak tau diri lgi🤣
🌺Bunga_Ros⁹⁷
iyah² putus, sampah tidak pantas dipelohara
🌺Bunga_Ros⁹⁷
bukan seperti yg kamu lihat🤣
🌺Bunga_Ros⁹⁷
untung masih pacar mba, ayo hempaskan sampah itu😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!