Semua berawal pada malam itu di saat pertunangan seorang teman. Dipertemukan dengan keadaan yang tidak bisa di mengerti. Entah itu duka atau suka di masa depan nanti. Dia terlihat cantik pada malam itu, seperti kunang-kunang di bawah bulan purnama. Entah harus senang atau malu pada saat itu. Kepercayaan cinta pada pandangan pertama tidak mengalahkan pada rasa kewaspadaan; sehingga menganggap setiap hal adalah jenaka semata. Di sisi lain, ada rasa beruntung. Laki-laki mana yang tidak beruntung bertemu dengan makhluk indah di antara makhluk lainnya. Hingga dari fase ke fase, rasa ingin memiliki semakin sulit. Namun tetap merasa beruntung, dengan begini bisa merasa tetap ada dalam hidupnya. Meskipun begitu, kepercayaan pada "usaha tidak mengkhianati hasil" masih teguh nan kokoh di dalam dada. Hingga sebuah kalimat terlontar dari bibir, "Terimakasih pernah menulis buku sejarah indah. Meski harus berakhir seperti ini;)"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CAPEK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Lupa Datang
..."Aku membenci pagi...
...yang sesungguhnya merindukan sang mentari...
...Namun aku juga tidak bisa...
...meninggalkan sang malam"...
Hari ini berbeda dari sebelumnya. Langit cerah, bahkan lebih cerah dari sebelumnya. Sepertinya cerita kali ini pun berbeda, bahkan temannya juga.
Dulu pakaian apa saja bisa saat memulai rutinitas. Bahkan tanpa memakai bedak atau parfum tidak masalah. Dan yang lebih kerennya, cermin tidak terlalu dibutuhkan. Namun kali ini beda, seperti berjalan pada dimensi berbeda.
Motor melaju dengan santai seperti angin pagi. Mengingat agenda yang muncul, ada kelas yang harus diisi hari ini.
"Hello..?" sapaku. Dan mereka pun membalas. "... Perkenalkan nama saya Helmy Syahputra. Kalian bisa menyapa saya dengan Agam agar lebih akrab."
Aku memulai pembukaan materi yang telah ditentukan pihak sekolah. Menulis, menjelaskan; semua terlalu monoton bagiku. Namun ini telah menjadi ketentuan yang telah ditetapkan.
Suasana kelas mengingatkan aku pada masa masih tingkat SMA. Ada yang rajin, ada yang tidak peduli, dan ada juga yang sedang bercerita tentang pria yang akan mengajak ia kencan di malam minggu mendatang. Dan yang paling menarik perhatian adalah seorang siswa yang duduk di sudut kanan. Dia terlihat santai ketika pelajaran sedang berlangsung. Kadang ia merebahkan sebagian tubuhnya di atas meja. Dan yang paling kerennya, ia hanya menopang kepalanya ketika melihat ke depan. Seakan ada paksaan yang diemban olehnya.
"Pak, kami capek nulis, dengar ceramah." Aku kaget ketika mendengar suara dari sudut kiri.
"Apakah sekolah seperti ini semua, Pak?" tambah temannya yang di sebelah.
Wajar saja banyak guru yang membicarakan kelas ini. Dan tidak heran sampai kepala sekolah berkata seperti itu.
Aku pun berhenti menulis. Dan kembali mendengar keluhan mereka dengan bersandar di sudut meja. Lalu melihat satu per satu wajah mereka dengan jiwa pemberontak. Dan perasaan itu muncul, memaksa kembali pada masa itu. Pun ini seperti nostalgia.
"Pak, kenapa kita harus belajar di sekolah? Belajar sendiri juga bisa, kan?" tanya salah satu dari mereka. Dan pertanyaan-pertanyaan dari mereka terus berdatangan. Dan hanya diam. Di tambah melihat situasi yang ribut dan kacau.
Beberapa saat aku mengeluarkan baju, menggulung lengan baju, dan membuka kancing baju hingga terlihat baju kaos hitam polos. Dan berkata, "Sebelum itu, panggil saja saya Bang Agam." Aku diam sejenak. "—Sekarang saya mau tanya, kenapa kalian datang kemari? Sedangkan kalian tidak niat belajar?" tanyaku. Mereka pun terdiam. Kelas yang awalnya gaduh, kini perlahan tenang. Aku pun mulia membuka topik, "Percaya gak? Dengan belajar, bisa membuat mantan menyesal atau bisa membuat orang yang kita suka tertarik pada kita?" Mereka kaget dan menggeleng kepala.
Di saat itu pula mereka mulai terlihat fokus pada sumber suara.
Aku berkata, "Sebenarnya, bukan gaya saya dengan penampilan seperti ini. Dan ini membuat saya tegang dan risih ketika berhadapan dengan orang. Saya paham maksud dari pertanyaan tadi. Biar saya tanya pada kalian, apakah karena uang saku yang membuat kalian datang kemari?"
"Bukan Pak..!" jawab salah satu siswi.
"Sudah saya katakan jangan panggil Pak," jawabku.
Aku berjalan ke arah siswi tersebut dengan langkah berat. Dan seluruh pasang mata tertuju padaku dan siswi tersebut. Namun siswi tersebut tampak resah dan takut.
"Hemp... Lalu apa yang membuat kamu kemari?" tanyaku sambil melihat sekitar. "Apakah karena pria tampan duduk di kursi depan itu yang membuat kamu kemari?" kataku dengan menunjuk objek. Wajah siswi tersebut pun memerah.
Banyak yang mengatakan kelas ini sangat buruk untuk mendapatkan pelajaran. Bahkan ada juga guru yang tidak ingin mengajar di kelas ini dengan perihal tidak ada etika dan sopan santun.
Aku bertanya, apa yang membuat mereka tidak memiliki niat belajar. Dari beberapa jawaban, kebanyakan menjawab tentang masalah sistem. Uneg-uneg yang mereka sampaikan—kebanyakan guru lebih fokus pada murid yang telah paham dan membiarkan tipe murid sulit memahami pelajaran. Di sisi lain, ada juga yang tidak memahami pola pikir mereka (siswa), terutama dalam hal pendekatan hubungan.
"Sekarang, tutup buku kalian..!" kataku.
"Kenapa tutup buku, Pak. Sedangkan kita di sini untuk belajar?" ucap salah satu siswa rajin.
Aku mengusap kepalanya seraya tersenyum. Dan berkata, "Gak semuanya yang dipelajari itu dari buku."
Di sebuah papan tulis, aku menulis LOVE = SKILL. Aku tersenyum melihat wajah mereka tampak kebingungan. Yang paling menarik, siswa yang duduk di sudut kiri (tukang tidur) telah membuka matanya.
"What do you feel?" tanyaku dengan menunjukkan papan. Mereka tambah kebingungan. "Sebelum ke tahap selanjutnya. Ada yang tau arti yang saya ucapkan tadi?" Mereka hanya tetap diam. Aku pun mengeluarkan bungkusan kecil yang berisi coklat dari Spanyol. "—Bagi siapa yang bisa jawab, saya akan memberi ini," kataku.
Suasana yang berubah drastis. Dan seketika membuat aku kaget. Wajah mereka berubah seperti orang yang sedang memperjuangkan sesuatu. Semua buka yang dibawa, mereka membukanya. Setiap buku catatan, mereka buka. Urat-urat kepala membengkak. Bahkan ada beberapa di antaranya, bulir-bulir keringat berjatuhan demi sebuah coklat.
Setelah beberapa menit kemudian. Ada sebuah tangan bergetar yang menjulur ke atas. Siswi itu memakai kacamata yang lumayan tebalnya. Dan ia terlihat takut dan ragu-ragu.
"Ayo berdiri. Gak apa-apa kok," kataku. Dia tambah ketakutan saat aku berkata seperti itu, dan ia pun memilih mundur.
"Dasar culun," kata salah satu dari temannya. Sorot mata yang lainnya berubah, diiring dengan suara cemoohan.
Aku beranjak dari tempat, dan mengiringnya untuk berdiri di depan. Namun ia menolak akan hal bodoh itu (baginya). Bahkan ia sangat ketakutan dari sebelumnya.
Aku mengulurkan tangan. Dan berkata, "Gak perlu takut. Percaya deh..!"
Ketika ia melangkah, tidak hanya tangannya yang bergetar, juga kakinya. Dia memejamkan mata seakan ia tidak ingin melihat kesialan yang akan terjadi.
Aku berbisik, "What's your name?"
"M..ma..mau.. Maulida," jawabnya terbata-bata. Aku sedikit kaget mendengarnya. Sejenak hening. Hingga sedikit membawaku pada kenangan itu.
Aku pun tersenyum. Dan berkata, "Nama itu mengingatkan saya pada seseorang. Dia cantik dan cerdas dan berani." Dia sedikit mereda. Aku pun menggenggam bahunya. Dan berkata, "Kamu harus percaya. Suatu saat kamu akan seperti dia." Dan Maulida kecil pun tersenyum.
Meski langkahnya masih ragu, ia terus berusaha. Dan itu tampak dari tangannya yang mengepal. Sesampai di depan, ia berusaha menatap ke depan. Kakinya tampak rapuh (bergetar), namun ia paksa untuk tegar. Dan aku hanya tersenyum melihat itu.
Maulida kecil berkata, "Ma..maafkan saya teman-teman. Sa..saya rasa, kalian malu punya te..teman cu..culun dan pe..pengecut seperti saya ... Jawabannya adalah Apa yang kamu pikirkan."
Jawabannya benar dan aku pun memberinya hadiah yang telah dijanjikan. Seluruh pasang mata berubah tajam. Seperti orang menaruh benci kepadanya.
Dia menatapku seperti meminta kekuatan. Namun aku hanya memberinya senyum dengan tangan mengepal; mengisyaratkan kalau ia mampu melakukannya.
Maulida kecil menguatkan diri dengan menarik napas dalam-dalam. Dan ia berkata, "Sa..saya mengerti kalau ki..kita sama-sama me..menginginkan coklat dari Se..Spanyol tersebut. Ka..ka.. kalau saya mendapatkan hadiah i..i..itu, saya akan bagi-bagi. Asalkan ka..kalian mau berte..teman denganku."
Mata-mata yang tajam berubah teduh. Sorak-sorak yang memilukan mulai mereda seperti daun dibawa angin. Tidak hanya pandangan mereka, aura kelas juga berubah. Hati berkata, ini yang disebut sepercik kebahagiaan dari surga; ketika melihat seseorang bahagia menebarkan ketulusan.
Pada akhirnya, semua akan tubuh pada masanya. Yang awalnya hanya sepucuk tunas, kini telah mekar nan indah. Yang dulunya rapuh, kini telah kokoh karena tekad. Dan yang selalu diyakini dengan tekad walau itu menyakitkan, pada akhirnya akan berbuah apa yang ditanam. Melihat wanita itu, teringat apa yang dikatakan oleh ayah, bahwa dalam gelap—ikan sangat menyukai cahaya. Oleh karena itu ia selalu melawan arus.
Apa yang tampak, tidaklah selalu benar. Dan selalu ada makna ketika mampu melihat dari sisi lainnya. Hidup tidaklah selalu demikian, hal-hal yang datang menyakitkan seperti sebuah wasiat yang berharga. Dan itulah yang aku katakan pada mereka, bahwa tidak selamanya pohon akan berakhir pada api.
