Masa lalu yang kelam membuat Helena harus hidup dengan dua identitas. Pertama, sebagai dirinya sendiri. Kedua sebagai Candy, wanita malam yang mendapatkan uang setelah memuaskan hasrat para pria hidung belang.
Semua pria itu sama sekali tidak tahu mengenai Helena. Mereka hanya tahu tentang Candy. Sampai kemudian terjadi sesuatu yang tak terduga, ada seorang pria yang menyadari jika Helena dan Candy adalah wanita yang sama. Ya, Adam tahu kalau Helena memang sengaja menyamar menjadi Candy. Hal itu membuatnya ingin tahu lebih jauh tentang kehidupan wanita itu.
Tentu saja seharusnya Adam adalah pria yang Helena jauhi. Namun kenyataannya, Helena malah selalu berakhir di ranjang pria itu. Apa yang harus Helena lakukan? Bagaimana jika seluruh dunia tahu identitas aslinya? Jika itu terjadi, sanggupkah ia menghadapi masa lalu yang kembali terkuak?
WARNING 21+
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riri Lidya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30
“Oh syukurlah... Aku kira kau selingkuh di belakang Matthew.” Ryan tersenyum jahil.
Helena hanya mematung membuat Ryan bertanya, “Apa aku melewatkan sesuatu?”
Helena memaksakan dirinya tersenyum. “Kami baik-baik saja. Aku akan menceritakan segala hal yang terjadi selama kau tidur panjang. Tapi setelah kau keluar dari rumah sakit.”
Ryan mengangguk lalu membuka pembicaraan santai untuk mereka bertiga sekali-kali ia akan bertanya kabar Matthew.
Hari berganti malam, dengan berat hati Helena meninggalkan rumah sakit.
“Kenapa tidak kau katakan saja yang sebenarnya?” Adam membuka percakapan terlebih dahulu di sela-sela menyetir.
Helena yang tadinya bersandar, memejamkan matanya, langsung melirik Adam. “Kau pasti mendengar apa yang Max katakan tadi.”
Adam memandangnya sekilas lalu kembali menatap jalan seraya menghela nafas. “Kau menyakiti dirimu sendiri.”
Helena menatap keluar jendela yang menampilkan jalanan New York pada malam hari. Lalu berbisik hingga Adam tidak mendengarnya, “...Tak apa. Asalkan Daddy tetap bernafas.”
Ya... Biarkan seperti itu... Biarkan dirinya menyakiti diri sendiri asalkan ayahnya kembali bernafas.
***
Sudah seminggu Helena melakukan rutinitasnya yang baru, yaitu saat pagi ia akan menjenguk Ayahnya yang diantar Adam dan sorenya Adam akan menjemput Helena. Atau sebuah limo yang mengantar-jemput Helena saat Adam sedang sibuk. Dan selama seminggu juga ia terus diberi pertanyaan bertubi-tubi dari Ryan tentang hubungannya dengan Matthew.
“Jadi kalian belum menikah?!” tanya Ryan tak senang.
“Belum, Dad. Kau ingin bunga ini kutaruh di mana? Kau tidak lupa bukan, lily adalah bunga favorit Mommy.” Helena berusaha mengalihkan topik.
“Letak saja dimanapun kau suka. Kenapa dia belum menikahimu?” terlihat jelas jika Ryan masih keukeuh dengan topik pembicaraan itu.
“Dia sangat sibuk mengurus dua perusahaan secara langsung. Haah, bagaimana kalau besok aku membeli bunga tulip... Apa kau menyukainya?” sekali lagi Helena mencoba mengalihkan topik.
“Harusnya kau membiarkanku menonton TV supaya aku tak banyak bertanya. Aku sangat penasaran perkembangan perusahaanku... Dan juga calon menantuku.”
‘Prang!’
Tak sengaja vas yang di pegang Helena jatuh. Ia sangat terkejut lebih tepatnya ketakutan saat perkataan Ayahnya di akhir kalimat.
