Saat Meilin Tan membuka mata, dia bukan lagi mahasiswi seni dari Surabaya.
Dia adalah tokoh jahat dalam novel "Terjerat Pesona Kota" — wanita yang ditakdirkan menghancurkan hidup Kevin Halim, pewaris konglomerat yang jenius tapi miskin.
Meilin tahu akhir cerita ini: dia akan menjual Kevin, dihukum, dan hidup sengsara. Tapi bagaimana jika dia mengubah segalanya?
Dimulai dari kos-kosan tua di pinggiran Jakarta, Meilin memilih jalan berbeda. Dia melindungi Kevin, mendukungnya, dan tanpa sadar... jatuh cinta padanya.
Tapi takdir tidak mudah diubah. Keluarga konglomerat Halim menginginkan mereka terpisah. Tiga kali mencoba menikah, tiga kali gagal. Dan ketika Meilin terpaksa melarikan diri dengan rahasia di perutnya, dia harus memilih: menyerah pada takdir novel, atau berjuang untuk cinta yang dia ciptakan sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bab 012: Beberapa Senti
Meilin bahkan tidak berani bernapas terlalu keras.
Kevin tidur di sampingnya, bersandar pada sisi kasur dengan kepala sedikit miring. Dari jarak sedekat itu, Meilin bisa melihat bulu mata Kevin yang jatuh diam di bawah cahaya sore, juga warna pucat di bibirnya yang belum sepenuhnya hilang.
Dia masih sakit.
Kalimat itu membuat Meilin akhirnya mengalahkan debar yang tidak pada tempatnya. Pelan-pelan, dia menggeser tubuh, mengambil bantal kecil dari kasur, lalu menyelipkannya di belakang kepala Kevin agar lehernya tidak pegal.
Kevin bergerak sedikit.
Meilin langsung berhenti.
Namun pria itu tidak bangun. Napasnya tetap teratur.
"Dasar keras kepala," gumam Meilin nyaris tanpa suara.
Dia menarik selimut tipis dan menutupkannya sampai dada Kevin. Setelah itu dia duduk di sisi lain meja, menjaga jarak sedikit lebih aman, lalu melanjutkan gambar dengan pipi yang masih panas.
Malam turun pelan.
Kevin terbangun ketika azan magrib dari masjid gang sebelah terdengar samar bercampur suara televisi kamar lain. Dia membuka mata, mendapati bantal di belakang kepalanya dan selimut di dadanya.
Meilin sedang mencuci kuas di wastafel kecil.
"Kamu yang pindahkan?"
Meilin menoleh. "Pindahkan apa?"
Kevin menunjuk bantal.
"Oh. Lehermu hampir patah kalau tidur begitu."
"Berlebihan."
"Kamu mau cek sendiri?"
Kevin menatapnya, lalu tidak jadi membantah.
Suhu tubuhnya sudah 37,1. Meilin tetap memaksanya makan dan minum obat sesuai jadwal terakhir. Kali ini Kevin tidak banyak melawan. Dia bahkan memakan bubur sampai habis, meski wajahnya jelas menunjukkan dia bosan.
"Besok aku kerja dari rumah saja," katanya setelah menaruh mangkuk.
Meilin mengangkat kepala. "Benar?"
"Kalau aku bilang masuk, kamu pasti berdiri di depan pintu."
"Aku akan sembunyikan sepatumu."
Kevin diam sesaat.
"Kamu berani?"
"Sekarang? Iya."
Tatapan mereka bertemu. Ada sesuatu yang ringan lewat di sana. Bukan tawa, tapi hampir.
Besoknya, Kevin benar-benar tidak pergi ke kantor. Dia duduk di lantai dekat meja dengan laptop di pangkuan, bekerja beberapa jam, lalu berhenti ketika Meilin menaruh termometer di depan wajahnya tanpa bicara.
"Kamu seperti satpam."
"Satpam kesehatan."
"Itu tidak ada."
"Sekarang ada."
Kevin menghela napas, tapi menurut.