"Apa yang kalian pikirkan ketika membaca tulisan ini?"
"Matematika, Pak."
"Bahasa Indonesia, Bang."
"Salah. Itu sih Bahasa Inggris."
Dan masih banyak lagi jawaban yang mereka sumbang. Mereka sangat antuias mengemukakan pendapat. Sesekali terdengar menggemaskan ketika salah satu di antaranya menjawab dengan lolucon receh. Terkadang ada yang berdebat—hanya karena pendapatnya paling benar. Dan semua itu mengundang tawa di dalam kelas.
"Itu bukan mata pelajaran." Mendengar suara itu, seketika semuanya terdiam.
Aku pun ikut kaget ketika mendengar itu. Mata mencari-cari sumber suara yang berbeda. "Bisakah mengacung tangan sebelum menyumbang pendapat?" tanyaku. Sosok itu muncul dari sudut sana (kiri). Dan itu membuat aku kaget sekaligus kagum. Terlebih saat ketika matanya terbuka lebar (Dan itu mengingatkan aku seperti orang yang telah membawa pulang harta dari sekian jauh berkelana di alam mimpi). "Ya, silahkan..! Sebelumnya, bolehkah perkenalan dulu?"
Dia pun mengangguk. "Perkenalkan nama saya Helmi Fahlevi. Izinkan saya untuk menjawab ... Langsung saja ke intinya. Itu bukan mata pelajaran, walaupun ditulis dalam bahasa Inggris dan bukan matematika atau fisika meski ada simbol sama dengan di sana. Tapi itu adalah judul sekaligus tema yang akan dibahas beliau. Terimakasih."
Pemikiran yang menakjubkan, ia mengingatkan aku pada Fadel. Aku tersenyum mendengar pemikirannya. "Beri tepuk tangan untuk teman kita!"
Di sela-sela kemeriahan. Aku menjelaskan apa yang aku ketahui. Tentang hidup, tentang tekad, hingga tentang belajar dari hal yang pahit. Dan salah satunya apa yang mereka lihat barusan.
Suasana meriah, kini kembali hening. Kembali membuka pikiran nan fokus pada satu titik. Beberapa di antaranya ada yang membuka buku, dan ada juga membuka gadget (walau sebenarnya itu melanggar peraturan membuka ponsel dalam jam kelas) untuk menulis apa yang penting bagi mereka.
"Ada yang bisa menjelaskan dari tulisan di atas, selain dari Helmi jelaskan?" tanyaku.
Dengan antusias, mereka menjelaskan dengan pemikiran mereka sendiri. Di sini mereka bebas mengemukakan pendapat, bebas menyumbang pemikiran mereka. Dan itu tampak dari wajah mereka, dengan tangan yang mengapai langit—menunggu giliran untuk angkat suara. Bagaimana tidak? Di sini tidak ada jawaban yang berlandaskan buku.
"Nama saya Irfan, biasa dipanggil Cantoi. Love itu cinta, Sekill itu sekilas. Jadi pemikiran saya; cinta itu sekilas. Hanya singgah sebentar, lalu pergi." Jawab salah satu siswa yang berbakat dalam membuat seisi kelas ramai dan meriah.
Tidak hanya mereka yang tertawa dan geram dengan jawaban seperti itu. Terkadang aku merasa kagum, dan juga gemas ketika mendengar pemikiran-pemikiran mereka. Membayangkan kelas ini sebelumnya, sekarang tampak lebih hidup dan lebih menjadi diri sendiri. Mungkin ini disebut dengan sistem belajar sambil tertawa.
"Permisi, Bang." Salah satu di antara mereka mengangkat tangan.
Dan aku mengalihkan pandangan ke sumber suara. "Ya.. Silahkan!"
"Sedari tadi, kami lihat—Abang cuma mendengar pendapat dari kami. Kenapa Bang?" tanyanya.
Aku menjawab, "Sebelumnya saya pernah berkata—belajar itu gak harus dari buku." Kemudian aku pun berjalan ke arah sumber suara tersebut. "—Selain itu, saya gak mau jawaban kalian berdasarkan buku. Dan itu membuat otak tidak berkembang. Dan satu lagi. Di sini, kita belajar kreativitas. Menciptakan sesuatu dari ketiadaan, dan mengolah sesuatu menjadi ada."
Beberapa saat. Di sisi lain pun bertanya, "Saya sudah mendengar semua jawaban teman-teman. Namun saya belum mendengar jawaban Abang. Dan saya penasaran." Dan ternyata suara itu berasal dari kursi sudut kiri. Dan itu membuat aku semakin tertarik dengan sifat pemalasnya.
"Ternyata, di balik sifat tukang tidur itu ada potensi yang terpendam, ya? Saya suka gaya kamu," kataku padanya.
Kemudian aku mulai membuat gambaran, entah itu di papan tulis atau menjelaskan sedikit contoh-contoh dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya seperti besi yang selalu diasah. Bukan karena diulang-ulang, akan tetapi karena tekad dan yakin akan hasil.
Selain contoh sehari-hari. Mereka meminta untuk bercerita tentang hidupku yang dulu. Ada rasa enggan, lebih tepatnya sedikit malu. Namun di sini aku sebagai mentor agar mereka termotivasi dalam menggapai mimpi mereka. Lalu aku mulai bercerita seperti apa dulu dalam mengarungi ilmu. Terkadang mereka kagum, kesal, dan tertawa akan tingkahku yang banyak konyolnya.
"Masih ada yang kurang paham?" tanyaku.
"Saya pak."
"Hemp... Yasudah kalau begitu. Angkat tangannya bagi yang belum paham," kataku. Lalu aku sejenak diam. Memegang dagu layaknya orang berpikir. Dan bertanya pada diri sendiri, bagaimana cara menjelaskan pada mereka dengan lebih sederhana?
Setelah beberapa saat memerhatikan sekitar, aku menunjuk dua orang untuk tampil di depan. Salah satunya yang paling ribut dan yang paling kalem. Dan menurutku ini akan menjadi hal yang menarik untuk mereka suatu saat nanti.
"Untuk apa kami di sini, Bang?" tanya siswa tersebut. Namun siswi itu sedang menahan malu.
Aku tersenyum. "Berdiri aja kalian di sini. Saya rela membuang waktu hanya untuk satu ilmu, dari pada terlalu banyak waktu yang terbuang namun tidak ada satu pun yang kalian tangkap," ujarku. "... Sebelum saya lanjut, saya mau bertanya pada kalian berdua. Bagaimana perasaan kalian?"
Siswa itu menjawab "tidak" dengan nada keras dan lantang. Dia berkata enggan memilih wanita si kutu buku itu. Mungkin ia tidak tau, setiap orang memiliki sisi lebih. Namun, matanya tidak mampu berbohong. Sedangkan siswi tersebut, ia terlihat seperti daun putri malu yang bila disentuh akan menguncup. Dan tersadar, kalau ia lebih memilih untuk menyembunyikan perasaannya dari pada harus mendengar kenyataan yang tidak diinginkan.
Aku pun mulai bercerita, "Aku pernah mencintai seseorang yang tidak mengerti tentang diriku—yang sering tidak masuk kelas, atau mungkin aku tidak pernah berani mengawali sesuatu yang terpendam. Aku selalu melihatnya di lorong perpustakaan kampus, yang memopang kertas-kertas dan terkadang menggenggam cup-coffee. Sering berselisih arah jalan namun tidak dengan mataku (yang mengikutinya), pun itu tidak pernah terbalas. Apakah semuanya perlu balasan? jawabannya tidak. Aku tidak perlu balasan, selama aku masih bisa terus melihatnya di lorong perpustakaan"
"Ada yang mengatakan, kau harus mengatakan apa yang tersimpan saat ini. Pada akhirnya, yang dipendam akan kalah dengan yang menyatakan. Lalu aku mencoba memberanikan diri untuk menanyakan namanya. Hari demi hari memaksa diri hanya sekedar menyapa dirinya, dan semua itu hanya ingin melihat matanya menoleh," kataku.
Aku kembali berkata, "Dia sangat ramah hingga ia ingin bertukar kontak denganku. Yang katanya, kamu sesuatu yang aneh sekaligus menarik. Dan itu membuat jantungku berdetak cepat sekaligus lemah saat seseorang telah menunggu di ujung lorong. Namun ia masih melambaikan tangan, dan aku sekedar. Dan aku hanya bisa, diam."
"Tidak hanya berhenti sampai di sana. Sebuah cerita itu baru saja dimulai. Yang lucunya, ia selalu ada di mana aku bersembunyi. Dan katanya "Kita memiliki banyak kesamaan. Yaitu nyepi dan ngopi". Mendengar itu, aku mengangguk dan tersenyum kagum. Di sanalah arti "waktu" itu sangat penting. Berlarut-larut di antara daun yang bergoyang, hingga ia harus kembali setelah menerima suara pria dari gawainya."
"Tidak ingin membuang-buang waktu. Selalu ada cerita menarik yang ingin disampaikan. Membagi sudut pandang berbeda bukan karena agar tidak garing, namun hanya ingin melihat ia tersenyum. Sering dilarang namun tetap melakukan, di mana membawa cemilan ke perpustakaan, dan lari apabila ketahuan. Namun sang pria itu telah menunggu di depan gerbang. Lalu ia berlari dan langsung merangkul lengan sang pria. Dan lagi-lagi ia melambaikan tangan ke arahku."
"Aku membawa kopi coklat kesukaannya. Dan terkadang memberinya sebatang bunga melati pagi—meski ia mengatakan, ..., ini sangat alay. Kebanyakan laki-laki seperti itu. Dan ini bukan dirimu yang sebenarnya. Aku lebih suka permen karet dari pada diberi bunga oleh pria". Dan aku hanya tertawa ketika mendengar sisi unik darinya. Dan itu membuat aku terkesima. Tanpa sengaja, terlihat bunga tulip yang terselip di tas sling-bag kepunyaannya."
"Di suatu ketika. Mata yang selalu terlihat berbinar, tampak seperti berkaca-kaca. Bibir yang tersenyum, tampak sedang menggigit bibirnya. Yang katanya "aku butuh waktu, bukan donat atau isi dompet. Itu hanya membuatku kenyang, bukan bahagia". Kalimat itu terucap saat ia memilih pergi dari laki-laki yang sangat populer di kalangan wanita. Di saat itu, aku hanya bisa mengusap punggungnya. Dan diam."
"Apakah di sini sebagai parasit? Tidak. Aku tidak peduli dengan status, dan senyumnya adalah segalanya. Aku tidak peduli siapa pun pemiliknya. Aku hanya ingin dekat dengannya sebagaimana kopi dan gula. Dan terasa nyaman seperti buku dengan permen karet. Meskipun cerita tentang dia dengan lelakinya berakhir, aku memilih bercerita tentang struktur tanah (dari pada harus menceritakan tentang perasaanku terhadapnya)." Setelah itu, aku hanya bisa terdiam dan tergenang akan masa lalu.
"Pak, kok diam?"
"Kalian mendengarnya terlalu fokus," jawabku.
"Jangan begitu donk, Pak" kata salah satu siswa. "Kami menunggu kelanjutan ceritanya!"
Melihat ekspresi mereka, aku cuma tersenyum. Seakan-akan seperti bernostalgia, berenang di dalam kenangan-kenangan indah pada masa itu.
