NovelToon NovelToon
Return To You

Return To You

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Wanita Karir
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Delapan tahun merajut kasih, hubungan Zacheriyya Tengiz dan Evander Vale-Knight hancur lebur dalam satu malam akibat pengkhianatan yang tak termaafkan.

Alih-alih menyesal, Evander justru menyebut tindakan kejamnya sebagai pembalasan ego yang setimpal atas kesalahan masa lalu.

Terluka dan murka, Zacheriyya pergi dengan sumpah tidak akan pernah memaafkan pria itu sampai ia mati.

Dua tahun berlalu dalam pelarian, takdir dengan kejam mempertemukan mereka kembali.

Rasa cinta yang dulu membara kini telah sepenuhnya bermutasi menjadi kebencian yang dingin dan mematikan. Pertemuan tak terduga ini seketika menyulut kembali sumbu dendam lama dan perang ego yang sengit di antara keduanya.

Mereka kini berdiri berseberangan sebagai dua mantan kekasih yang saling membenci setengah mati, siap saling menjatuhkan lewat tatapan tajam dan kata-kata berbisa.

Di tengah pusaran benci dan luka lama yang kembali menganga, siapakah yang akan hancur terlebih dahulu dalam permainan rasa yang berbahaya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#3

Langkah kaki Zacheriyya Tengiz terlihat begitu santai, kontras dengan alarm evakuasi yang masih melolong-lolong membelah udara Sirkuit Pusat Los Angeles.

Dengan ransel taktis yang bertengger di salah satu bahunya, ia berjalan mendekati motor sport hitamnya yang terparkir anggun di dekat gerbang pembatas.

Punggung tegaknya memancarkan aura kemenangan yang mutlak, seolah ia baru saja menyelesaikan pertunjukan teater alih-alih menjinakkan sebuah bom militer berdaya ledak tinggi.

Di tempatnya berdiri, Evander Vale-Knight menatap punggung mantan kekasihnya itu dengan rahang yang mengeras dan sepasang mata yang menyipit tajam.

Detak jantungnya berpacu cepat, bukan hanya karena adrenalin menghadapi ancaman kematian, tetapi karena kehadiran wanita itu yang mendadak mengacaukan seluruh sistem pertahanannya yang telah dibangun selama dua tahun terakhir.

"Evan! Sialan, tunggu apa lagi?! Ayo lari!" seru Ben, sahabat sekaligus manajer tim balapnya, sambil menarik paksa lengan kemeja Evander.

Ben sudah bersiap untuk mengambil langkah seribu, wajahnya pucat pasi memikirkan sirkuit megah ini akan berubah menjadi lautan api dalam hitungan menit.

Evander, yang akhirnya tersadar dari keterpakuannya, baru saja hendak mengayunkan kakinya untuk bersiap berlari meninggalkan area pit lane.

Namun, sebelum ia sempat melangkah lebih jauh, rekan kerja pria dari Cherry yang tadi bertugas memegang detektor tiba-tiba menepuk dahinya sendiri dan setengah berteriak memanggil mereka.

"Tunggu! Maaf, Tuan Knight! Maaf semuanya!" teriak pria itu sambil melambaikan tangan, memberi isyarat agar ketakutan massal itu dihentikan.

"Setelah kami melakukan pemeriksaan menyeluruh pada sirkuit sekunder melalui pemindai frekuensi... tidak ada bom kedua yang dimaksud! Bom tadi telah dijinakkan sepenuhnya oleh Zach, dan sirkuit ini aman!"

Langkah kaki Evander terhenti seketika. Sirene evakuasi di atas kanopi tiba-tiba mati, menyisakan keheningan yang canggung di antara kru sirkuit yang masih tersisa.

Evander membalikkan tubuhnya perlahan, menatap ke arah gerbang belakang tempat Cherry berada. Namun, yang didengarnya hanyalah raungan nyaring mesin motor sport Cherry yang sengaja digerung keras, sebelum wanita itu melesat membelah jalanan, meninggalkan kepulan asap tipis dan rasa dongkol yang membakar dada Evander.

"Wah, sialan... dia membohongiku," desis Evander, suaranya bergetar oleh campuran antara amarah dan rasa tidak percaya.

Senyum sinis yang getir perlahan terbit di sudut bibirnya.

