NovelToon NovelToon
Setelah Benda-Benda Bicara, Seluruh Keluarga Berlutut Memohon Ampun

Setelah Benda-Benda Bicara, Seluruh Keluarga Berlutut Memohon Ampun

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:25.9k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Dibuang di tengah hujan oleh keluarganya sendiri, Keira Santoso nyaris mati — sampai sebuah lampu jalan BICARA padanya.

Sejak malam itu, dia bisa mendengar suara semua benda. Jantung yang mau mogok kerja. Kalung yang membisikkan rahasia. Berlian yang memanggilnya Tuan Putri.

Dan sentuhan seorang CEO tampan yang semua orang tak bisa menyentuhnya... adalah satu-satunya obat untuk keduanya.

Enam kakak yang dulu mengabaikannya? Sekarang rebutan memanjakannya.
Keluarga yang membuangnya? Berlutut memohon ampun.

Tapi Keira sudah menemukan rumahnya yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Bab 18

Tiga malam setelah kasus Wulan selesai, Keira mulai memahami arti kalimat: manusia bisa menang perkara, tetapi kalah pada bantal.

Ia berbaring di kamar Mansion Tanuwijaya dengan mata terbuka.

Pukul dua belas lewat tiga puluh.

Lemari sudah mengeluh sejak pukul sebelas karena salah satu pintunya tidak tertutup rapat. AC berdebat dengan selimut soal suhu ideal. Gelas di meja rias membahas bekas lip balm. Pil tidur di nakas, yang seharusnya menjadi harapan terakhir, malah bernyanyi pelan dari dalam blister.

"Telan aku, telan aku, aku pahit tapi niatku baik."

Keira menatap pil itu tanpa ekspresi.

Masalahnya, ketika pil masuk ke tubuhnya, suara benda tidak berhenti. Ia hanya mendengar pil itu mengomentari perjalanan dari lidah ke lambung seperti pemandu wisata yang terlalu rajin.

"Kerongkongan kanan bagus, licin. Lambung agak asam, bintang tiga."

Malam pertama, ia masih bisa tertawa kecil.

Malam ketiga, ia ingin melempar seluruh nakas keluar jendela.

Kepalanya berdenyut. Mata merahnya perih. Saat siang, ia beberapa kali salah membaca angka di layar ponsel. Saat makan malam, Ko Darren bertanya apakah ia sakit. Ko Brandon bahkan berhenti mengejek selama lima menit penuh, tanda alam bahwa wajah Keira benar-benar buruk.

Tetapi yang paling menyiksa bukan lelahnya.

Yang paling menyiksa adalah ia pernah merasakan tidak ada suara.

Satu sentuhan singkat di Grand Orchid.

Punggung tangannya menyapu jari pria berkacamata hitam, lalu seluruh dunia mati dengan begitu damai sampai Keira hampir menangis di tempat.

Ia tidak tahu nama pria itu.

Ia tidak tahu kenapa sentuhan itu bisa mematikan suara benda.

Ia hanya tahu, jika tidak menemukannya lagi, otaknya mungkin akan hancur perlahan dari dalam.

Keira duduk.

Lemari langsung berseru, "Akhirnya! Tutup pintuku dulu, dong!"

Keira turun dari ranjang, menutup pintu lemari, lalu mengganti piyama dengan hoodie hitam dan celana panjang. Ia memasukkan ponsel, dompet, dan cardigan tipis ke dalam tas kecil.

Ko Kevin sedang tugas malam. Ko Darren biasanya bekerja di kamar dengan pintu tertutup. Brandon sudah tidur, terbukti dari suara game console di kamarnya yang mengorok dramatis.

"Dia tidur sambil mimpi rank naik," kata game console dari jauh.

Keira membuka pintu kamar pelan.

Koridor Mansion Tanuwijaya gelap dan mahal. Karpet tebal menelan langkahnya. Lampu dinding berbisik mengantuk, tetapi tidak berteriak. Ia turun lewat tangga samping, keluar melalui pintu belakang, lalu memesan Grab di luar pagar.

Sopir Grab tidak banyak bicara. Keira bersyukur.

Tiga puluh menit kemudian, Grand Orchid Hotel & Club kembali berdiri di hadapannya, lebih dingin daripada ingatannya.

Klub di lantai bawah masih hidup, tetapi tidak segila malam Sabtu. Musik lebih rendah. Tamu lebih sedikit. Petugas keamanan memeriksa kartu identitasnya, lalu membiarkannya masuk setelah Keira membeli minuman paling murah di bar dengan wajah seperti orang yang tahu ia tidak boleh diganggu.

Bar counter memanjang di bawah cahaya amber. Permukaannya mengilap, penuh bekas gelas, dan terdengar sangat bosan.