Pun aku melanjutkan cerita. "... Hingga pada masanya, ia merasa bosan. Dia tidak ingin lagi kejenakaan, ia tidak lagi menginginkan lolucon maupun isi buku yang pernah aku baca. Dia tampak marah dan kesal dengan situasi saat ini. "Apa yang ditahan?" katanya. Dan aku seperti diskak-mate, benar-benar seperti disidang di meja bundar."
"Aku memilih diam karena tidak ingin kehilangan sosok yang berharga. Biarlah begini saja dengan bersahaja. Selama itu aku merasa baik-baik saja tanpa harus merasakan kehilangan. Tidak peduli kau merasakan seperti apa yang aku rasakan, selama itu aku masih bisa melihat apa yang unik darimu."
"Dan ternyata ia tau apa yang aku rasakan, sama halnya dengan dirinya. Dan kali ini ia tidak mampu menahan lagi gejolak dalam dada. Hingga pada akhirnya, aku dan dia mengakui apa yang ada di dalam dada dan bertukar isi hati untuk tetap saling menjaga."
...untukmu, Nisa...
"Saat ini, ada sesuatu yang kalian pendam di sini," kataku mengacung ke dada. "Dan saat ini kalian simpan dengan rapi, namun tanpa kalian perjuangkan. Apakah kalian menunggu itu berdebu?" tanyaku dengan menatap mata mereka.
"Lalu, apa yang harus kami lakukan, Bang?" tanya siswa di sudut kiri.
"Seperti yang pernah saya ceritakan tadi," kataku. Aku menatap yang ada di hapadan. Dan berkata, "Ada cinta yang terkubur berusaha tumbuh. Namun sayangnya kalian tidak mencoba menyiram itu dengan air. Sehingga butuh waktu lama untuk kokoh, atau mati dibiarkan begitu saja."
Mereka benar-benar menikmati apa yang sedang mengalir. Beberapa tidak melihat ke depan, sebagiannya lebih fokus menggunakan alat tulis. Seperti sang ketua kelas yang menjadi topik di kantin guru. Sedari tadi, baru kali ini melihatnya menggunakan alat tulis, dan itu jelas terlihat pensil yang masih panjang dan baru di raut. Namun di sisi lain, Maulida kecil selalu memperhatikan siswa tersebut, tanpa sepengetahuan si Angkasa.
Aku berkata, "Ketika mencintai sesuatu, maka sesuatu itu akan terulang-ulang. Ketika sesuatu itu terulang-ulang, maka sesuatu itu terlihat mudah. Di saat itu dan seiring berjalan, sesuatu itu akan senyawa dengan jiwa. Dan pada akhirnya terbentuklah sebuah skill. Dan itu disebut dengan LOVE = SKILL (PASSION)."
"Ada contoh lain, Bang?" tanya Angkasa si ketua kelas.
Aku berkata, "Sama halnya seperti kalian dalam memikat hati wanita. Kalian akan mengulang-ulang membujuknya, merayunya, mentraktirnya, dan selalu ada di setiap saat. Mungkin akan ada beberapa yang gagal, bahkan banyak. Mungkin sering disapa oleh titik lelah, namun kalian memilih untuk bertekad. Mungkin sering bertemu hal yang menyebalkan, namun kalian memilih untuk berjuang. Hingga kalian mendapatkan wanita tersebut." Aku pun terdiam sejenak dan mengambil napas.
Dan seorang siswi bertanya, "Tapi nenek moyang kita adalah seorang pelaut, bukan seorang bucin. Bisakah bapak menjelaskan dalam bahasa pelaut?"
Aku menjawab, "Sama halnya dalam lautan dihimpit badai. Di mana layar kapal robek, dan jantung kapal retak. Meskipun kalian telah ditelan ombak, namun kalian memilih tetap bernapas. Mungkin ada banyak luka yang telah berevolusi menjadi kapalan. Dan mereka hanya tau kalian mampu berjalan di aspal panas atau bernapas di dalam air."
Ketika berlari. Ada sebuah titik di mana seseorang akan bertemu batasnya, di mana raga akan tersungkur di antara daun-daun gugur. Di saat itu pula—seperti ada dua jalan yang harus dipilih, tertawa atau trauma. Jika tertawa, mungkin kaki terasa ngilu. Namun karena tekad, rasa sakit itu hilang. Jika memilih trauma, di suatu sisi akan merasa aman dan tidak perlu merasa sakit lagi. Namun bukan rasa sakit yang dikhawatirkan, akan tetapi penyesalan.
"LOVE = SKILL. Untuk menciptakan tekad, kalian harus cinta. Dan sanalah akan terbentuk sebuah bakat yang sempurna."
Aku di sini bukan seorang guru. Pada dasarnya, aku di sini hanya ditugaskan untuk memberi motivasi kepada mereka, terutama tentang mindset. Dan setelah dipikir-pikir, aku tidak lihai dalam hal itu. Dan itulah yang aku ceritakan pada mereka hari ini. Bukan berbicara seperti psikolog atau sebagainya, malahan aku terlihat seperti pendongeng dari Aceh.
Setelah melihat mereka. Akhirnya aku mengerti, setiap manusia itu berbeda. Mereka yang terlihat bandel dan nakal, belum tentu dengan hati mereka. Dengan karakter yang berbeda-beda, mereka memiliki skill yang unik. Dan itu terlihat dari setiap kemampuan mereka. Semua memiliki akar, dan itulah yang tampak dari mereka. Dan intinya; Setiap orang tidak bisa dididik dengan cara yang sama. Maka dari itu, setiap orang butuh orang yang tepat dalam mendidik.
Banyak hal yang diceritakan, tentang berusaha, tentang pendidikan, dan tentang perasaan. Kenapa dalam meraih sesuatu perlunya perasaan? Jika tidak ada itu, maka tidak ada dorongan. Butuh alasan dalam melakukan sesuatu, butuh alasan dalam meraih sesuatu. Dan apa pun itu, pada masanya akan terbayar. Mungkin terdengar garing dan biasa saja. Namun jika diresap dan selalu mengingat *alasan, kaki tidak akan berhenti berlari.
Untuk mencapai sesuatu, butuh beberapa pengorbanan, entah itu fisik atau mental. Mungkin yang dulu sulit berlari di atas duri, kini bisa berlari di atas api. Mungkin yang dulu penuh keraguan, kini penuh keyakinan. Seseorang akan berubah pada masanya, entah itu karena seseorang atau karena berubahnya pola pikir seseorang.
Bel yang berbunyi dua kali adalah tanda yang disukai semua siswa. Di mana pada jam tersebut banyak hal yang bisa dilakukan. Seperti siswa di seberang taman sana, ia telah berjanji akan belajar bersama dengan pasangannya. Ada juga yang pergi ke kelas lain untuk mengintip pujaan hatinya. Seperti siswa lainnya, dari sekian tempat, kantin adalah tempat paling favorit. Seperti kaki ini yang akan melangkah ke sana dan sekedar untuk meneguk segelas kopi, dan itu salah satu cara mengisi warna hari ini.
Aku suka sekolah ini, banyak bunga di setiap sudutnya. Tidak seperti dulu saat aku masih bersekolah di sini. Sama halnya di sini, dan sangat jauh berbeda. Banyak sekali buku-buku menarik dengan sampul yang lebih modern. Tidak hanya buku, namun interiornya juga lebih menarik dan santai. Namun sayangnya, tidak bisa merokok dan ngopi...
"Ternyata kau di sini," kata seseorang. "Nih... ambil!" Ternyata Gober, ia memberi sesuatu—seperti kertas investasi.
Aku membacanya. Dan di sana terdapat nama yang tidak asing. Aku membuka tangan dengan isyarat; dari siapa?
Dia menjawab, "Itu dari Kak Dila."
Lalu membuka undangan itu, dan ada selebar kertas bertulis tangan. JANGAN LUPA DATANG. BY: CUT. Awalnya tidak menyangka. Namun setelah ditelusuri, itu dari Cut. "Kok tau aku di sini?" tanyaku.
"Dari dulu juga kamu suka perpus. Meski dalam sosial kamu sedikit bego," jawab Gober.
"Ya begitulah.. Hehe!" Aku menaruh kembali buku pada tempatnya.
Lalu kami menuju ke parkiran sambil menikmati halaman sekolah. Dan sebelumnya, aku telah pamit pada kepala sekolah, hanya saja aku tidak suka dicari-cari.
Aku bertanya, "Gimana kabar anakmu?"
"Sehat... Lagi hamil tua" jawabnya.
"Hamil tua?" Aku sejenak berpikir. "Maksudnya itu gimana?"
Gober menjawab, "Meski sudah menempuh pendidikan ke luar negeri, rupanya masih ada bodohnya juga. Hahaha..." Lalu ia menunjukkan foto istrinya. "Hamil tua itu, berarti sudah hampir dekat melahirkan," katanya.
"Oohh... kupikir hamil tua itu. Istrimu udah tua atau bayinya udah tumbuh kumis," jawabku.
"Kok aku pengen patahin leher kau, ya? Hahaha..." Kami pun tertawa bersama. Seakan perasaan-perasaan dulu masih sama, seperti nostalgia.
Kami pun telah sampai warkop yang biasa kami singgah. Siapa sangka suasana masih tampak sama, yang berbeda adalah wajah baru—stok lama. Saat bertanya ke mana paman yang biasa membuat kopi itu, ternyata ia tidak bekerja lagi, karena sakit-sakitan faktor usia. Dan kini telah dilanjutkan oleh anaknya.
Setelah memesan kopi, aku pun beranjak ke belakang (rasanya benar-benar bernostalgia). Tampilan bagian belakang telah berbeda dari sebelumnya. Yang dulunya hanya kursi santai yang tidak terlalu panjang, kini berganti dengan bentuk sama namun dibuat dari ban mobil bekas, yang dilapisi dengan bantalan. Mejanya juga berbeda, yang dulunya meja plastik, kini berganti dengan meja kayu yang berkilap. Lampu-lampu kuning yang bergelantungan masih tetap sama. Dan masih ada beberapa lagi perubahan lainnya. Ada satu yang tidak. Tempat tersebut sangat spesial bagiku dan Diandra, bahkan terkadang kami sampai rebutan. Dan tempat tersebut itu pula adalah tempat paling nyaman ketika hilangnya tulang belakang (rebahan), yaitu ayunan pantai yang dikait di antara dua pohon.
"Weesss...! Gimana genk bahasa Spainyol?" tanya salah seorang yang sangat akrab. "Hombaroken desdes?" *plesetan Bahasa Aceh.
"Ya begitulah seperti apa yang kalian lihat sekarang," jawabku. Melihat sikap mereka yang telah mempersiapkan kursi kosong, sepertinya ada rindu yang siap dipecahkan di atas meja. Aku bertanya, "Gimana kabar kalian, sehat? Dan gimana keluarga yang kalian bangun? Cerita donk!"
Masing-masing mulai bercerita. Di antaranya, ada 2 yang belum menikah. Sebagian besar, mereka telah memiliki si Buah Hati. Mereka membangun keluarga harmoni seperti impian orang pada umumnya. Di sisi lain mereka kesal, karena aku tidak hadir saat resepsi pernikahan. Katanya, tidak akan lengkap tanpa kehadiranku. Namun aku membantah, karena sebaik-baiknya hadir adalah doa.