“Kau tak apa, meli?” tanyanya khawatir.
“I-I'm good. Tanganku licin makanya vas itu jatuh.” Helena mengelap tanganya yang keringat dingin dengan kasar di celana jeans. Berusaha mengatur nafasnya yang memburu.
“Lain kali hati-hati.” Ryan berusaha mengingatkan lalu mengomel tak jelas masalah ruangan yang dikatakan VVIP tapi tak mempunyai televisi.
Helena dan Max memang sengaja mencabut saluran TV di kamar itu. Mereka tidak mau bila Ryan tahu bahwa perusahannya telah berganti nama dan masalah Helena yang mencoba bunuh diri. Biarpun sudah lewat, namun dapat dipastikan bahwa berita tersebut masih hangat di perbincangkan di seluruh stasiun TV.
“Oh ya... Siapa pria yang kerap kali mengantar-jemputmu? Harusnya itu tugas Matthew.”
“Sudah kubilang ia hanya teman.”
“Dan sekarang di mana Matthew? Sudah lewat seminggu aku siuman tapi bocah itu belum menunjukkan batang hidungnya...” Ryan memang selalu memanggil Matthew dengan sebutan bocah dari dulu. Kemudian Ryan menggumam kesal karena tubuhnya yang belum bisa pulih cepat.
“...Dia masih di London! Daddy, bisakah kita tidak membahas tentang perusahaanmu dan 'bocah' itu?! Semuanya baik-baik saja.”
Ryan sedikit kaget melihat anaknya yang marah. “Baiklah...” ujarnya sedikit bingung dengan perubahan emosi Helena.
Helena tersenyum sebelum merangkak menaiki ranjang dan duduk di pangkuan Ryan. “Well, apa kau ingin mendengar ceritaku tentang Venus?”
Dan Ryan tertawa renyah.
Setelah mengobrol panjang lebar, Ryan perlu istirahat. Helena pamit dan bergerak menuju limusin yang telah menunggunya.
Limusin yang Helena tumpangi berhenti di China Town. Menyuruh supir menunggu, Helena mulai berjalan memasuki gang-gang kecil. Ia merasa ada yang mengikutinya tapi saat ia menghadap kebelakang tak ada tanda-tanda orang aneh atau orang gila. Segera di tepisnya rasa ketakutannya kemudian ia melanjutkan perjalanan menuju tempat yang di tuju, yaitu rumah Jules. Seorang wanita yang bekerja sebagai penjahit pakaian. Selesai bertransaksi, barulah Helena menuju limo.
Helena memasuki kediaman Adam dengan membawa 1 kotak sedang berisikan gaun yang ia rancang sendiri. Baru saja ia ingin menuju kamar, sebuah suara muncul di belakangnya. “Dari mana?”
“China Town. Kau bisa bertanya dengan supir apakah aku bohong atau tidak.”
“China Town...” Adam mengangguk-angguk.
Helena memicingkan matanya. “Ada apa, Adam?”
Adam menghela nafas. “Aku minta maaf telah menyuruh orang mengikutimu.”
Helena membalikkan tubuhnya cepat menghadap lalu menggelengkan kepala tidak percaya. “Kau... Pantas saja aku seperti di ikuti.”
“Aku hanya ingin kau aman.”
“Kau melangkah terlalu jauh Adam?!”
Helena melempar asal gaun barunya. Saat ia ingin menuju kamar mandi langkahnya di hentikan Adam. Adam menggendong Helena ala bridal style meletakkannya dengan hati-hati di pinggir ranjang. Adam duduk di lantai bertumpu dengan 1 kaki, Ia melepaskan high heels yang Helena pakai, mengambil Baby oil dan memijit kaki Helena dengan lembut.