"Satu lagi manusia insomnia," gumamnya. "Kalian ini kenapa tidak minum air putih dan tidur?"

Keira menunduk, pura-pura mengikat tali sepatu.

"Kemarin malam," bisiknya, "pria berkacamata hitam berjas, dikawal bodyguard, lewat sini. Siapa dia?"

Bar counter terdiam.

Lalu suaranya berubah antusias. "Oh, yang itu. Berat badannya elegan. Sepatunya mahal tapi tidak sombong. Edric Liem."

Nama itu masuk ke kepala Keira seperti lampu yang menyala.

"Edric Liem?"

"Bos besar. Pewaris nomor satu Liem Group. Umur dua puluh lima. Tinggal di Suite 501, lantai lima. Kalau lewat sini semua orang pura-pura tidak menatap, padahal semua menatap."

Keira menahan napas. "Kenapa memakai kacamata hitam di malam hari?"

Bar counter merendahkan suara. "Dia buta, Kak. Bukan gaya-gayaan. Kasihan juga, orang sekaya itu tapi hidupnya gelap."

Edric Liem.

Suite 501.

Lantai lima.

Keira berdiri terlalu cepat sampai bartender meliriknya. Ia mengambil gelas air yang belum diminum, mengangguk singkat, lalu berjalan menuju lift.

Lift privat tidak bisa dipakai, tetapi lift tamu mengizinkan akses sampai lantai lima setelah Keira menempelkan kartu tamu yang didapat dari bar. Mungkin sistem Grand Orchid terlalu percaya pada uang. Mungkin bar counter diam-diam membantu, karena tombol angka lima berbisik, "Cepat, sebelum satpam curiga."

Koridor lantai lima jauh lebih sunyi.

Karpetnya lebih tebal. Lampu lebih redup. Pintu-pintu suite berdiri berjarak, masing-masing seperti menyimpan rahasia bernilai miliaran.

Di depan pintu 501, seorang pria berjas rapi berdiri dengan tablet di tangan. Usianya sekitar tiga puluh. Wajahnya tampak seperti orang yang sudah tiga kali salah kirim email penting dan hidup untuk menebusnya.

Begitu melihat Keira, matanya melebar.

"Akhirnya datang juga, Felicia!"

Keira berhenti.

Pria itu sudah maju setengah langkah, lalu menurunkan suara dengan gugup. "Maaf, maksud saya Nona Felicia Halim. Nyonya Liem menunggu kabar dari saya sejak tadi. Tuan Muda sedang sulit tidur. Anda diminta menemani beliau, kan?"

Lorong berbisik dari berbagai sisi.

Pot tanaman di sudut berkata, "Salah orang, salah orang."

Karpet menimpali, "Tapi wajahnya mirip profil yang dikirim Nyonya Liem. Cantik, tenang, kelihatan patuh. Padahal tidak."

Tablet di tangan pria itu mengeluh, "Aku sudah menampilkan foto Felicia tiga kali, Den. Matamu lelah atau otakmu libur?"

Keira melihat pria itu.

Denny.

Asisten Edric.

Vivienne Liem mengirim seorang perempuan bernama Felicia Halim untuk menemani putranya yang buta. Perawat, calon istri, atau keduanya. Cukup cantik. Cukup patuh. Cukup mudah diatur.

Keira hanya membutuhkan satu malam tanpa suara.

Ia tidak mau mencuri hidup Felicia. Tetapi jika ia menyebut nama asli, pintu ini mungkin tertutup selamanya.

Keira menarik napas.

"Saya bukan Felicia," katanya pelan.

Denny membeku. "Ha?"

"Nama saya Naira."

Nama itu keluar begitu saja, dekat dengan Keira, tetapi cukup asing untuk menjadi pintu darurat.

Denny berkedip cepat. "Oh. Naira. Baik. Mungkin... nama panggilan? Nyonya memang tidak menjelaskan detail. Saya Denny Wijaya, asisten pribadi Pak Edric."

Tablet mendesah, "Kacau. Sangat kacau. Tapi lanjut saja, Den, kamu memang begini."

Denny menekan panel di samping pintu.

Kunci berbunyi klik.

Pintu Suite 501 terbuka.

Di dalam, tidak ada cahaya.

Gelapnya bukan gelap kamar yang lupa menyalakan lampu. Gelapnya seperti ruang yang memang tidak pernah membutuhkan cahaya.

Dari kedalaman suite, sebuah suara laki-laki terdengar rendah, dingin, dan sangat tenang.

"Masuk."

1
lin sya
kluarga gk tahu malu, stlh tau kbnarannya ngomong ttg kluarga. pdhl dulu kei anak yg diabaikan dan disakitin. skrg dtg dgn tmpg gk brsalah🤭
Dey77
baru awal baca,
semangat thor💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!