Tangan pria itu mengepal kuat di dalam saku celananya hingga kuku-kukunya menekan telapak tangan. Rupanya hobimu memang selalu membohongiku, Cherry... lirihnya dalam hati.

Ingatan masa lalu tentang bagaimana Cherry menyembunyikan perselingkuhan emosionalnya dulu kembali berkelebat, berpadu dengan kebohongan kecil yang baru saja wanita itu lakukan hari ini hanya untuk mengerjainya dan membuatnya terlihat bodoh.

Cherry tahu persis bagaimana cara membalikkan keadaan dan menginjak harga diri Evander yang setinggi langit.

Hingga tiba-tiba, getaran keras disertai nada dering dari ponsel di saku celananya membuyarkan lamunan kelam Evander. Ia menarik keluar benda persegi itu dan melihat nama yang tertera di layar.

Jantungnya berdenyut lelah. Ia menggeser tombol jawab dan menempelkan ponsel ke telinganya.

"Hallo, Kakak Ipar..." ucap Evander, berusaha menekan nada frustrasinya agar terdengar selembut mungkin.

Suara seorang wanita menyahut dari seberang telepon.

"Evan, maaf menganggumu di jam begini. Apakah kau bisa menjemput Gabriella di klinik pagi ini? Jadwal pemeriksaannya sudah selesai. Aku tidak tenang jika dia pulang sendirian menggunakan taksi online dengan kondisinya."

Evander memejamkan matanya sesaat, mengembuskan napas panjang sebelum menjawab. "Baik, Kak... aku akan menjemputnya. Kau tidak perlu khawatir. Salam untuk keponakanku."

"Terima kasih banyak, Evan. Kau selalu bisa diandalkan," sahut kakak iparnya sebelum memutuskan sambungan.

Tut.

"Siapa?" tanya Ben yang sejak tadi memperhatikan perubahan ekspresi bersalah di wajah sahabatnya itu.

"Kakak iparku," jawab Evander pendek. Ia berjalan mendahului Ben, melangkah lebar menuju area parkir VIP di mana mobil SUV milik Ben terparkir.

Evander langsung membuka pintu penumpang dan masuk ke dalam, menyandarkan kepalanya yang mendadak terasa pening pada headrest kulit.

Ben ikut masuk ke kursi kemudi, menyalakan mesin mobil, namun tidak segera menginjak gas. Ia menoleh ke arah Evander dengan tatapan menuduh sekaligus prihatin.

"Menjemput wanita hamil itu lagi?"

Evander tidak menoleh, matanya menatap kosong ke luar jendela. Ia hanya mengangguk pelan sekali. "Sudah jadi tanggung jawabku untuk menjemput dan mengantarnya. Kau tahu itu, Ben."

Ben terdiam cukup lama. Ia tahu betul seluruh kerumitan dan benang kusut yang melatarbelakangi sikap Evander selama lima bulan terakhir.

Sebagai sahabat, ada kalanya Ben ingin meneriaki Evander agar berhenti menjadi martir bagi kesalahan yang bahkan bukan sepenuhnya miliknya.

Namun melihat gurat kelelahan yang mendalam di wajah Sahabat terbaiknya itu, Ben hanya bisa menghela napas panjang, mengangguk, dan berkata, "Baiklah. Kita ke klinik sekarang."

...oOo...

Sepuluh menit kemudian, mobil SUV hitam itu berhenti tepat di depan lobi sebuah klinik bersalin elite di kawasan Beverly Hills.

Seorang gadis berambut cokelat bergelombang dengan gaun hamil longgar berwarna pastel sudah duduk manis di kursi tunggu lobi, ditemani oleh seorang perawat. Itu Gabriella Margareth.

Setelah dibantu oleh Evander untuk berpindah ke kursi penumpang depan, Gabriella melirik jam tangannya dan langsung mendengus pelan saat mobil mulai melaju membelah jalanan kota.

"Kau terlambat menjemputku. Kau begitu sibuk sampai membiarkan wanita hamil menunggu?" tanya Gabriella dengan nada ketus yang kentara.

"Tidak juga," jawab Evander tenang, matanya tetap fokus pada jalanan di depan.

Sifat manja dan mudah tersinggung Gabriella bukanlah hal baru baginya. "Aku memiliki sedikit masalah di sirkuit tadi. Kakak ipar meneleponku dan menyuruhku untuk menjemputmu."