Reza, ia telah menikah dengan Alda. Yang dulunya selalu pamer kemesraan setiap kali membeli ikan di tempat aku berjualan, kini telah sedang mengandung sang buah cinta mereka. Yang katanya, sekitar 2 atau 3 bulan lagi akan bersalin. Dan yang mengejutkan, itu anak kedua mereka.
Abay, rasanya baru saja kemarin ia bertunangan. Dia bercerita pengalaman tanpa kepalsuan dalam sebuah hubungan. Katanya, sangat berbeda saat ia masih pacaran. Tidak ada lagi curiga atau hal-hal overthinking. Tidak ada hijab di antaranya dan semuanya sangat transparan, yang pasti sangat tenang. Dia meminta, agar aku harus segara mencobanya—bagaimana rasanya pacaran yang sesungguhnya.
Diandra, dulu ia pernah berkata bahwa seorang pria adalah pemilih ulung dan seorang wanita wanita adalah penerima handal. Dia mengatakan itu saat masih menjabat sebagai playboy kelas kakap. Bagaimana tidak, ia sanggup menggebet kakak kelas atau yang lebih dewasa darinya. Dan itu adalah kekuatan yang didamba oleh semua kaum Adam. Namun kali ini ia telah menjadi sosok Diandra yang penuh dengan kesetiaan, dan itu tampak dari caranya bercerita. Dan masih banyak lagi.
Dari sekian cerita mereka, semua terdengar menarik di telinga. Dari proses acara pertunangan mereka, akad, hingga membina keluarga kecil nan bahagia. Mereka terlihat bahagia ketika menceritakan kisah keluarga kecilnya. Bersemangat, seakan-akan kebahagiaan itu tidak ingin dinikmati sendiri. Begitulah mereka, yang sampai saat ini masih terlihat sama.
Setelah itu, mereka ingin mendengar cerita dariku setelah sekian lama tidak pulang. Terutama perihal orang baru yang tinggal di dalam hati. Namun ketika mendengar jawaban, mereka tertawa—seakan tidak percaya apa yang terdengar. Mereka kira, aku telah mendapatkan seorang wanita berbangsa rambut pirang atau temanku, Hanna.
"Rugi.. rugi..!" ucap Deri.
"Kenapa rugi?" tanyaku heran.
"Iyalah..." Deri menjawab, "Hey, asal kau tau. Wanita berambut pirang itu idaman pria Indonesia."
"Kalau cewek berambut pirang, di lapangan belakang banyak, nyet..!" jawabku.
"Itu mah—wanita modifikasi. Untuk apa?" katanya.
Beberapa saat Abay bertanya padaku, "Emang kau serius, kamu gak dapat seorang pun wanita di sana?"
"Banyak."
"Bagi donk."
"Aku mau jugalah bos," kata Diandra.
"Aku mau dua, Gam," kata Gober.
"Bungkus 3 ya, Gam!?" kata Acol.
"Otak kalian itu, ya. Woy..! ingat istri yang udah kalian nikahi," kataku dengan spontan.
Diandra berkata, "Nih biarku tanya sama kau, Gam." Aku mengalih pandang padanya. Melihat caranya duduk seperti motivator handal. "Kenapa dalam agama dianjurkan bagi pria untuk menikah lebih dari satu?"
"Karena merasa mampu secara mental dan fisik?"
"Kayak orang mau ikut turnamen aja—harus siap fisik dan mental," sela Reza.
"Salah," jawab Diandra.
"Eh... maksudnya meteri juga," kataku.
"Bukan," jawab Diandra.
"Jadi?"
Wajah Diandra berubah serius. Dan menjawab, "Menikah satu aja bisa buat bahagia, apa lagi lebih." Seketika suasana berubah meriah dengan tawa dari perasaan-perasaan bahagia.
Beberapa saat aku berkata, "Tapi, setidaknya aku gak sendiri. Kan ada Dimas dan Acol yang belum menikah."
"Tapi mereka punya pasangan," jawab salah satu dari mereka.
Lalu Deri bertanya, "Kau kapan lagi?"
"Iya nih... Asyik lalai berkelana," kata Reza.
Aku menjawab, "Haha ada-ada aja kalian. Aku cuma gak mau ikut-ikutan."
"Jadi kau gak mau nikah, gitu..!?" sambar Diandra seperti orang panik.
"BUKAN GOBLOKK..!" kataku spontan. Aku berkata, "Aku gak mau di mana orang pada nikah, aku harus nikah juga. Jadi kayak, aku gak mau nikah karena ikut-ikutan. Seperti, ada yang kuliah ikut-ikut temannya."
"Ohh kirain, kau udah menjelma malaikat," kata Diandra.
Aku menggelengkan kepala. Dan berkata, "Setiap orang punya standar sendiri, begitu juga aku. Orang tidak bisa memaksa ikut standarnya, begitu juga sebaliknya. Aku tidak bisa ikut standar kalian."
"Ohh kirain gak mau nikah lagi. Lalu ganti dengan pakai jasa kawin doank," lagi-lagi jawab Diandra.
"Otak gak ada berubahnya. Udah nikah masih aja gitu," kata Abay.
Seperti itulah cara mereka mereka membagi kebahagiaan walau sedikit menyebalkan. Meski telah lama berpisah, tidak ada yang berubah, hanya wajah yang berubah (beberapa ada yang berbrewok). Mereka telah menikah, yang awalnya berpikir mereka semakin dewasa (tidak ada tingkah konyol), ternyata tidak demikian, bahkan kadang lebih parah dari sebelumnya.
Bicara tentang menertawakan diri sendiri bukan soal menjadi korban lolucon, tapi tentang tulus. Tulus dalam menerima kekurangan. Seperti yang telah diketahui hidup tidak selalu mulus, maka dari itu perlunya tulus. Memang sudah sepatutnya—dalam hidup untuk menertawakan diri sendiri, agar diri sendiri tau bagaimana cara mengikhlaskan paling jenaka (semua orang juga bisa melakukannya).
Terkadang aku tertawa—yang akhir-akhir ini banyak yang menanyakan kapan menikah. Terkadang aku menjawab, lagi gak niat, lagi males, atau bahkan; gimana mau menikah, sedangkan aku gak punya pacar. Ada rasa aneh ketika pertanyaan itu datang, seakan-akan ada standar lain yang harus diikuti. Hingga menanyakan mengapa demikian. Ada yang jawab dengan alasan sudah cukup matang, ada juga karena menganggap sudah cukup mapan. Jika soal matang, aku merasa seperti anak-anak yang masih butuh banyak pelajaran (tentang hidup). Jika soal sudah mapan, aku masih belum mapan secara mental. Entahlah, benar atau tidaknya. Aku hanya mengatakan apa yang aku rasakan. Namun satu hal yang pasti terjadi di setiap pertanyaan itu datang, nama itu masih teringat pekat di kepala.
Pada suatu masa, tidak banyak hal yang bisa dilakukan. Hanya rebahan, tidur, makan, rebahan, dan rebahan. Hidup begitu datar dan sangat biasa saja. Dan sesekali terpikir ingin melakukan hal yang lebih, namun ada sisi lain yang bertanya, apakah ini zona nyaman? (benak). Setelah beberapa saat tersadar, bahwa pola hidup membosankan ini disebut zona nyaman.
Aku baru saja terbangun dari mimpi yang bersahaja. Di sebuah taman tanpa kebisingan kota, hanya ada suara-suara bunga dibelai sang angin. Hingga pada pukul 08:00 wib. Terbenak, kapan mimpi seperti ini terjadi lagi?
Setelah beberapa saat mengumpulkan nyawa, aku beranjak dari kasur yang berantakan (terkadang ibu juga berkata hingga saat ini aku masih belum berubah yaitu kamar yang berantakan). Tubuh yang belum melakukan pemanasan, aku berjalan tertatih seperti zombie kelaparan. Dengan perut yang murka, tangan mencari sesuatu di dapur untuk dikunyah. Akhirnya aku menemukan potongan mangga di dalam kulkas. Sambil mengunyah, tangan kiri mengusap layar ponsel. Seperti biasanya, hanya sekedar melihat agenda dan notifikasi hari ini.
Banyak hal yang ditampilkan oleh dunia tipu-tipu, mulai dari berita kebohongan, provokasi, hingga cinta satu malam. Tidak ada yang menarik kali ini. Namun entah mengapa tangan masih terus mengusap layar ponsel. Ada sebuah feed yang membuat layar terhenti—yaitu sebuah video pendek dengan senyum lebar, yang di dalamnya terdapat tunas kecil yang melekat erat dengan dua inang berbahagia. Dan itu tampak jelas dari senyum yang ditampilkan. Aku turut bahagia melihatnya bahagia, meski aku sendiri sedang berusaha keras untuk bahagia...
Hingga beberapa saat kemudian, ada notifikasi yang baru saja menyapa. Sebuah email tidak asing—dengan firasat pernah menunggu ini sebelumnya. Tangan mengusap gawai secara perlahan, mata mulai mengais kata demi kata di dalamnya. Hingga...
"Ada apa, Agam? Kok teriak-teriak." Terdengar suara ibu berasal dari dapur. Seketika beliau mendobrak pintu kamar dengan wajah paniknya. "Ada apa?"
"Gak ada Bu," jawabku. Saat ibu berbalik, aku memanggil beliau. "Ibu.. Coba lihat ini," kataku. Ibu menyipitkan mata ketika membaca email.
Lalu beliau menggunakan kacamata yang disangkut di kerah baju. "Jadi ini yang buat Agam teriak-teriak." Aku hanya tersenyum.
Tidak ingin menikmati ini semua sendiri. Hari ini, banyak waktu luang yang bisa dilakukan. Salah satunya ke kios. Sudah lama sekali tidak mengunjung ke rumahnya. Hanya bertukar kabar melalui via whatsaap, tanpa bertatap muka atau berjabat tangan.
Mandi pun telah selesai, tapi ada satu hal yang berbeda kali ini, aku telah mengerti artinya parfum. Awalnya aku mengira parfum hanya digunakan saat berkencan atau undangan, dan ternyata tidak hanya itu. Lalu kulihat kembali wajah ini di cermin, sangat berbeda dari sebelumnya. Dulu rambutku sangat berantakan dan lebih panjang dari saat ini. Bahkan aku hampir tidak pernah merapikan kumis, kecuali saat pangkas. Pun cara pakaianku telah berbeda dari sebelumnya, dulu yang lebih suka mengenakan kaos, kini lebih sering mengenakan kemeja. Setelah dipikir, mungkin karena aku telah terbiasa di sana, terlebih karena dorongan Hanna. Setelah semuanya selesai seperti mandi dan berkas-berkas yang akan difotocopy, motor pun meluncur seperti angin pagi.
Setiba di sana, ada sosok wanita beradu mulut dengan pria di kursi. Pria yang memegang gitar seperti mencoba menjelaskan sesuatu, dan satunya lagi sedang melayani pembeli. Ada perasaan aneh ketika motor perlahan mendekati lokasi tersebut. Semakin dekat, wajah itu semakin terlihat jelas. Namun bukan sosok wajah pria yang membuat rasa tak menyangka, akan tetapi wajah wanita itu.