Helena mendesah nyaman saat Adam memijit kakinya. Ia memejamkan matanya merasakan kenikmatan pijatan Adam. “Harusnya kau bekerja sebagai tukang pijat.”
Adam menyeringai menatap Helena dengan alis terangkat. “Akan kupikirkan itu.”
Mereka berdua tertawa melupakan pertengkaran kecil mereka.
“Jangan pernah memakai sepatu lancip jika jalanannya sangat jelek. Kau tahu, kau bisa saja merusak kakimu.”
Helena terkikik. Apa Adam masih mengatakan high heels dengan kata sepatu lancip? Astaga... Pria ini...
Helena mengangguk. “Baiklah. Tapi jangan melakukan itu lagi di belakangku. Aku…ketakutan.”
Adam mengangguk karena merasa dia memang bersalah. “Dan juga aku minta maaf karena pertengkaran tadi... Kau tahu, aku hanya ingin kau aman, Helena. Aku tidak ingin ada orang gila yang kedua, ketiga, dan seterusnya seperti di minimarket.”
“Fine.”
Tidak biasanya Helena menurut seperti ini. Ia mengusap lembut kepala Helena sebelum mendaratkan kecupan basah di dahi wanita itu. “That's my girl!”
“Tapi katakan. Untuk apa kau ke rumah wanita mint itu?”
Helena terkekeh. “Namanya Jules. Aku mengenalnya saat aku masuk SMA, Nana yang memperkenalkan aku dengannya.”
Ya Tuhan... Dia merindukan Nana.
“…Inanna?”
Helena menggelengkan kepalanya. “Nana is 'My Mirror'. Saat umurku 5 tahun, Daddy menyiapkan seorang wanita yang mirip denganku. Kami seperti kembar namun beda orang tua. Ia mempunyai wajah dan tubuh sepertiku. Yang membedakan kami hanya warna mata dan rambut. Ia memiliki mata hijau dan berambut merah menyala. Sedangkan aku bermata dan rambut coklat keemasan.”
Adam terkejut. Dia sangat yakin sudah mencari tahu tentang Helena hingga ke akarnya tapi ia tak tahu masalah Nana.
“Di Kekaisaran Alexand, seluruh putra-putrinya akan mendapatkan 1 'kaca'. Kami tidak dibolehkan bergaul dengan rakyat yang mengabdi pada Raja Alexand, yaitu Daddy saat itu di sana. Maka dari itu kami selalu diberi seseorang yang mirip dengan kami dari umur hingga postur tubuh. Kaca-kaca kami hanya diketahui oleh orang berpangkat tinggi seperti Duta, Selir, dan Permaisuri. Selain itu tak ada yang tahu tentang kaca kami termasuk para pelayan dan rakyat-rakyat. Kaca-kaca tersebut merangkap sebagai pelayan pribadi sekaligus teman untuk kami jika dilihat dari kedudukan kami.”
“... Nana juga yang mempertaruhkan nyawanya demi aku. Dia berani bunuh diri untuk menggantikanku di peti mati.”
Helena mengenang kembali bagaimana ia mendapat kabar dari Max dan Venus bahwa Nana meminta Max untuk menghentikan fungsi jantungnya dan membiarkan ia menjadi jasad Helena.
“Siapa saja yang tahu mengenai Nana?”
“Max dan Venus… dan kau.”
Dan Parker tidak mengetahuinya. Semuanya hampir jelas mengingat Matther Parker sangat terpukul melihat Helena di peti mati. Dia tidak berfikir jika itu Nana karena memang ia tidak tahu adanya Nana dikehidupan Helena.
“Nana akan mendapatkan namanya di pemakamannya. Segera.”
Helena terharu. “Thank you,” ujarnya tanpa suara.
Moga aja ada lnjutan cerita khidupan mereka stelah menikah..
tapi bagus ceritanya
saya pernah baca di WP tapi ndak selesai jadi penasaran sampai sekarang endingnya gimana 😭😭😭