"Aah, iya." jawab Gabriella Margareth dengan nada pahit di akhir kalimatnya. Ia memalingkan wajahnya ke arah jendela, menatap deretan pohon palem yang bergerak mundur.

...°°°°...

Selama perjalanan menuju mansion kakaknya, Evander Vale-Knight selalu menanyakan kenyamanan Gabriella Margareth. Ia memastikan pendingin udara mobil tidak terlalu dingin, menanyakan apakah posisi duduk wanita itu sudah nyaman, atau apakah Gabriella membutuhkan sesuatu untuk meredakan mualnya.

Sikap perhatian yang konstan itu ia lakukan bukan karena didasari oleh getaran cinta, melainkan sebuah bentuk formalitas dan kewajiban moral yang mengikat lehernya.

Hingga akhirnya, mobil itu berbelok memasuki sebuah kompleks perumahan mewah dan berhenti tepat di depan halaman mansion megah milik kakak kandung Evander.

Evander mematikan mesin mobil, melepaskan sabuk pengamannya, lalu menoleh ke arah Gabriella.

"Tunggu dulu di dalam, jangan bergerak. Aku akan keluar untuk mengeluarkan kursi rodamu dari bagasi."

Gabriella mematung. Tangannya yang mengelus perut buncitnya yang kini memasuki usia tujuh bulan mendadak berhenti.

Wajahnya yang semula datar kini berubah menjadi sendu, dilapisi oleh lapisan rasa bersalah dan keputusasaan yang mendalam. Ia menatap Evander dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

"Apa kau muak menggendongku, Evan?" tanya Gabriella dengan suara yang bergetar. "Aku tahu aku merepotkanmu. Tapi kau harus ingat... aku cacat juga karena dirimu."

Deg.

Evander terdiam seribu bahasa. Tangannya yang baru saja hendak membuka pintu mobil mencengkeram tuas pintu dengan sangat kuat.

Kata-kata Gabriella barusan bagai palu gada yang menghantam ulu hatinya, memicu rasa bersalah yang teramat sangat yang selama ini ia coba kubur di balik sikap dinginnya.

Evander menatap gadis di sampingnya itu dengan pandangan yang rumit. Pikirannya seketika terlempar pada peristiwa berdarah lima bulan yang lalu.

Malam di mana semuanya berubah menjadi mimpi buruk bagi semua orang yang terlibat.

Lima bulan yang lalu, Gabriella Margareth mengalami kecelakaan parah yang hampir merenggut nyawanya dan janin di dalam kandungannya.

Gadis itu mengemudikan mobil sportnya dengan kecepatan luar biasa di bawah guyuran hujan deras, menerobos lampu merah hingga berujung menghantam pembatas beton dengan sangat keras.

Dan penyebab dari tindakan nekat itu sangatlah fatal: Gabriella Margareth baru saja ditolak mentah-mentah oleh Evander Vale-Knight soal perasaannya malam itu.

Gabriella, nekat mendatangi apartemen Evander dan menyatakan cinta dengan penuh histeria.

Dan gilanya, ungkapan perasaan yang penuh air mata itu disaksikan langsung oleh suami Gabriella sendiri yang ternyata diam-diam membuntuti istrinya karena curiga.

Malam itu juga, di depan mata Evander yang syok, suami Gabriella langsung menjatuhkan talak, menceraikan istrinya dengan penuh kemurkaan.

Pria itu bahkan meludahkan makian keji, menghina Gabriella dan menyatakan dengan lantang bahwa anak di dalam kandungan Gabriella bukanlah darah dagingnya, melainkan hasil perselingkuhan haram dengan Evander.

Secara logika dan hukum, Evander berhak menolak siapapun yang berusaha masuk ke dalam hidupnya.

Apalagi penolakan itu ditujukan pada seorang Gabriella yang jelas-jenis berstatus sebagai istri orang lain.

Evander tidak pernah menanggapi godaan Gabriella, ia tidak pernah menyentuh wanita itu, dan ia sama sekali tidak bertanggung jawab atas janin yang dikandungnya.

Namun sayangnya, malam setelah kecelakaan tragis itu terjadi, Evander Vale-Knight seakan tidak punya pilihan lain untuk cuci tangan.

