Monique "Momo" Salim — gadis Tionghoa dari gang sempit Pecinan Semarang, anak haram yang dijual ayahnya sendiri, tabungan Rp 300.000 — terbangun di sebuah pulau mewah yang tak pernah ada di peta mana pun.
Di hadapannya berdiri seorang pria yang menguasai separuh ekonomi Asia Tenggara.
Renard Aurelius Widjaja.
CEO Widjaja Group. Konglomerat paling berkuasa — dan paling berbahaya — di Indonesia. Matanya amber seperti matahari terbenam, tapi tatapannya lebih dingin dari es.
"Kamu milikku," katanya. Bukan pertanyaan. Bukan permintaan. Itu pernyataan.
Momo dikurung. Bajunya diganti. Ponselnya disita. Satu-satunya yang tersisa: setengah gelang sakura di pergelangan tangannya — dan ingatan samar tentang pil putih yang memulai segalanya.
Tapi Momo bukan gadis yang mudah tunduk.
Di balik tembok emas penjara Renard, ada rahasia yang lebih gelap dari obsesinya:
— Seorang hacker jenius yang menawarkan kebebasan... dengan harga yang tak terduga.
— Sebuah password sembilan huruf yang menyimpan cinta bertahun-tahun.
— Dan kebenaran tentang keluarga Widjaja yang bisa menghancurkan segalanya.
Ketika cinta paksa berubah menjadi cinta sungguhan — siapa yang sebenarnya menjadi tahanan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Bab 18: Aftermath Gala - Serpihan
Momo tidak ingat bagaimana mereka keluar dari ballroom.
Yang ia ingat hanya suara kaca pecah, jeritan tamu, tangan Renard yang mengunci pinggangnya, dan tubuhnya didorong ke balik jas hitam seolah dunia di luar dada pria itu penuh peluru.
Albert membuka jalan. Darren berbicara cepat di telepon. Pengawal EMP bergerak seperti dinding hidup. Gunawan menghilang entah ke mana. Queenie menangis histeris dengan suara yang terdengar dibuat-buat, tetapi tidak ada yang punya waktu menampar kepalsuannya.
Di lift privat, Momo akhirnya bisa bernapas.
Lalu ia melihat tangan Renard.
Sedikit gemetar.
"Kau kenapa?"
"Tidak apa-apa."
"Jangan bohong."
Renard menatap panel lift. "Efek obat."
Momo langsung mengerti. Gelas Queenie.
"Kamu benar-benar gila." Suaranya naik. "Kenapa kau meminumnya? Kenapa tidak buang saja? Kenapa selalu memakai tubuhmu sendiri seolah tidak ada harganya?"
Renard menoleh. "Karena tubuhmu lebih berharga."
Momo terdiam.
Lift terbuka ke atap hotel. Helikopter sudah menunggu, baling-balingnya memecah udara Jakarta. Momo naik dengan kaki masih gemetar. Begitu pintu ditutup, suara luar menjadi dengung berat.
Anthony menelepon lewat layar kecil di kabin.
"Aku sudah siapkan antidot di Pulau Raja. Albert mengirim rekaman lima menit lalu. Obatnya bukan racun mematikan, tapi bisa mengganggu koordinasi motorik dan mempercepat detak jantung. Renard, jangan sok kuat."
"Aku baik-baik saja."
"Kalau kau baik-baik saja, aku pensiun jadi dokter."
Darren yang terhubung lewat earpiece menambahkan laporan singkat: Sen jatuh ke kolam, tubuhnya hilang sebelum tim keamanan mencapai titik bawah. Ada kemungkinan ditembak oleh pihak ketiga dari taman hotel. Identitas penembak belum diketahui.
Momo duduk kaku.
Sen hidup. Sen tertembak. Sen jatuh lagi. Sen yang pernah membiarkannya jatuh.
Ia tidak tahu harus merasa apa.
Renard duduk di sampingnya, wajah makin pucat. Tangannya masih gemetar sedikit meski ia mencoba menyembunyikan dengan mengepal. Momo melihatnya. Kali ini, tubuhnya bergerak sebelum harga dirinya sempat memberi larangan.
Ia meraih pergelangan Renard.
Renard menegang.
Momo menekan dua jari ke nadinya. "Aku hanya mengecek."
"Aku tidak minta."
"Aku juga tidak minta kau minum obat dari gelasku."
Renard diam.
Denyut di bawah jari Momo cepat. Terlalu cepat. Kulitnya hangat, keras, hidup. Momo menatap tangan mereka. Ini pertama kalinya ia menyentuh Renard bukan karena ditahan, bukan karena dipaksa, bukan karena ia hampir mati.
Ia yang memilih.
Kesadaran itu membuat pipinya panas.
Ia hendak menarik tangan.
Renard membalik pergelangan, menangkap jari-jarinya.
Tidak keras.
Hanya menahan.
Momo menatapnya. "Lepas kalau sudah stabil."
"Belum stabil."
"Kau bahkan belum cek."
"Aku tahu."
Anthony di layar pura-pura batuk. Albert menatap lurus ke depan dengan disiplin yang terlalu keras.
Momo seharusnya menarik diri. Tetapi helikopter berguncang pelan di atas kota, suara malam masih penuh sisa tembakan, dan tangan Renard terasa terlalu nyata di antara semua hal yang retak.