Bagaimana tidak, wajah itu tidak berubah sama sekali. Masih sama seperti waktu kencan malam pertama di tempat makan Pak Ulis. Rona merah di wajahnya berpadu dengan lesung pipi—pria mana pun kebingungan memvonis antara cantik atau manis. Bibir tipis merah muda masih saja merekah seperti malam itu di halaman rumahnya. Sama halnya seperti jantung ini, berdebar-debar ketika melihatnya.
"Dan, rokok!"
"Iya, Bang" Saat ia menjulurkan rokok. "Eh ini.. Ag—"
"Shuuttff...." Aku langsung membungkam mulutnya. Tanpa kata, Adan langsung memelukku. "Jangan bahas tentang aku dulu. Itu dia, kan?"
Adan mengangguk. "Dia nyariin kau belakangan ini. Dia juga sering kemari cuma nanyak kapan kau pulang" kata Adan dengan bisik-bisik.
"Jadi?"
"Aku gak bilang kapan kau pulang," jawab Adan. Beberapa saat ia berkata, "Tapi sebelumnya aku minta maaf." Aku melihatnya dengan maksud kenapa. "..., yang buat dia sampai ke Spanyol, itu karna aku yang kasih tau," kata Adan seperti merasa bersalah. "Aku merasa gak enak udah ingkari janji untuk gak kasih tau siapa-siapa keberadaanmu. Tapi aku merasa kasian juga sama dia."
Aku pun mengusap punggungnya. Dan berkata, "Udah gak apa-apa. Lagi pula dia gak tau di mana apartemen Ayah Hanna."
Fadel datang mengambil ponsel yang dicharging. Beberapa saat memeriksa saku, yang sepertinya ia ketinggalan mancis. Lalu ia membakar rokok yang tergantung di kios. Aku dan Adan hanya meliriknya seperti orang tak berdosa. Namun sesekali aku dan Adan cekikian menahan tawa, karena melihat wajahnya yang serius itu.
Tak sanggup menahannya lagi. Aku pun menyapanya, "Woii... ke mana? Serius amat? Ckckck."
Dia pun kaget. "Eh.. Udah di sini. Kirain masih betah di sana," kata Fadel.
"Sebenarnya masih. Namun udah habis visa. Hehehe," jawabku.
Fadel berkata, "Sejauh apa pun kaki melangkah, kios adalah tempat kembali, ya."
"Ya mau bagaimana pun—di sini tempat aku berasal. Hahaha...!"
Aku memperhatikan wanita itu yang tampak gelisah, seakan-akan ia sedang menunggu seseorang, atau pun menunggu jawaban yang pasti untuk menenangkan jiwanya. Sesekali ia mengipas anaknya yang kepanasan. Terkadang ia mengusap keringat si buah hatinya yang tertidur pulas. Jika salju turun, ia akan memberikan syalnya. Jika hujan turun, ia akan memberikan payungnya. Apapun ia berikan demi darah dagingnya. Bahkan jika harus, jantung pun ia berikan.
Setelah beberapa saat berbincang dengan Adan dan Fadel perihal tentang wanita itu, aku pun beranjak. Di saat itu pula, ada perasaan yang mencoba untuk menghentikan langkah, ada bisikan yang memaksa berbicara dengannya. Seketika alam bawah sadar menjadi kacau. Topik-topik pembahasan seketika buyar dalam sekejap.
Dia beranjak ke belakang kios. Mungkin ia masih menunggu jawaban Fadel atau Adan.
"Kakak dari mana? Dan mau ke mana?" tanyaku. Ternyata ia sedang menyusui.
"Saya nunggu Fadel," jawabnya.
Aku mencari selebar karton agar anaknya tidak kepanasan. "Kenapa gak bersama suaminya, Kak?"
"Suami saya sedang ke Spanyol mencari seseorang," jawabnya sambil mengibas-ngibas anaknya yang kepanasan.
"Saya juga punya sosok yang saya tunggu. Namun tidak mungkin untuk ditunggu," kataku. Kami hening sejenak. Aku kembali bertanya, "Kalau boleh tau—kenapa kamu menunggu teman saya? Apakah ada kaitannya dengan suami Kakak?"
Lalu ia bercerita tentang masalahnya. Dan ternyata, ia memohon pada suaminya untuk mencari sosok masa lalunya di negeri Matador. Saking sayangnya kepada sang istri, sang suami memenuhi permintaan tersebut. Bukan tidak ada tujuan dalam permohonan tersebut, ada sebuah pesan dari sang kakak untuk diberikan kepada sosok itu. Pun sejujurnya, ia juga ingin bertatap muka langsung dengan sosok itu. Sebelumnya ia juga pernah ikut sang suami, namun tidak mungkin berlarut lama, karena anaknya masih terlalu kecil untuk ditinggal terlalu lama. Hingga ia dipinta untuk segera pulang. Dan perihal mencari diemban oleh sang suami.
"Sepertinya Kakak butuh ini," kataku dengan memberi sebotol air minum.
"Makasih."
Lagi-lagi, ia masih terlihat seperti dulu. Tidak ada yang berubah dari senyumannya yang pernah ia lampirkan sewaktu itu. Sudut bibirnya masih sanggup menyaingi gula. Begitu pula matanya masih seteduh dahulu menyimpan lara-lara yang terpendam.
"Kalau begitu, saya kembali dulu—"
"Tunggu!" Dia menghentikan langkahku. Aku berbalik. "Apa sepertinya kita pernah kenal?"
"Mungkin! Atau hanya dejavu," jawabku. Seperti yang terduga, ia tidak mengenalku. Aku berkata, "Kita cuma manusia, yang tidak mungkin menulis ulang sejarah. Jika ada yang salah dari sesuatu hal—jangan mencari siapa yang salah, namun apa yang salah." Dia terdiam dengan menatapku dalam-dalam.
"Sebenarnya, banyak hal yang ingin disampaikan dan banyak hal yang ingin ditanyakan. Rasanya sangat berdosa masih menginginkan kabar darinya. Namun hasrat telah membungkam pikiran, dosa telah menutup mata," ucapnya yang sedang menahan tangis. Mendengar itu aku berbalik. Dia berkata, "Sampai saat ini, ada jiwaku yang tertinggal dalam lubuk hatinya hingga aku kehilangan diriku. Dan setidaknya, aku bisa melihatnya setengah waras seperti dulu."
Kalimat-kalimat dari hanya bisa membuatku menghela napas panjang. Aku berkata, "Meskipun ia telah pergi jauh, kau masih bisa melihatnya." Aku membagikan senyum padanya yang menahan rengut. "Lihat ini..!" kataku menunjuk anaknya. "... dia lebih takut kehilanganmu dari pada pria itu." Aku telah pada batasnya dengan beberapa alasan.
Rasa sakit itu masih ada, meski tidak sesakit dulu. Tidak hanya dirinya, rasanya sangat berdosa hingga terlihat peluh hatinya. Hingga terbenak, jika memang seperti ini, maka tidak perlu saling mengenal dan jatuh hati. Rasa bersalah semakin bersalah. Rasa berdosa semakin berdosa. Namun di sudut relung hati, biarlah seperti ini agar ia terbiasa dalam melupakan.
"Ke mana buru-buru amat?" tanya Fadel. Aku terdiam sejenak, memikirkan beberapa alasan.
"Aku ada keperluan sebentar. Hehe," jawabku. Seperti biasa Adan mengacungkan jempol. Sedangkan Fadel menatapku heran dan aneh. "Kalau gitu aku cabut dulu. Entar malam kabari aja, jam berapa kita ngopi bareng."
Aku pamit pada mereka setelah mengambil copy-an berkas di toko depan. Lalu beranjak ke suatu tempat di mana ada sebuah email yang sedang memanggil namaku.
Siang rasa senja. Panas yang menyengat mengeringkan segala basah. Rasa kesal pada pertemuan membuat kenangan itu dramatis. Rasa tidak menerima pada kenangan, seakan-akan pertemuan itu perlu di salahkan. Lagi dan lagi mencoba untuk baik-baik saja, lalu jatuh kembali pada titik mulai, seakan semuanya tidak ada titik akhir. Lagi-lagi menyalahkan diri sendiri atas semua peristiwa. Sebuah peristiwa manis yang seharusnya cukup dikecap dalam mimpi.
Roda terus mengaspal di antara pohon-pohon cemara. Angin membelai lembut wajah-wajah yang mencoba terlihat tangguh. Langit masih terlihat sama cerahnya seperti kemarin, namun sedikit buram di antara silau-silau matahari.
Bunga mekar lebih cerah pagi ini. Embun pada mahkota terlihat menawan seperti seorang putri khayangan. Kicauan burung di sudut pohon menandakan musim kawin telah tiba. Langit juga tak mau kalah pada penghuni bumi. Sang elang terlihat gagah dengan sayap-sayapnya ketika melayang-layang di angkasa biru. Semuanya terlihat bersemangat pada pagi yang cerah ini.
"Mana?"
"Sorry, genk! Baru bangun."
"Ngapain aja sih semalam, sampai telat bangun. Kan udah janji pukul 08:30 kita kumpul di rumah Deri."
"Iya iya. Soalnya semalam ada kerjaan kantor."
"Yaudah... gas teross. Kami nungguin nih!" jawab Gober. Namun beberapa saat terdengar berisik seperti mikrofon bergesekan. "... TIDOR TEROSS..!! NGOCOK TEROOSS..!! Sampai lutut kop—Tiiiiiitttttttt...." Aku langsung menutup, karena sudah tau suara tersebut. Diandra.
Beranjak dari kasur dengan tubuh yang lesu. Nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, tangan meraba-raba mencari handuk.
*Jeddukk! (suara pintu terbentur kepala)
Aku merintih kesakitan ditambah dengan makian hangat di pagi hari. "SIAPA SIH YANG NARUH PINTU DI SINI..!?" kataku dengan kesal.
Aku terdiam sejenak sambil mengelus kepala dan meniup-niup kelingking kaki. Beberapa saat terbenak dalam hati, mungkin suatu saat aku akan membangun rumah tanpa ada pintu. Jadi tidak perlu terjadi seperti ini.
Masih dengan jiwa yang setengah mimpi. Aku menyangkut handuk dan pakaian yang telah dilepas. Seperti biasa, aku menyikat gigi terlebih dahulu. Tiga menit kemudian aku membasuh diri, dan tersentak kaget. Air begitu dingin saat menyentuh kulit. Terbenak, kenapa air harus dingin? Lalu, pelan-pelan membasuh diri karena tubuh menggigil.
Setelah beberapa saat kemudian, aku membasuh seluruh tubuh yang dipenuhi busa. Tiba-tiba tenggorokan terasa kering dan haus, ternyata aku lupa minum setelah bangun tidur. Karena tak sabar, aku pun minum air kamar mandi. Namun ada perasaan aneh yang datang, yaitu rasa mint. Ternyata aku lupa kumur-kumur setelah gosok gigi. Lagi-lagi hati berkata, bahwa seharusnya rasa pasta gigi dewasa sama seperti pasta gigi anak-anak. MENGAPA HIDUP INI TIDAK ADILL..?
Setiba di tempat mereka berkumpul, kami kembali bergerak menuju lokasi resepsi pernikahan. Walaupun saat awal tiba di rumah Deri, ada sedikit cekcok dengan fitnah yang menjengkelkan. Kadang ada tawa jika sudah seperti itu. Meski di depan istri mereka, mereka masih sama seperti sebelumnya.
