Tiba-tiba ada yang mengaku sebagai ayah kandungku!
Dia masih muda, dan kaya raya. apa dia benar ayah kandungku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oyi_jy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Alan dan Indra baru saja sampai, Indra menelpon Arthur untuk menanyakan keberadaannya.
Tutt... tutt...
📱 * Hallo, kenapa ndra?* tanya Arthur
📱* Hallo kak, aku dan Alan sudah sampai, kalian di mana?" tanya Indra
📱* Masuk saja ke dalam, nanti ada pengawal yang menjemput kalian* jawab Arthur
📱* Oke* sahut Indra. Lalu memutuskan sambungan telepon nya.
"Om Indra apa kita benar-benar ke sini?" Tanya Alan.
"Iya, mereka sudah di dalam. Kenapa?" Tanya Indra.
"Kenapa harus ke Taman ria seperti ini sih!!" Batin Alan .
Ini rahasia loh ya, Alan itu takut naik wahana di taman ria, kecuali sama komidi putar😂. Dan ternyata hari ini Arthur mengajak Alana bermain di Taman ria.
"Tidak, ya sudah ayo" ucap Alan, meninggalkan Indra .
"Hmmm.... " gumam Indra, lalu menyusul Alan.
Alan melihat pengawal Arthur yang menunggunya.
"Mari tuan muda" ucap pengawal. Alan mengangguk dan mengikuti pengawal tersebut, Indra juga demikian.
"Kak Alaaaaaan...." panggil Alana, melambaikan tangannya.
Alan menghampiri Alana yang sedang duduk bersama Arthur.
"Sudah selesai kak urusannya?" Tanya Alana.
"Iya" jawab Alan, duduk di samping Alana.
"Sip.. kita naik wahana yuk kak" ajak Alana.
"Wahana?.. wa.. wahana apa?" Tanya Alan, sudah keringat dingin.
"Itu.." tunjuk Alana wahana Halilintar
Alan membelalakkan matanya, dan menatap Alana.
"Kau yakin, itu sangat cepat Alana. Bahaya!" Ucap Alan, sudah gemetaran takut.
"Gak kok kak, ayo kak.." ucap Alana.
"Kau sama ayah dan om Indra sana!" Jawab Alan.
"Tidak mau.. aku mau sama kakak juga... ayo kak!" ucap Alana, menarik-narik tangan Alan.
Arthur dan Indra hanya melihat Alan dan Alana berdebat.
"Kau sudah lupa?" Bisik Alan.
"Hah... lupa? Lupa apa?" Tanya Alana.
"Jatuh di ketinggian, ingat?" Ucap Alan.
Alana mengingat-ingat kembali apa yang di maksud Alan.
"Ketinggian???... Hmmm.... oh, Alana ingat, maafin Alana kak. Alana bener-bener gak ingat" ucap Alana, Setelah mengingat kejadian dulu Alan hampir jatuh dari bianglala.
"Ya.. kau saja yang naik wahananya, aku tunggu di sini" ucap Alan.
"Sebenarnya apa yang kalian bicarakan?" Tanya Arthur.
Alan dan Alana menoleh ke Arthur.
"Ah maaf ayah, kak Alan tidak bisa menaiki wahana itu, karena kakak pernah hampir jatuh dari bianglala, semenjak itu kak Alan takut ketinggian, Alana lupa tentang itu" jawab Alana.
"Gitu ya, jadi itu sebabnya tadi kamu tanya benar kita kesini. Jadi kamu takut ketinggian Alan" ucap Indra
Alan hanya mengangguk, mengiyakan.
"Tidak apa-apa nak, itu wajar. Semua orang juga punya rasa takut masing-masing. Tapi suatu saat kamu harus hadapi rasa takutmu itu sendiri" ucap Arthur
"Alan mengerti ayah" jawab Alan.
"Anak pintar.. jadi kamu gak mau naik wahana nih ikut kami?" Tanya Arthur
"Tidak, kalian saja. Alan akan menunggu di sini" jawab Alan.
"Oke, ayah gak akan maksa kamu buat ikut " ucap Arthur, lalu merogoh saku celananya, dan mengeluarkan beberapa lembar uang kertas.
"Ini, belilah apapun yang Alan mau. Habis kan juga tidak apa-apa" ucap Arthur, memberikan uang itu pada Alan.
"Terima kasih ayah" ucap Alan, menerima uang itu.
"uang sebanyak ini gimana cara menghabiskannya?" batin Alan
•mode baca pikiran on
"Haha.. dasar kak Alan" batin Alan
"Sama-sama, ayah nemenin Alana dulu ya" ucap Arthur.
"Iya" jawab Alan
"Alana naik dulu ya kak, kakak jangan kemana-mana ya" ucap Alana
"Iya, sudah sana.. keburu rame" ucap Alan.
Arthur dan Alana menaiki wahana, Alan bersama Indra dan 2 orang pengawal.
-------
Sembari menunggu Arthur dan Alana, Alan bermain gadget-nya.
"Kenapa om Indra gak ikut naik saja, aku bisa jaga diri kok" ucap Alan, fokus dengan gadgetnya.
"Terlalu sesak, om tidak suka " jawab Alan.
"Oh begitu ya" ucap Alan.