Ia membiarkan jari-jarinya tetap di sana sampai Pulau Raja muncul sebagai bayangan gelap di tengah laut.
Saat mendarat, Renard akhirnya melepaskan.
Di helikopter, Jakarta berubah menjadi pecahan cahaya di bawah mereka.
Momo duduk di seberang Renard dengan selimut darurat di bahu. Ia tidak ingat siapa yang memberikannya. Mungkin Albert. Mungkin salah satu pengawal. Yang ia ingat hanya tangan Renard di punggungnya saat menundukkan tubuhnya keluar dari ballroom, tubuh Renard yang sesekali melemah tetapi tetap memaksanya berjalan lebih dulu.
Anthony muncul lewat panggilan video dengan wajah marah yang profesional.
"Racunnya bukan dosis penuh," katanya setelah Albert menyebut gejala. "Mungkin hanya penguji reaksi. Saya sudah siapkan antidot di Pulau Raja, tapi dia harus minum sekarang."
Albert membuka kotak medis.
Momo menatap Renard. "Kamu punya antidot sebelum minum."
"Aku mencurigai Queenie."
"Mencurigai bukan alasan untuk meminum gelas itu."
"Kalau kau yang memegangnya?"
"Aku tidak memegangnya."
"Karena aku mengambilnya."
Momo berdiri, helikopter berguncang, lalu ia hampir jatuh. Renard bergerak cepat menangkap sikunya meski wajahnya memucat karena gerakan itu.
"Duduk," katanya.
"Jangan beri aku perintah ketika kamu baru saja meracuni dirimu sendiri."
"Aku tidak meracuni diriku. Queenie yang melakukannya."
"Kamu membantunya!"
Albert menjadi sangat sibuk melihat keluar jendela.
Renard menelan obat dari botol kecil, lalu bersandar. Keringat dingin membuat rambutnya menempel di pelipis. Dalam cahaya helikopter, ia tampak lebih manusia daripada biasanya, dan Momo membenci betapa kuat rasa takut yang muncul karenanya.
"Kenapa?" tanyanya, lebih pelan.
Renard membuka mata.
"Kenapa selalu begitu? Kenapa semua hal harus kamu kendalikan dengan tubuhmu sendiri? Racun, ular, laut. Apa kamu pikir aku akan berterima kasih karena diselamatkan dengan cara yang membuatku melihatmu hampir mati?"
Untuk pertama kalinya, Renard tidak langsung menjawab.
Suara baling-baling mengisi ruang.
"Aku tidak tahu cara lain," katanya akhirnya.
Kalimat itu sederhana. Terlalu sederhana. Momo menatapnya, marahnya tersangkut di dada.
Ia duduk kembali. Tangannya bergerak sebelum ia sempat melarang. Jari-jarinya menyentuh pergelangan Renard, mencari denyut nadi seperti Anthony pernah lakukan. Kulit pria itu panas dan dingin sekaligus.
Renard menatap tangan itu.
"Kau memeriksaku."
"Aku memastikan kamu belum mati supaya aku masih bisa memarahimu."
"Alasan yang masuk akal."
"Diam."
Ia tidak diam. Tangannya yang lain naik, menangkap jari Momo dengan perlahan. Tidak menahan keras. Hanya melingkupi. Tetapi helikopter tiba-tiba terasa lebih sempit daripada kamar di Pulau Raja.
Momo seharusnya menarik tangan.
Ia terlambat satu detik.
Renard menyadari keterlambatan itu.
Tentu saja.
Matanya melembut dengan cara yang membuat Momo lebih takut daripada amarahnya.
Momo akhirnya menarik tangan, cepat, seolah tersentuh api.
Anthony menyuruh Momo memeriksa apakah pupil Renard masih fokus karena Albert sedang menyiapkan suntikan kedua. Momo mendekat dengan wajah masam.
"Lihat aku," katanya.
Renard membuka mata. "Dengan senang hati."
"Jangan menggoda pasien lain saat hampir keracunan."
"Pasien lain?"
"Aku. Korban stres."
Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan gala, sudut bibir Renard bergerak. Kecil sekali, tetapi cukup membuat Momo ingin memarahinya lagi agar tidak memikirkan bagaimana wajahnya terlihat lebih muda ketika hampir tersenyum.
Ia mengangkat dua jari. "Berapa?"
"Dua."
"Namaku?"
"Momo."
"Kamu siapa?"
"Pria yang membuatmu marah."
"Setidaknya kesadaranmu masih ada."
"Dan pria yang membuatmu khawatir."
Momo menurunkan tangan. "Kesadaranmu ternyata rusak."
Namun ia tidak mundur secepat sebelumnya.
Renard menangkap keterlambatan itu juga.
Tentu saja.
Helikopter menembus awan tipis.
Momo duduk kembali, tetapi matanya terus turun ke tangan Renard. Denyut itu masih ada di sana, tersembunyi di bawah kulit pucat. Ia membenci betapa ia ingin memeriksanya lagi.
Renard memejamkan mata. "Berhenti menatap nadiku."
"Berhenti hampir mati."
"Aku akan pertimbangkan."
"Jawabanmu selalu buruk."
"Kau tetap mendengarkan."
Momo membuang muka.
Tetapi bekas genggamannya tinggal lebih lama daripada efek obat.