Kami hampir sampai di lokasi acara, namun sekitar 50 meter jalan penuh dengan para tamu undangan. Sekitar 15 menit kemudian, barulah kami sampai di parkiran, itu pun sedikit sulit menemukan parkiran kosong.
Ketika kaki melangkah turun dari mobil, ada sensasi aneh dalam dada, seperti ada suntikan adrenalin untuk membuatku sadar. Lalu melihat di sekeliling yang pastinya membawa senyum pada acara sakral. Ada yang menggenggam tangan, ada juga yang menggenggam bingkisan sebagai ucapan selamat berbahagia. Jiwa kembali memaksa membayangkan kenangan itu, seakan-akan aku masih ada dalam dimensi manis itu. Kulihat kembali tangan yang pernah digenggam, rasanya begitu nyata nan indah. Aku hanya bisa tersenyum sebagai terima kasih pernah hidup untukku...
Berjalan pelan menikmati suasana, sedikit berdesakkan dengan tamu lainnya. Melewati sebuah tulisan—nama dari kedua mempelai terukir dengan bunga beraneka warna cerah. Setelah beberapa langkah, ada pekarangan bunga kertas merah muda yang menyapa. Seketika bibir tersenyum dengan tangan mengepal keras.
"Woy, Agam..!!"
"Eh, ternyata ada bini orang yang memanggilku. Hehehe..." jawabku sambil cengar-cengir kuda.
"Dasar!! Oh ya, kenalkan ini temanku; namanya Cut," kata Meida.
Woww... Langit mana yang meledak melihat mata sayunya berpadu dengan senyuman bibir tipis berwarna merah muda. Rona merah alami yang mengalahkan putih pipinya. Gunung vulkanik di relung sukmaku seakan ingin mengeluarkan seisinya. Apakah ini gempa? Bukan, ternyata tubuhku bergetar. Apakah hujan telah turun? Bukan, ternyata keringat dingin bercucuran. Dimenit itu juga, seakan-akan tubuh telah siap meledak layaknya *******. "Tuhan, Aku tak tahan nikmat yang Engkau beri," guman hatiku.
"Hallo Agam...? Halloo—" kata Meida. Aku pun tersentak dari lamunan.
"Dat..daaa... aku balek dulu, ya?" jawabku panik.
"Hey... kenalan dulu, main pulang-pulang aj—"
"Lain kali aja. Hehe," jawabku spontan. "Lagian aku buru-buru. Kalau jodoh gak ke mana," jawabku sambil melambaikan tangan. Aku langsung menancapkan motor menuju arah pulang.
Semakin dalam kaki melangkah ke dalam lorong, semakin besar adrenalin terpacu. Jalan setapak ini masih sama seperti dahulu, di mana kali pertama aku masih merasa malu ketika menatapnya. Kenangan-kenangan manis semakin terlihat jelas di kepala. Pohon jambu di halaman rumahnya masih tegak nan gagah seperti dahulu, di mana pertama kalinya aku menyatakan perasaan dengan cara yang bodoh. Bayangan-bayangan itu masih bersikeras menggoda untuk tetap hidup di dunia yang telah berlalu. Bibir hanya tersenyum ketika teringat hal-hal yang pernah manis bersamanya. Aku bangga pernah kau lukai, Cut.
Deri, Yoga, Megi, dan lainnya telah menempati meja untuk menyantap hidangan, sedangkan aku masih mengantri. Selangkah demi selangkah saat mengantri, melihat-lihat sekeliling sambil menikmati suasana. Suara Serune Kalee seperti bentuk suara klarinet dipadu dengan tarian Ranup Lampuan khas Aceh telah sampai pada verse terakhir (pada bagian tersebut kedua pengantin muda menuju ke pelaminan setelah disambut di halaman depan/pintu masuk). Tanpa sengaja melihat anak kecil di antara keluarga mempelai yang mengiringi pengantin ke pelaminan. Dia terlihat cantik seperti ibunya. Sang anak baru saja tenang setelah dibopong sang ibu. Lalu sang ayah maskulin menanyakan keadaannya sang anak, dan sang ibu menjawab dengan senyum. "Senyum yang kau berikan padanya, membuat dada ini merasa lega. Berbahagialah..."
"Dari mana aja? Ambil makanan aja kok lama" tanya Acol padaku.
"Begitulah, banyak ibu-ibu. Jadi gak enak kalau nyelip." Aku kebingungan, karena tidak ada kursi yang kosong di meja mereka.
"Ini Bang! kursinya." Lalu ada seseorang memberikan kursi padaku. Tampak dari pakaiannya, ia terlihat seperti salah satu tuan rumah. Dia adalah sang ayah maskulin tadi.
Aku berusaha rileks di saat seperti ini. Dalam keramaian, ada keresahan yang tumbuh. Dalam obrolan yang ringan, ada rasa was-was yang membentengi. Entah apa itu, aku juga tidak mengerti dengan diri ini. Yang terkadang ingin segera hengkang dari sini. Yang terkadang, ingin menyapanya tanpa menyakiti.
"Jadi, Mei ada hubungan dengan keluarganya Dila?" tanya Alda.
"Iya. Tapi keluaga jauh," jawab Meida. Lalu ia bertanya padaku, "Agam. Gimana makanannya?"
"Emnyak," jawabku sambil menguyah.
"Tambah lagi, biar cepat gede," kata Meida.
"Hehe... ini udah lebih dari cukup kok."
Lalu Alda berkata, "Jangan malu-malu, Agam. Malu-malu nanti lapar."
Tidak tau apa yang ingin dikatakan, aku memilih diam dan menjawab seadanya. Mungkin melihat-lihat berita teman internet adalah solusi, atau dengan sekedar membaca sambungan cerita dari Arah Langkah di e-book.
Dari sekian banyaknya Tukang Cemilan, ada satu yang menarik perhatianku. Lalu aku beranjak dari kursi ke tempat meja joki kopi sanger. "Dek sangernya satu, ya?"
"Agak pahit atau manis, Bang?" tanya sang Joki Kopi.
"Agak pahit."
Tidak menyangka. Hampir di seluruh kedai kopi Aceh yang telah aku singgah, rata-rata joki kopi adalah laki-laki. Ini yang kedua kali melihat wanita sebagai joki kopi setelah di Takengon. Dia terlihat muda dan berbakat. Dari caranya menyaring kopi, ia terlihat profesional dan berpengalaman seperti Si Beko.
Saat menunggu penggantian bubuk, ada seorang pria dewasa berkumis tebal yang mengenakan kopiah seperti Ir. Soekarno. Wajahnya tak asing dalam ingatan. Dia adalah sosok yang pernah mengatakan kenyataan hidup padaku. Pandangannya yang lurus kedepan dari dulu seperti anggota militer, ia terlihat berwibawa seperti tokoh bertahta.
"Permisi, Pak?" sapaku. Beliau pun melihatku. "Gimana kabarnya, Pak?"
"Alhamdulillah sehat. Tamu dari mana?"
"Dari pihak mempelai wanita." Kami hening sejenak.
Beliau bertanya, "Sepertinya pernah melihat kamu. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
"Benar, Pak," jawabku. Lalu aku membuka kacamata.
"Ini Agam, kan..!?" tanya beliau histeris. Aku tersenyum dan mengangguk. Dengan spontan ia memelukku. "Lama tidak bertemu, Nak."
Aku membalas peluknya. "Iya. Terakhir bertemu di Mesjid Raya," jawabku.
"Sehat kamu, Nak?" tanya beliau. Aku mengangguk. "Lihatlah dirimu, berubah sangat jauh. Dulu sangat berantakan, kini sangat rapi. Dulu hanya ada kumis, kini telah berewokan. Dulu rambut lebih panjang dan kering, kini lebih rapi dan segar. Ke mana aja gak pernah datang ke rumah lagi?"
"Terima kasih atas pujiannya. Saya ada di seputaran, Pak. Hehe..." kataku. "Bapak juga masih terlihat muda dan gagah seperti dulu."
Aku tidak menyangka. Beliau yang dulunya sangat menegangkan, kini lebih ramah dari sebelumnya. Yang sebelumnya terlihat seperti ingin menerkam mangsa, kini tampak seperti akan memberi segalanya. Walaupun demikian, aku merasa senang melihatnya ceria terlebih pada hari yang berbahagia ini.
"Walau terlihat muda, saya sudah dipanggil Kakek," kata beliau dengan ramah. "Sebentar, saya panggil Cut," ucap beliau.
"Jangan, Pak." Aku berkata, "Saat seperti ini, dia pasti capek. Lagi pula sebagai tuan rumah harus menyambut para tamu yang datang, bukan?"
Tiba-tiba terdengar suara yang memanggil nama beliau. "Ternyata Bapak di sini," kata Bu Fatmah.
"Bu, masih ingat dia?" kata Pak Salam.
Bu Fatmah sejenak memperhatikanku. "Kayak pernah lihat. Tapi di mana, ya?" kata beliau.
Lalu Pak Salam menjelaskan, "Teringat, gak? Saat sarapan pagi di rumah kita ada seorang anak muda, yang saat itu—dia jemput Cut terlalu pagi."
"Ohh... Dia adalah laki-laki pertama yang berani datang ke rumah kita," jawab beliau. Lalu ia bertanya padaku, "Ini Nak Agam, kan?"
"Iya..." jawabku.
"Udah besar, ya..!?" katanya. Beliau sejenak melihat wajahku. "Sekarang terlihat lebih dewasa dan elegan. Kenapa gak pernah datang ke rumah lagi?" tanya beliau.
"Mungkin ada beberapa kesibukan," jawabku.
"Masuk dulu. Oh ya, udah makan?"
"Udah, Bu. Baru aja," jawabku. Kopi baru saja selesai di saring dalam cup. "Bu, saya permisi dulu. Teman-teman udah pada nunggu," kataku.
Aku berjalan ke meja sebelumnya. Sangat ramai, bahkan sesekali harus berdesakan. Saat kembali, aku kembali berselisih dengannya. Dia tampak tergesa-gesa melihat sang anak menangis histeris. Lalu sang anak terdiam ketika melihatku. Dan di saat itu pula aku langsung berbalik ke tempat semula.
"Ehh dari mana dapat sanger?" tanya Deri.
"Ada tuh, di sana."
"Bukannya diambil lebih. Asyik main singel aja," kata Diandra.
"Sorry, aku gak tau kalau kalian mau juga," jawabku.
Makan, minum, merokok, semua telah selesai. Setelah beberapa saat kemudian, tinggal menunggu sesi foto (mengantri dengan tamu lainnya). Sambil menunggu, beberapa di antara mereka memilih membahas hal-hal menarik seperti menjalin hubungan antar keluarga kecil mereka atau setiap weekend berlibur ke suatu tempat atau sekedar makan malam di salah satu rumah mereka. Sedangkan para istri mereka berbicara tentang perkembangan sang buah hati mereka. Ada yang baru saja bersalin seperti Mahela, ada juga yang baru bisa berjalan seperti anaknya Yudid, hingga yang baru bisa bicara seperti anaknya Alda. Terkadang sedikit bingung ketika kedua belah pihak mengajak aku berbicara atau hanya sekedar bertukar pikiran. Hanya saya aku tidak bisa fokus dua arah. Meskipun begitu aku merasa senang bisa melihat kerukunan seperti ini.