Karena akhir pekan, jadi wajar jika taman ria ini ramai dikunjungi. Alan yang bermain gadgetnya pun jadi tidak fokus karena teriak-teriakan orang-orang yang menaiki wahana. Akhirnya Alan memutuskan menghentikan memainkan gadget-nya.
"Om beli minuman dulu ya, kau mau ikut?" Ucap Indra
"Tidak om, Alan tunggu di sini saja" jawab Alan.
Indra, mengangguk dan meninggalkan Alan.
"Haaaahhh....." Alan menghela nafas.
Alan melihat sekelilingnya, banyak anak-anak yang bermain dengan orang-orang tua mereka masing-masing.
"Jika ibu di sini, pasti kita akan seperti mereka kan bu? Bermain bersama dan tertawa bersama" batin Alan.
"Hu... hu.. hu... hikss... ibu, ibu di mana" tangis anak kecil, berjongkok di dekat kursi yang di duduki Alan.
Alan mendengar tangisan anak itu, Alan berdiri dan mendekati anak kecil tersebut.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Alan, berjongkok di depan anak kecil tersebut.
Anak kecil tersebut mendongak, dan menatap Alan.
"Huwaaa.... aku mau ibu..." ucap anak kecil itu.
"Kau terpisah dari ibumu ya?" Tanya Alan, Anak kecil itu hanya mengangguk.
"Mau kakak carikan ibumu? Tapi kau harus duduk dulu di kursi itu" ucap Alan, menunjuk kursi yang tadi dia duduki.
"Iya" jawab anak kecil tersebut.
Alan mengulurkan tangannya pada anak kecil itu, dan anak itu mengulurkan tangannya pada Alan, Alan menggenggam tangan anak itu dan mengajak nya duduk.
"Jadi namamu siapa?" Tanya Alan.
"Aina" jawab Aina.
"Oke, Aina. Kakak akan bantu kamu, jangan menangis lagi ya" ucap Alan, mengeluarkan sapu tangannya dan mengelap air mata Aina.
"Iya, terima kasih kak" jawab Aina.
Lalu Alan menyuruh salah satu pengawal untuk memberitahu tugas keamanan bahwa ada anak yang terpisah dari ibunya.
Indra kembali membawa minuman di tangannya.
"Loh.. anak ini siapa?" Tanya Indra
"Namanya Aina, dia terpisah sama ibunya. Aku melihat tadi dia lagi menangis di pinggir kursi, karena tidak ada yang peduli jadi aku ajak dia duduk saja di sini" jawab Alan.
"Oh begitu.. baiklah om beritahu petugas keamanan dulu" ucap Indra
"Tidak usah om, Alan sudah menyuruh salah satu pengawal untuk memberitahu petugas keamanan kok" jawab Alan.
"Syukurlah..." ucap Indra.
Indra berjongkok dan menatap Aina. Aina menundukkan kepalanya karena takut.
"Namamu Aina ya, tenang saja om tidak jahat kok. Om mau tanya sama Aina, Aina umur berapa?" Tanya Indra
"8 tahun" jawab Aina.
"Begitu ya. Aina mau minum?, Om punya jus buah, Aina mau?" Tanya Indra.
"Apa boleh?" Tanya Aina.
"Tentu saja boleh, Aina mau minum yang mana?" Ucap Indra.
Aina menunjuk jus jeruk, Indra memberikan jus jeruk tersebut .
"Terima kasih om" ucap Aina.
"Sama-sama" jawab Indra.
-------
15 menit mereka menunggu ibunya Aina, akhirnya ibu tersebut datang menjemput Aina. Ibu tersebut sangat berterima kasih pada Alan yang sudah menjaga anaknya.
Lalu ibu tersebut mengajak Aina pulang.
"Tunggu Bu, Aina mau berikan sesuatu pada kakak itu" ucap Aina, ibunya mengizinkan dan Aina kembali lagi ke Alan.
"Terima kasih sudah menolong Aina kak, sebagai bentuk terima kasih Aina apa kakak mau menerima hadiah dari Aina?" Ucap Aina
"Hadiah..?? Hadiah apa?" Tanya Alan.
Aina membuka tas yang dia bawa.
"Ini untuk kakak, kalo begitu Aina pamit pulang, sekali lagi terima kasih kakak" ucap Aina, lalu kembali lagi pada ibunya.
Alan melihat apa yang di berikan Aina.
"Kalung.. dan ada namanya" ucap Alan, melihat-lihat kalung itu.
"Ai..?? Apa ini panggilan dia..?? Menggemaskan sekali" ucap Alan, lalu memasukkan kalung tersebut ke sakunya.
Alan kembali lagi duduk, menunggu Arthur dan Alana sambil meminum jus buah yang di belikan Indra.
Tak lama, Arthur dan Alana sudah selesai menaiki wahana.
"Maaf ya kak Alan, lama ya?" Ucap Alana
"Tidak apa-apa, asal kamu senang" jawab Alan.
"Hehe... terima kasih" ucap Alana.
"Ya sudah, ayah sedikit cape gimana kita makan sesuatu dulu" ucap Arthur.
"Om Indra setuju, om juga lapar" sahut Indra
"Oke, ayo kak..." ucap Alana, menarik tangan Alan.
Bersambung.....