Saat Gabriella terbaring koma di ruang ICU dengan kedua kaki yang lumpuh sementara akibat trauma saraf tulang belakang.

Kakak ipar Evander—yang merupakan adik kandung dari Gabriella—bahkan sampai bersujud di kaki Evander di koridor rumah sakit yang dingin.

Wanita itu menangis, memikirkan bagaimana masa depan kakaknya yang kini cacat, diceraikan oleh suaminya, dan harus menghidupi putri yang dikandungnya sendirian di tengah cemoohan publik.

Tak hanya itu, sang Mommy, sosok wanita paruh baya yang paling dihormati dan dipatuhi oleh Evander di dunia ini, juga berada di sana.

Melihat bagaimana menantunya yang malang sampai bersujud di hadapan putra kandungnya, sang Mommy yang berhati lembut tidak tega.

Beliau memegang pundak Evander dan meminta dengan sangat, agar selama masa kehamilan dan pemulihan Gabriella Margareth, Evander bersedia membantu mengurangi beban psikologis dan fisik yang dimiliki Gabriella di masa sulitnya.

Sang Mommy tidak ingin keluarga mereka menanggung rasa bersalah jika Gabriella sampai melakukan tindakan nekat lagi yang bisa membunuh janin di rahimnya.

Dan sejak malam itu, Evander mengikat dirinya dalam sebuah janji suci pada kakak iparnya dan juga sang Mommy.

Mengantar juga menjemput untuk pemeriksaan rutin ke rumah sakit, menjaga keselamatan kehamilan Gabriella, dan menoleransi setiap amarah wanita itu adalah tugas yang ia terima tanpa protes—sebuah bentuk penebusan rasa bersalah atas kecelakaan yang tidak sengaja ia picu.

Bagaimana mungkin dia tega menolak membantu?

Gabriella kecelakaan hingga cacat sementara, Gabriella diceraikan suaminya, dan sekarang malah Evander yang harus menjaga dan merawatnya layaknya seorang suami siaga.

Ini adalah sebuah ironi yang luar biasa kejam bagi hidupnya.

Namun di sisi lain, di balik tirai rahasia yang paling kelam di hatinya, Evander yang memang cerdas memanfaatkan situasi rumit ini untuk satu tujuan krusial lainnya. Ia sengaja membiarkan rumor kedekatannya dengan Gabriella menyebar luas di kalangan elite.

Ia membiarkan dunia luar mengira bahwa dirinya adalah pria berengsek yang menghamili istri orang.

Mengapa? Karena Evander sedang berusaha dengan segala cara membuat para wanita di luar sana—para sosialita, model, dan gadis-gadis yang disodorkan ibunya—dapat menjauh darinya.

Ia ingin membangun reputasi sebagai pria beracun yang tidak layak didekati, agar hatinya tetap terjaga, bersih, dan tak tersentuh pada satu nama saja yang masih ia rahasiakan dari dunia: tentu saja nama itu adalah Zacheriyya Tengiz.

Dua tahun lalu, kalimat "kita impas" yang ia ucapkan di kamar hotel mewah Los Angeles bukanlah sebuah pernyataan kemenangan karena berhasil membalas dendam pada Cherry.

Itu adalah puncak dari kebodohan ego laki-lakinya yang terluka.

Malam itu, wanita yang tidur di ranjangnya hanyalah sebuah rekayasa murahan yang sengaja ia sewa untuk membuat Cherry cemburu setengah mati dan merasakan sakit yang sama seperti saat Cherry mengaku berselingkuh emosional dengannya.

Evander tidak pernah meniduri wanita itu. Wanita Itu Adalah Wanita Yang Ia Sewa untuk Sandiwara Besarnya.

Sentuhan fisiknya hanya pernah dan akan selalu menjadi milik Cherry.

Namun, sandiwara bodoh itu justru menjadi senjata makan tuan yang menghancurkan delapan tahun hubungan mereka tanpa sisa.

Cherry pergi membencinya sampai mati, dan Evander terjebak dalam lingkaran setan kebohongannya sendiri.

...°°°°°°...

Dan sekarang, melihat Cherry kembali berdiri di depannya hari ini sebagai agen EOD yang dingin, Evander tahu bahwa dinding kebencian di antara mereka sudah setebal gunung es.