Hari itu kos mereka terasa berbeda. Kevin bekerja dari satu sisi meja, Meilin menggambar dari sisi lain. Mereka tidak selalu bicara, tapi diamnya tidak lagi tajam. Sesekali Kevin menggeser gelas air ke arah Meilin ketika dia terlalu fokus menggambar. Sesekali Meilin menyodorkan obat dan Kevin meminumnya tanpa perlu debat panjang.
Saat sore, pesanan kedua selesai.
Pembeli menyetujui hasilnya tanpa revisi besar dan langsung melunasi. Meilin mencatat pemasukan, membagi uang, lalu menatap sisa saldo dengan mata berbinar.
"Aku bisa beli kertas yang lebih bagus."
"Beli dua ukuran," kata Kevin. "A5 untuk pesanan cepat, A4 untuk yang lebih mahal."
"Kamu benar-benar mau jadi manajerku?"
"Aku cuma tidak mau kamu rugi."
"Itu tugas manajer."
"Kalau begitu bayar aku."
Meilin menatapnya pura-pura serius. "Dengan apa? Nasi telur?"
"Jangan terlalu asin."
Kali ini mereka sama-sama diam setelah kalimat itu, lalu Meilin tertawa duluan. Kevin menunduk ke laptop, tapi sudut bibirnya bergerak jelas.
Malamnya, Meilin memaksa Kevin tidur lebih awal.
Sebagai gantinya, dia sendiri yang masih bekerja. Ada satu pesanan baru yang ingin dia selesaikan sketsa awalnya sebelum tidur. Dia berniat hanya satu jam. Lalu satu jam menjadi dua. Garis wajah di kertas beberapa kali salah, mungkin karena matanya mulai berat.
Kevin, yang seharusnya tidur di kasur untuk satu malam lagi, membuka mata.
Meilin masih duduk di meja, kepala ditopang satu tangan, pensil bergerak pelan. Lampu kecil membuat bayangannya jatuh ke dinding. Di sampingnya ada gelas air yang belum disentuh dan sepiring nasi yang hanya berkurang setengah.
Kevin duduk perlahan.
"Meilin."
Tidak ada jawaban.
Pensil di tangan Meilin berhenti. Kepalanya merosot sedikit.
Dia tertidur.
Kevin menatapnya beberapa saat, lalu turun dari kasur dengan gerakan hati-hati. Demamnya sudah turun, tapi tubuhnya belum pulih sepenuhnya. Dia mengambil pensil dari jari Meilin agar tidak patah, menutup buku sketsa, lalu memindahkan gelas air menjauh dari siku.
Meilin menggumam pelan.
Kevin berhenti.
"Ko..."
Hanya satu suku kata, keluar dari tidur yang lelah.
Kevin berdiri diam di sampingnya.
Panggilan itu berbeda ketika Meilin mengucapkannya sadar. Dalam tidur, tidak ada strategi, tidak ada rasa takut salah bicara, tidak ada permintaan maaf. Hanya kepercayaan kecil yang tidak sengaja jatuh.
Dia mengambil selimut tipis dari kasur, menyampirkannya ke bahu Meilin, lalu berjongkok di depannya.
Wajah Meilin tampak lebih muda ketika tertidur. Tidak ada ekspresi panik seperti malam pertama dia bangun di dunia ini. Tidak ada mata yang menghitung bahaya. Hanya lelah, dan sedikit garis pensil di sisi jari yang menempel di pipinya.
Kevin mengangkat tangan.
Gerakannya berhenti di udara.
Dia seharusnya tidak menyentuh.
Perempuan ini masih penuh tanda tanya. Perubahan sikapnya terlalu mendadak. Ada terlalu banyak hal yang belum Kevin pahami.
Tapi dia juga mengingat tangan yang menahan tubuhnya saat hampir jatuh. Suara yang memaksa dokter memeriksanya. Catatan kecil tentang salep. Sepiring nasi yang selalu disisakan, meski lauknya sederhana.
Jari Kevin akhirnya menyentuh pipi Meilin.
Sangat ringan.
Hanya untuk menghapus garis pensil itu.
Meilin tidak bangun.
Kevin menatap ujung jarinya sendiri, seolah sentuhan kecil tadi justru membakar dirinya.
Lalu Meilin bergerak sedikit, pipinya tanpa sadar mengikuti arah tangannya.
Napas Kevin tertahan.