Tiba-tiba Meida menarikku ke suatu tempat. "Ada yang ingin aku bicarakan," katanya.
"Kenapa gak di sana aja?" tanyaku.
"Ini penting!" Dia melihat sekitar seperti menunggu sesuatu. "Kau tau Cut, masih punya perasaan padamu?"
Mendengarnya, aku pun kaget. Aku hanya bisa menggeleng kepala. Lalu aku berkata, "Untuk apa mengatakan hal itu lagi padaku? Terlebih dia sudah menikah, bahkan ia sudah punya anak."
"Aku mengerti. Selama Agam di luar negeri, ia bercerita tentangmu. Dari caranya bercerita, aku tau kalau ia masih punya perasaan. Bahkan ia menangis ketika teringat sama kamu. Aku cuma kasihan melihatnya seperti itu," katanya. Lalu ia sejenak bercerita tentangnya terlebih setelah mendengar kabar keberangkatanku ke luar negeri. Dia bertanya, "Kau sudah tau, kalau ia mencarimu sampai ke luar negeri?" Aku mengangguk mahfum. "Aku sebagai temannya, tolong—temui dia setelah ini. Sebentar aja..!"
"Kalau itu, aku keberatan," jawabku.
"Aku tau, kalau kau juga sama dengannya. Tapi tolonglah, cuma ini pesan darinya," pintanya.
Sesi foto telah tiba. Kami beranjak ke pelaminan dan diatur oleh photografer untuk pengambilan gambar.
Setelah selesai pengambilan beberapa foto, Kak Dila terus memperhatikanku. Dia bertanya pada Meida, "Kayaknya pernah lihat. Tapi di mana?"
"Ini, Agam..?" jawabnya. Aku melambaikan tangan dan tersenyum menyapanya.
"Hah? Serius? Kirain dia gak datang," kata Kak Dila.
"Ini datang karena ada waktu aja," jawabku.
"Tapi sekarang udah berubah. Kak aja hampir gak kenal tadi."
"Mungkin kakak aja yang hampir lupa sama Agam. Hehe," kataku.
"Semuanya siap? Satu.. Dua.. Tiga.. Cieerrsss"
Photografer telah mengacungkan jempol, menandakan telah selesainya pengambilan foto. Kami berbodong-bondong mengucapkan selamat sekaligus pamit pada pengantin. Pun di sisi lain, ada tamu lain yang juga ingin mendokumentasi moment seperti kami.
Setelah beberapa dari mereka mengucapkan selamat, akhirnya tiba giliranku. "Selamat, Kak Dila. Semoga bahagia lahir batin dalam pernikahan," ucapku.
"Makasih. Kamu jangan banyak main lagi. Udah cukup untuk sebelumnya," katanya.
"Hehe... Mungkin belum saatnya, Kak."
"Hahh... akhirnya—" Ada sesuatu yang lega. Setelah sekian lama menahan, akhirnya terbayar juga. Sesampai di parkiran, aku langsung meraba-raba saku. Mencari-cari bungkus rokok yang lupa menaruhnya di mana. "Mengapa menemukanmu begitu sulit. Hingga ternyata kamu hanya bersembunyi di dalam bagasi." kataku dalam hati setelah menemukan bungkus rokok. Aku pun membakar rokok yang sedari tadi menahannya dikarenakan ada salah satu temanku membawa anaknya yang masih balita.
Bersiap-siap menyalakan motor untuk pulang melakukan perkejaan. Pada hembusan pertama, aku dikagetkan dengan sosok yang tampak dari spion motor. "Sudah sedekat ini, mau melarikan diri lagi?" katanya.
Aku terdiam dengan pertanyaannya. Belagak bodoh, bahkan tidak tau apa yang harus aku lakukan. "Sedari tadi aku menahan isap rokok. Aku tidak bisa mematikan rokok yang telah dinyalakan," kataku.
Seakan semesta telah mengatur semuanya. Di pertemukan kembali pada dimensi masa lalu yang sesungguhnya, bahkan ilusi tidak yang mampu menolak kenyataan. Kenyataan yang tak seperti kenyataan; di mana kaki ingin melangkah pergi, hati senang ketika bertemu kembali. Dan kemustahilan pun berbalik arah.
Dia terlihat anggun dengan gaun berbahan batik. Caranya dalam bertata rias masih seperti dulu, natural. Tidak hanya pakaiannya mayoritas berwarna coklat melambangkan manis, ia masih terlihat manis meski saat ini dengan wajah yang cemberut.
Sedangkan aku. Aku yang tidak lagi mengerti tentang dirinya, hingga membuat aku tidak lagi mengerti tentang diri ini. Antara benar dan salah terlihat sama dan samar. Aku yang masih memujanya dalam hati sekaligus membenci pertemuan ini. Aku benar-benar tidak mengerti, terlebih mengontrol perasaan-perasaan yang tidak mungkin untuk dihidupkan. Namun aku bersyukur, masih memiliki rasa takut untuk menyapanya.
"Hay..?" sapanya.
"Hay.."
Dia berkata, "Saat di kios, aku punya firasat kalau itu kamu. Namun saat itu aku benar-benar tidak mengenalmu."
"Mungkin karena kita sudah lama tidak saling menyapa," kataku.
"Kamu saja yang tidak membalas sapaanku. Namun bukan karena itu—" katanya perlahan melangkah. "Tapi karena, kita tidak lagi saling melihat perkembangan."
"Jadi teringat pelajaran psikologi untuk mengamati perkembangan orang sakit jiwa," kataku tersenyum.
"Apaan sih? Lagi serius juga," katanya. Akhirnya mendung di wajahnya seketika cerah. Suasana tegang sudah sedikit mereda.
"Habisnya, aku bosan setiap kali bertemu denganmu—kita selalu dalam keadaan serius dan menegangkan!" ucapku. Akhirnya aku bisa kembali melihatnya tersenyum. Lalu mengembuskan asap dalam dada karena perasaan lega. Aku bertanya, "Gimana kabar anak kamu? Siapa namanya."
"Seharusnya kau menanyakan keadaaanku, tapi malah menanyakan kabar anakku," katanya. "Namanya Natasya."
"Hahaha.." Aku berkata, "Ngapain menanyakan kabar orang yang setiap paginya sudah ada yang menanyakan itu. Hihi..."
Cut berkata, "Kenalkan Om. Nama saya Natasya. Nama panjang saya, Natasyaaaaaa..."
"Hahaha... Kamu masih gak berubah ya? Jangan diajarin anaknya ngelawak donk. Entar dia gak bisa serius," kataku pada Cut. Aku bertanya pada balita dengan mengelus pipinya, "Nama lengkapnya?"
Cut menjawab, "Cut Natasya Rahma." Kami hening sejenak. Beberapa saat ia bertanya, "Bagaimana hari-harimu?"
Aku menjawab, "Seperti ini. Seperti yang kamu lihat saat ini." Setelah mengisap racun, aku melihat langit seiring kembali melepaskan asap. "..., hari-hariku membosankan, tapi aku bahagia." Aku tersenyum sendiri. "Lalu bagaimana denganmu?"
Cut menjawab, "Aku bahagia dan bersuyukur, diberi anak cantik, memiliki suami yang pengertian, walau aku sendiri yang membuat keadaan tidak begitu bahagia." Aku sedikit kaget mendengar jawabannya tersenyum. "Pertemuan ini seperti larangan yang harus disyukuri. Kau masih membalas sapa dariku. Sekarang aku merasa benar-benar bahagia."
Aku tersenyum. "Ada-ada aja," jawabku. "Kamu mau jadi pujangga, agar terlihat seperti anak senja? Haha..."
"Apaan sih..? Aku lagi serius nih" jawabnya kesal.
Akhirnya kami masih bisa tertawa bersama seperti dulu, meskipun dalam keadaan tidak lagi saling memiliki. Aku merasa tenang saat ini, meski tidak sepenuhnya. Ingin seterusnya berbicara dengannya seperti ini. Berbicara hal-hal ringan, dengan sedikit tawa dan senyuman. Bertatap muka, saling menyimpan perasaan terlarang, cukup diri sendiri yang mengerti itu semua. 'Setidaknya, hari ini aku masih bisa melihat senyummu'
Aku berkata, "Sorry... Aku gak datang saat resepsi pernikahanmu."
"Iya gak apa-apa. Aku mengerti keadaan kamu saat itu." Kami hening sejenak. Dia bertanya, "Anak kamu sudah berapa?" Dia terlihat girang.
"Aku belum punya," jawabku.
Cut sedikit kaget. "Tapi, kamu sudah menikah, kan?" tanya Cut.
"Belum."
Cut menggeleng-geleng kepala. "Oh. Begitu," jawabnya. Dia terlihat tak menyangka mendengar jawaban dariku. "Tapi sudah mau tunangankan dengan pacar kamu?"
Aku tidak mengeleng. Memejamkan mata, kembali membakar rokok kedua. Aku berkata, "Walaupun begitu, aku—" Tiba-tiba lidahku kelu.
"Aku apa?" tanyanya paksa.
"Aku bahagia, hingga saat ini," jawabku.
"Syukurlah kalau begitu," kata Cut merasa lega. Kami hening sejenak.
Aku bertanya, "Aku dengar, kamu ke Spanyol. Apa kamu berlibur ke sana?"
"Hehe... iya. Tau dari mana?"
Dari wajahnya, ia terlihat berbohong. "Dari Meida" jawabku.
Sebenarnya, ini adalah pertemuan terlarang. Hanya saja bagiku, tidak ingin menumbuhkan kembali tunas-tunas yang pernah layu. Aku tidak bisa menolaknya. Dia temanku, sekaligus istri dari temanku, Meida. Namun, semua ini bukanlah rencana yang disengaja atau permintaan dari seorang teman. Konspirasi alam semesta dari doa-doa yang pernah disematkan di langit malam, hingga membawa aku dan dia pada pertemuan bersahaja.
Cut bertanya, "Kapan kamu nikah?"
Aku pun menjawab, "Aku belum tau, kapan aku akan menikah." Cut mengangguk mahfum. "..., saat ini aku ingin membahagiakan diri dulu," kataku dengan tersenyum.
"Berarti, saat ini kau tidak bahagia?" tanya Cut.
"Bahagia. Tapi berusaha lebih bahagia lagi. Hehe," jawabku.
"Jangan bohong!"
"Apa untungnya aku berbohong?" kataku.
"Ternyata masih suka membohongi diri sendiri," kata Cut tegas dan panas.
"Karena membohongi diri sendiri adalah jalan ninjaku..!" kataku serius dengan tangan membentuk pistol yang dilengketkan di dagu.
Melihat tingkahku, Cut kesal. Namun di sudut bibirnya melukiskan senyum manis. "Hempp... Tuh kan, mulai lagi kumatnya," katanya. Beberapa saat ia berkata, "Semoga kau dipertemukan dengan wanita yang tidak pernah mengecewakan hatimu yang tulus itu."
Mendengar itu, hati berkata kalau aku harus segera beranjak dari ini. "Cut! Aku pamit dulu," kataku. Kemudian aku memutar arah motor untuk kembali. "Cut, bahagia terus, ya? tersenyum terus, ya? Jangan pernah lupa apa yang pernah aku katakan. Natasya akan bahagia kalau kamu bahagia. Dan Natasya senang punya ibu cantik seperti kamu. See you.."
