"Tanggal 1 April pukul 11.11 aku sepertinya telah jatuh cinta!"
Gema menyadari perasaannya dan pada hari itu juga pemuda yang masih duduk di bangku sekolah itu akan melamar sang pujaan hati.
"Aku akan menikahi Chila sekarang juga!"
Bagaimana kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DHEVIS JUWITA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mendapat Pengakuan
Setelah beberapa jam berlalu akhirnya operasi Chila sudah selesai. Gadis itu dipindahkan ke ruangan ICU untuk observasi lebih lanjut.
Di rumah sakit semua anggota keluarga sudah berkumpul termasuk keluarga Bamantara.
"Operasi Chila berjalan dengan lancar," ucap Armon memberitahu semua anggota keluarga.
Semua bisa bernafas lega tapi Armon ingin bicara dengan keluarga Bamantara termasuk Gema.
"Ada apa dokter Armon?" tanya Galang penasaran.
Mereka berada di ruangan Amon untuk membicarakan hal penting.
"Sepertinya saya akan mengajukan pembatalan pernikahan," ucap Armon meminta izin terlebih dahulu.
"Apa?" Gema yang juga ada di sana merasa terkejut. "Kenapa daddy mertua selalu ingin membuat kami berpisah?"
"Ini untuk masa depanmu Gema," jawab Armon.
"Operasi Chila memang berjalan lancar tapi ada beberapa tulangnya yang patah, kemungkinan Chila akan tidak bisa berjalan dan membutuhkan banyak terapi," lanjutnya.
"Lalu kenapa?" tanya Gema tidak keberatan.
"Kedepannya Chila hanya akan menjadi bebanmu jadi lepaskan dia, kalau kau tidak mau aku sendiri yang akan melakukan pembatalan pernikahan," ucap Armon.
Di sini Galang dan Dara hanya bisa terdiam karena mereka juga bingung harus berbuat apa. Dia mengerti akan kecemasan Armon tapi mereka juga tidak bisa melarang Gema.
"Chila itu istriku, aku tidak akan meninggalkan dia dalam masa sulit. Aku akan merawatnya sampai sembuh," ucap Gema dengan tegas.
"Jangan terus membahas masalah ini karena aku akan mendaftarkan pernikahanku dengan Chila!"
Gema merasa kecewa karena semua orang selalu meragukan ketulusannya, sekarang dia harus membuktikan bahwa dia bisa membersamai Chila dalam keadaan sulit.
Pemuda itu mendatangi sang istri di ruang ICU, di sana Chila terbaring dengan banyak balutan dan alat penunjang kehidupan.
Walaupun ingin menangis, Gema berusaha bersikap tegar.
"Hai istriku, aku di sini! Jangan takut, ya," Gema mendekat seraya menggenggam tangan Chila.
"Cepatlah bangun karena aku ingin dimarahi olehmu lagi, aku merindukan itu!"
Chila tentu saja masih menutup matanya dengan rapat.
"Matamu adalah mata tercantik yang pernah aku lihat apalagi jika kau tersenyum matamu terlihat bersinar, sayang," tambah Gema.
"Jadi, bukalah matamu dan tunjukkan sinarmu padaku!"
Gema mengecup tangan Chila dan mengecupnya. "Daddy mertua selalu menyuruhku meninggalkanmu bahkan dia mau melakukan pembatalan pernikahan secara sepihak, bukankah dokter Armon sangat kejam?"
"Aku memutuskan untuk mendaftarkan pernikahan kita secara hukum, apa kau setuju sayang?"
Sedetik kemudian air mata keluar dari sudut mata Chila.
Gema melihat hal itu dan langsung mengusapnya.
"Kenapa kau bersedih, istriku?"
"Aku tidak akan banyak bicara lagi!"
*
*
Setiap hari Gema akan datang ke rumah sakit untuk melihat keadaan sang istri.
Pemuda itu sampai mengenal satu persatu perawat yang bergantian menjaga Chila.
"Aku membeli beberapa kopi hari ini!"
Gema datang dan pergi ke ruangan perawat terlebih dahulu.
"Terima kasih," balas para perawat.
Kemudian mereka membicarakan tentang Gema yang diduga adalah menantu dokter Armon.
"Kapan menikahnya? Bukankah mereka baru lulus sekolah?"
"Tapi, aku salut karena dia menjaga nona Chila dengan baik!"
"Jarang ada laki-laki seperti itu biasanya juga cari yang baru!"
Gunjingan-gunjingan seperti itu tentu saja sampai di telinga Armon.
Dia bahkan belum bisa meluruskan tentang kabar pernikahan antara Gema dan Chila.
"Kalau Gema benar-benar mendaftarkan pernikahan artinya dia sudah sah menjadi menantu keluarga Brisek, kau tidak akan bisa melakukan pembatalan pernikahan begitu saja," ucap Roro.
"Tapi..." Armon masih tidak mau membawa beban pada Gema.
"Aku mengerti perasaanmu tapi kita juga harus mengerti perasaan Gema," lanjut Roro.
Armon menganggukkan kepalanya. "Gema adalah menantu yang hebat!"
cui cui cui