Evander menghela napas pendek, menatap Gabriella dengan tatapan mata yang kosong namun sarat akan ketegasan.

"Aku tidak pernah muak bersamamu, Gabriella. Aku hanya ingin kau nyaman," ucapnya bohong, sebuah kalimat penenang yang sudah ratusan kali ia ucapkan demi menjaga stabilitas emosi wanita hamil itu.

Ia membuka pintu mobil, melangkah keluar ke bawah terik matahari Los Angeles, dan berjalan menuju bagasi untuk mengambil kursi roda.

Di bawah langit yang cerah itu, Evander bersumpah dalam hati, ia akan menyelesaikan kewajibannya pada Gabriella secepat mungkin.

Dan setelah wanita itu melahirkan serta pulih, ia akan mengejar Cherry kembali, bahkan jika ia harus merangkak di atas pecahan kaca untuk mendapatkan maaf dari satu-satunya wanita yang memegang kunci kewarasannya.

1
Mei TResna Rahmatika
sedihh bangett part ini😭
Rosdianah 🌷: huhuhu🥲
total 1 replies
Hennyy exo
kurang banget🤭🤭

omg evander aku padamu😘😘
Rosdianah 🌷: heheh anak author 🤣
total 1 replies
Hennyy exo
sangat suka dengan alurnya dan penulisannya juga bagus mudah dipagami
Rosdianah 🌷: ma'aciww kak🫶🥰
total 1 replies
Hennyy exo
pliss thor sehari upnya 4 atau 6 bab ya🤭
Rosdianah 🌷: heheh nggak janji ya kak🤭
total 1 replies
Hennyy exo
wow makn menanyang thor babnya
Hennyy exo
sumpah thor alurnya makin bagus banget😍
Rosdianah 🌷: Ma'aciww kak sudah stay baca🫶
total 1 replies
Hennyy exo
baca di bab ini.kaya orang gila🤣🤣🤣
gemes deh ama merka berdua
Hennyy exo
di bab ini suka banget ma alurnya
nayla tsaqif
Apa kbr Gabriella margareth,,?? 🤭
Rosdianah 🌷: tunggu kak🤭🤣
total 1 replies
Bonny Liberty
emang minus kayanya ini laki,yang bengkokin siapa,yang lurusin siapa/NosePick/berasa yang paling ...banget deh/Hammer/
Rosdianah 🌷: perlu digampar 🤣
total 1 replies
Mita Paramita
yaudah sih Evander bilang jujur aja ke Cherry kalo masih suka dan gak punya hubungan sama Gabriela 🤨 balikan lagi nih pasangan serasi 😍
Rosdianah 🌷: hihi🤣
total 1 replies
nayla tsaqif
Ati2 cherry,, awas kena PHP,, jangan gmpang luluh,, 😌
Bonny Liberty
denger dulu dong omongan si E,biar jelas /Shy/ suka banget sok pintar 🏏
Rosdianah 🌷: hihihi🤭
total 1 replies
nayla tsaqif
Buat misi penyelamatan lg thor,,, mungkin bom di sekolah ponakan evan,, 🤭 q suka tokoh heroik, 🤣
Rosdianah 🌷: Ok Kakak🫶
total 1 replies
Mita Paramita
baru jelas nih alur ceritanya 🫡 ternyata wanita hamil itu Gabriela dan Evander blom nikah 🤣🤣🤣
Rosdianah 🌷: kwkwkw🤭 Semoga suka ya Kak🫶
total 1 replies
Mita Paramita
😍😍😍 The vale knight series lover
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Bonny Liberty
maaf kisanak, bukan pecahan kaca tapi ranjau darat yang kena bayangan dirimu aja bisa meledak.../Grievance/
Rosdianah 🌷: kwkwkw🤣
total 1 replies
Bonny Liberty
kata cintanya murahan, ga sadar diri,harusnya kamu tau kurang mu apa,hubungan toxic jadinya kan,dah gitu kehilangan real love gara..gara EGO LAKI,dia ga mikir apa cewe juga punya
Rosdianah 🌷: Semoga suka cerita Baru nya kak🫶
total 1 replies
Bonny Liberty
salah satu masalah dunia EGO LAKI..LAKI../Smug/
Rosdianah 🌷: huhuhu 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!