Saat menyalakan motor, Cut menyentuh lenganku. "Kau sudah tau, kan? Kalau aku tidak suka kalimat *see you."
"Hehehe..." Aku hanya bisa cengir.
"Dari kalimat itu. Apa kita gak akan bertemu lagi?" tanya Cut dengan wajah serius.
"I don't know. But, maybe. Hehe," jawabku cengir dengan menyimpan seribu makna (Aku tidak tau. Tapi, mungkin. Hehe). Tiba-tiba wajahnya cemberut. "Hey hey hey..! You can't be sad, Cut. You must be smile," kataku tersenyum untuk menenangkannya (Hey hey hey..! Kamu tidak boleh sedih, Cut. Kamu harus tersenyum). Aku berkata, "Karena kamu sudah punya segalanya. Kamu harus bersyukur tidak memiliki pria tidak waras sepertiku. Kamu harus merasa senang punya laki-laki yang selalu berada di rumah dan selalu di sampingmu. Cut, kau tidak bisa seperti ini terus. Jika kamu sedih, Natasya akan sedih."
"Iya, Agam. Aku paham," jawabnya. Cut pun tersenyum. Kami hening.
Di saat seperti ini, ada yang sedang berusaha di dalam dada. Nahas, ternyata aku kalah (sebutir embun pun mencari dari sudut mata). Tanpa ingin ia tau, beberapa saat aku pun pamit. "Semoga kita bisa berdamai dengan apa yang telah dilewati. Sampai jumpa!"
"Jaga diri kamu baik-baik," jawabnya dengan senyum. Aku pun berbalik setelah membalas senyumnya.
Motor kembali melaju seirama angin sendu. Pohon-pohon menari seperti menyorak-nyorak semangat—dan berkata, semua akan baik-baik saja. Langit cerah rasa mendung seakan semesta penuh kejutan. Rasa geram di akhir dialog adalah rasa syukur telah dipertemukan. Masing-masing telah saling mendoakan, saling menyemangatkan, saling bercanda—bahwa tidak hanya pada manusia perlu berdamai, diri sendiri jua. Di kala bercanda, hidup sering serius. Dikala serius, hidup sering bercanda. Dan tidak jarang batin kerap kaget akan hal tersebut. Akan itu semua, mata hanya perlu terbuka menerima kenyataan. Lalu membiasakan diri dengan ketidakpastian.
"Anak kamu sudah berapa?" Dia terlihat girang.
"Aku belum punya," jawabku.
Cut sedikit kaget. "Tapi, kamu sudah menikah, kan?" tanya Cut.
"Belum."
Cut menggeleng-geleng kepala. "Oh. Begitu!"
Masih teringat dalam kepala ketika ia menanyakan statusku. Cut yang berpura-pura semangat dari pertanyaan yang telah ia tau, menyembunyikan seribu duka dengan menyalahkan diri sendiri. Wajahnya berbisik—bahwa itu semua kerena dirinya. Padahal tidak ada yang perlu disalahkan. Hanya saja ada dua insan yang belum menemukan keraguan hati, di mana diri sendiri masih mengedepankan rasa ingin dari pada rasa butuh. Yang selama ini keraguan dianggap keyakinan adalah ego yang keras kepala.
Masih teringat caranya menyapa. Masih teringat ia kesal akan tingkahku. Masih teringat caranya menyampaikan rindu melalui tatapan. Terkadang aku tidak mengerti pesan-pesan indah darinya. Terkadang pula aku memilih menipu diri sendiri, bahkan menutup diri dari perasaan-perasaan menyebalkan. Itu yang terbaik bagiku, meski bukan itu yang ia inginkan.
Hidup adalah serangkaian beranjak dari masa lalu. Kenangan manis dan pahit, memfilter yang terbaik untuk dibawa ke masa depan. Berjuang demi angan dari keterpurukan sejarah, di mana hidup tidak mungkin terus berjalan di tempat. Membiasakan diri dengan sabar, bertarung demi berdamai dengan diri sendiri agar tercapainya titik keikhlasan. Memang tidak mudah dan butuh waktu yang tidak sedikit, namun karena itu disebut proses pendewasaan.
"HAHAHAHAHA!"
Untuk merelakan, setiap orang memiliki cara berbeda-beda. Ada dengan cara dengan mencari kebiasaan baru, melakukan trevelling, kembali ke tongkrongan, atau mengecup sajadah di sepertiga malam. Bahwa sesungguhnya diri ini manusia biasa yang tidak dapat membahagiakan semua orang, pun tidak semua orang bisa menerima kekurangan dan tidak bisa memaksa untuk menerima kekurangan tersebut. Namun entah mengapa setiap kali menertawakan diri sendiri, banyak hal tersadari akan kekurangan. Ada rasa lega ketika tertawa, seperti pengakuan pada diri sendiri. Dan terkadang menertawakan diri sendiri, seperti memaafkan kesalahan diri sendiri.
Setiap orang pernah mendamba, setiap orang pernah memiliki, dan hingga pernah berakhir. Entah karena ditinggalkan atau meninggalkan. Entah karena menikah atau sukma yang patah. Tidak ada yang tau apa yang akan disajikan oleh sang waktu. Yang pasti, waktu tidak pernah berhenti berputar. Kaki terus berjalan, dengan membusungkan dada, dengan tatapan lurus ke depan; hanya itu akhir dari setelah hati hancur. 'Bolehkah melihat kebelakang?' Boleh saja melihat ke belakang agar tau sejauh apa kaki melangkah, agar tau betapa petingnya sejarah sebagai pedoman di masa depan.
Pada malam yang terang, kios sedang ramai-ramainya dan kebanyakan adalah orang dewasa sedang mengantri main gaple. Suasana mendayu-dayu dengan musik dangdut, membuat keadaan semakin asyik. Sesekali suasana tegang dan serius dalam permainan, dan tak jarang tertawa di sela-sela candaan orang sekitar. Pak Camat berkata, "Gak cuma anak muda seperti itu. Kami yang sudah berkepala empat masih seperti itu juga. Tapi jangan terlalu di pikirkan juga, itu hal yang wajar. Lagian hal itu sering terjadi di kota-kota besar." Lagi-lagi sebuah canda membuat tertawa sekitar pecah seketika.
Seperti pada malam ini. Rasa sakit itu masih ada, tapi tidak seperih dahulu. Dalam tawa yang meriah, ada frekuensi yang membuat hati bergetar. Dan tersadar, bahwa itu adalah sisa dari perasaan yang pernah ada. Di mana sukma yang pernah terisi kembali berbunga dalam bentuk nostalgia. Di mana luka-luka lama kembali berevolusi dalam bentuk rindu. Dengan begitu, ada senyum kecil yang lahir dari sudut bibir. Dalam hati, terus mengucap syukur karena pernah dipatahkan.
Tidak semua yang pernah hadir dalam hidup terus menetap, terkadang Tuhan menyampaikan pesan dari dirinya. Tidak semua yang pernah singgah untuk dimiliki selamanya, terkadang ia hadir untuk mengajarkan cara mencintai diri sendiri sebelum mencintai seseorang. Tidak semua yang diberi akan diterima, dengan begitu mengajarkan diri agar tidak terlalu berharap besar. Tidak semua yang pergi akan datang, dengan begitu mengajarkan diri untuk berhenti menunggu. Terimakasih pernah singgah. Dengan lukamu, mendewasakanku...
- - -
'Terimakasih untukmu yang pernah pergi. Terimakasih untukmu yang pernah menyakiti. Terimakasih untukmu yang pernah mengkhianati. Mungkin aku tidak akan tau bagaimana rasanya pernah memilikimu. Dan pastinya aku tidak pernah tau manisnya senyummu. Maka untuk itu, terimakasih pernah melukai'
***
Terlihat mereka sedang asik di kios. Adan, Fadel, dan Beko. Mereka juga mendapatkan undangan dari Kak Cut. Namun mereka tidak pergi karena ada kesibukan yang harus diselesaikan. Sedangkan Beko, belum bisa pulang dari Spanyol. Di saat-saat seperti ini, aku jadi teringat mereka. Di mana untuk sebuah kata "kuy ngopi" sangat mudah. Belum lagi saat begadang bersama untuk sejenak melepaskan kepenatan duniawi, itu bisa dilakukan kapan pun yang kami mau. Apa seperti ini yang Adan rasakan saat dua tahun lalu?
*Bujangan... Bujangan...
Lagu dangdut adalah kewajiban kios saat di malam hari, dan itu membuat aku tertawa. Entah kenapa setiap mendengar lagu dangdut, aku selalu tertawa. Walau begitu, pinggul selalu mengikuti irama tersebut, terlebih saat Atok sebagai gitaris-nya. Mungkin karena ekspresinya serius, mendadak berubah menghibur orang sekitar.
"Mungkin ada benarnya juga. Tapi gak sepenuhnya benar."
"Kenapa gitu?"
"Karena mengapa? Karena hidup tidak bisa terus injak-injak bumi. Dan—"
"Tunggu dulu." Yang lain pun terdiam. "Apaan tuh injak-injak bumi?"
"Itu bahasa melayu."
"Gak usah sok-sok Malasyia deh. Bahasa Indonesia aja!" Yang lain tertawa melihat tingkah kesalnya.
Beberapa saat ia berkata, "Hidup itu harus seperti air putih. Netral, dan ke mana aja masuk. Dan pun siapa saja bisa mengonsumsinya. Jangan kayak es krim."
"Tapi—"
"Tapi apa lagi..!?"
"Tapi aku gak mau kayak air putih. Nanti aku dinodai," jawabnya seperti baci persimpangan. "Lagi pula gak ada rasa."
Lalu ada yang sambung di sisi lain. "Benar... Apalagi rasa yang pernah singgah, datang kembali untuk menodai warna yang jernih," kata Daduk.
"Uuuuu...." sorak yang lainnya.
"Aku juga gak mau jadi es krim."
"Emang kenapa?"
"Karena rasa coklat, rasa strawberry, rasa vanilla dan rasa lainnya—udah pernah rasa. Jadi untuk apa merasakan hal yang sama, kalau hanya untuk merasakan luka yang sama."
"ASYIAAAPPPP..!! DASAR SADBOY!"
Aku pun bertanya, "Lalu, mau jadi apa?"
"Mending jadi diri sendiri aja. Walau terkadang bobrok dan bodoh, setidaknya selalu bisa membuat orang tertawa yang sedang bersedih."
"Ini nih... jawaban paling keren," kataku.
"Aku mau jadi jamet. Meski yang lain jijik dan benci, orang masih saja melihat konten mereka." Dengan jawaban Daduk membuat mereka tertawa geli.
"Ahh.. TERSERAH KALIAN AJA MAU JADI APA. SEKALIAN AJA JADI BANCI SANG PENGHIBUR MALAM...!" kata Fadel.
Sambil Menertawakan Diri Sendiri Karna Manusia Terlalu Waras Menjalankan Hidup..
Wahahahahaha
next up thor
intip playboy mengejar cinta❤😘 yuk
dah lah,gw paporit in dlu ye,mksih dah bikin cerita ini,kek sedikit melambangkan tentang jiwaku,huaaaa😭😭😭,sayangnya gw cewek 😭